"Kau lebih memilih dinikahi oleh seorang bawahan daripada Tuannya?" cibir Erland membuat gadis itu mendelik. "Dasar gadis aneh!"
Eleana mengangkat dagu ke arah duda tampan di depannya. "Kenapa tidak? Mereka masih lajang, tidak sepertimu!"
Edward dan Elvan menelan ludah. Mereka melirik ke arah sang tuan dan calon nyonya keduanya. Erland dan Eleana saling melempar tatapan sengit, hingga kedatangan seorang anak yang membawa sepiring buah berhasil mengalihkan pandangan mereka.
"Mommy, Nuel bawa buah-buahan untuk Mommy." Emmanuel menunjukkan sepiring buah di tangannya.
Senyum Eleana terukir. Ia berjongkok dan mengambil alih piring berbahan melamin itu. "Ayo, kita makan bersama!"
Emmanuel mengangguk antusias. Ia merasa sangat senang atas ajakannya. Erland memandang kepergian mereka yang melangkah menuju bangku dekat pos satpam. Selama hidup bersama, ia tak pernah melihat Emmanuel sebahagia itu.
"Mommy, ayo suapi Nuel lagi," pintanya pada Eleana yang tengah memasukkan potongan buah semangka ke dalam mulut sendiri.
Dari kejauhan, si kembar berlari menghampiri. Mereka duduk di sebelah Eleana. Menyadari kedatangan dua anak pembuat ulah itu, Eleana menyuruh putra kecil Eira untuk bergeser. Ia tak mau Emmanuel terluka jika keduanya berulah.
"Mommy, kami juga ingin buah!" pekik Elan yang ingin merasakan disuapi oleh sesosok ibu.
Emmanuel menatap tak rela ke arah gadis yang menyuapi kakak kembarnya. Ia mengalihkan pandangan saat sebuah tangan mengelus pipi gembulnya.
"Jangan sedih, oke? Mommy menyayangi Nuel dan kakak-kakak Nuel," bisiknya membuat anak itu mengangguk pelan.
Tak lama, tiga orang lainnya datang. Eleana menatap sinis ke arah pria yang memakai setelan jas hitam. Merasa sudah tak dibutuhkan lagi, ia memutuskan untuk mengundurkan diri. Memakan buah saja, tak bisa membuat perutnya kenyang. Eleana menahan lapar sejak tadi. Jika bukan karena anak-anak tersebut, ia pasti sudah memberi asupan pada cacing-cacingnya dan berjalan-jalan untuk menghilangkan beban di pikirannya sejenak.
"Aku pulang dulu. Ellen sudah menungguku sejak tadi," pamit Eleana yang berancang-ancang untuk berlari menuju gerbang. Namun baru saja ia melangkah, sebuah tangan langsung mencekalnya.
"Tidak, kau harus ikut kami ke butik!" cetus Erland yang kemudian mengalihkan pandangan ke arah putra-putranya. "Kalian bersiap-siaplah, Daddy menunggu di sini."
Selepas kepergian lima anak itu, Eleana berusaha melepaskan cekalan tangannya. Sayangnya, Erland malah menyeretnya menuju mobil yang terparkir di pekarangan rumah. Dengan sekuat tenaga, Eleana meronta. Ia berhasil dan segera menjauh dari pria tersebut.
"Sudah aku bilang, aku tidak mau ikut denganmu ke butik!" seru Eleana dengan napas memburu.
Erland melangkah mendekat. Eleana seolah terhipnotis. Gadis itu bergeming di tempat sampai Erland berada tepat di depannya. Jarak diantara mereka hanya beberapa centi saja. Eleana tersadar saat Erland mengamatinya dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan intens.
"Mau apa kau?" pekik Eleana yang langsung menyilangkan kedua tangan di depan d**a.
"Sudahlah, aku sudah tahu ukuran pakaianmu!" tandasnya membuat Eleana melotot. Gadis itu dengan sengaja menginjak kaki Erland dan melarikan diri. Meninggalkan sang duda yang merintih kesakitan.
Seorang anak berlari dan memeluk kakinya. Eleana memejamkan mata sesaat. Sepertinya, ia tak akan bisa terbebas dari lingkaran kehidupan lima anak tersebut.
"Nuel, lepaskan pelukanmu ya! Mommy mau pulang sebentar saja," bujuk Eleana yang dibalas gelengan kepala oleh Emmanuel.
"Bukankah, lumah Mommy di sini? Bibi bilang, Mommy tidak akan pelgi lagi." Emmanuel memandang sendu manik mata gadis yang menggigit bibir bawahnya.
Edzard tersenyum tipis. Ia menepuk pundak Ezra dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Sekeras apa pun penolakan Eleana, ia pasti akan menyerah karena rasa tidak tega yang dimiliki. Dengan amat terpaksa, Eleana dan Emmanuel menyusul mereka yang sudah terduduk di kursi kendaraan beroda empat itu. Mobil yang dimiliki Erland mampu menampung mereka semua, membuat Eleana bernapas lega.
"Jangan melirikku dengan tatapan dinginmu, Tuan Duda!" tegur gadis tersebut setelah menyadari jika ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikannya.
Di kursi belakang, anak-anak tertawa keras. Erland yang tak mau tersulut emosi pun mulai melajukan mobil. Tiba di butik, Eleana berpamitan ke toilet. Gadis itu ingin buang air kecil. Meninggalkan Erland dan anak-anaknya yang melihat-lihat gaun pengantin yang terpajang.
"Dad, mengapa gadismu sangat lama? Sudah hampir lima belas menit, tapi dia belum kembali juga," tutur Edzard melirik arloji di pergelangan tangan.
Erland mengembuskan napas gusar. Ia melambaikan tangan pada Edward yang berdiri sedikit jauh dari mereka. Lalu menyuruhnya untuk menyusul gadis tersebut.
"Tuan, Nona tidak ada di toilet," lapornya membuat mereka semua terbelalak.
Si kembar langsung berlari keluar butik. Mereka mengedarkan pandangan ke sekitar, berharap dapat menemukan gadis yang menjadi calon mommy keduanya. Mendengar suara tangis yang familiar membuat mereka membalikkan badan. Emmanuel, anak itu menangis dalam gendongan Edward.
"Kalian pulang bersama Paman Edward. Daddy masih harus mencari keberadaan dia," titahnya pada anak-anak yang menekuk wajah.
Dengan amat terpaksa, mereka masuk ke dalam mobil. Selepas kepergian anak-anak bersama kaki tangannya, Erland pun bergegas mencari keberadaan Eleana. Gadis yang saat ini berada di gang-gang kecil untuk menyembunyikan diri dari kejaran Erland atau pun bawahannya.
"Kenapa gue ngerasa jadi kayak buronan gini, ya?!" gumam Eleana terus berjalan tanpa arah tujuan.
Ia berhasil melarikan diri dengan menipu mereka semua. Untungnya, Erland tak membawa banyak bodyguard. Hanya Edward saja yang ditugaskan untuk menjaga anak-anak, sehingga pergerakan Eleana pun terasa lebih mudah.
Langkah Eleana terhenti kala melihat seorang lelaki yang berdiri di depan warung kelontong. Lelaki itu adalah sosok yang selama ini dirindukannya. Berharap penglihatannya tidak salah, Eleana pun menghampiri. Ia menepuk pundak lelaki tersebut dengan menahan buliran bening yang terus mendesak keluar dari pelupuk matanya.
"Nio," panggil Eleana dengan suara bergetar.
Tubuh keduanya menegang, hingga akhirnya Ethnio memeluk tubuh gadis yang bertahta di hatinya. Mereka kembali dipertemukan setelah berpisah selama bertahun-tahun. Eleana merasa sangat bahagia. Ia harap, sahabatnya dapat membantu dirinya lolos dari pernikahan tak diinginkan ini.
"Lo kemana aja? Gue kangen lo, Nio!" Eleana memukul d**a bidangnya. Tangis gadis itu semakin pecah kala Ethnio mengelus rambutnya.
Ethnio melerai pelukan. Lelaki itu mengulum senyum seraya mengusap jejak air mata di wajah Eleana. "Udah, jangan nangis lagi. Gue janji, gue nggak akan pergi lagi."
"Janji, ya?" Ethnio mengangguk, kemudian menggiringnya untuk duduk di bangku yang sediakan oleh warung kelontong ini.
Sejenak, mereka terhanyut dalam pikirannya masing-masing. Ada banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan Eleana padanya. Akan tetapi, situasi saat ini sangat tidak mendukung. Mencari dukungan untuk melarikan diri dari pernikahan, itu jauh lebih utama.
"Nio, gue pengen cerita," Eleana menatap lekat manik matanya.
"Cerita apa, Lea?" tanya Ethnio yang langsung menghadapkan tubuh ke arah Eleana.
Tubuh Ethnio tersentak saat sebuah tangan menyentuh punggung tangannya. Ia terbelalak melihat buliran bening mengalir dari pelupuk gadis yang sangat dicintai. Dengan lembut, ia mengusap jejak air mata Eleana. Sejak dulu, Ethnio sangat tidak suka melihat sahabat sekaligus tambatan hatinya menangis
"Kenapa? Mau gue peluk?" Eleana mengangguk beberapa kali. Tangis gadis itu semakin pecah saat berada di dekapannya.
"Gue mau dijodohin sama dua anak lima, gue nggak mau, Nio... Gue mohon, bantu gue terbebas... Seminggu lagi pernikahan, dan gue nggak mau nikah sama itu duda!" jelasnya membuat Ethnio merasa sesak di d**a.
Mata Ethnio terpejam sesaat, lalu menundukkan kepala, menatap gadisnya yang masih terisak. "Gimana kalo lo nikah sama gue aja?"
Senyuman jahil di wajahnya mampu membuat Eleana tertawa. Gadis itu memukul d**a sahabatnya, kemudian melerai pelukan.
"Bercanda lo nggak lucu. Tapi, kalo lo mau seriusin gue, gue nggak masalah sih." Eleana terkekeh. Ia memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan kedua pipinya yang bersemu merah.
"Oke-oke, gimana kalo besok langsung ke KUA aja, Le?" tanya Ethnio tak sepenuhnya bercanda. Lelaki itu berharap bisa memiliki Eleana seutuhnya.