Hari itu, ruang baca besar di lantai dua rumah peninggalan Kakek Tommy dipenuhi oleh seluruh anggota keluarga besar. Tirai jendela dibiarkan terbuka, membiarkan cahaya sore menembus masuk dan menyoroti meja panjang tempat notaris keluarga duduk dengan map cokelat tebal di hadapannya. Suasana hening, hanya terdengar suara detik jam dinding dan desiran angin dari taman belakang. Winona duduk di samping Abimanyu dengan wajah tenang, namun dalam hatinya berdebar kencang. Ia belum sepenuhnya siap mendengar isi surat wasiat kakeknya, meskipun Adam sempat memberitahunya bahwa Kakek Tommy sudah menyiapkan semuanya dengan matang sebelum meninggal. Notaris itu membuka map dengan hati-hati, lalu berkata pelan namun tegas. "Sesuai dengan surat wasiat almarhum Bapak Tommy Hartono yang ditandatangan

