4

2115 Words
“Kau butuh uang?” Adelle membuka matanya dengan sangat lebar saat mendengar suara di telepon itu. Dia mendengkus dan merasa menyesal telah mengangkat telepon. Ini hari liburnya dan tidurnya terganggu karena ini. “Apa-apaan ini, Dad?” Dia tidak bisa menyembunyikan suara kasarnya. “Kau bekerja di dua tempat. Apa kau kekurangan uang?” Adelle kembali mendengkus. Selalu, Dad dan segala perlindungannya. “Kapan kau berjanji akan berhenti menyuruh pengawalmu mengintip hidupku?” “Tidak akan, Adellina. Tidak akan pernah.” “Dad, berhenti bertingkah konyol! Aku sudah dewasa dan aku baik-baik saja!” Adelle memejamkan matanya saat menyadari suaranya naik satu oktaf. Dia tidak ingin marah pada ayahnya. Namun setiap kali pria itu meneleponnya, hal itu selalu berakhir dengan tidak baik untuk mereka. “Aku hanya khawatir, Nak.” Adelle mengembuskan napas seraya menatap langit-langit kamarnya. Bukan salah ayahnya jika pri itu berubah menjadi seorang ayah yang super protektif. “Aku tahu. Aku minta maaf, tetapi aku benar-benar baik-baik saja dan tidak kekurangan uang.” “Lalu kenapa kau bekerja di dua tempat?” Untuk beberapa saat Adelle hanya bias terdiam. Akhir-akhir ini dia jarang berbicara dengan ayahnya hingga rasanya agak aneh jika dia bercerita sekarang. Sejak beberapa tahun terakhir ini, ia terbiasa untuk hidup sendiri dan juga memendam semua perasaannya. “Tidak apa-apa, hanya mengisi waktu luang. Lagipula bosku masih orang yang sama dan aku bekerja tetap enam hari dalam satu minggu.” Suaranya sedikit melunak. Dia tahu kekhawatiran yang dirasakan ayahnya karena tinggal jauh dari kampung halamannya di Schleswig-Holstein. “Kapan kau ada rencana kemari? Adikmu merindukanmu.” Adelle memejamkan mata. Sudah sangat lama dia tidak pulang. Ada bagian dari dirinya yang akan mati kembali jika dia pulang. “Adelle?” “Mmm, Dad, aku ada tamu. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Bye, Dad!” Dia menutup telepon tanpa mendengar jawaban ayahnya. Matanya kembali terpejam. Menunggu rasa sakit itu datang lagi. Rasa sakit yang terus menggerogoti dirinya. Rasa sakit yang tidak akan pernah hilang. Adelle membuka matanya dan melihat pigura foto yang berada di meja samping tempat tidurnya. Foto bahagia keluarganya sebelum tragedi itu merenggut senyum mereka. Foto ayahnya, ibunya, dirinya, dan adik kembarnya, Adellia. Setetes air mata mengalir dari pipinya saat rasa bersalah itu kembali menghantamnya. Adellia dan ibunya meninggal enam tahun lalu dalam kecelakaan mobil. Ingatan Adelle kembali ke masa itu. Saat terburuk dalam hidupnya. Saat itu, mereka berencana pergi piknik untuk merayakan ulang tahun ke tiga belas Adelle dan Adellia. Akan tetapi Adelle merasa marah karena dia ingin mengadakan pesta ulang tahunnya di kastil tempat mereka tinggal. Pesta mewah dengan mengundang banyak teman-temannya. Yeah, mereka adalah keluarga bangsawan di tempat asal mereka. Ibunya berkata bahwa pesta itu akan diadakan, tetapi tidak hari itu. Sang ibu ingin menghabiskan waktu sehari penuh hanya berempat. Adelle yang terlanjur kesal dan marah tidak mau tahu, tetapi Adellia juga tidak mau membatalkan piknik mereka. Akhirnya, ibunya dan Adellia berangkat dahulu sementara sang ayah akan membujuk Adelle agar mau piknik bersama mereka. Itulah awal bencana keluarga mereka. Mobil yang ditumpangi Adellia dan ibunya bertabrakan dengan truk kontainer. Mereka meninggal seketika di tempat kejadian. Ulang tahun itu menjadi mimpi buruk bagi mereka. Hal itu membuat Adelle merasa sangat bersalah. Jika bukan karena dirinya yang keras kepala, mereka tidak akan pergi dengan mobil terpisah. Mereka bisa berangkat lebih cepat dan kecelakaan itu tidak akan terjadi. Ibunya dan Adellia akan tetap bersama mereka sekarang. Adelle tahu tidak ada satuvpun orang yang menyalahkannya. Dialah yang menyalahkan dirinya sendiri karena memang dia tahu ini kesalahannya. Ini semua karenanya. Ayahnya menikah lagi satu tahun setelah kepergian ibunya dan Adellia. Kini mereka memiliki satu anak laki-laki dan sedang menantikan anak kedua mereka. Janice baik dan sangat sayang padanya. Umurnya yang masih muda juga membuatnya kadang berperan sebagai seorang sahabat bagi Adelle. Namun itu tidak akan bisa menambal lubang yang ada di dalam d**a Adelle. Sebaik apapun Janice, wanita itu tidak akan bisa menggantikan ibunya. Adelle mendesah dan bangkit dari ranjangnya. Liburannya telah terganggu. Dia tidak akan bisa tidur seharian seperti yang telah direncanakannya.  Ia menggosok gigi dan mencuci mukanya dengan cepat. Meraih kaus, celana jeans, dan menyisir rambut keritingnya yang berantakan. Dia tidak terlalu suka rambut keritingnya, tetapi ibunya menyukainya. Ibunya selalu bilang jika rambut keriting membuatnya terlihat makin cantik. Karena itulah dia bertahan dengan rambut keritingnya sampai hari ini demi ibunya. Ia keluar dari apartemennya dan tersenyum saat udara dingin menerpa wajahnya. Rasanya menyenangkan bisa bangun pagi dan mendapatkan udara segar. Adelle berjalan kaki dengan santai. Mengamati orang-orang yang sibuk dengan aktivitas pagi mereka. Lari pagi, berjalan-jalan dengan anjing mereka, membeli koran, atau hanya duduk di taman menikmati sepotong sandwich. Perut Adelle berbunyi. Ya, dia lapar. Akan tetapi dia tidak ingin memasak. Setiap hari libur, dia tidak pernah memasak. Dia sudah memasak setiap hari untuk orang banyak, karena itulah setiap hari libur Adelle memilih untuk memanjakan dirinya. Dirinya adalah penyuka makanan enak. Walaupun itu hanya sepotong pancake, rasanya haruslah luar biasa lezat. Tidak ada istilah makanan biasa baginya. Dia hanya ingin makanan lezat. Bel pintu berdenting saat ia memasuki sebuah kafe kecil yang khusus menyediakan menu sarapan. Ini salah satu kafe langganannya karena makanan yang disajikan di sini luar biasa lezat dan sangat cocok dengan lidahnya. “Adelle! Ya Tuhan! Aku merindukanmu, Nak!” Hilda, wanita gemuk pemilik kafe itu berlari memeluknya begitu dia masuk. Adelle tertawa dan balas memeluknya. Hilda sudah seperti bibinya sendiri dan dia wanita yang luar biasa menyenangkan. “Maafkan aku, Hilda. Aku sangat sibuk.” Hilda melepas pelukannya dan mencibir. “Dasar sok sibuk!” Adelle kembali terbahak mendengar nada mencela Hilda. “Aku butuh muffin dan kopimu, bukan ocehanmu.” Hilda memutar bola matanya. “Ayo ke belakang, anak-anak merindukanmu!” Dia menyeret lengan Adelle ke dapur. “Aku ini pelanggan! Mana ada pelanggan makan di dapur.” “Aku tidak peduli.” Hilda membuka pintu dapur dan semua orang yang ada di dapur berteriak dan memeluknya. Adelle tertawa. Inilah keluarga keduanya. Hilda dan semua orang yang ada di sini. “Aku mau muffin, sekarang. Aku lapar.” Adelle cemberut dan duduk di kursi bar. Perutnya benar-benar kelaparan sekarang. Dan air liurnya benar-benar menetes saat melihat muffin apel dan secangkir kopi di hadapannya. “Habiskan sarapanmu dan kau harus membantuku sesudah itu.” Hilda menepuk kepalanya pelan. Adelle cemberut. “Aku tidak maaauu!!” “Tidak ada bantahan, Curly!” Hilda melotot dan meletakkan tangan gemuknya di pinggangnya yang besar. “Bagaimana kalian bisa betah bekerja dengan nenek sihir itu?” “Aku mendengarmu, Curls!” Para pegawai Hilda tertawa mendengarnya. Adelle memutar bola matanya dan mulai menyantap muffin-nya. Memang ini yang selalu terjadi setiap dia datang ke kafe ini di hari liburnya. Selesai sarapan dia akan membantu Hilda, entah membuat kue atau melayani para tamu. “Adelle, bantulah aku, Nak. Di depan banyak sekali orang.” Hilda muncul dengan wajah memelasnya sesaat setelah dia selesai meminum tetes kopi terakhirnya. “Ya, ya, aku datang!” Dia bangkit dengan cepat dan keluar dapur. Hilda benar. Kafe tampak sangat ramai pagi ini. Dengan sigap Adelle meraih notes untuk mencatat pesanan dan menghampiri orang yang baru saja duduk. “Selamat pagi! Ada yang bisa saya bantu?” Sapanya dengan ramah pada pria yang baru saja duduk. Pria muda itu menoleh dan Adelle tersentak. Sial! Dosen tampan itu! ~~~ Mike menguap dan meregangkan badannya. Akhirnya pagi datang setelah ia menjalani shift malamnya yang panjang. Mike masuk ke kamar mandi di ruang kerjanya dan berganti pakaian dengan cepat. Saat ini yang ingin dilakukannya hanyalah pulang dan tidur. “Eva, mau pulang bersamaku?” Tanyanya saat melihat Eva memakai mantel. Eva berbalik dan menggeleng. “Aku dijemput pacarku, Dokter,” ucapnya pongah membuat Mike menaikkan alisnya. “Dasar sombong!” Mike mencibir. Eva terkekeh. “Memangnya kau, tidak laku-laku,” katanya seraya menjulurkan lidah dan melangkah di lorong. Mike menyusulnya dan menjitak kepala gadis itu dengan pelan. “Aduh!” Eva menoleh dan melotot. “Apa? Dasar anak kecil tidak sopan.” “Tidak sopan? Itulah kenyataannya, Dokter, kau tidak laku.” Dengan bercanda, Mike mengaitkan lengannya ke leher Eva dan memiting gadis itu. Para perawat dan dokter yang melihat mereka hanya terkekeh. Terlalu terbiasa melihat Mike dan Eva bercanda layaknya adik kakak atau bahkan seperti kekasih. “Lepaskan tanganmu, nanti pacarku melihat.” Eva menyentakkan lengannya, menjulurkan lidah dan berlari meninggalkan Mike. Mike terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Bertemu Eva selalu bisa menceriakan harinya, membuatnya melupakan masalahnya. Mike mengembuskan napasnya dan menuju tempat parkir. Ia berpapasan dengan Gab yang baru saja datang. “Hai, Dude!” Mereka melakukan toast ala pria. “Shift pagi, huh?” Gab mengangguk. “Padahal aku baru pulang jam tiga pagi tadi,” dia menggerutu. “Clubbing lagi?” Gab mengangkat bahunya. “Aku sedang stress,” dia menepuk bahu Mike pelan, “semoga tidurmu nyenyak, Sobat.” “Gab?” Panggil Mike dengan pelan. Gab menoleh padanya. “Telepon saja aku kalau kau butuh bercerita.” Gab tersenyum dan melambai. Mike menatap punggung Gab yang menjauh. Mereka terlalu sibuk akhir-akhir ini hingga sangat jarang berkumpul. Mike naik ke mobil dan mengernyit saat perutnya melilit kelaparan. Dia sudah sangat ingin tidur, tetapi yakin tidak akan bisa tidur jika perutnya lapar begini. Mike menyetir dan memandang bangunan-bangunan di sekitar jalan yang dilewatinya. Dia melihat kafe kecil yang tampak ramai dan memutuskan berhenti. Mike termasuk sangat pemilih dalam hal makan, jika kafe kecil ini bisa memenuhi selera lidahnya, hal itu akan menjadi pembuka hari yang tepat untuknya. Mike masuk dan menemukan di dalam kafe bahkan lebih ramai lagi. Setelah melihat ke sekeliling, akhirnya dia menemukan satu meja kosong. “Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” Suara itu membuatnya menoleh dan napas Mike seolah terhenti. Sial! Si keriting bersuara indah! Berhari-hari lamanya Mike mencoba menghilangkan bayangan si keriting itu dari kepalanya. Dan kini saat usahanya hampir berhasil, mereka bertemu lagi! What the hell are going on here? Mike membersihkan tenggorokannya sebelum mulai berbicara. “Aku butuh secangkir coklat panas dan muffin blueberries.” Gadis itu mencatat dengan patuh. “Ada lagi, Herr?” Mike menggeleng dan gadis itu berbalik meninggalkannya. Mike menghela napas setelah gadis itu pergi. Apa yang dilakukannya di sini? Apa dia bekerja di sini juga? Harapannya untuk bertemu gadis itu lagi musnah saat yang mengantarkan pesanannya ternyata orang lain. Mike mengamati kafe dan tidak menemukan gadis itu di sana. Dia menikmati sarapannya dengan tidak bersemangat dan semakin ingin segera sampai di apartemen. Hingga selesai makan, Mike tidak melihat gadis itu lagi. Dengan hati dongkol, Mike keluar dan bergegas ke mobilnya. Ia baru akan menancap gas saat matanya menatap sosok berambut keriting sedang berjalan tak jauh dari kafe itu. Mike kembali mengunci mobilnya dan berlari mendekati gadis itu. “Hai,” sapanya saat berada di sisi gadis itu. Gadis itu menoleh dan membelalak. “Ha ... hai,” jawabnya dengan gugup. Mike mengerutkan alis. Kenapa gadis ini gugup? Apa dia takut padanya? “Kau mau pulang?” Gadis itu mengangguk. “Aku antar?” Gadis itu menggeleng. “Tidak, tidak usah. Tempat tinggalku dekat dari sini, Herr.” “Ayolah, tampaknya kau lelah. Kita akan lebih cepat sampai dengan mobilku.” Gadis itu tampak berpikir, tetapi Mike merasa tidak sabar. Dia menarik lengan gadis itu dan membawanya ke mobilnya. “Hei, aku belum setuju untuk pergi denganmu!” Gadis itu memprotes. Mike tersenyum. “Kau terlalu lama berpikir.” Ia membuka pintu dan menyuruh gadis itu duduk. Mike sendiri heran dengan apa yang dilakukannya, tetapi dia tidak bisa membiarkan gadis itu pulang sendiri. Atau mungkin dia tidak bisa membiarkan kesempatan berkenalan dengan gadis itu hilang begitu saja. “Ada apa?” Mike bertanya saat gadis itu menatapnya tajam. “Aku bahkan tidak mengenalmu, bagaimana aku tahu kau tidak akan  menculikku??” Gadis itu melotot padanya. Mike tertawa. Gadis ini sedikit mengingatkannya pada Eva. “Aku, Mike, dan kau Adelle kan?” Mike mengulurkan tangannya namun gadis itu hanya mengangkat alis.  “Kau bilang kau tidak mengenalku, jadi aku mengenalkan diriku.” Adelle akhirnya membalas jabatan tangannya. “Terserah, yang penting aku mau pulang sekarang, dan jangan coba macam-macam padaku.” “Keberatan aku membuka atapnya?” Adelle menggeleng dan Mike kembali membuka atap mobilnya. “Di mana kau tinggal?” “Hotherstraße.” “Hmm, cukup dekat.” Mike tersenyum dan menjalankan mobilnya. Duduk bersebelahan dengan gadis ini entah mengapa membuatnya tenang. Mereka tidak berbicara, tetapi rasanya begitu damai. Dan entah mengapa Mike tidak ingin lekas-lekas sampai. “Kau bekerja di sana juga?” Suara Mike memecah kesunyian di antara mereka. “Tidak. Aku hanya membantu Hilda.” “Kau sering ke sana?” Adelle mengangguk. “Tapi biasanya hanya saat aku libur.” “Jadi hari ini kau libur?” “Ya.” “Kau mau makan malam denganku malam ini?”      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD