Bab 49. Pagi itu suasana rumah keluarga Pak Arman terasa begitu tegang. Tak ada lagi suara tawa atau canda seperti biasanya. Semua terasa dingin dan kaku. Rara duduk di ruang tamu dengan kepala menunduk, sementara Pak Arman berdiri di depannya dengan tangan yang disembunyikan di belakang punggung, sorot matanya tajam dan penuh kekecewaan. "Rara." Saranya berat dan bergetar menahan emosi. "Kamu masih saja ketemu sama Yudha, ya?" Rara menggigit bibir bawahnya, tidak menjawab. Namun, diamnya sudah cukup membuat sang bapak tahu jawabannya. "Bapak sudah bilang berapa kali, Nak. Berkeluarga itu bukan mainan. Kamu lihat sendiri ibumu sampai jatuh sakit karena stres mikirin kamu." Pak Arman mulai menasehati. "Kamu lihat Mas Abim, baru menikah saat usianya sudah 25 tahun, sudah cukup dewasa, it

