Baru saja Ara dan Ray keluar dari UKS, gadis ini dikejutkan oleh kedatangan Gladis yang langsung memeluknya erat. Ara pun membalas pelukan itu.
"Kamu nggak apa-apa kan, Ra? Apa yang Lia lakukan padamu? Dia benar-benar keterlaluan sekarang. Aku sudah melaporkannya kepada BK," ungkap Gladis. Ara tersenyum dan mengangguk paham.
"Terima kasih, Gladis," ucap Ara. Gadis ini pun melepaskan pelukannya. Sepertinya Gladis tadinya berlari ke sini hingga peluh di dahinya dapat terlihat.
"Sebaiknya kita kembali ke kelas," sela Ray mengingatkan jika ada pelajaran yang harus mereka masukin sebentar lagi. Gladis dan Ara pun mengangguk. Kedua gadis ini berjalan lebih dulu dengan Ray yang mengikuti mereka dari belakang. Pikiran pemuda ini masih berada pada janjinya dengan Ara tadi. Bisakah dia tetap berada di sisi gadis itu hingga Ara menemukan pasangannya? Sekarang Ray bimbang, harusnya dia tak usah berjanji jika ragu-ragu seperti ini.
Ara dan Ray mengantar Gladis lebih dulu, kemudian dilanjut oleh kedua orang ini yang berjalan bersisian menuju ke kelas mereka. Karena kehebohan yang Lia lakukan tadi membuat beberapa murid memandang Ara sembari berbisik-bisik. Tentu gadis ini tampak lelah menjadi buah bibir murid di sekolah.
"Ray, kapan kita bisa kembali?" tanya gadis ini.
"Terserah padamu."
"Sepulang sekolah saja bagaimana? Tapi, aku mau bertemu Ibu dulu untuk yang terakhir kalinya," pinta gadis ini. Ray mengngguk setuju. Dia akan siap kapan pun Ara ingin pergi.
Sesampainya di kelas, keadaan di sana tiba-tiba sunyi. Teman-teman Ara diam ketika gadis ini dan Ray masuk ke kelas. Di sudut tempat lainnya ada Gara yang duduk tenang sembari membuka-buka buku miliknya. Ara mencoba bersikap biasa saja dan tak terlalu memikirkan ini. Lagi pula sebentar lagi dia akan kembali ke masa depan dan menjalani kehidupannya seperti biasa.
Jika kamu tidak bisa membahagiakan orang lain, setidaknya biarkan orang itu mencari kebahagiaannya sendiri.
Ara menuliskan kalimat itu di buku catatan miliknya. Ini seperti dia yang merelakan Gara untuk Gladis. Ara lega akhirnya dia bisa jujur meskipun beberapa kali ada insiden tak mengenakkan dengan Lia. Yang jelas misinya bersama Ray sudah tercapai. Sekarang dia harus berfokus pada masa depannya. Mencari cinta sejatinya dan membangun keluarga bahagia bersama.
Dari tempatnya Ara memandang sosok Ray dari samping. Ara sadar jika Ray selalu membantu dirinya. Dia harus banyak berterima kasih pada pemuda itu.
Setelah pelajaran usai dan waktunya pulang, Ara dan Ray buru-buru ke parkiran sekolah. Sebelum pergi, Ara mengingat jika dia belum berpamitan pada Gara dan Gladis. Dan tepat ketika dia akan kembali, kedua orang itu malah muncul di hadapannya. Ara pun tampak senang.
"Hai, Ra. Kamu mau pulang?" tanya Gladis yang berdiri tepat di samping Gara. Ara pun mengangguk penuh. "Aku dan Gara mau ke toko buku. Mungkin kamu mau ikut kami?" tawar Gladis. Ara menggeleng di sana. Tanpa aba-aba, Ara pun langsung menubrukkan diri dan memeluk Gladis dengan erat. Tindakan gadis ini membuat kedua temannya itu terkejut kecuali Ray tentunya.
"Gladis ... terima kasih sudah mau menjadi temanku," kata Ara dengan lulus. "Kamu adalah perempuan yang baik. Kamu dan Gara memang pasangan yang cocok. Aku berdoa agar kalian selalu bahagia di masa depan dan kehidupan baru nanti."
Kata-kata Ara tentu membuat Gladis dan Gara bingung. "Sama-sama, Ara. Kamu juga perempuan baik, kok," balas Gladis akhirnya. Ara pun melepaskan pelukannya pada Gladis, kemudian dia beralih pada Gara. Hal yang sama dia lakukan pada pemuda ini. Gara pun membalas pelukan sahabatnya itu.
"Gara ... terima kasih juga karena mau menjadi temanku. Meskipun kita tidak bisa bersama, tapi aku bahagia ketika kamu mendapatkan orang yang tepat di sampingmu," ucap Ara yang menahan tangisnya. Dia tak sanggup berpisah dengan Gara untuk yang kedua kalinya. Membayangkan masa depan pemuda ini membuat Ara menjadi tidak tega.
"Sama-sama. Kamu nantinya juga akan mendapatkan orang yang tepat," balas Gara.
Ara pun melepaskan pelukannya. Sekali lagi dia memandang Gladis dan Gara secara bergantian. Perpisahan memang sulit untuk dilakukan, tetapi sebuah perpisahan pasti terjadi kepada semua manusia di muka bumi ini.
"Ayo kita pulang," ajak Ray kepada Ara. Ara mengangguk dan dia berbalik menuju ke sepedanya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Gladis dan Gara.
"Sepertinya mereka akan benar-benar menjadi pasangan yang bahagia," ucap Ray di perjalanan mereka pulang.
Ara mengangguk. "Tapi Gara akan pergi di usianya yang ke 25 tahun. Aku sangat merasa bersalah karena tak menemuinya selama 5 tahun sejak kepindahanku. Aku sengaja tak menemuinya karena aku tak ingin terjebak dalam perasaan itu lagi," ungkap gadis ini.
"Setelah kamu jujur padanya, apa itu membuat hatimu lega sekarang?"
Ara mengangguk penuh. "Meskipun Gara dan Gladis tetap menjadi pasangan sekalipun, aku sudah lega sekarang. Terima kasih Ray. Aku pikir aku nggak akan bisa melakukan ini sampai akhir. Berkat adanya dirimu, aku bisa melakukan ini semua. Sekali lagi terima kasih."
"Sama-sama. Sudah aku katakan jika ini adalah tugasku. Sekarang tinggal bertemu dengan ibumu, setelahnya kita bisa pergi ke masa depan," balas Ray. Ara tau dia harus berpamitan kepada ibunya. Sekali lagi Ara mengingat hari di mana dia benar-benar seorang diri. Hari di mana sang ibu pergi dan meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi Ara sendiri.
Sepeda Ara dan Ray terparkir rapi di depan rumah gadis itu. Dan seperti biasa ibu dari Ara sedang melayani para pembeli di warungnya. Gadis ini segera menghampiri sang ibu.
"Ibu," panggil Ara membuat wanita tersebut menoleh.
"Kamu sudah pulang, Nak? Kamu pulang sama Ray? Bawa dia masuk ke dalam dulu," perintah sang ibu. Ara pun mengangguk. Dia mengkode Ray untuk masuk ke dalam. Ray pun akhirnya ikut.
Tak beberapa lama Ara sudah berganti baju dengan pakaian biasa. Kemudian, ibu dari gadis itu datang sembari membawakan minuma untuk Ara dan Ray.
"Ibu sudah menawarkan Ray makan, tapi dia tidak mau. Kamu mau makan, Ra?" kata sang ibu. Ara pun menggeleng.
"Nggak usah, Bu. Aku mau keluar sama Ray sebentar lagi," jawab Ara.
"Baiklah. Jangan pulang larut ya. Kalian harus belajar untuk sekolah besok."
Ara pun mengangguk paham. Gadis ini menghampiri sang ibu dan langsung memeluknya erat. Ini akan menjadi pelukan yang Ara rindukan nanti. Untuk itu dia tak akan menyia-nyiakan momen ini.
"Astaga, Ara. Kamu tidak malu di depan Ray?" tegur sang ibu.
Gadis ini menggeleng. Ray menahan tawa ketika Ara mendapat omelan dari ibunya.
"Ara sangat sayang sama Ibu," tutur gadis ini. Dia mengucapkannya dengan tulus, dan Ray tahu itu.
"Iya Ibu tau. Ibu juga sayang sama kamu," jawab wanita tersebut membuat hati Ara sedikit lega.
Ara melonggarkan pelukannya untuk menatap sang ibu sejenak. "Ibu, maafkan Ara karena belum bisa membahagiakan Ibu. Ara minta maaf karena terkadang buat Ibu kesal. Ara benar-benar minta maaf, Bu."
"Iya, Nak. Ibu maafkan. Sudah ah jangan kayak gini. Malu ada Ray lihat sejak tadi," kata sang ibu. Ara pun melepaskan pelukannya sembari mengusap matanya pelan karena sedikit berair tadinya.
Kemudian tatapan gadis ini beralih pada Ray. Lewat matanya dia mengkode pemuda itu jika dirinya telah siap untuk pergi sekarang. Ray pun mengangguk dan langsung berdiri dari tempatnya.
"Bu, kami pergi sekarang ya?" pamit Ara yang mencium punggung tangan wanita tersebut diikuti oleh Ray juga.
"Hati-hati. Jangan pulang terlalu larut."
Kedua remaja ini pun mengangguk kompak. Ketiga orang itu kemudian berjalan menuju ke luar rumah. Sang ibu kembali ke aktifitas melayani pembeli, sedangkan Ray dan Ara menuju ke tempat sepeda mereka. Untuk terakhir kalinya, Ara menatap rumah dan ibunya di sana. Dia pasti sangat merindukan sosok sang ibu.
Ray tau perasaan Ara. Berpisah dengan orang-orang yang ia sayangi memang sulit. Untuk itu Ray memberikan waktu bagi Ara untuk mengucapkan salam perpisahan kepada semua orang.
Ray memimpin perjalanan. Kali ini tujuan mereka adalah Kedai Mie Ayam. Tempat pertama yang menjadi pertemuan tak terduga kedua orang ini.
Ara dan Ray masuk ke dalam dan memesan mie ayam mereka. Ara kurang berselera makan karena ini akan menjadi terakhir kali dia makan di tempat itu.
"Kamu sedih?" tanya Ray tiba-tiba.
"Bagaimana bisa aku tidak sedih Ray? Perpisahanku dengan Ibu dan Gara benar-benar membekas di hatiku. Kami yang setiap hari selalu bertemu kemudian dipisahkan oleh takdir yang tak terduga. Aku tak pernah melupakan hari di mana aku kehilangan mereka," seloroh Ara dengan mata yang mulai berair di sana. Ray dengan sigap mengambil sapu tangan miliknya. Ara menerima sapu tangan itu dan mengusap air mata yang belum turun itu. Dia tak ingin terlihat buruk di depan pemuda ini.
"Kamu beruntung di kelilingi oleh orang-orang yang sayang padamu, Ra. Kamu adalah perempuan yang sangat kuat. Aku yakin kamu bisa melewati itu semua. Bahkan di keadaan paling buruk pun kamu bisa bertahan."
Pujian dari Ray tentu membuat sebagian hati Ara tampak lega. Setidaknya dia tak terlihat begitu menyedihkan sekarang.
"Kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Ara mencoba mengambil topik pembicaraan lain agar tak terus larut dalam kesedihan.
Ray tersenyum. "Ini adalah tempat di mana kita pertama bertemu. Ini juga menjadi tempat di mana kamu mulai kembali masa lalu. Dan ini akan menjadi tempat kita untuk kembali ke masa depan," jelas Ray.
"Apakah ketika kita keluar dari pintu itu semuanya akan sama seperti di masa depan nanti?"
Ray mengiyakan pertanyaan gadis ini. Ara mengembuskan napas beratnya. Baiklah, mau tidak mau memang dia harus kembali ke masa depan.