Bagian 15

1272 Words
Hanya ada kesunyian di dalam UKS meskipun di dalamnya terdapat Gara dan Ara. Gadis ini terlihat bingung dengan apa yang harus ia jelaskan pada temannya. Bahkan Ara berdoa jika memang kali ini dia harus jujur, semoga Gara tidak marah, semoga ke depannya tak ada lagi kecanggungan di antara mereka. Dan semoga hubungan Gara dan Gladis baik-baik saja. "Maafkan aku." Akhirnya ada yang mau mengalah di antara kedua remaja ini. Gara memusatkan perhatiannya pada Ara yang baru saja mengucapkan kata maaf. "Maafkan aku, Gara. Aku tau kamu percaya kepadaku. Kita adalah teman sejak kecil. Karena kebersamaan kitalah yang membuat perasaan ini muncul." "Tunggu, Ra," potong pemuda ini. "Kamu nggak benar-benar menyukai selayaknya laki-laki kepada perempuan, kan?" tanyanya hati-hati. Ara menatap Gara dengan sendu. "Maafkan aku. Aku menyukaimu selayaknya kepada lawan jenis. Apakah kamu tau jika sangat sulit bagi perempuan dan laki-laki bersahabat tanpa menimbulkan perasaan? Itu yang aku alami saat ini, Gara. Aku menyukaimu sejak lama. Jauh sebelum kita masuk ke sekolah ini." Pemuda itu tampak tak bisa berkata-kata setelah mendengar pengakuan dari Ara. Tentu hal ini menjadi kejutan besar bagi Gara. Padahal tadinya dia berpikir Ara sengaja berkata seperti itu pada Lia hanya agar bisa menutup mulut Lia untuk tak lagi membicarakan mereka. "Ini benar-benar mengejutkanku, Ra," jawab Gara sembari memberikan tawa keterpaksaan di sana. "Sejak kapan perasaan itu muncul?" tanya Gara kemudian. "Aku nggak tau. Sepertinya aku menyadarinya sejak kedekatanmu dengan Gladis semakin intens." Gara memandang temannya itu dengan pandangan tak percaya. Jadi, selama itu Ara menyembunyikan perasaannya untuk Gara? Pemuda itu pun tersenyum miris. Gara merasa jika ia sungguh jahat kepada temannya sendiri. "Maafkan aku, Ra," ujar Gara tiba-tiba yang langsung mendapat pandangan bingung dari temannya itu. "Aku merasa menjadi orang jahat dalam pertemanan kita. Aku membiarkanmu dalam perasaan itu seorang diri. Dan aku malah selalu bercerita banyak padamu tentang Gladis." Ara dengan cepat menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tak menganggap Gara sebagai orang jahat. Bahkan sekalipun dia tak pernah berpikiran untuk merebut Gara dari Gladis. "Jangan seperti ini, Gara. Aku sama sekali tak memaksamu untuk menerimaku. Aku sadar jika kamu dan Gladis adalah pasangan yang saling mencintai. Dan aku tak ingin menjadi orang ketiga dihubungan kalian. Aku tak ingin apa yang Lia tuduhkan kepadaku menjadi sebuah kebenaran yang mutlak, untuk itu aku ingin kamu tetap melanjutkan hubunganmu dengan Gladis," balas Ara. Gara terlihat bersyukur memiliki sahabat seperti Ara. Kalau saja dia bisa membuka mata, maka dia tak akan memperlakukan gadis ini seperti itu. Gara pun berdiri dari tempat duduknya, dia menghampiri temannya itu. Kemudian sebuah pelukan hangat dari pemuda ini Ara rasakan. Ini adalah sebuah pelukan yang pemuda itu lakukan setelah sekian lama. Ara tak bisa menahan rasa harunya, dia ikut membalas pelukan yang pemuda ini berikan. "Terima kasih sudah menjadi teman, sahabat, dan keluarga untukku, Ra. Aku harap kita masih bisa berteman hingga tua nanti. Aku berdoa agar kamu dipertemukan oleh seorang pria yang baik dan memang ditakdirkan untukmu." "Terima kasih, Gara. Doaku juga sama, semoga kamu dan Gladis bisa hidup bahagia hingga tua nanti." Tangis Ara pun pecah saat itu karena mengingat jika di masa depan Gara akan pergi dari dunia ini. Kalau saja dia bisa memberitahu Gara, mungkin kematian bisa dihindari, atau malah tak berarti apa pun. Ara ingat jika dia tak bisa mengubah masa lalu yang sudah terjadi. Rasa haru di ruangan itu terhenti ketika pintu UKS terbuka dan menampilkan sosok Ray yang baru datang dengan napas terengah-engah. Melihat posisi Gara dan Ara saling berpelukan membuat Ray sadar jika dirinya datang di saat yang tidak tepat. "Ray," panggil gadis ini yang sedikit menjauhkan dirinya dari Gara. Gara pun menghampiri pemuda itu dan menepuk pundak Ray pelan. Sembari menatap Ray, pemuda ini berkata, "Terima kasih sudah berada di sisinya selama ini. Sekarang adalah giliranmu, semoga beruntung," katanya yang kemudian pergi dari sana dan tak lupa menutup pintu UKS. Dalam kecaggungan, Ray menghampiri Ara yang hanya diam dan sedikit menunduk. Pemuda ini duduk tepat di samping gadis itu. Entah kenapa ada kecanggungan di antara keduanya. Melihat Gara dan Ara tampak baik-baik saja membuat pikiran Ray bercabang antara apakah Ara sudah mengakui perasaannya atau malah sebaliknya. "Bagaimana? Apakah Gara menerima perasaanmu?" tanya Ray langsung. Ara mengangkat wajahnya, dia menoleh dan menatap pemuda yang ia anggap sebagai malaikat itu. Kemudian, Ara pun mengangguk, Ray bernapas lega dan memaksakan sebuah senyum lebar di sana. "Selamat. Aku senang mendengar ini," katanya. Ara terseyum, dia kembali menunduk. "Apakah kamu senang, Ray?" tanyanya. Pemuda itu tak langsung menjawab pertanyaan ini. Dia butuh beberapa detik untuk menjawab pertanyaan yang seharusnya cukup mudah itu. "Tentu saja. Ini adalah tujuan kita bukan?" jawabnya. Ara tersenyum miris, entah kenapa dia antara senang dan tidak sekarang. "Lantas, apakah sekarang aku bisa kembali ke masa depan?" tanya Ara. Ray terdiam sejenak. "Apakah kamu tidak ingin menghabiskan waktu bersama dengan Gara sebentar saja? Misalnya sebagai pasangan kekasih?" Ara menggeleng. Kekasih? Bahkan dia mengatakan jujur kepada Gara bahwa dirinya tak menginginkan balasan dari temannya itu. "Ara ... apakah kamu baik-baik saja?" tanya Ray pelan. Ara menatap pemuda itu sekali lagi, matanya mengisyaratkan jika ia tak sedang baik-baik. Lebih tepatnya Ara sedang bingung. "Bolehkah aku memelukmu? Hanya sebentar saja," pintanya tiba-tiba. Ray mengangguk dengan ragu. Ara perlahan namun pasti langsung memeluk tubuh Ray dari samping. Ray yang memang adalah laki-laki kaku pun mencoba untuk membalasnya. "Aku sudah jujur pada Gara, dan Gara menerima itu. Tapi, aku juga tak meminta balasan dari dia. Aku minta dia untuk bersama dengan Gladis saja. Sejak awal memang kita ditakdirkan sebagai teman, sahabat, dan keluarga saja, Ray. Tidak untuk sebagai pasangan." Akhirnya Ray pun paham arti tatapan Ara tadi. Ara dan Gara tetaplah menjadi sahabat. Tentu Ray menjadi sangat bersalah karena ia pikir Gara mau menerima Ara sebagai kekasih. "Di masa depan nanti kamu pasti akan bertemu dengan pasanganmu, Ra. Aku tak tau itu kapan, tetapi hal itu pasti terjadi," kata Ray sungguh-sungguh. Ara sedikit menjauhkan tubuhnya dari pemuda ini. "Apakah itu mungkin?" Ray mengangguk. "Bisakah kamu berjanji padaku?" pinta gadis ini tiba-tiba. "Berjanji apa?" tanya Ray lebih lanjut. "Berjanjilah kamu akan membantuku menemukan pasangan hidupku, Ray." Ekspresi keterkejutan tercetak jelas di wajah pemuda ini. "Berjanjilah. Aku mohon," pinta Ara sekali lagi. Kali ini dia mengeluarkan wajah memelasnya. Sebentar lagi dia akan kembali ke masa depan. Itu artinya dia akan kembali hidup sendirian. Jika ada Ray, mungkin hidup Ara tak akan terlihat sangat menyedihkan. Setidaknya dia masih memiliki teman sebelum menemukan pasangan sejatinya. Terlihat Ray yang bimbang. Dia adalah makhluk yang tak boleh membuat janji dengan manusia. Karena itu akan mempengaruhi tugasnya. "Apakah Tuhan tidak membolehkanmu?" tanya Ara dengan wajah penuh kesedihan di sana. Ray langsung menggeleng dengan cepat karena tak tega melihat wajah sedih gadis ini. "Hanya saja aku tidak bisa membuat janji dengan sembarang manusia," ungkap Ray jujur. "Aku hanya ingin memiliki teman. Setelah Gara menikah dengan Gladis, aku benar-benar sendirian. Ibu juga nanti pergi, semua orang pergi meninggalkanku. Aku hanya butuh seseorang sepertimu Ray. Setidaknya sampai aku menemukan pasanganku," terang Ara. Pemuda ini terdiam, mencoba mempertimbangkan permintaan Ara. Setelah mencoba mempertimbangkan dan memikirkan beberapa hal, akhirnya Ray pun mengangguk. Keputusan Ray membuat gadis itu terlihat senang. Bahkan Ara tak segan untuk memeluk Ray lagi. "Terima kasih. Aku janji setelah aku menemukan pasanganku, kamu boleh kembali ke tempat asalmu," kata Ara. Ray pun mengangguk saja. Tanpa pemuda itu sadari, keputusan ini bisa membuat masa depan mereka berubah. Masa depan Ara yang berubah, dan bahkan masa depan Ray pun juga akan berubah. Ray sengaja mengambil keputusan itu agar Ara tak sendirian. Bukankah hidup manusia terlihat sangat menyedihkan jika dia hanya tinggal seorang diri? Pasti kehidupan Ara sangat berat. Untuk itu Ray akan menemani Ara sementara waktu. Ya, sementara waktu, hingga pada akhirnya gadis itu menemukan pasangannya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD