Bab 37 Udara di pagi hari itu terasa sejuk dengan embusan angin yang membawa aroma tanah basah. Di halaman belakang rumah Pak Arman, terdengar suara palu dan gergaji kayu bersahutan. Abimanyu, dengan kaus yang mulai basah oleh keringat, sibuk memaku papan kayu di sudut lahan kosong. Di sebelahnya, Pak Arman membantu memegang balok, sementara Radit mondar-mandir membawa paku dan peralatan lainnya. "Pelan-pelan saja, Bim," ujar Pak Arman, sambil tersenyum. "Jangan terlalu tinggi, nanti anak-anak tidak bisa melihat papan tulisnya." Abimanyu mengangguk. "Iya, Pak. Ini cuma buat rangka saja dulu. Nanti bagian dalamnya, aku pasang anyaman bambu biar adem." Winona yang sedari tadi memerhatikan dari jauh tersenyum lebar. Ia benar-benar tidak menyangka ide sederhananya untuk membuat tempat

