bc

BELENGGU

book_age18+
9.8K
FOLLOW
58.0K
READ
billionaire
possessive
contract marriage
mate
arrogant
goodgirl
dare to love and hate
mafia
tragedy
bxg
like
intro-logo
Blurb

Warning!

Bacaan untuk orang Dewasa.

Perselingkuhan Lizzie menciptakan penderitaan bagi seorang gadis bernama Enid.

Kehidupan normal Enid dirampas paksa demi menciptakan Lizzie sebagai wanita sempurna.

"Ada dua pilihan untukmu. Menerima uangku dan hidup tanpa kekurangan atau mati sia-sia." Daryl.

"Mati. Aku memilih jalan itu." Enid.

chap-preview
Free preview
BELENGGU-01
Namanya Enid, berusia delapan belas tahun. Tubuhnya mungil, berkulit seputih s**u. Bola matanya sangat indah, berwarna amber. Bibirnya seperti seutas pita pink sangat sempurna bersanding dengan hidung mancungnya. Sungguh fisik yang bisa dikatakan hampir sempurna. Namun, tidak berbanding lurus dengan nasib jalan hidupnya yang menyedihkan. Dia hidup seorang diri tanpa mengenal kasih sayang orang tua. Enid bekerja sebagai cleaning service Bioskop di pusat kota M. Disana ia mengais receh demi kelangsungan hidupnya. Enid hanya lulusan sekolah menengah atas. Sertifikat lulusan sekunder yang ia miliki tidak dapat menembus perkantoran elit di negara yang terkenal dengan rudal Satan. Hanya disini, di toilet bioskop tempat Enid bekerja. Pekerjaan ini melelahkan. Akan tetapi, gadis ini tidak pernah mengeluh. Dia bahkan sangat beruntung dapat bekerja ditempat itu. Bermain dengan kain pel, lantai bau, menggosok toilet menjadi rutinitas Enid setiap malam. "Enid, pekerjaanmu belum selesai?" tanya Carol teman kerjanya. Wanita itu menghampiri Enid ke dalam toilet yang tengah sibuk menggosok lantai. "Sebentar lagi."jawabnya, tak lupa memberikan senyum manis. Dia melanjutkan pekerjaannya. "Cepatlah, jam kerja kita akan segera berakhir." Carol membantunya mengisi dispenser tisu pada bilik-bilik toilet. "Terima kasih, Bibi. Maaf merepotkanmu." "Tidak masalah, kita rekan kerja." "Anda sangat baik." Terdengar kekehan wanita berusia paruh baya itu dari bilik toilet. "Masih ada yang harus di bantu?" Enid mengangkat kedua bahunya."aku rasa semuanya sudah beres, Bibi. Terima kasih berkat anda pekerjaanku cepat selesai." ia berucap dengan binar bahagia seraya menyeka keningnya yang ditumbuhi keringat. "Kalau begitu ayo kita pulang." ajak Carol. Enid membawa semua peralatannya menuju ruangan khusus cleaning service, menyimpan kain pel kemudian melepas candy bag dari pinggangnya, ia juga melepas seragam yang tampak kebesaran memeluk tubuh mungilnya lalu menyimpan dalam loker besi khusus untuknya. "Aku dijemput suamiku. Bagaimana denganmu?" tanya Carol, setelah mereka keluar gedung Bioskop. "Seperti biasa Bibi. Pulang sendiri." "Kau tidak berniat mencari pacar?" Enid menanggapinya dengan kekehan ringan. Pacar? Enid tidak pernah berpikir memiliki itu. Baginya punya pasangan sesuatu yang merepotkan. Enid ingin bebas, mengumpulkan uang untuk bisa melanjutkan sekolah ke tingkat mahasiswa dan bisa memperoleh pekerjaan yang lebih bagus untuk membantu kehidupannya lebih baik. "Usiamu sudah cukup matang untuk berpasangan." kata Carol. "Mungkin nanti, setelah aku lebih dewasa." Baginya pasangan hidup adalah nomor kesekian. Suami Carol membunyikan klakson motornya lalu melambaikan tangan pada wanita paruh baya itu. "Kita berpisah disini. Suamiku sudah menjemput." ujar Carol. "Baik Bibi. Selamat malam." "Hati-hati di jalan, banyak orang jahat." Carol menepuk lengan Enid mengingatkan gadis muda itu. "Tentu, sampai ketemu besok malam Bibi." Enid melambaikan tangan begitu Carol naik ke atas motor suaminya. "Huh …" Enid melepas nafasnya, menjadi kepulan uap di udara. Ia merapikan syal di leher sembari berjalan menyusuri trotoar menuju kediamannya. Tempat tinggal Enid cukup jauh dari tempatnya bekerja. Selain butuh waktu tiga puluh menit untuk mencapai tempat tinggalnya, gadis remaja beranjak dewasa ini juga membutuhkan kewaspadaan untuk sampai disana. Enid harus menyusuri jalan setapak berpenerangan remang yang kerap dijadikan tempat nongkrong anak jalanan untuk mabuk dan beradegan seks. Sebelum memutuskan menyusuri gang sempit, ia membuang nafasnya kasar. Memejamkan mata sekejap lalu dengan satu kali tarikan nafas ia membawa langkahnya cepat menyusuri tempat itu. Jantung Enid berdebar melewati beberapa gelandangan tergeletak tidur di tepian gang dan sepasang kekasih b******u tanpa rasa malu. Enid tersentak memekik takut, ketika pergelangan tangannya dicekal seseorang. "Nona," "Lepaskan."Enid berusaha menarik tangan dari cekalan pria itu. Jantungnya semakin bertalu seperti ingin melompat dari tempatnya. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. "Nona, belikan aku minuman." katanya dengan nada tidak jelas seraya sempoyongan. "M-maaf aku t-tidak bisa. tolong lepaskan tanganku." "Aku sangat membutuhkannya untuk sampai ke surga. Lihat, lihat botol minumanku sudah kosong. Ayolah Nona, berikan aku uangmu." "Aku tidak punya uang. Lepas!" Enid Menghentakkan tangannya agar terlepas dari cekalan tangan pria mabuk itu. "Dasar anda tidak berguna." Pemabuk itu menjatuhkan botol kosong yang ada di tangannya. Membuat suara ribut hingga membangunkan beberapa gelandangan yang tertidur. Pemabuk itu mengangkat tangan hendak menampar Enid. Namun, sebuah tangan menangkap tangan pria mabuk itu. "Jangan mengganggunya, kotoran." ucapnya. Menghentakkan tangan pemabuk hingga terjatuh dan menggeram marah. "Terima kasih." lirih Enid, menundukkan kepala sebagai rasa hormatnya. "Cepat pergi!" Enid tergesa berlari meninggalkan tempat itu. Ia menghela nafas panjang begitu tiba di ujung gang. Enid bersumpah jika sudah mendapatkan uang lebih. Ia akan mencari tempat tinggal yang lebih nyaman. Enid merogoh kunci dari dalam tas kerja yang menyampir di bahunya. Ia membuka pintu rumah kontrakan. "Enid." Enid menoleh pada sumber suara. Seorang gadis berpakaian minim dengan sebatang rokok menyala di tangan menghampiri. "Anne." "Kau baru pulang?" Tanya Anne memindai penampilan Enid. "Ya, seperti yang kau lihat. Dan apa yang kau lakukan disini?" Enid mendorong pintu kemudian masuk ke dalam. "Seperti biasa." Anne menghisap rokoknya begitu dalam, kemudian membuang sisanya ke tong sampah di dekat pintu kamar Enid. Anne masuk ke dalam kontrakan Enid. "Kali ini apa yang terjadi?" tanya Enid memperhatikan lebam di sudut bibir Anne. "Aku mengangkat telepon istrinya," balas gadis itu. Melepas sepatu tingginya dan meletakkan begitu saja di lantai. "Kau tidak berniat pindah? Tempat tinggalmu begitu sempit." Anne melompat ke kasur Enid. "Nanti setelah punya uang." Anne menyusuri kamar Enid dengan matanya yang berwarna hazel. Tidak ada yang berubah, sejak dulu penghuni kamar Enid hanya kasur tipis berukuran kecil, lemari dan meja rias. "Entah kapan kau punya uang, Enid." Lirih Anne. "Biar aku bantu mengobati luka di sudut bibirmu." "Tidak, tidak. Biarkan saja. Pergilah mandi." "Tapi, lukanya—" "Aku baik-baik saja, Enid. Jangan cemaskan aku." Enid mengangguk. Ia tahu resiko pekerjaan Anne. Gadis itu seorang Baby sugar tentu punya batas menyentuh yang bukan miliknya. Enid masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur. Di atas kasur, Anne memainkan ponselnya. Mencari tas brand terkenal di sebuah aplikasi. Ia menoleh ke arah Enid ketika gadis itu menghampiri. Enid melepas kunciran rambut lalu meletakkan ikat rambut di meja rias, kemudian berbaring di samping Anne. Anne seniornya di panti asuhan. Mereka besar disana. Usia mereka terpaut tiga tahun. Setelah lulus sekolah menengah atas. Anne keluar panti dan bekerja menjadi pelayan di sebuah Cafe. Dari sana ia mengenal Daddy nya yang merubah hidup polosnya menjadi wanita nakal. Berkat Anne lah ia mendapatkan pekerjaan di Bioskop di kota itu. "Kau tidak berniat mencari pria yang bisa memberimu kehidupan layak?" tanya Anne, menatap langit-langit kamar itu kemudian menoleh pada tembok yang diberi stiker agar tampak rapi. "Aku tidak tertarik." gumamnya. Setiap mereka bertemu, Anne selalu menanyakan hal yang sama. "Ayolah Enid. Tidak semua pria kasar. Aku hanya sial saja." "Bukan masalah itu. Enid tidak berniat terikat pada lelaki manapun." Anne bangun dari tidurnya. Ia menarik paksa Enid supaya berdiri. Mau tidak mau gadis itu berdiri. "Anne." lirih Enid dengan raut malas. Anne memindai keseluruhan tubuh Enid. Lekukan tubuh Enid juga cukup bagus. Warna mata yang indah dan bibirnya sangat manis. Sungguh, pria manapun akan tertarik dengan Enid. "Aku akan mengenalkanmu dengan beberapa pria mapan. Kau sangat cantik, tubuhmu punya lekukan yang bagus. Mereka akan sangat menyukaimu dan memperlakukanmu layaknya ratu. Kau bahkan bisa menggeser ratu yang sesungguhnya dan bertahta di istana mereka." Anne mencoba merayu Enid memperhatikan mata bulat Enid yang bersinar indah. "Terima kasih tapi, aku tetap tidak tertarik."Gumamnya malas, kemudian menjatuhkan dirinya kembali berbaring. "Enid, apa yang kau harapkan? Kau berharap pangeran mendatangimu dan mengubahmu menjadi Cinderella. Itu hanya dongeng yang sering kita dengar saat di panti." Anne ikut berbaring. "Aku juga tidak berharap itu. Tapi, Enid ingin bekerja dan melanjutkan kuliah." "Kuliah dengan gajimu yang tidak seberapa itu?" Cemooh Anne. "Huum…" "Kau sangat payah. Kau bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan. Termasuk duduk di fakultas ternama di kota ini. Pekerjaanmu hanya satu, menyenangkan mereka." ujar Anne seraya memainkan ponselnya. "Aku tidak melihatmu mendapatkan itu semua,"lirih Enid. Anne berdecak, kemudian memutar bola matanya, "seperti yang aku katakan. Aku hanya sial saja. Kontrakku akan habis tiga bulan ini. Aku sudah punya target berikutnya." ucap Anne, begitulah dia. Bergantung pada pria-pria tak setia. "Semoga beruntung." lirih Enid dari balik selimutnya. Anne mendengus. "Katakan sesuatu tentang tawaranku." "Sangat menarik hanya saja aku tidak tertarik masuk ke dunia itu." "Uh …kau mungkin takut akan seperti aku, tapi banyak teman yang berhasil menguasai tuannya. Tergantung bagaimana kau bersikap, Enid." "Terima kasih. Aku akan pikirkan dan datang padamu saat semua sudah kuputuskan." Enid tahu Anne akan terus memprovokasinya. Ia lebih baik mengatakan sesuatu yang bisa mengakhiri perbincangan mereka. "Aku tunggu Enid. Pikirkan dengan baik." "Iya baiklah, selamat malam Anne. Tidurlah dengan nyenyak." ucap Enid mengakhiri obrolan mereka. Ia memejamkan mata untuk memulihkan tenaganya karena esok saat bangun ia akan berjuang untuk melanjutkan hidupnya. *** Enid setengah berlari mengejar waktu supaya tidak terlambat tiba di tempatnya bekerja. Enid tidak boleh terlambat walau hanya sedetik lalu mendapatkan teguran. Pekerjaan ini sangat penting baginya untuk bertahan hidup. Bus yang ia tunggu pun tiba. Segera Enid naik lalu menempelkan kartu tiketnya pada mesin elektronik pembayaran. Ia mengambil tempat duduk di bagian tengah Bus. Begitu duduk, ponselnya berdering. Enid merogoh benda itu dari dalam tas. Anne menelponnya. "Halo Anne." sapa Enid memperhatikan jalanan lewat jendela Bus. "Kau ada dimana?" tanya Anne dengan suara kecil. "Aku dalam perjalanan menuju tempat kerja. Kenapa?" "Enid, aku melakukan kesalahan. Tolong jangan membenciku." Enid mengerutkan keningnya, "apa maksudnya?" tanya Enid bingung. "Maafkan aku Enid. Tolong maafkan aku." Anne menangis lalu memutus sambungan telepon. Enid melihat ponselnya dengan tatapan bingung. "apa yang dia bicarakan? Aneh." Enid mencoba menghubungi kembali nomor Anne tapi tidak tersambung. "Apa? Dia mematikan ponselnya?" Enid mencoba menelpon lagi dan tidak tersambung. Bus berhenti di halte tempat Enid turun. *** Ballroom Hotel Materson Negan Materson bersama istrinya Lizzie Materson mengadakan perayaan besar untuk ulang pernikahan mereka yang kelima tahun. Tatapan kagum para tamu tertuju pada pasangan yang sedang berjalan menuju cake raksasa di depan. Pria tampan bertubuh kokoh berdiri mendampingi Lizzie wanita cantik yang terlihat seksi dengan gaun indah melekat di tubuh indahnya. Mereka tampak serasi bersanding. Negan dan Lizzie mengangkat pedang lalu membelah cake. Sorak dan tepuk tangan para tamu menjadikan suasana semakin ramai dan dengan romantis keduanya saling menyuapi dan berakhir pada ciuman. Negan tertawa bahagia, membawa ibu jarinya mengusap bibir Lizzie yang ia hisap. "Aku mencintaimu." bisiknya. "Aku lebih mencintaimu, kau tahu itu." balas Lizzie meraba rahang lelaki itu. Negan merangkul pinggang istrinya erat. Meminta pelayan menuang wine ke dalam gelas, kemudian ia mengangkat gelas berisi wine. "Untuk lima tahun pernikahan kami. Terima kasih sudah hadir dan turut merayakannya. Bersulang." ucap Negan. Para tamu mengangkat gelas masing-masing. "Bersulang." sahut mereka dengan serentak. Lizzie mengedarkan tatapannya mencari seseorang di tempat itu dan pandangan itu berhenti ketika netranya bertemu dengan orang yang ia cari. "Sayang, aku ke toilet sebentar." bisik Lizzie berbisik pada suaminya. "Hati-hati," Lizzie melangkah meninggalkan tempat itu menuju toilet khusus pemilik pesta. "tunggu diluar jangan menggangguku." ucap Lizzie pada pelayannya. "Baik, Nyonya." Lizzie masuk ke dalam toilet, melihat dirinya di depan cermin, bibirnya membentuk senyum sinis. Tiba-tiba pintu toilet terbuka, Lizzie menoleh. "Daryl," Lizzie tidak percaya pria itu masuk menghampirinya. Daryl menutup pintu toilet dan menghampiri Lizzie. "Kau tidak tahu aturan. Ini toilet wanita dan khusus untuk pemilik pesta." ucap Lizzie. Tanpa mengatakan apapun Daryl memeluknya dari belakang. "Aku sangat marah, Lizzie." Daryl menenggelamkan wajahnya di bahu Lizzie. "Marah kenapa?" "Kau dengan sengaja melukai hatiku, mengijinkan pria itu menciummu di depan umum." "Aku istrinya." "Menyebalkan. Kapan ini akan berakhir." Daryl mengeluh. Mereka terdiam sesaat tanpa mengatakan apapun. "Nona, apa anda butuh bantuan?" tanya pelayan mengetuk daun pintu toilet. "Tidak, kau boleh pergi. Jangan berjaga disana." balas Lizzie. "Baik, Nyonya." Lizzie menarik nafas pelan, memperhatikan Daryl memeluknya erat dari kaca besar di hadapannya. "Bagaimana kau bisa masuk ke tempat ini?" tanya Lizzie melembutkan suaranya. "Aku bisa melakukan apapun untuk dapat menemuimu." Lizzie melepas tangan Daryl yang melingkar di perutnya, berbalik melihat kekasihnya itu. "Kau sudah menemukan apa yang kau janjikan?" tanya Lizzie menatap wajah Daryl. "Segera," "Ayolah Daryl. Ini sudah sangat lama. Kau pasti melihat wanita tua yang memperlihatkan wajah murungnya di pesta ulang tahun pernikahanku. Aku ingin memberikan apa yang ia inginkan." ucap Lizzie, nadanya terdengar kesal. "Aku janji akan menemukan secepatnya." Daryl menjatuhkan tatapan damba pada bibir Lizzie. "Entah sudah berapa kali kau mengatakan itu." "Aku berusaha menemukan yang cocok Lizzie. Kau tahu itu." ucap Daryl. "Daryl kau sudah berjanji untuk menjadikan aku wanita sempurna." "Aku janji." bisik Daryl menarik belakang leher Lizzie lalu menunduk untuk mengecup bibir Lizzie. "Jangan sekarang, kau tidak boleh mengacaukan acara ini." "Ck, aku merindukanmu Lizzie." "Riasanku akan rusak." "Aku tidak peduli." Daryl mendaratkan ciuman di bibir wanita itu dan seperti biasa Lizzie tidak pernah bisa menolak. Lizzie menerima ciuman itu dan membalasnya dengan liar, melupakan suaminya yang sedang menunggu kehadirannya di acara itu. Nyonya Materson mencari keberadaan menantunya disisi putranya namun, tak terlihat. Negan tampak sibuk berbicara dengan teman bisnisnya. Nyonya Materson berdecak, ia menghampiri Negan dan bertanya pelan di telinga putranya. "Dimana istrimu?" tanya nyonya Materson. "Oh, dia belum kembali dari toilet." Negan tersenyum kecil pada ibunya. "Wanita itu pasti memuntahkan semua isi perutnya." nyonya Materson mendengkus, lalu membawa langkahnya kembali menuju mejanya. Negan menipiskan bibirnya, ia juga bingung kenapa Lizzie selama itu berada di toilet. *** Enid menggesek telapak tangannya untuk mendapatkan rasa hangat lalu menempelkan telapak tangan itu di kedua sisi wajahnya. Mantel tebal dan syal yang melilit di lehernya tidak cukup memberikan kehangatan untuknya. Enid membawa langkahnya pulang dari tempatnya bekerja. Jalanan tampak sepi mengingat ini sudah dini hari. Sebuah mobil berhenti mendadak di depannya. Ia berhenti melangkah ketika melihat dua pria keluar dari dalam mobil seraya memperhatikan sekitar jalanan lalu berlari kecil menghampiri Enid. Enid terkejut dan sontak berbalik berlari menjauh. Namun, langkah itu terhenti ketika kedua pria itu berhasil meringkusnya. Membungkam mulut Enid dengan sapu tangan berbius hingga membuatnya tak sadarkan diri. Enid mendapati dirinya berada dalam sebuah ruangan kosong dengan tangan terikat kebelakang. Sekelebat potongan kejadian malam hari teringat olehnya. "Aku berada dimana?" tanyanya dengan raut bingung. Ia berusaha bangun, tapi sial kedua kaki gadis itu mendapatkan perlakuan yang sama, terbelenggu. "Tolong, apa ada orang diluar? Tolong selamatkan aku." teriak Enid meminta tolong, berharap ada yang mendengar dan membantunya. Enid mendengar suara detak kaki mendekat. Ia menggigil ketakutan ditempatnya. Pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan sosok pria tinggi berpakaian hitam. Masuk mendekatinya. "S-siapa kamu?" tanya Enid dengan suara bergetar menatap takut pria itu. "Aku?" Pria itu tersenyum simpul. "Malaikat pencabut nyawa." ucapnya. "Untuk apa kau menculikku?" "Aku tidak menculikmu." pria itu mengangkat dagu Enid untuk mendongak. "Lantas k-kenapa aku berada disini?" Enid gemetar. "Jangan takut aku tidak akan melukaimu. Satu goresan di wajahmu akan mengurangi hargamu." katanya, membelai wajah Enid. "A-apa maksud anda?" "Kau sumber uang bagiku." "Tolong aku tidak paham."gumam Enid gemetar. "Aku akan menjualmu." "Apa maksud perkataan anda? Anda tidak berhak menjualku." "Aku berhak karena aku sudah membelimu."ucapnya melepas dagu Enid. "Kapan anda membeliku? Aku tidak merasa menjual diriku?" "Anne."Pria itu menyebut nama itu. "Aku membelimu darinya."tambahnya. Enid terkejut serta tidak percaya mendengar ucapan itu. Bagaimana bisa Anne menjualnya. Itu tidak mungkin. "Tidak mungkin." lirih Enid. "Wanita itu dibuang pemiliknya dan menjadi gelandangan. Dia butuh uang untuk bertahan hidup dan satu-satunya cara adalah menjualmu." "Dia tidak berhak menjualku. Dia bukan keluarga atau saudaraku." ujar Enid menggelengkan kepala. Pria menipiskan bibir. "tanyakan padanya kenapa dia menjualmu," ucap pria itu. Ia merogoh ponselnya yang berdering di saku celana. Ia tersenyum saat melihat nama yang menghubunginya. "Tuan," sapanya begitu menyambungkan panggilan itu. "Bawa dia kesini." perintahnya. "Kita selesaikan dulu pembayarannya." kata pria itu lalu meninggalkan ruangan itu. "Lepaskan aku." Teriak Enid seraya menangis. Ia mengingat ucapan Anne saat menelponnya. Wanita itu membuatnya bingung dan kini terjawab semuanya. Mereka tumbuh besar di panti asuhan. Saling menjaga dan mengasihi. Baginya, Anne teman pertama sejak mengenal dunia. Anne orang pertama yang mengetahui Enid tumbuh menjadi gadis remaja, membantu Enid mengenakan pembalut di hari pertama gadis itu mendapatkan haid. Anne kakak baginya. Tetapi, entah apa yang membuat Anne menjadi orang kejam. Menyerahkan dirinya ke tangan orang demi uang. "Tidak mungkin. Anne tidak mungkin melakukan itu." ucapnya, tubuhnya bergetar menangis. Tidak lama kemudian pria itu masuk dengan wajah sumringah. Ia sudah mendapatkan kesepakatan atas diri Enid. "Dia akan merawatmu dengan baik. Hanya saja kau akan merelakan sesuatu dari tubuhmu hilang demi kebahagian orang lain." ucapnya Kemudian menyemprotkan bius pada Enid. "A-apa yang kau lakukan?" Kedua mata Enid meredup dan terjatuh tidur. Pria itu mengangkat tubuh Enid dan membawanya keluar dari ruangan itu menuju mobil yang sudah standby. Sopir membukakan pintu mobil. "Aku menyemprotkan bius supaya dia tertidur." ucapnya setelah berhasil membuat Enid aman dalam mobil. "Terima kasih." Sopir menutup pintu mobil kemudian masuk ke bangku kemudi, disana tuannya duduk menunggu. "Kemana, tuan?" tanya sang sopir pada pria sampingnya. "Kita kembali ke rumah." ucapnya, menoleh sebentar ke bangku belakang untuk melihat Enid. "Baik, tuan." sopir melajukan mobilnya meninggalkan tempat. *** Baru saja Daryl menyelesaikan pekerjaanya di ruang operasi. Ia meninggalkan ruang bedah setelah membersihkan dirinya. Daryl melepas jas dokternya dan menyampirkan pada sandaran kursi kerjanya. Daryl duduk dan memeriksa ponselnya. Lima panggilan dari Lizzie. Ia tersenyum kemudian menghubungi wanita itu. "Kau sangat sibuk sampai mengabaikan panggilan teleponku?" jawab Lizzie. "Sayang, aku berada di ruang bedah. Maaf." Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka mengejutkan Daryl. "Lizzie? Astaga, aku sangat merindukanmu." katanya membuka tangannya lebar meminta Lizzie masuk ke dalam pelukannya. Lizzie memutus panggilan telepon yang masih tersambung. lalu duduk di pangkuan Daryl dan mengalungkan tangan di leher pria itu. Daryl mengecup bibir Lizzie lembut. dalam waktu lama mereka saling berbagi kehangatan lewat bibir. "Kau sudah menemukannya?" tanya Lizzie melepas ciumannya. Daryl mengangguk "masih dalam pemeriksaan, cocok apa tidak." kata Daryl. "Aku berharap kali ini cocok. Kau menempatkannya dimana?" "Dirumah, ruang bawah tanah." katanya, membelai bibir Lizzie."aku akan akan memeriksanya secara menyeluruh dan mencocokkan denganmu." "Kau yakin ini akan berhasil?" tanya Lizzie, ada keraguan di wajahnya. "Besar kemungkinan berhasil, Lizzie. Jangan takut semuanya akan baik." Lizzie mengangguk, "aku ingin bertemu dengannya." "Tunggu keluar hasil pemeriksaannya. Aku akan membawamu menemuinya." "Baiklah, aku tidak bisa lama. Aku harus mampir ke kantor Negan Itu alasanku keluar rumah." "Ck, kenapa buru-buru?" Daryl mengeluh. "Kau tahu wanita tua itu mengawasi setiap saat." Lizzie berdiri dari pangkuan Daryl. "Aku masih merindukanmu, Lizzie." Tahan Daryl, ia berdiri memeluk Lizzie kemudian melumat bibir wanita itu penuh hasrat. Lizzie menerimanya, membalas dengan baik, mereka menghabiskan waktu singkat untuk berbagi tubuh di ruangan itu.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

BERBAGI SUAMI

read
8.5K
bc

Papaku Suamiku

read
9.8K
bc

My Ceo Crazy Game

read
280.5K
bc

Jadilah Mamaku

read
40.1K
bc

TERNYATA SELAMA INI SUAMIKU TAK PERNAH CINTA

read
9.9K
bc

AHSAN (Terpaksa Menikah)

read
275.6K
bc

The CEO's Little Wife

read
468.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook