Bab 38 Pagi itu suasana di desa tampak seperti biasa, para ibu sibuk menjemur pakaian, anak-anak berlarian menuju sekolah, dan suara mesin penggiling padi milik keluarga Abimanyu terdengar dari kejauhan. Namun, di balik rutinitas itu, sebuah kabar mulai beredar pelan-pelan, menembus tiap rumah dan telinga yang haus akan gosip. Rara duduk di teras rumahnya dengan wajah sinis. Sejak pagi ia sudah kesal karena Winona mendapat pujian lagi dari warga setelah gubuk belajar Pelita Harapan resmi dibuka. Semua orang memuji kebaikan hati dan kepintaran kakak iparnya itu, sementara dirinya merasa dilupakan. "Apa 'sih istimewanya dia?” gumam Rara dengan nada jengkel. "Cuma karena dia cantik dan punya uang sedikit saja, semua orang jadi buta." Rara kemudian teringat sesuatu, percakapan lama antar

