Bab 17. Mau Usaha

1401 Words

Matahari menembus dedaunan di halaman belakang rumah, menebar cahaya keemasan di atas tanah yang mulai kering. Abimanyu baru saja selesai memberi makan ayam dan membersihkan kandang ketika Winona datang membawa dua gelas teh hangat. "Mas," panggilnya lembut. Abimanyu menoleh, menghapus keringat di dahinya dengan ujung kaus. "Ya, Nona? Kenapa? Kamu sudah sarapan?" "Sudah. Aku bawa teh buat kamu," katanya sambil menyerahkan satu gelas. Abimanyu tersenyum kecil, menerima gelas itu dan duduk di kursi bambu dekat pohon jambu. Suasana tenang, hanya terdengar suara burung dan embusan angin yang lembut. Setelah beberapa saat diam, Abimanyu membuka percakapan. "Nona, aku mau cerita sesuatu. Dulu waktu almarhum kakek masih hidup, beliau sempat kasih aku sepetak tanah kecil di pinggir sungai,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD