Bagian 17

1844 Words
"Ayo." Ray memberikan satu tangannya untuk Ara genggam. Ara pun mengembuskan napas beratnya. Dia menyambar tangan Ray dengan pelan. Ketika keduanya keluar dari pintu kedai semuanya akan kembali norma. Baiklah. Ini sangat mudah untuk Ara lakukan. Ray membuka pintu kedai. Dia dan Ara langsung keluar dari sana. Ketika perpindahan itu Ara menutup matanya dalam beberapa detik. Mengingat pertemuannya dengan Gara dan sang ibu. Dia tak akan melupakan momen itu. "Bukalah matamu," kata Ray yang membuat Ara refleks membuka kedua matanya. Dengan sedikit linglung, Ara mengamati sekitarnya dan baju yang ia pakai. Benar, pakaiannya berubah seperti terakhir kali dia pergi. Ara menatap Ray sembari tersenyum. Senyum ini juga menular pada Ray. "Terima kasih, Ray." "Sama-sama," jawab Ray. "Lantas, ke mana kita akan pergi sekarang?" tanya Ray mengingatkan akan tujuan keduanya setelah ini. "Rumahku. Kamu bisa tinggal di sana jika mau," ucap Ara. Lagi pula dia hanya tinggal sendiri. Jika ada Ray mungkin kehidupannya tak akan sangat sepi. Ray mengangguk. Dia dan Ara berjalan kaki untuk menunggu bus yang akan mengantar mereka ke stasiun. Keadaan bus saat itu tidak begitu sesak. Bahkan keduanya masih bisa mendapatkan tempat duduk. Ara duduk di dekat jendela sembari memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang di sana. "Ini adalah hari kematiannya, tapi aku sengaja tak menemui Gladis. Tentu aku tak memiliki keberanian untuk menemuinya lagi," kata Ara memberitahu Ray kala itu. Ray hanya diam dan mencoba menjadi pendengar yang baik. "Ray ... apakah aku benar-benar bisa bahagia dan menemukan pasanganku juga?" tanya wanita 30 tahun ini yang menoleh kepada Ray serta menatapnya penuh. Ray terdiam, kemudian dia mengangguk penuh. "Kamu akan menemukan orang itu, Ara. Tenanglah saja. Karena pada dasarnya Tuhan menciptakan kita berpasangan," jawab pemuda ini. Pemuda? Entahlah Ray bisa disebut pemuda atau pria karena pada dasarnya wajah Ray tak akan pernah menua sekalipun beribu-ribu tahun lamanya. "Berpasangan? Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga akan memiliki pasangan nantinya?" tanya Ara lebih lanjut. Ray mengedikkan bahunya, dia juga tak tau jawaban akan hal tersebut. Tapi, orang-orang sepertinya jarang melakukan pernikahan. Tentu jika memiliki keluarga akan membuat mereka tak menjalankan tugas dengan maksimal. Bus berhenti di pemberhentian. Ara mengatakan jika mereka harus kembali berjalan kaki untuk sampai ke rumahnya. Rumah Ara tidak begitu besar. Ia menganggap tak perlu membeli rumah besar, toh dirinya hanya tinggal seorang saja. Untungnya rumah itu memiliki dua kamar, jadi Ara berpikir Ray bisa menempati salah satunya.  "Kamarmu ada di pintu kedua dari sini. Kamarku berada tepat di sebelahmu," kata Ara sembari menujuk kepada dua pintu kamar berwarna cokelat di sana. Ray mengangguk. Dia memperhatikan seisi rumah Ara dengan seksama. Ara langsung meletakkan tasnya di kursi. Dia duduk lebih dulu, diikuti oleh Ray kemudian. "Nggak begitu besar, tapi bagiku ini cukup nyaman untuk ditinggali," kata wanita ini. Ray pun tampak setuju juga. Terjadi keheningan di antara keduanya. "Bagaimana dengan pakaian? Apakah kamu mau ambil pakaianmu? Atau sekalian mau aku belikan pakaian?" tanya Ara. "Tidak usah, Ra. Aku akan ambil pakaianku nanti," jawab Ray. Ara pun mengalah akhirnya. Ray melangkahkan kakinya menuju ke kamar miliknya itu. Ara tampak membiarkan pemuda itu pergi. Wanita ini mencoba menyibukkan diri. Karena mereka tadi sudah makan di kedai, jadi dia tak perlu memasak sekarang. Mungkin nanti menjelang malam dia akan memulai memasak untuk dirinya dan Ray. Ray menatap isi kamarnya, cukup nyaman dan tak terlalu banyak barang. Sepertinya Ara tipe orang yang suka dengan kebersihan. Oh iya, Ray ingat jika dia harus membuat laporan. Pemuda ini pun bergegas pergi. Tentu dalam sekejap saja dia sudah tak ada di kamar. Tentunya tanpa sepengetahuan Ara. Di tempat biasa Ray pulang ada temannya. "Woah, tumben pulang jam segini?" tanya temannya itu. Ray mengeluarkan bukunya. Seperti biasa, jika misinya telah selesai, pemuda ini akan memberikan stempel pada buku itu. "Apakah tugasmu sudah selesai?" tanya temannya itu. Ray menggeleng, temannya pun mengernyit. "Aku masih ada tugas lain," tutur Ray sembari menutup bukunya yang langsung lenyap dari pandangan. "Tugas baru?" "Tidak juga. Lebih tepatnya tugas tambahan dan masih berada di orang yang sama." "Gadis itu?" tanya teman dari Ray itu. Ray pun mengangguk membenarkan. "Aku harus menemaninya hingga dia menemukan pasangan nanti." "Tugas yang aneh. Bukankah hal ini belum pernah kita alami?" sahut laki-laki itu. Ray meringis, memang ini adalah kali pertama ada tugas seperti itu. "Aku membuat perjanjian dengannya." "Apa? Apa kamu gilla? Kita tidak boleh membuat perjanjian dengan manusia. Apakah kamu lupa peraturan itu?" sembur teman Ray. Ray tau, itu memang tak boleh dilakukan karena akan menyebabkan dirinya lenyap dari dunia ini. "Tenanglah. Aku akan membantu dia menemukan pasangannya dengan cepat. Mungkin sebulan, atau kurang dari itu," jelas Ray. "Bagaimana jika dalam sebulan kamu belum menemukannya? Kamu tau konsekuensi dari sebuah janji. Dan batasan kita membuat janji dengan manusia adalah sebulan. Jika lebih, maka kamu akan menghilang." Ray tau. Pemuda ini menepuk pundak temannya dengan pelan. Dia tau temannya ini pasti khawatir akan diri Ray. Tapi, ini sudah menjadi keputusannya untuk menemani Ara di saat seperti ini. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Tapi, aku akan berusaha semaksimal mungkin. Dan jika keadaan sudah tak memungkinkan, kemungkinan besar aku akan mengakhiri janji ini lebih dulu," ucap Ray. Kemudian pemuda ini bergegas pergi untuk kembali ke rumah Ara. Temannya itu tampak tak bisa berkata-kata setelah tau keputusan Ray. "Kenapa dia sebodoh itu? Jangan-jangan ...." Bola mata laki-laki itu pun membulat sempurna setelah paham kenapa Ray melakukan ini. Ara kembali menatap potret diri Gara yang adalah satu-satunya foto yang Ara miliki. Ini adalah foto yang ada di buku tahunan sekolah mereka. Ara mengguntingnya dan dia letakkan di figura. Semua itu ia lakukan agar tak lupa dengan sosok sang sahabat. "Kita sudah bertemu lagi, Gara. Pasti kamu sudah tenang di sana, kan? Ya, aku harap demikian. Terima kasih selama ini sudah menjadi temanku. Terima kasih karena masih mengingatku. Sekarang aku sudah bisa merelakan kepergianmu. Aku harus melanjutkan hidupku. Terima kasih untuk segalanya." Perkataan Ara ini benar-benar tulus ia ucapkan kepada sosok sahabatnya itu. Kalau kita hanya terbayang akan masa lalu dan tetap pada perasaan yang salah, maka kita sulit untuk melanjutkan hidup.  *** Pagi yang cerah bagi dua orang yang baru kembali ke dunia mereka. Seperti biasa Ara mulai menjalani aktifitasnya. Memasak dan membersihkan rumah di pagi hari, dilanjutkan dengan pergi bekerja. Ya, Ara tentu harus bekerja, tetapi bagaimana dengan Ray? Apakah ia harus meninggalkan pemuda itu sendirian di rumah? Tentu saja itu tak jadi masalah mengingat Ray adalah manusia ajaib yang Ara kenal. "Aku akan pergi bekerja sebentar lagi. Apakah tidak masalah jika kamu aku tinggal di rumah sendirian?" tanya Ara sembari meletakkan telur mata sapi yang ia buat barusan. "Tidak masalah. Aku akan mengantarmu, setelah itu aku akan berjalan-jalan di kota ini. Kapan kamu pulang kerja?" tanya  pemuda itu. "Tidak usah mengantar atau menjemputku, Ray. Aku bisa melakukannya sendiri. Oh iya, kamu mau jalan-jalan? Nanti aku beri beberapa lembar uang, siapa tau kamu butuh." "Tidak usah, aku sudah punya uang sendiri. Kamu yang memintaku membantumu untuk menemukan pasangan, jadi sudah seharusnya aku berada di dekatmu." "Baiklah, baiklah terserah padamu. Habiskan sarapanmu dulu, setelah itu kita berangkat." Ara tak ingin berdebat di pagi hari seperti ini. Untuk itu dia mengalah saja pada pembicaraan mereka. Seperti kata Ara, keduanya berjalan menuju ke halte yang memang tidak begitu jauh dari daerah tempat tinggal Ara. Ini adalah hari kerja, jadi memang cukup banyak pengguna transportasi umum yang akan naik bus. "Biasanya busnya akan datang beberapa menit lagi," ucap Ara. Ray mengangguk. "Itu dia busnya," tunjuk Ara ke bus yang melaju ke arah mereka. Tepat setelah bus berhenti, semua orang tampak buru-buru masuk agar kebagian tempat duduk. Maklum, ini adalah hari kerja jadi bus pasti penuh. Ara mendapat tempat duduk, sedangkan Ray memilih berdiri, namun dia berada tepat di samping wanita itu. Ara melihat-lihat sekitarnya, dia menemukan seorang wanita hamil yang baru saja naik. Jiwa kemanusiaannya pun keluar. Ara beranjak dari tempatnya membuat Ray bingung. "Mari saya bantu," kata Ara kepada si wanita hamil. "Terima kasih." Ray melihat Ara yang mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri pun takjub. Ara memberikan tempat duduknya untuk wanita hamil itu. Jadi, mau tidak mau dia harus berdiri sepanjang perjalanan ini. "Apakah ini adalah pengalaman pertamamu naik bus?" tanya Ara membangun percakapan dengan Ray. Pemuda itu mengangguk. "Jika di tempat umum, wanita, ibu hamil, anak-anak, dan lansia adalah paling utama. Jadi, kita harus mendahulukan mereka," jelas Ara mencoba menambah wawasan kepada pemuda ini. Ray mengangguk paham. Tiba-tiba saja bus berhenti mendadak, membuat kegaduhan di dalam bus. Ara hampir saja terjerembab jika Ray tak sigap menarik pinggang wanita itu. Ara pun bernapas lega, namun ketegangan terjadi pada diri Ray. Buru-buru dia melepaskan tangannya dari pinggang wanita ini. "Terima kasih," kata Ara. Ray mengangguk lagi. Bus kembali berjalan dengan normal. "Hal ini sudah biasa terjadi jika kita menggunakan transportasi umum," jelas Ara. Sekitar hampir lima belas menit perjalanan menuju ke tempat kerja Ara. Keduanya berhenti di halte tempat bus berhenti. Beberapa pengguna bus juga ikut turun juga. "Itu gedung tempat aku bekerja," jelas Ara yang menunjuk sebuah gedung tinggi dari tempat mereka. "Aku rasa sampai sini saja kamu mengantarku," lanjut wanita itu. Ray mengangguk. Dia berhenti melangkah, membiarkan Ara pergi sendirian. Tempat kerja Ara berada di seberang jalan, jadi wanita itu harus menyeberang bersama rekan-rekan kerjanya juga. Ray hanya memperhatikan dari tempatnya. Dirasa Ara sudah dalam keadaan aman, pemuda ini pergi dengan berjalan kaki. Dia tak tau harus melangkah ke mana, dirinya hanya mengikuti langkah kakinya bergerak. Kaki Ray berhenti di sebuah tempat seperti sebuah taman namun sepi. Terdapat kursi taman yang berada di samping pohon-pohon. Kakinya memilih berhenti di salah satu kursi di sana. Sepi. Itulah yang ada di sekitarnya. Tentu saja para manusia sibuk dengan aktifitas mereka. Sebuah tepukan di bahu membuat pemuda ini refleks menoleh. Tak disangka dia bertemu dengan temannya. "Aku pikir salah orang, ternyata ini benar dirimu. Sedang apa kamu di sini? Di mana gadis itu?" tanya temannya sembari memperhatikan sekitar. Yang ia cari adalah sosok Ara. "Dia sedang pergi bekerja. Di gedung itu," jawab Ray menunjuk gedung tempat Ara pergi tadi. "Dia sekarang bukan gadis lagi, lebih tepatnya wanita berumur 30 tahun," lanjut Ray meralat perkataan temannya. Laki-laki yang menjadi teman Ray pun tertawa kecil. "Aku sedang menjalankan tugasku. Si pak tua itu pergi bekerja juga," ucap temannya. Ray mengangguk paham. "Dunia manusia kadangkala terasa aneh. Akan tetapi aku cukup takjub dengan kegigihan mereka. Keegoisan juga cukup kental pada diri manusia ini. Bagaimana menurutmu?" tanya laki-laki ini. Ray terdiam beberapa saat, kemudian menjawab, "mereka hanya butuh waktu, bukti, dan motivasi," jawabnya singkat. "Tugas kita akan semakin berat jika mereka tak kunjung sadar." "Itulah tugas tambahan kita. Meyakinkan mereka. Oh iya, apakah kamu butuh bantuanku?" tawar Ray. Temannya menggeleng, menolak kebaikan pemuda ini. "Tidak usah. Bukankah kamu juga memiliki tugas tambahan? Wanita itu membutuhkanmu. Ingat, batasmu hanya sebulan untuk memenuhi perjanjian itu, Ray. Gunakan waktumu sebaik mungkin." Ray mengangguk paham. "Ini, makanlah," lanjut temannya lagi sembari memberikan satu buah apel yang ia simpan di sakunya sejak tadi. Ray menerima buah itu, namun tidak langsung ia makan. Kedua makhluk ini duduk di taman itu dengan saling bercerita banyak. Tentu saja topik mereka adalah para manusia ini dan paling utama adalah rencana yang akan Ray lakukan untuk menemukan pasangan Ara secepatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD