"Itu dia!"
Ray menunjuk sosok Bima yang kembali muncul di layar. Bola mata Ara membulat sempurna karena baru menyadari apa yang Ray maksud dari dirinya yang harus segera pulang.
Ara menatap pemuda itu dengan galak. "Yak! Apa kamu giila? Dia reporter. Kenapa kamu malah memilihkan aku orang seperti itu?" protes wanita ini. Ray mengernyit bingung. Apa salahnya dengan reporter?
"Memang kenapa? Namanya Bima. Dia baik menurut pandanganku dan juga umurnya hanya beda setahun denganmu. Dia juga belum memiliki istri. Pekerjaan dia juga lumayan menghasilkan. Aku rasa kalian cocok dari segi apa pun," jelas Ray. Ara nampak menutup matanya dalam beberapa detik. Sepertinya Ray sudah mengenal Bima.
"Dengar, Ray. Dia adalah reporter yang pasti kedudukannya berbeda denganku. Apa kamu yakin dia belum menikah? Bagaimana jika dia memiliki kekasih? Dilihat dari pekerjaannya yang bertemu banyak orang membuatku kurang yakin jika dia masih single," sahut Ara.
"Tadi pagi aku sudah menemuinya langsung dan menanyakan apakah dia sudah menikah atau belum. Jawabannya adalah belum."
Ara seakan gemas dengan pemuda ini yang terlihat santai menemui orang baru dan menanyakan hal pribadi seperti itu. Dan juga kenapa Bima dengan semudah itu menjawab pertanyaan Ray? Dasar pria aneh.
"Kalau mau, aku bisa mengadakan janji temu. Karena tadi aku dan dia sudah mengadakan janji untuk minum kopi bersama," lanjut Ray.
Ara menyambar tas miliknya. Sebelum pergi ke kamar, wanita itu memperingati Ray lebih dulu. "Aku akan pikirkan nanti," kata Ara yang langsung masuk ke dalam kamar dan menutupnya. Ray mengernyit dengan respon wanita tersebut.
Sedangkan Ara di dalam kamarnya nampak bimbang untuk mengikuti apa yang Ray inginkan atau tetap pada kesendiriannya. Ara juga memikirkan nasib Ray jika Ara tak kunjung menemukan pasangannya. Haruskah Ara mengalah?
Tak ingin memikirkan hal itu di waktu seperti ini, Ara bergegas untuk memulai aktivitas membersihkan diri. Karena kamar mandi ada di luar kamar, hal itu membuat Ara kembali bertemu dengan Ray.
"Aku akan mandi duluan. Ray, bisakah kamu pergi ke minimarket sebentar? Belikan aku sawi dan wortel," kata Ara sembari memberikan beberapa lembar uang. Ray mengangguk dan langsung menyambar jaket miliknya. Kepergian pemuda itu membuat Ara mengembuskan napas beratnya. Kakinya pun melangkah menuju ke kamar mandi.
Minimarket tentu dekat dari wilayah rumah Ara. Ray cukup berjalan kaki ke sana. Pemuda ini memasuki toko yang tak begitu ramai. Dia langsung menuju ke tempat sayuran ditata. Masalahnya adalah Ray baru pertama kali belanja sayuran. Dan dia kurang mengerti denga sayuran yang diminta oleh Ara.
Di depan sana tidak hanya ada satu jenis sayuran, melainkan cukup banyak. Ray mengambil buah tomat yang cukup besar di mana pemuda ini berpikir itu adalah wortel.
"Hei anak muda," teguran dari belakang Ray membuat pemuda ini menoleh. Teryata yang memanggilnya adalah seorang ibu-ibu dengan keranjang belanjaan di tangannya. "Apa yang sedang kamu cari?" tanya wanita itu.
"Saya sedang mencari sayuran, Bu. Kalau tidak salah namanya sawi dan wortel," jawab Ray dengan bahasanya yang formal. Si wanita itu menahan tawanya. Dia mengambil alih tomat yang Ray pegang sejak tadi. Dan menggantinya dengan sawi serta wortel.
"Yang hijau ini namanya sawi. Dan yang oren ini wortel," jelas si ibu. Ray mengangguk paham, untung saja ibu ini datang dan membantunya. Kalau tidak, maka Ray sudah salah membeli sayur. "Lain kali kamu bisa tanya dulu kepada ibumu jika disuruh membeli sayur. Atau kamu bisa cari di google bagaimana bentuk sayur yang ingin kamu beli."
Ray hanya tersenyum keil di sana. Ibu? "Terima kasih atas bantuannya."
"Sama-sama. Ya sudah aku pergi dulu ya." Ray mengangguk, si ibu pun pergi ke rak lainnya. Ray memilih langsung ke kasir untuk membayar barangnya.
Setelah selesai dari minimarket, Ray langsung pulang. Namun, langkah kakinya terhenti ketika melihat temannya berada di sekitar wilayah itu. Dengan cepat Ray menghampiri temannya itu yang berdiri memunggunginya dan menatap sekeliling.
"Hei."
Laki-laki itu menoleh dan terkejut mendapati Ray. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanyanya.
"Harusnya aku yang bertanya. Sedang apa kau di sini?" tanya Ray balik.
Wajah temannya itu seperti sedang kebingungan. Ray mengira ini masih ada hubungannya dengan tugas temannya yang tak kunjung selesai. "Hari ini kami mengadakan pertemuan dengan putranya, tapi pria itu malah kabur dan tidak ingin pergi. Ini sungguh mengesalkan," jelas laki-laki itu. Ray pun menjadi tak tega. Dia ingin membantu, tapi dirinya harus mengantar pesanan Ara lebih dulu.
"Bisakah kau menunggu sebentar? Aku akan kembali sebentar lagi," pinta Ray.
"Kau mau ke mana?"
"Aku akan memberikan sayuran ini ke Ara. Nanti aku akan membantumu mencari pak tua itu," jelas Ray yang langsung berjalan menuju ke rumah Ara.
"Hei! Tunggu, aku ikut," kata teman dari Ray itu sembari berlari kecil menyusul pemuda tersebut. Ray membiarkan temannya ikut, toh dia sudah tau sosok Ara.
Sedangkan Ara di rumahnya nampak sudah selesai mandi dan akan bersiap untuk menyiapkan bahan-bahan makanan. Namun, langkah gadis itu terhenti karena tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Wanita tersebut mengernyit, jika itu Ray kenapa pemuda tersebut tak langsung masuk saja?
Ketika Ara keluar, yang dilihatnya adalah seorang bapak-bapak dengan gerak-gerik aneh. "Iya, cari siapa?" tanya Ara yang membuat atensi bapak tersebut tertuju padanya.
"Nak, tolong saya, Nak," kata si bapak tiba-tiba dengan wajah ketakutan. Ara pun kebingungan di sana apalagi si bapak tersebut memegang pergelangan tangan Ara. Baiklah, ini benar-benar aneh.
"Ada apa, Pak? Kenapa Bapak ketakutan seperti itu?" tanya Ara.
"Saya ... saya dikejar-kejar oleh orang jahat," ungkapnya membuat wanita dihadapannya terkejut bukan main. Ara dengan sigap memperhatikan sekitar, sepi.
"Memang kenapa Bapak sampai dikejar-kejar?" tanya Ara lebih jelas.
"Saya tidak tau. Orang ini selalu mengikuti saya setiap hari," ungkap si Bapak.
"Kenapa Bapak tidak melapor ke polisi?" balas Ara. Tentu tindakan tak menyenangkan tersebut harus dilaporkan pada pihak berwenang.
"Sudah. Tapi, dia lolos lagi dan mencari saya lagi," kata si Bapak. Ara pun kebingungan. Jika dia nekat memasukkan bapak ini ke rumahnya, bisa saja dia juga akan mendapat masalah. Atau bisa juga cerita ai bapak itu hanya untuk menipunya. Tapi, dilihat dari ekspresinya, Ara yakin jika bapak ini tidak sedang berbohong.
"Baiklah. Bapak boleh bersembunyi di rumah saya untuk sementara waktu," putus Ara. Jiwa kemanusiaan pada diri wanita ini tentu sangat tinggi.
Bapak itu pun masuk dan Ara persilakan duduk di kursi tamu. "Bapak mau minum apa? Biar saya ambilkan," tawar Ara.
Si bapak pun terdiam, memperhatikan Ara dengan seksama. "Air putih saja, Nak," jawabnya. Ara tersenyum hangat. Dia segera menuju ke dispenser untuk mengambilkan air putih.
Saat Ara sudah mengisi air di dalam gelas, dia hendak menuju ke ruang tamu. Namun, langkah kakinya terhenti setelah melihat Ray yang baru datang. Akan tetapi, kernyitan bingung tercetak jelas di dahi Ara setelah melihat sosok lain yang Ray bawa.
"Yak! Kenapa kau ada di sini!" seru teman dari Ray sembari menunjuk si bapak yang Ara selamatkan. Ara dan Ray yang tak paham situasi tersebut pun kebingungan. Si bapak yang melihat teman Ray pun langsung beranjak dari duduknya dan bersembunyi di belakang tubuh Ara.
Teman Ray itu langsung ingin menghampiri si bapak, namun Ray dengan cepat mencegahnya. "Tunggu. Ada apa ini? Kau mengenal dia?" tanya Ray.
Temannya tampak frustasi. "Dia orang-orang yang aku cari," ungkapnya. Ray pun paham. Dia mengijinkan temannya untuk menghampiri si bapak. Ara yang paham dengan keadaan pun dengan sigap melindungi bapak tersebut. Mungkin pemuda yang bersama Ray lah orang jahat itu.
"Mau apa kamu?" sembur Ara.
"Aku tidak ada urusan denganmu. Lebih baik kau minggir," kata teman dari Ray. Ara tentu tak ingin beranjak dari tempatnya.
"Apakah kamu ingin menyakitinya? Jika iya, maka aku tak akan tinggal diam. Aku akan melaporkan ini ke polisi," ancam Ara. Teman dari Ray pun mengernyit bingung. Ray dan temannya itu saling tatap. Lewat matanya, dia mengatakan jika akan mengurus Ara. Ray pun menghampiri wanita tersebut.
"Ara ... dia adalah temanku," ungkap Ray menunjuk orang asing yang Ray bawa.
"Lantas kenapa jika dia temanmu? Bapak ini bilang kepadaku jika dia dikejar-kejar oleh orang jahat. Aku akan melindunginya di sini," sahut Ara.
"Orang jahat?" kata teman Ray di sana seakan tak percaya.
"Dia sedang menjalankan tugas. Dan targetnya adalah bapak ini. Tugas sama yang aku lakukan padamu waktu itu."
Ara terdiam, mencoba mencerna penjelasan Ara. Seketika wanita ini pun paham. Dia langsung berbalik menghadap kepada si bapak. Tentu Ara telah dibohongi di sini. "Apakah Bapak berbohong pada saya? Dia bukan orang jahat, bukan?" ujar Ara.
Si bapak terdiam, dia sudah ketahuan di sini. "Maafkan saya," kata si bapak yang merasa bersalah pada Ara. Wanita itu mengembuskan napas lelahnya.
"Begini, Pak. Mereka ini bukanlah orang jahat, justru sebaliknya. Mereka datang kepada ke sini untuk membantu kita menyelesaikan masalah yang kita alami. Saya sudah pernah di posisi Bapak. Dan saya cukup tenang ketika masalah telah usai. Sebaiknya Bapak mengikuti apa yang mereka usahakan agar semuanya lancar," jelas si Ara.
"Aku tidak ingin berbaikan dengan putraku."
Ara mengernyit. Wanita itu menoleh pada Ray dan temannya untuk meminta penjelasan.
"Temanku memiliki tugas untuk mendamaikan dan membuat si bapak dan anaknya kembali bersatu. Tapi, si bapak tetap pada pendiriannya dan tak mau bersama anaknya lagi."
Ara pun paham, dia menatap si bapak dengan penuh. "Sebaiknya kita duduk dulu. Bapak perlu minum juga, kan?" kata Ara. Semuanya pun menuju ke kursi yang ada di ruang tamu. "Silakan diminum dulu, Pak. Setelahnya kita bicarakan semuanya dengan baik-baik," kata Ara. Ajaibnya si bapak pun menurut. Ray dan temannya takjub melihat wanita tersebut mampu menghandle si bapak.
"Jadi ... kenapa Bapak tidak mau berbaikan dengan anak Bapak? Apakah ada kejadian di masa lalu yang membuat Bapak enggan untuk berbaikan?"
Awalnya si bapak itu terdiam. Namun, ketika melihat Ara entah mengapa dirinya mengembuskan napas berat di sana.
"Kalian tidak mengerti apa yang saya rasakan," kata si bapak mengawali ceritanya. "Orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya apalagi saya hanya memiliki satu-satunya putra di dunia ini. Jadi, tentu saya ingin masa depan putra saya terjamin. Tapi, kami berbeda jalan, dia memilih jalannya sendiri, dan saya tetap pada pendirian saya. Karena kesal, saya mengusirnya. Sejak saat itu saya enggan untuk bertemu dengan dia lagi."
Ara nampak kasihan dengan bapak dan anaknya. Memang kadangkala pendapat orang tua dan anak berbeda. Untuk itu, salah satu dari mereka harus ada yang mengalah agar tak terjadi perpecahan.
"Saya tau apa yang Bapak rasakan. Tapi, meskipun dia pergi dari rumah dan meninggalkan Bapak, saya yakin dia pasti setiap saat memikirkan keadaan Bapak di rumah. Mohon maaf, apakah istri Anda ada?"
"Istri saya sudah meninggal sejak lama. Sebelum putra saya pergi dari rumah," jawab si Bapak. Ara paham, si Bapak hanya tinggal seorang diri.
"Apakah Bapak tidak rindu dengan putra Bapak?" Pria tua itu terdiam. Ara yakin seberapa tak menginginkannya Bapak ini kepada putranya, si Bapak masih merasakan rindu itu. Meskipun dia harus bersikap egois. "Saya yakin Bapak merindukannya," simpul Ara.
"Sudah bertahun-tahun, alangkah lebih baik jika kalian tinggal bersama. Bapak bisa memantau putra Bapak langsung, sedangkan dia bisa menjaga Bapak di usia lanjut ini. Apakah Bapak tidak ingin di usia ini melihat anak dan cucu Bapak tertawa bahagia?"
Perkataan Ara sepertinya mempengaruhi pikiran si Bapak. Ray dan temannya yang sejak tadi mendengarkan obrolan mereka terlihat takjub dengan keahlian Ara.
"Baiklah, saya akan mencoba memperbaiki hubungan ini." Keputusan si Bapak membuat semua orang terlihat bahagia. "Tapi dengan satu syarat. Kamu harus ikut dalam pertemuan itu," imbuh si Bapak kepada Ara. Tak ingin si Bapak berubah pikiran, Ara pun setuju.
"Kalau begitu kita pergi sekarang," kata teman Ray yang tak ingin menunda lagi. Si Bapak dan Ara setuju.
"Aku akan ganti baju dulu," pamit Ara yang masuk ke dalam kamar.