Sepertinya Ray benar-benar menepati perkataannya yang akan mengantar jemput Ara. Sore hari di jam pulang kerja, Ray sudah menunggu Ara. Bedanya pemuda ini menunggu wanita itu tepat di depan kantor bukannya di seberang jalan. Ara yang awalnya nampak bercengkerama dengan teman-temannya pun langsung pamit lebih dulu dan menghampiri Ray.
"Kamu benar-benar menjemputku," ucap Ara. Keduanya berjalan bersisian menunggu di sisi jalan untuk menyeberang bersama pengguna jalan lainnya. "Ke mana saja kamu seharian ini?" tanya Ara lebih lanjut.
"Aku bertemu teman. Kami mengobrol di taman dekat sini," jawab Ray membuat Ara menoleh kepada pemuda itu. Ini adalah kali pertama Ray bercerita mengenai temannya.
"Dia makhluk ajaib sama seperti dirimu kah?" tanya Ara memastikan. Ajaib. Entah kata ini selalu membuat Ray terhibur. Ray mengiyakan prediksi Ara barusan. Baiklah Ara paham bila makhluk seperti Ray tentu berkeliaran bebas di dunia ini.
"Dia memiliki tugas di kota ini?" tanya Ara. Ray mengangguk kembali.
"Ara!"
Panggilan dari belakang mereka membuat kedua orang ini reflek menoleh. Seorang pria dengan pakaian kerjanya yang rapi menghampiri mereka. Ray berpikir mungkin pria itu adalah teman sekerja Ara.
"Eh Nino. Ada apa?" tanya Ara.
"Ini tadi ada titipan dari Juli," kata Nino memberikan sebuah flashdisk. Ara pun menerima barang itu dan menyimpannya di tas.
"Terima kasih," kata Ara.
"Sama-sama. Kamu mau pulang?" tanya Nino. Ara mengangguk. "Mau bareng aku, nggak? Kebetulan aku bawa motor hari ini," tawar pria itu. Ara tersenyum hangat.
"Terima kasih tawarannya, Nino. Tapi, aku naik bus saja karena aku sedang bersama temanku hari ini," jawab Ara sembari melirik Ray yang sejak tadi hanya memperhatikan interaksi keduanya. Sadar jika ada orang lain yang bersama Ara membuat pandangan Nino beralih pada Ray.
Nino mengulurkan tangannya pada Ray. "Nino," ucapnya. Ray membalas uluran tangan itu.
"Ray."
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. See you untuk kalian berdua." Nino melambaikan tangannya dan berbalik untuk kembali ke tempat ia memarkirkan sepeda motor tadi.
Ray langsung menarik pergelangan tangan Ara ketika tepat setelah kepergian Nino lampu sudah berubah menjadi merah dan itu adalah kesempatan bagi pejalan kaki untuk menyeberang.
Setelah sampai di seberang, mereka menuju ke halte dengan berjalan sedikit lagi. Karena ini jam pulang kerja, maka banyak pengguna jalan yang berlalu lalang. Mungkin akan terjadi kemacetan nanti.
"Pria tadi sepertinya baik. Apakah kamu menyukainya?"
Ara menatap horor Ray yang tiba-tiba mengajukan pertanyaan seperti itu. Namun, pipi Ara sedikit merah. Dia tak bisa menampik pesona Nino di kantor membuat beberapa teman wanita Ara mengelu-elukan pria itu. Ara juga termasuk pada jajaran wanita-wanita itu.
"Tidak!" jawab Ara cepat.
"Kenapa wajahmu memerah?" tanya Ray. Dia memperhatikan langit, cuaca tak begitu terik sore ini.
"Sekarang cuaca lagi panas-panasnya," jawab Ara. Ray tak bertanya lebih lanjut. Bus datang lebih cepat, jadi mereka bisa segera pulang. Karena ini jam kerja, jadi mereka lagi-lagi tak mendapatkan tempat duduk. Ray tak paham sekali dengan pola hidup manusia. Mereka naik transportasi, membayar jasa si supir, tapi mereka tidak mendapat fasilitas yang maksimal. Contohnya saja tempat duduk. Pagi tadi Ray dan Ara tak mendapat duduk, sekarang pun sama.
"Apakah setiap hari kamu harus berdiri seperti ini?"
"Nggak juga. Kadangkala aku mendapat tempat duduk," jawab wanita ini.
"Kenapa tidak gunakan transportasi lainnya? Atau beli motor," kata Ray. Ara menggeleng di sana.
"Aku bisa berhemat dengan ini karena tarifnya lebih murah dibanding naik taksi. Kalau beli motor belum ada kepikiran karena aku juga mikir nanti pasti akan bayar pajak setiap tahun. Aku takut suatu hari nanti nggak bisa bekerja."
Ray pun paham. Untuk itulah penting bagi Ara untuk menemukan sosok pasangan. Selain sebagai pendamping, pasangan juga bisa membantu kita untuk mengurus keluarga.
Di salah satu kursi penumpang terdapat pasangan suami istri di mana sang istri sedang hamil. Ara yang melihatnya tampak terharu. Apakah suatu hari nanti dia akan merasakan hal sama seperti wanita hamil itu? Ray yang melihat gerak-gerik Ara mengernyit bingung.
Setelah menempuh jarak yang cukup lama, keduanya sudah sampai di halte dekat rumah Ara. Keduanya berjalan kaki untuk menuju ke rumah.
"Aku rasa Nino cukup baik. Kenapa kamu tidak menjadi pasangannya saja?" tanya Ray. Ara tertawa kecil mendengar pertanyaan pemuda ini. Dia tak cukup berani untuk menaruh perasaan pada Nino.
"Tidak semudah itu, Ray. Lagi pula sulit dan akan aneh ketika wanita yang lebih dulu mengungkapkan perasaan pada pria. Dan juga sepertinya Nino sudah memiliki kekasih," jelas Ara. Ray pun mengangguk paham.
"Manusia memang aneh," komentar pemuda itu. Ara tertawa kecil, dia tau Ray pasti bingung. "Oh iya Ra, aku ingin memberitahu dirimu suatu hal," kata Ray membuat Ara berhenti melangkah, hal yang sama juga dilakukan oleh pemuda di sebelahnya.
"Apa?"
"Aku sebenarnya tidak boleh membuat janji dengan manusia, kamu tau itu bukan? Ada konsekuensi yang harus aku ambil jika nekat. Karena aku sudah terlanjur berjanji padamu, maka kamu harus tau akan konsekuensi yang akan aku alami. Janji itu hanya berlaku sebulan. Jika dalam waktu sebulan aku tidak bisa membantumu menemukan pasangan, maka aku bisa pergi begitu saja tanpa pamit. Tapi, jika aku memaksa untuk tinggal lebih dari sebulan, maka tubuhku akan menghilang."
"Wait. Maksudnya kamu akan benar-benar menghilang dari duniaku dan duniamu atau kamu hanya menghilang dari duniaku saja?"
"Keduanya. Aku akan benar-benar hilang," jelas Ray. Ara terdiam, dia tak menyangka jika Ray memiliki hal yang menakutkan seperti ini. Jika saja ia tau, maka Ara tak akan memaksa Ray untuk tinggal.
"Maafkan aku," ucap Ara yang benar-benar merasa bersalah. Ray tersenyum, dia sama sekali tak menyalahkan wanita ini.
"Aku tetap tinggal karena aku ingin membantu, jadi ini juga adalah keinginanku. Maka, jangan kamu merasa bersalah karena keadaanku. Aku janji kita akan bisa menemukan pasanganmu dalam kurun waktu sebulan."
Ara mengangguk, semoga saja dia cepat menemukan pasangan agar tak menyusahkan Ray. "Bagaimana jika kita mulai dari teman kantor?" usul pemuda itu.
"Jangan. Aneh jika memiliki hubungan dengan teman sekantor. Lagi pula kebanyakan dari mereka telah memiliki pasangan," tolak Ara. Ray berpikir sejenak. Keduanya sudah sampai di depan rumah. Ara membuka pintu dengan kunci yang ia bawa.
"Aku akan mencarinya besok. Seseorang yang baik hati dan layak untuk menjadi pasanganmu," kata Ray yang ikut melangkah masuk ke dalam rumah setelah Ara membuka pintu lebar-lebar.
"Ya, ya terserah padamu, Ray. Aku mau mandi, setelah itu giliranmu, oke."
Ray mengangguk. Pemuda itu memilih untuk menonton TV. Di layar menampilkan sebuah berita mengenai kecelakaan. Ray bukan fokus dengan beritanya, melainkan si pembawa berita yang adalah seorang pria tampan. Seketika Ray memiliki ide jika pria itu mungkin cocok untuk Ara. Dilihat dari tampangnya, dia seperti orang baik-baik. Baiklah, Ray akan mencari tau di mana bisa menemukan pria tersebut besok.
***
Keesokan harinya Ray sudah berada di sekitar gedung yang tadi pagi runtuh karena kesalahan pembangunan. Dan seperti dugaannya, si pembawa berita alias pria tampan yang muncul di TV kemarin ada di lokasi. Dari jauh Ray memperhatikan pria itu dengan seksama. Dari cara dia berinteraksi dengan temannya sudah menunjukkan bahwa pria ini sangat friendly.
Ketika ia memiliki kesempatan, barulah Ray menghampiri pria tersebut.
"Hei," sapa Ray lebih dulu. Pria tersebut sedang sendirian di mana temannya sibuk meliput tempat kejadian.
"Oh, hai," sapa pria tersebut dengan ramah.
"Aku Ray. Kamu?"
"Bima. Panggil saja Bima," katanya. Ray tentu sudah nama pria tersebut karena di TV namanya juga muncul.
"Aku lihat kamu cukup berkompeten di bidangmu. Aku sering melihatmu muncul di TV. Itu sangat menakjubkan," puji Ray. Langkah pertama adalah dia mendekati dan mencoba akrab dengan target.
Dipuji seperti ini adalah hal yang biasa bagi Bima, namun tetap saja ini menjadi kegembiraan bagi dirinya ketika disenangi oleh semua orang.
"Oh, terima kasih. Semoga berita yang aku sampaikan bisa bermanfaat bagi dirimu."
"Ya, tentu. Aku melihat kamu sering menyiarkan berita perihal kejadian yang bisa dibilang cukup berisiko."
"Ya kamu benar. Aku memang dikhususkan untuk meliputi hal itu."
Ray mengangguk paham, cukup berbahaya juga pekerjaan Bima. "Apakah kamu sudah menikah?" tanya Ray tiba-tiba. Bima terdiam dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu. Tentu aneh karena keduanya baru bertemu dan Ray sudah bertanya mengenai privasi pria tersebut. "Maaf jika aku terdengar lancang. Hanya saja aku ingin tau apakah keluargamu tidak khawatir jika kamu bekerja di tempat yang berbahaya seperti itu?" Ray menjelaskan maksudnya.
"Aku belum menikah. Mengenai keluargaku, mereka sepenuhnya mendukung apa yang aku pilih," jawab Bima.
"Berapa umurmu?"
"31 tahun."
Baiklah, Bima sepertinya cocok untuk menjadi kandidat calon pasangan Ara. Mereka sama-sama belum menikah, dan umur keduanya hanya berbeda satu tahun.
"Bima, aku ingin mengobrol denganmu lebih banyak lagi. Next time kita bisa keluar bersama menikmati kopi, bagaimana?" ajak Ray yang terdengar tak mungkin disetujui oleh Bima di mana keduanya juga baru mengenal beberapa menit lalu.
"Oh oke, aku terima undangan itu," balas Bima tak kalah ramah. Tentu ini menjadi keuntungan bagi Ray. "Kamu tau cara mencariku di mana, bukan?" kata Bima penuh teka-teki. Namun Ray mengangguk saja di sana. Dia tau di mana Bima bisa menemui Bima. Ini berkaitan dengan berita yang Bima liput.
Ray pun pamit pergi di mana pemuda itu memilih untuk ke kantor Ara. Ray memilih berjalan kaki dibanding naik bus. Toh ketika naik bus dia selalu tak mendapatkan tempat duduk. Lagi pula makhluk sepertinya tak akan merasa lelah meskipun berjalan sejauh berapa pun.
Langkah Ray terhenti ketika mendapati sosok temannya yang berdiri tak jauh dari dirinya. Temannya itu sedang mengikuti seorang pria yang bisa dibilang umurnya mungkin sudah tua. Pikiran Ray tertuju pada tugas temannya itu. Sepertinya si Pak Tua masih saja keras kepala. Ray pun memilih untuk melewati jalan lain karena tak ingin mengganggu tugas temannya.
Melewati jalan lain Ray bertemu dengan seorang gadis kecil yang sedang bermain sendirian dengan bonekanya. Ray memperhatikan sekitar, ia tak melihat orang dewasa di sekitar gadis kecil itu. Ray pun menghampirinya guna menanyakan tentang orang tua gadis tersebut.
"Halo, gadis cantik," sapa Ray. Gadis tersebut menoleh dan menampilkan senyum manisnya.
"Halo, Om."
"Kamu sedang apa di sini? Di mana orang tuamu?"
"Aku sedang main sama Teddy, Om. Mama dan Papa sibuk kerja," jawabnya. Teddy yang gadis itu maksud adalah bonekanya. Ray pun paham. Gadis ini kesepian karena tak memiliki teman bermain, bahkan kedua orang tuanya sibuk.
"Om boleh ikut main?" tawar Ray. Menurutnya tak apalah dia bermain sebentar dengan gadis ini. Gadis itu pun mengangguk. Ray duduk tepat di sebelah gadis ini. "Rumah kamu ada di mana?" tanya Ray.
"Itu di sana, Om," tunjuk gadis ini ke sebuah rumah yang cukup besar di pinggir jalan. Kasihan juga dia bermain sendirian di rumah sebesar itu.
"Kamu setiap hari biasanya hanya bermain dengan Teddy?"
"Iya, Om. Sama Bibi juga kalau Bibi nggak sibuk beres-beres."
Ray paham, menjadi orang tua terkadang membingungkan. Ketika seorang anak lahir, maka tanggungjawab akan keluarga semakin bertambah. Kebutuhan pun juga semakin meningkat. Belum lagi mereka harus memikirkan masa depan si anak. Mungkin alasan ini jugalah yang membuat Ara tak kunjung menikah.
Ray cukup lama bermain dengan gadis itu. Kemudian dia teringat jika harus ke kantor Ara. Pemuda ini pun pamit kepada gadis tersebut. Si gadis kecil juga berterima kasih karena Ray mau menemaninya bermain.
Tak beberapa lama Ray pun sudah sampai di depan kantor Ara. Jam pulang kerja sebentar lagi akan tiba. Ray duduk di tempat yang cukup teduh namun bukan di depan pintu keluar juga. Yang pasti Ara mungkin tak melihat keberadaannya nanti.
Tepat jam 4 sore semua pekerja keluar kantor. Ray berdiri dari duduknya sembari mencari-cari sosok Ara. Mata Ray berhenti pada Ara yang berjalan bersisian dengan Nino. Dahinya mengernyit, bukankah Nino katanya sudah memiliki kekasih? Untuk apa dia mendekati Ara terus menerus? Ray pun menghampiri mereka dan membuat Ara terkejut dengan keberadaan pemuda tersebut yang tiba-tiba.
Pandangan Ray langsung tertuju pada Nino. Dipandang seperti itu membuat Nino menjadi kebingungan.
"Nino. Aku pulang duluan, ya," pamit Ara lebih dulu. Nino pun mengangguk. Ara langsung menarik Ray untuk berjalan ke seberang jalan menuju ke halte. "Apa yang kamu lakukan?" bisik Ara ketika keduanya berjalan menjauhi Nino.
Ray mengernyit. "Tidak ada. Aku hanya menunggumu pulang." Ara gemas mendengar jawaban pemuda ini.
"Kenapa kamu menatapnya seperti tadi? Itu benar-benar aneh, Ray," kata Ray. Pemuda ini pun paham ke mana arah pembicaraan mereka.
"Aku hanya tidak paham kenapa Nino mendekatimu? Bukankah kamu bilang jika dia sudah memiliki kekasih?"
Ara terdiam. "Aku sebenarnya tidak tau dia punya kekasih atau belum. Kemarin itu aku hanya berbicara asal. Tapi, orang seperti Nino tidak mungkin masih sendiri," jelas Ara. Baiklah, itu masuk akal. "Dan juga, dia bukan bermaksud mendekatiku. Tadi kebetulan kita keluarnya bareng dan sama-sama mau ke pintu keluar, jadi ya begitulah," lanjut Ara.
Ray pun paham. Kemudian pemuda ini teringat dengan sosok Bima. "Ara. Aku sudah menemukan pria yang pas untuk menjadi pasanganmu," ungkapnya dengan wajah senang. Ara menatap pemuda itu penuh. Hidupnya terdengar miris di mana untuk pasangan saja dia harus dibantu orang lain. "Nanti di rumah aku akan tunjukkan kepadamu."
"Wait. Di rumah? Kamu membawa dia ke rumah?" seru Ara syok. Tidak mungkin Ray nekat membawa orang asing ke rumah Ara.
"Bukan. Sudahlah, lebih baik kita cepat pulang," jawab Ray yang berjalan duluan menuju ke halte bus. Mau tidak mau Ara pun segera menyusul pemuda ajaib itu.