Ara mencoba menjalani hari-harinya seperti biasa, begitu juga dengan Ray. Keduanya semakin terlihat sering bersama. Gladis pun sudah mulai masuk sekolah, dan tentunya Gara masih tampak berada di sekitar gadis itu.
"Bagaimana? Ini sudah seminggu lebih. Apakah kamu masih tetap diam kepada Gara?" tanya Ray. Keduanya sedang berada di pinggir lapangan ketika kelas olahraga hampir usai. Beberapa teman mereka ada yang masih berolahraga seperti bermain sepak bola. Gara pun turut dalam permainan itu, berbeda dengan Ray yang lebih memilih menemani Ara sekarang.
"Nanti, jika waktunya tepat maka aku akan beritahu dia," jawab Ara seadanya.
"Ray."
Panggilan yang berasal dari belakang keduanya membuat Ara dan Ray menoleh. Selama seminggu ini juga Lia tampak menempeli Ray di sekolah, setiap hari. Dan Ara tentu kurang suka karena Lia selalu saja datang ketika dia dan Ray bicara mengenai Gara.
Kali ini Lia mencoba menarik perhatian Ray kembali dengan membawakan pemuda itu sebotol minumn. "Ini buat kamu," kata Lia sembari memberikan air mineral yang sengaja ia belikan untuk Ray.
Ray menerima botol itu. "Terima kasih, Lia," ucap Ray.
"Ehem. Ehem. Ray doang yang dikasih minum? Aku nggak?" sindir Ara kala itu.
Lia menoleh, seperti biasa ia memasang wajah tak sukanya di sana. "Beli aja sendiri di kantin. Banyak tuh di dalam kulkas," jawab Lia.
"Kalau kamu haus, minum ini saja, Ra," kata Ray yang memberikan botol yang Lia berikan tadi.
Ara hendak mengambilnya, namun Lia dengan cepat mencegah hal itu. "Ini minuman untuk kamu, Ray," protes gadis ini.
"Ya aku tau. Ini minuman darimu, dan sudah aku terima. Hak miliknya sudah ada padaku, kan? Untuk itu aku berikan kepada Ara sekarang."
Lia pun tampak tidak suka dengan jawaban Ray. Dia masih saja menatap Ara sengit. Ara mengabaikan tatapan membunuh gadis itu, dia dengan santai minum air yang Lia berikan kepada Ray barusan.
"Kamu nggak masuk kelas?" tanya Ray pada Lia.
"Sudah bubar sejak sepuluh menit yang lalu," jawab Lia yang masih menatap nanar botol air mineral yang ia beli barusan.
"Sama. Aku juga sudah selesai, tetapi bel istirahat belum berbunyi."
"Ray ... nanti pulang sekolah jalan, yuk? Aku ada dua tiket nonton," ajak Lia langsung. Dia sengaja membeli dua tiket untuk dirinya dan Ray.
"Nggak bisa. Ray sibuk sekarang," sela Ara yang memang mendengar ajakan Lia barusan.
"Dia sibuk atau kamu yang coba cari alasan agar Ray nggak pergi denganku?" sindir Lia. Ara tterlihat acuh, dia berdiri dan menatap Lia secara langsung. Dulu ketika dia memang benar-benar masih remaja, dia menerima segala intimidasi dari orang-orang. Sekarang tidak lagi.
"Dia sibuk atau nggak apakah itu menjadi urusanmu? Kalau nggak percaya, tanya kepadanya. Dia benar-benar sibuk," sahut Ara.
Lia langsung mengalihkan atensinya pada Ray. Ray tampak bingung sekarang. Sebenarnya dia tak tau kesibukan apa yang Ara bicarakan.
"Sebenarya tidak juga. Aku--"
"Nah! Denger tuh! Ray nggak lagi sibuk. Itu cuma akal-akalan kamu aja yang nggak biarin Ray pergi bersamaku," kata Lia kepada Ara. Tentu Ara menatap tajam Ray di sana yang tak bisa diajak kerja sama sekarang. Padahal dia ingin membantu Ray agar tak terus menerus diganggu oleh Lia.
"Dia pasti lupa. Hari ini kita ada janji belajar bersama karena dia tidak tahu beberapa materi di pelajaran matematika," terang Ara. Tak lupa juga gadis ini mengkode Ray agar pemuda itu larut dalam alasan yang ia buat. Lia pun lantas tak langsung percaya di sini.
"Ah, iya. Aku lupa dengan itu. Maaf Lia, aku ada janji dengan Ara," sela Ray yang membuat Ara lega di sana.
Lia menatap Ray dengan wajah sendunya. "Kita belum pernah keluar bersama. Apakah kamu tidak ada waktu luang, Ray? Bagaimana jika kalian belajarnya nanti malam saja?" pinta Lia. Ray yang melihatnya pun menjadi kasihan.
"Nggak bisa. Dia sudah janji denganku lebih dulu," sahut Ara sekali lagi. Kedua gadis ini saling memandang sengit, Ray pun terlihat bingung.
"Kalau begitu aku dan Ray akan nonton malam nanti," putus Lia.
"Mana bisa? Ray nggak boleh keluar rumah oleh orang tuanya kalau malam," jawab Ara.
"Konyol. Aku tau ini hanya akal-akalanmu saja, Ra. Aku tau kamu nggak mau aku dan Ray pergi bersama bukan? Wajahmu penuh kepalsuan. Diam-diam kamu menyukai Ray, tapi kamu nggak mau mengakuinya. Sudahlah, tingkahmu sangat mudah kutebak."
Tentu pernyataan Lia ini membuat Ray bingung. Ara menyukai dirinya? Dan Ara terlihat marah ketika Lia dengan saja berbicara cukup nyaring di mana teman-teman yang sekelasnya yang tadinya sibuk dengan kegiatan masing-masing, kini malah memperhatikan ketiganya di sana. Gara pun juga sama.
"Apa yang kamu bicarakan? Jangan membuat gosip di sekolah ini," tegur Ara langsung. Dia dengan segala kesabarannya mencoba menekan kemarahannya pada Lia. Lia tersenyum mengejek Ara di sana. Dia tau Ara akan malu jika dia permalukan di lapangan.
"Gosip? Semua orang juga tau kedekatanmu dengan Ray. Dan dilihat dari caramu yang selalu mencegah usahaku untuk mendekati Ray, itu menunjukkan jika kamu menyukainya. Apa lagi yang mau kamu sangkal sekarang?"
"Aku tidak menyukainya. Aku hanya membantunya selayak teman."
"Teman?" Lia tertawa mendengar jawaban Ara. "Kamu benar-benar gadis bermuka dua, Ra. Oh aku tau, setelah Gara berpindah kepada Gladis, sekarang kamu ingin mencari mangsa baru. Ray begitu?"
Wajah Ara pun memerah. Tangannya mengepal kuat. Dia benar-benar mencoba menahan amukannya sekarang. "Tutup mulut sialanmu itu, Lia! Aku akan benar-benar menghajarmu jika sepatah kata lagi kamu berbicara buruk tentangku," ancam Ara dengan aura kemarahannya di sana.
Ray menarik lengan Lia yang membuat gadis itu sedikit menjauhi Ara yang sedang dalam mood tak bagus. "Lia cukup. Apa yang kamu lakukan? Jangan membuat kita semua malu karena dilihat oleh teman-teman. Apa maksudmu berkata seperti itu?" omel Ray meskipun dalam intensitas yang tak tinggi. Dia tentu tak ingin teman sekelasnya tau.
"Aku hanya berbicara fakta, Ray. Apakah kamu tidak bisa merasakan jika Ara menyukaimu? Dia hanya membuat alasan tak masuk akal ketika aku mencoba mendekatimu. Itu adalah cara licik yang dia lakukan untuk mendapatkanmu."
Geram dengan bualan yang Lia bicarakan, Ara langsung menarik lengan gadis itu dan menampar pipinya keras di sana.
Plak!
Lia terlihat syok sembari memegangi pipi kanannya. Semua orang yang ada di lapangan juga sangat syok. Tentu mereka tak menyangka jika Ara yang pendiam akan bertindak seperti ini. Ara masih dengan tatapan tajam dan sengitnya di sana.
Rasa perih mulai mengalir di pipi Lia. "Kau! s**l!"
Baru saja Lia hendak membalas perbuatan Ara yang mempermalukannya, tangannya mengambang di udara. Lebih tepatnya dia hendak membalas tamparan itu namun dicegah oleh sebuah tangan di sana.
"Cukup, Lia!"
Ray hanya memandang Gara dalam diam. Gara menyelamatkan Ara saat ini. Gara dengan cepat menghempaskan tangan Lia di sana.
"Apa?! Kamu mau membelanya juga? Kamu dan Ray sama-sama bodoh. Kalian sudah ditipu oleh wajah Ara. Dia benar-benar gadis yang licik. Semoga Gladis bisa tabah menghadapi gadis licik yang hendak mengambilmu," kata Lia. Gadis ini tentu tak terima dengan tamparan yang Ara lakukan.
"Mulutmu itu memang harus ditutup, Lia. Apa hakmu mengurusi urusanku, Gladis, Ara, dan Ray? Kamu bukanlah siapa-siapa di hidup kami. Kamu berbicara pun kami tak peduli. Apa lagi yang akan kamu katakan mengenai Ara sekarang? Aku siap mendengarnya," ujar Gara lebih berani. Ara yang melihat Gara masih mau membelanya pun tampak terharu. Dia harus berterima kasih pada Gara nanti.
Timbul bisikan-bisikan di sekitar. Lia terlihat kesal. Dia ingin mempermalukan Ara, tetapi malah dia yang malu sekarang. Dari pada rasa malunya bertambah, gadis itu pun memilih pergi meninggalkan lapangan dengan segala dendamnya pada Ara.
Teman-teman Ara pun melanjutkan lagi kegiatan mereka. Gara menghampiri Ara di sana dan menuntun sahabatnya itu untuk duduk.
"Sudah. Jangan terlaku dipikirkan apa yang dia katakan," ucap Gara. Ara mengangguk setuju.
Ray menghampiri keduanya, dia merasa bersalah karena membuat Ara berada di situasi ini. "Ra," panggil Ray membuat Ara dan Gara menoleh karena panggilan keduanya mirip. "Maafkan aku. Kalau saja aku bisa mengendalikan Lia, pasti kejadiannya nggak akan seperti tadi." Permintaan Ray benar-benar tulus. Dia juga berterima kasih pada Gara karena sudah menyelesaikan permasalahan barusan.
Gara berdiri dari tempatnya, dia menepuk pundak Ray sebelum pergi. "Selesaikan masalahmu dengan Lia. Jangan buat Ara sedih. Dia adalah sahabatku. Aku memberimu tempat untuk mendapatkan hatinya, jangan pernah sia-siakan itu," bisik Gara yang kemudian berjalan pergi.
Ray mengernyit mendengar bisikan pemuda itu. Mendapatkan hatinya?
_____
Gemes sama Ray yang sok polos ._.