Bagian 13

1911 Words
Semenjak kejadian di lapangan saat itu timbul bisik-bisik yang ditimbulkan oleh para siswa di sekolah Ara. Dan tentu ini cukup mengganggu Ara sendiri. Padahal saat itu Lia pergi dari lapangan dengan rasa malunya. Kenapa semua orang masih membicarakan kejadian itu? Dan itu hanyalah diketahui oleh teman sekelas Ara sendiri. Usut punya usut Lia menyebarkan kabar mengenai Ara yang menyuka Ray dan Gara ke kelas lainnya. Tentu itu akan tersebar cepat dari satu mulut ke mulut lainnya. Untuk itu Ara mencoba mengurangi interaksi antara dirinya dengan Ray dan Gara. Lagi pula Ara tak ingin Gladis menganggap jika apa yang dibicarakan saat ini adalah benar, ya meskipun dia memang menyukai Gara sejak dulu. "Bukankah dia yang dibicarakan oleh anak-anak?" Saat melewati segerombol siswi, Ara tanpa sengaja mendengar salah satu dari mereka membicarakan dirinya. Ara mencoba bersikap acuh dan menulikan telinganya ketika orang-orang di sekolah ini mulai membicarakan Ara sendiri. Jujur, sejak dulu dia tak suka menjadi pusat perhatian. Di sekolah, Ara adalah murid pendiam dan tentu dirinya tak akan dikenal oleh banyak orang. Namun, kejadian kemarin sepertinya membuat namanya sering disebut sekarang. "Ara!" Panggilan dari depannya membuat Ara mengangkat wajahnya yang tadinya menunduk. Gladis berjalan menuju ke tempat Ara berdiri. Dengan senyum hangatnya membuat Gladis terlihat tampak sempurna di mata siapa pun. "Kamu mau ke mana?" tanya Gladis ramah seperti biasanya. "Ke perpustakaan," jawab Ara sedikit canggung. Dia masih memikirkan bagaimana tanggapan Gladis mengenai kejadian kemarin di lapangan. "Kebetulan sekali. Ayo kita ke sana bersama. Aku ingin meminjam buku," kata Gladis. Ara mengangguk, keduanya berjalan berdampingan menuju ke perpustakaan. Sejak kejadian kemarin memang Ara mengurangi mengunjungi tempat-tempat ramai di sekolahnya seperti kantin atau lapangan. Perpustakaan adalah tempat yang pas bagi dirinya saat ini atau tetap diam di dalam kelas. Ini terdengar seperti sebuah pelarian, namun Ara memang belum siap jika dihadapi oleh murid-murid di sekolahnya. Ara menuju ke rak buku yang akan ia pinjam. Hal yang sama dilakukan oleh Gladis juga. "Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Gladis tiba-tiba. Hal itu membuat Ara menghentikan gerakannya mencari buku yang akan ia pinjam. Sekarang dia tau jika Gladis pasti mendengar kejadian kemarin juga. "Aku baik-baik saja," jawab Ara dengan suara kecil. Gladis mengambil sebuah buku kecil dengan sampul yang didominasi warna merah marun. "Aku harap kamu tidak akan terpengaruh dengan ini, Ara. Aku tau apa yang mereka katakan tidaklah benar. Aku lebih mengenalmu dengan baik dari pada mereka," seloroh Gladis dengan lembut. Ara terdiam dan tak mampu berkata-kata. Dia bersyukur jika Gladis tak memiliki pikiran buruk padanya. "Aku harap kita masih bisa berteman. Kamu jangan peduli dengan apa yang mereka katakan. Meskipun kamu menyukai Gara sekalipun, aku tidak keberatan. Bagiku itu hal lumrah apalagi kalian berteman sejak kecil." Ara dengan cepat menggeleng. "Tidak, Gladis. Aku tidak menyukai Gara," ralat Ara dengan cepat. Ini adalah sebuah kebohongan yang berani ia katakan. Gladis kembali tersenyum di sana. "Ya, aku tau." Dia kembali mencari buku kedua yang hendak ia pinjam, begitu juga dengan Ara. "Mereka banyak membicarakanmu, Gara, dan Ray. Apakah karena itu kamu menghindari Gara dan Ray?" tanya Gladis. Ara kembali terdiam di tempatnya. Gladis melirik Ara yang hanya diam di sana. Dia sangat tahu perasaan Ara saat ini. Menjadi pembicaraan yang kurang baik di sekolah bukanlah pengalaman yang baik. "Jika kamu tidak melakukan kesalahan, bukankah seharusnya kalian tetap berteman seperti biasa? Maaf jika perkaaanku mungkin menyinggunmu, Ara. Gara datang kepadaku dan mengatakan jika kamu mulai menjauh darinya. Dia menganggap jika kamu masih terpengaruh dengan kejadian di lapangan saat itu." "Kalian adalah teman sejak lama. Kalian tau bagaimana perasaan kalian masing-masing. Itu seperti sebuah ikatan. Tentu dengan menjauhnya dirimu akan membuat Gara sedih. Dan dengan begitu artinya kamu membenarkan apa yang Lia katakan. Semua anak-anak di sekolah ini akan berpikir hal yang sama seperti Lia nantinya." "Aku ... aku hanya takut," ungkap Ara. Gladis memegang pergelangan tangan Ara. "Apa yang kamu takutkan? Kamu punya Gara, aku, dan Ray. Kita semua akan menjagamu," ucap Gladis. Bolehkah Ara menangis sekarang? Bagaimana bisa dia menyia-nyiakan kasih sayang yang teman-temannya berikan. "Terima kasih, Gladis," balas Ara dengan tulus. Gadis ini berkali-kali menghirup udara di sekitarnya. Ya, dia tak boleh terpengaruh dengan siapa pun. Tepat ketika kedua gadis ini baru keluar dari perpustakaan, keduanya berpapasan dengan Ray dan Gara. Gladis menghampiri mereka, Ara pun sama meskipun dia hanya bisa menunduk karena malu di depan kedua pemuda itu. "Aku dan Ray mencari kalian sejak tadi. Kita ke kantin, yuk?" ajak Gara mencoba berbicara seperti biasanya. Ia tak ingin ada suasana berbeda di antara pertemanannya. "Aku ke kelas saja bagaimana?" ucap Ara membuat ketiga orang ini memusatkan pandangan kepada Ara. Tampak Gara menghembuskan napas lelahnya, bahkan dia menutup kedua matanya beberapa detik di sana. "Aku ingin kita seperti dulu, Ra. Apakah itu sangat sulit bagimu? Jika kamu terganggu dengan apa yang murid-murid lainnya katakan, biar aku yang membungkam mulut mereka." "Kamu tidak mengerti Gara. Ini ...." "Aku dan Gara sama sekali tidak terganggu dengan kejadian itu. Memang apa salahnya menyukai teman sendiri? Apakah itu sebuah dosa besar?" ujar Ray menambahi. Perkataan Ray ini membuat Ara berpikir jika Ray hendak memberitahu Gara jika Ara menyukai temannya itu. "Kalian berdua membuat Ara menjadi bingung. Sudahlah. Ayo Ara kita ke kantin bersama. Jika ada yang membicarakanmu di sana, aku akan menghajarnya," potong Gladis yang langsung menarik tangan Ara untuk ikut ke kantin. Ara pun pasrah, sedangkan Gara dan Ray terlihat berjalan di belakang kedua gadis itu, seperti sedang menjadi keduanya. Dan benar saja apa yang Ara khawatirkan ternyata terjadi di kantin, apalagi di sana ada Lia juga. Keadaan mungkin akan memanas nantinya. Keempat orang ini duduk di satu meja yang sama. Bahkan keempatnya memiliki menu makan yang sama. Bakso tetaplah menjadi primadona, meskipun pada dasarnya Ara dan Gara dan merupakan mie ayam lovers. Ara makan dengan kurang semangat karena murid-murid di sini masih membicarakan dirinya apalagi meja yang Lia tempati. Melihat gerak-gerik Ara membuat Gara menjadi tak tega. Sebisa mungkin dia akan membuat temannya tak memikirkan dengan apa yang orang lain katakan. "Makanlah," kata Gara yang memberikan satu bakso berukuran sedang miliknya ke dalam mangkuk Ara. Gadis itu mengangguk saja. "Sudah aku katakan jika itu adalah benar. Lihatlah. Bahkan dia masih bisa mengambil perhatian Gara di saat satu meja dengan Gladis." Entah Lia yang sengaja meninggikan suaranya, atau memang indra pendengar Ara yang terlalu peka. Namun, Ara hanya bisa diam dan tak menanggapi. Seperti kata Gara, dia tak ingin apa yang Lia katakan adalah sebuah kebenaran. Gladis menyentuh punggung tangan Ara dengan lembut. Ara menoleh. Lewat isyarat matanya Gladis memberitahu Ara untuk bersikap tak peduli saja. Ara yang tau maksud Gladis pun akhirnya mengangguk saja. "Bukankah Gladis sangatlah baik? Dia masih mau berdekatan dengan orang yang ingin mengambil Gara darinya. Jika aku menjadi Gladis mungkin aku akan membuat perhitungan pada gadis itu." Sekali lagi Lia tak berhenti membicarakan Ara secara terang-terangan. "Dia hanya iri padamu karena tak memiliki teman seganteng diriku," ucap Gara dengan pede mencoba mencairkan suasana. Terbukti ketika orang yang ada di meja itu pun tertawa karena lelucon yang Gara berikan. "Dia masih bisa tertawa. Benar-benar gadis tak tau diri," sindir Lia terang-terangan. "Ah, aku tau. Ini pasti turun temurun, sifat gadis seperti dia dibawakan oleh kedua orang tuanya." Mata Ara sedikit memerah, dia menahan tangisnya. Sejujurnya dia ingin membalas Lia, namun dia tak ingin membuat teman-temannya merasa malu di sini. Ray yang melihat keadaan Ara menyedihkan pun menjadi tak tahan. Pemuda ini tiba-tiba berdiri dari duduknya, hal itu membuat Gara dan Gladis mendongak. Kemudian tanpa berlama-lama, Ray menuju ke meja Lia dan teman-temannya. "Lia!" panggil Ray cukup dengan tenaganya. Gara dan Gladis memperhatikan tindakan Ray dari meja mereka, sedangkan Ara masih diam dan sedikit menunduk di sana. Melihat Ray yang menghampirinya membuat Lia tampak bahagia. "Hai, Ray," sapa Lia dengan bersemangat. "Apakah kamu sudah selesai dengan ocehanmu? Mau berapa banyak lagi orang yang ingin kamu pengaruhi sekarang? Kenapa kamu tidak melakukan siaran saja di TV?" Perkataan Ray menimbulkan kekehan dari murid yang ada di kantin. Gara dan Gladis pun tersenyum melihat keberanian Ray di sini. Lia melirik sekitarnya, dia juga menegur temannya yang menahan tawa di sana. "Apa yang kamu maksud, Ray? Aku tidak sedang mengoceh atau mempengaruhi orang lain," bantah Lia langsung. "Yang aku maksud adalah ocehanmu tentang Ara. Apa kamu sedang mencoba mempermalukan dirimu untuk yang kedua kalinya?" balas Ray. Lia mengerucut kesal ketika Ray lebih berpihak pada Ara. "Itu bukan ocehan, tapi itu sebuah kebenaran." "Kebenaran apa yang kamu maksud?" "Kebenaran jika Ara memakai topengnya di depan semua orang." "Bagaimana denganmu? Kamu juga memakai topeng. Menyerang orang lain untuk mendapat perhatian, bukankah itu terdengar miris, Lia?" "Aku tidak---" "Ya, itu yang kamu lakukan. Apa perlu aku katakan di sini bagaimana kamu mencoba pengaruhi semua orang di sekolah? Aku sarankan sebaiknya kamu diam jika tak ingin merasakan malu. Karena kali ini aku tak akan tinggal diam jika kamu kembali menyerang Ara," kata Ray. Keberanian Ray yang membela Ara tentu menimbulkan bisikan-bisikan dari seisi kantin. Ada yang mengacungi jempol sikap berani Ray. Dan ada yang menganggap jika Ray mungkin memiliki perasaan untuk Ara sayangnya cinta itu bertepuk sebelah tangan. "Sikapmu yang membela dia ini tak akan berguna, Ray. Di mata dia, Gara adalah laki-laki sempurna. Tapi dia lupa jika di sini ada Gladis. Gara menyukai Gladis, dia menyukai Gara, dan kamu menyukai dia. Bisa dibilang kisah cinta ini tak akan selesai." "Apa hakmu mengurusi hidup kami? Kenapa jika Ara menyukai Gara? Kenapa juga jika aku menyukai Ara sedangkan dia tidak? Apakah ini menjadi masalahmu? Maaf, Lia. Sepertinyq kamu salah mengartikan kebaikanku selama ini. Aku menerimamu sebagai teman, tapi jika kamu menyukaiku melebihi seorang teman, maaf aku tidak bisa membalasnya. Aku tidak ingin bersama dengan orang yang sama sekali tak menghargai orang lain." Penolak Ray secara langsung pada Lia ini membuat semua orang ternganga. Lia tentu menjadi malu karena ditolak di depan umum. Sedangkan Ray sendiri tampak menampilkan ekspresi biasa saja seolah apa yang ia katakan tak berarti apa-apa bagi orang-orang. "Kamu dibutakan oleh rasa sukamu padanya, Ray. Harusnya kamu membuka matamu ketika pandangan dia hanya pada Gara. Dia hidup bersama lebih lama dengan Gara dibandingkan dirimu." "Cukup, Lia! Semakin kamu membuat opini salah tentang Ara, semakin terlihat bagaimana sifat burukmu di sini. Aku sarankan kamu diam dan duduk di tempatmu. Karena apa yang kamu katakan semakin membuatmu terlihat buruk di mataku," saran Ray. Wajah Lia sedikit memerah. Antara malu dan menahan amarah di sini. "Rasa iri tak mungkin bisa membuatmu bisa mendapatkan Ray, Lia," sahut Gladis yang ikut angkat bicara setelah mendengarkan perdebatan di sana. Gladis menghampiri Ray dan Lia juga. Ketiganya sama-sama berdiri dan saling berhadapan satu sama lain. "Informasi sedikit Lia. Ray tidak menyukai gadis sepertimu. Jika kamu ingin mendapatkan Ray, belajarlah dari Ara. Apa katamu tadi? Ara menyukai Gara. Memang kenapa jika dia menyukai Gara? Apa itu menjadi masalah untukmu?" "Ini masalah untukmu. Dia akan merebut Gara darimu," sahut Lia yang tak ingin kalah di sini. Gladis tertawa di tempatnya. "Merebut? Maaf, sepertinya kamu kekurangan informasi. Aku, Gara, Ara, dan Ray, kami semua berteman baik. Tolong catat ini baik-baik. Kami berteman. Apakah itu cukup jelas untukmu?" Gladis menepuk pundak Lia pelan. "Sudahlah. Kata Ray memang benar, kamu lebih baik diam saja. Ini semua semakin membuat dirimu malu. Apalagi Ray menolakmu mentah-mentah," ucap Gladis dengan senyum mengejek di akhir. Gadis ini pun kembali ke mejanya. Gara mengacungi jempol keberanian Gladis di sini. Ray yang melihat Lia terdiam sama sekali tak merasa bersimpati. Dia pun berbalik dan memilih kembali ke mejanya juga. Lia ditarik oleh temannya untuk duduk kembali. Bagaimana dengan Ara? Gadis itu hanya diam di tempatnya. ----- Yeay! Nenek lampir diem wkwk. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD