Semenjak mendapatkan tamparan dari Daryl, Enid menjadi pendiam. Ia dengan sendirianya kembali ke dalam kamarnya dan lebih banyak berdiam diri di atas tempat tidur. Enid tidak paham kenapa hatinya begitu sakit saat Daryl menampar dan mengatainya seorang sampah. Seharusnya dia tidak perlu memasukkan ke dalam hati ucapan pria itu. Dengan begitu ia tak perlu merasa sakit hati.
Diamnya Enid membuat Daryl menjadi canggung setiap kali memeriksa Enid. Gadis menjadi sangat patuh. Apapun yang diperintahkan Enid tidak pernah menolak atau banyak bicara seperti biasa. Tak Ada ocehan, celetukan yang kadang membuat Daryl jengkel setiap berhadapan dengan Enid. Awalnya Daryl pikir itu lebih baik, dengan begitu ia lebih mudah mengendalikan Enid. Biarkan saja Enid seperti wanita-wanita korban sebelumnya yang selalu menciut, menunduk, dan menunjukkan raut takut ketika berhadapan dengan Daryl. Ternyata Daryl salah. Satu minggu telinganya tak lagi mendengar pembangkangan Enid membuatnya merasa bersalah.
“Enid.” Panggil Daryl membawakan segelas s**u hangat masuk menghampiri gadis yang sedang duduk menyandarkan punggung pada sandaran ranjang. Enid menoleh sebentar dan kembali memainkan kuku-kuku jarinya. “s**u untukmu, segera minum sebelum dingin.” Kata Daryl meletakkan di atas meja nakas. Tanpa mengatakan apapun Enid meraih gelas s**u itu dari meja nakas dan meminumnya hingga tetes terakhir. Enid mengembalikan gelas itu ke tempat semula.
Daryl menggaruk tengkuknya yang tak gatal, memperhatikan Enid yang sama sekali tidak peduli dengan kehadirannya di kamar itu.
Yang benar saja aku peduli dengannya.
Daryl membawa langkah keluar kamar tetapi kemudian berbalik melihat Enid. “Kau tidak bosan berdiam seharian disana?” tanya Daryl.
Enid menggeleng kecil.
“Jika merasa bosan kau boleh temui aku di ruang kerjaku. Atau kau boleh berkeliling tempat ini. Gerakkan kakimu, orang hamil tidak boleh banyak diam.” Pesan Daryl sebelum kemudian pria itu melangkahkan kaki keluar kamar.
“s**t!” Umpat Daryl di luar kamar. “Apa yang baru saja aku katakana? Mengundangnya ke ruang kerjaku. Memangnya siapa dia.” Ia menggerutu seraya melangkah menuju kamarnya. Ponselnya berdering di atas tempat tidur. Lizzie memanggilnya dan segera Daryl mengangkatnya.
“Lizzie,” Daryl duduk di atas ranjang.
“Kau di rumah?” tanya Lizzie.
“Iya ini hari liburku.”
“Aku akan kesana.” Ucap Lizzie memutus sambungan telepon.
Daryl membuang nafas kasar. Daripada membuang waktu memikirkan Enid dia lebih baik bersiap menyambut wanitanya, Lizzie. Itu lebih berguna. Daryl menjatuhkan dirinya di atas ranjang dengan kedua lengan melebar di kedua sisinya.
“Tetapi dia sama sekali tidak takut denganku. Dia hanya diam bukan takut dan itu sangat menyebalkan.” Nyatanya Daryl tidak dapat berhenti memikirkan Enid. “Akan lebih menyenangkan jika dia takut. Apa yang dia pikirkan? Salahnya sendiri membuatku marah.” Katanya erbicara sendiri membenarkan apa yang sudah ia lakukan pada Enid.
"Begitu anak itu lahir aku akan membuangnya segera." ucapnya lagi.
Daryl mencoba memejamkan matanya. Dan berharap Lizzie menghiasi pikirannya untuk untuk tidak memikirkan Enid.
Setibanya di kediaman Daryl, Lizzie segera menaiki anak tangga menuju lantai atas. Ia berpapasan dengan pelayan di rumah itu.
“Siang Nyonya,” sapa pelayan dengan hormat.
“Dimana Daryl?”
“Tuan berada di kamarnya.”
Lizzie melanjutkan langkah dan kemudian berhenti dan berbalik melihat pelayan.
“Semuanya baik-baik saja?” tanya Lizzie pada pelayan.
“Iya nyonya.”
Lizzie meminta pelayan mengawasi Enid dan Daryl. Ia tak ingin kehadiran Enid di rumah itu menjadi sebuah boomerang baginya. Sebab Daryl sedikit memperlakukan Enid berbeda dari wanita-wanita yang pernah dibeli untuk mendapatkan Rahim itu.
“Dimana gadis itu?” tanya Lizzie.
“Dia berada di kamarnya Nyonya.”
Lizzie mengangguk kecil kemudian memutar tubuhnya untuk melanjutkan langkah. Kali ini ia ingin menemui Enid terlebih dulu. Lizzie menekan gagang pintu kamar Enid dan membawa langkahnya masuk. Gadis itu menoleh padanya dari atas tempat tidur.
“Bagaimana kabarmu Enid?” tanya Lizzie menghampiri.
Enid mengabaikan wanita itu. Dan Lizzie tampaknya tak senang. Lizzie mencubit dagu supaya gadis itu melihatnya.
“Sangat tidak sopan mengabaikan teman bicaramu. Kau harus menatap mereka saat berbicara dan menjawabnya dengan benar.” Ucap Lizzie menghempaskan kasar dagu Enid. “Jangan berpikir karena sedang mengandung darahku kau bisa berlaku tidak sopan denganku. Kau harusnya menyambutku dengan baik dan kau harus membungkuk hormat layaknya pelayan di rumah ini.” Ucap Lizzie memberikan peringatan untuk Enid.
“Lizzie,” gumam Enid dengan suara serak. Mungkin karena banyak diam suara gadis itu menjadi berat. Mendengar namanya disebut membuat Lizzie ingin merobek mulut Enid. Sebab menurutnya itu tidak sopan. Dia ingin mendengar gadis ini memanggilnya nyonya.
“Kau bilang apa? Lizzie?” Lizzie mendecih. “Panggil aku nyonya!” tekan Lizzie mencengkram wajah Enid.
Enid melepas cengkraman Lizzie pada wajahnya.
“Dengar b***h. Aku dan kamu tidak pernah memiliki hubungan apapun. Lalu kenapa aku harus memanggilmu seperti itu?”
Lizzie semakin kesal saat Enid dengan lantang menyebutnya jalang.
“Dimana Daryl menemukan gadis sialan sepertimu. Kau tidak pantas menjadi ibu pengganti untuk calon anakku.”
"Sayangnya aku yang mengandung anakmu. Dan kau pikir aku merasa beruntung? Tidak. Mengandung benihmu itu sangat menjijikkan." Balas Enid tak kalah geram.
Lizzie sangat marah, kedua matanya menatap tajam Enid bak ingin melepas seluruh kulit dari tubuh Enid. Ia mengangkat tangannya hendak mengayunkannya menampar wajah Enid. Tetapi, seketika pintu kamar Enid terbuka.
“Lizzie.” Daryl masuk. “Apa yang kau lakukan disini?” tanya Daryl menangkap tangan Lizzie hanya hendak melayang memukul Enid.
“Gadis ini Daryl. Aku tidak menyukainya.” Ucap Lizzie memeluk Dary, mengadu seperti gadis lemah.
Daryl menatap Enid di atas ranjang dan Enid segera berpaling wajah.
“Dia sangat tidak sopan. Aku kesini menanyakan kabarnya dan kau tahu dia mengabaikan aku. Daryl aku hanya ingin tahu keadaannya dan dia dengan berani menyebutku jlang. Dia banyak bicara seolah-olah aku ini sangat membutuhkannya.” Ucap Lizzie mengadu dalam pelukan Daryl.
Enid menarik sudut bibirnya, tidak tahan mendengar dan melihat tingkah Lizzie. Ia membaringkan tubuhnya dan menutup dirinya dengan selimut.
“Ayo kita keluar.” Ajak Daryl.
“Kau tidak mengatakan apapun untuknya? Dia menyakiti hatiku Daryl.”
“Aku akan mengingatkannya nanti.”
“Daryl, aku ingin kau memberinya pelajaran, bukan mengajaknya berbicara.” Gertak Lizzie. Percuma saja ia mengadu seperti wanita lemah yang sedang ditindas Enid.
“Dia sedang hamil Lizzie.” Bisik Daryl membawa Lizzie keluar kamar dan masuk ke dalam kamarnya.
Lizzie menepis tangan Daryl ketika pria itu mengelus wajahnya. “kau tidak seharusnya memanjakannya.” Ucap Lizzie duduk di bibir ranjang Daryl.
“Apa yang kau harapkan Lizzie? Aku menamparnya lagi.”
Mata Lizzie membola ketika mendengar kata itu dari Daryl. “Kau pernah menamparnya?” tanya Lizzie penasaran.
Daryl menarik nafas panjang. “Belum lama ini,”
“Karena apa?”
“Gadis itu mengancam akan membuat dirinya stress supaya janin dalam kandungannya tidak pernah tumbuh.”
“Keterlaluan.” Marah Lizzie.
“Aku menamparnya dan dia menjadi sangat patuh saat ini.”
“Harusnya kau melakukan itu sejak pertama dia masuk ke tempat ini. Dengan begitu dia tidak melonjak.” Sahut Lizzie masih penuh amarah.
"Lizzie jangan pikirkan dia. Kau kesini karena merindukan aku bukan?" tanya Daryl mendekatkan wajahnya untuk mengecup pipi Lizzie.