03. Kediaman Keluarga Evander

2187 Words
Seorang gadis memantapkan dirinya melangkah ke salah satu bar yang sering dikunjungi teman sekantornya. Ia sengaja datang seorang diri tanpa mengajak sahabatnya. Ia menginginkan sebuah ketenangan dari permasalahan yang dibawa oleh duda sialan itu. Tak memedulikan orang-orang yang menatap ke arahnya, Eleana memesan minuman yang dapat membuatnya bisa menghilangkan beban pikirannya sesaat. Untuk pertama kalinya, ia berniat mabuk. Satu gelas wine sudah tandas diminumnya. Eleana yang masih merasa kurang pun, kembali meminum wine tersebut. Eleana memegangi kepalanya yang terasa pusing. Suara musik yang keras disertai orang-orang yang menari-nari membuat pandangannya mengabur. Merasa ada seorang pria yang hendak mendekatinya, ia memutuskan untuk segera pergi. Tujuannya datang ke tempat ini hanya untuk membuatnya terlupa akan masalah yang mendera. Bukan bersenang-senang dengan pria-pria yang menatap lapar ke arahnya. "Hei Nona, mau pergi kemana?" teriak pria tersebut mencoba menghentikan langkah Eleana. "Jangan coba-coba mendekat, jika tidak, high heels itu akan mengenai kepalamu!" seru Eleana melepas high heels yang dikenakannya. Pria itu tak akan melepaskan Eleana begitu saja, jika tidak ada pria yang melempar tatapan tajam ke arahnya. Semua pengunjung bar ini tahu, siapa pria tersebut. Pria yang sangat ditakuti akan kuasanya. "Dasar penakut," ledek Eleana yang mencoba menjaga keseimbangan tubuh. Berjalan sempoyongan menyusuri jalanan sepi, itulah yang dilakukan seorang gadis yang kehilangan arah hidupnya. Eleana menyeberang jalan tanpa lebih dulu melihat keadaan. Ia hampir terserempet motor jika seseorang tidak menarik tangannya. "Mengapa kau menyelamatkan aku? Biarkan aku tertabrak dan mati! Kau tau, keluargaku sudah gila, ingin menikahkan aku dengan duda beranak lima." Eleana terus berceloteh. Ia mendongak menatap pria yang masih mendekap tubuhnya. "Tunggu, kenapa wajahmu sangat mirip dengan duda itu? Ah, apa kau kembarannya? Seingatku, Kak Elin membuat tokoh kembaran Erland. Jika tidak salah, namanya Erand. Bukan, Ervan. Tidak-tidak, bukan i—" Eleana tidak sadarkan diri, hingga high heels yang dipegangnya jatuh mengenai kaki pria tersebut. Kemudian, tubuh rampingnya digendong olehnya. Setelah tiba di parkiran bar, Eleana dibaringkan di kursi belakang. Pria itu melepas jasnya untuk menutupi tubuh depan Eleana. Lalu melajukan mobil menuju rumah gadis tersebut. "Om, Tante!" teriaknya saat tiba di rumah bercat cokelat s**u ini. Tak lama, pintu terbuka menampilkan seorang pria paruh baya yang tampak terkejut melihat putrinya tak sadarkan diri di dalam gendongan calon menantunya. "Eleana kenapa, Er?" tanya Eldar khawatir. "Mabuk, Om. Ini, saya baringkan Eleana di mana?" Erland melangkah memasuki rumah dan terhenti di ruang tamu. Ia menoleh ke arah pria yang langsung mengarahkannya ke kamar sang gadis. Seusai membaringkan Eleana di kasur, Erland pun menceritakan tentang kejadian di bar. Eldar dan istrinya tampak terkejut. Putri yang selama ini mereka didik, telah berani mengunjungi tempat laknat itu. "Terima kasih, Nak Erland. Jika tidak ada Erland, entah apa yang akan terjadi pada Eleana." Eldar menatap lekat pria yang hendak berpamitan pulang. "Hati-hati di jalan," ucap Ellie melambaikan tangan padanya. Erland mengangguk. Ia masuk ke dalam mobil kemudian mengendarainya meninggalkan pekarangan rumah ini. Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan keputusannya yang ingin menikahi gadis tersebut. Sebenarnya, ia tak berkeinginan menikah. Namun, anak-anaknya menginginkan sesosok ibu baru setelah kematian Eira lima tahun yang lalu. Sudah banyak wanita yang diperkenalkan oleh sang ibu padanya, tetapi anak-anaknya menolak. Berbeda dengan gadis ditemuinya di restoran itu. Secara gamblang, anak-anaknya menginginkan Eleana sebagai ibu mereka. Erland tak akan memaksa gadis itu untuk menerima pinangannya, tetapi keluarganya menerimanya. "Daddy," panggil seorang anak laki-laki yang sejak tadi menunggu kedatangan sang daddy di ruang tengah. Ia seorang diri, tanpa ditemani oleh keempat kakaknya atau asisten rumah tangga. Erland menghentikan langkah dan menoleh ke arah sumber suara. Bayangan kejadian siang tadi kembali terngiang. Ia mengingat jelas, bibir mungil itu mengeluarkan banyak darah. Seketika, ia teringat mendiang istrinya yang telah bertaruh nyawa untuk melahirkan anak kelima mereka. "Nuel tidak bisa tidul. Bibil Nuel sakit." Emmanuel mendongak, menatap sang daddy yang bergeming di tempat. Sebuah tangan menggenggam tangan mungilnya. Rasa sakit yang sejak tadi ditahan, seketika menghilang. Apalagi, saat Erland menggendong tubuhnya. Emmanuel melingkarkan tangan di leher sang daddy dan menenggelamkan kepala di d**a pria tersebut. "Tunggu di sini," titah Erland seraya mendudukkan putranya di atas kasur, lalu beranjak keluar kamar. Ia mengambil sedikit nasi dan lauk, serta obat yang bisa meredakan sakit yang dirasakannya. Ia menghela napas saat menyadari jika putra bungsunya tak bisa mengunyah nasi. Dengan telaten, ia menghaluskan nasi tersebut menggunakan sendok. Emmanuel yang dilanda rasa kantuk, langsung memejamkan matanya. Erland yang mendengar suara dengkuran halus segera menoleh. "Tidurlah dengan nyenyak," ucapnya menarik selimut hingga menutupi d**a Emmanuel. Tak ada seorang ayah yang tak menyayangi anaknya. Erland perlu waktu lama untuk menghilangkan rasa kecewa di hatinya. Kepergian Eira sangat membuatnya terpukul. Apalagi, setiap gelagat putra kecilnya sangat mirip dengan mendiang istrinya. Erland akan menunjukkan rasa kasihnya jika anak itu berada dalam kesulitan dan tak terlihat oleh anaknya yang lain. "Aku harap, gadis itu bisa memberi kebahagiaan untuk anak-anak kita, Ei." Erland menatap lekat foto yang terpajang di dinding ruang keluarga. *** Di dalam kamar, seorang gadis tengah disidang oleh kedua orangtuanya. Berbagai jenis pertanyaan dan wejangan terlontar dari mulut Eldar dan Ellie. Namun, putri mereka tetap menutup mulut rapat-rapat. Bahkan tak berani menatap wajah mereka yang teramat kecewa atas kelakuannya. "Papa tau, kamu kecewa, El. Tapi kamu nggak seharusnya datang ke tempat laknat itu. Andai, jika Erland tak ada di sana. Mungkin kamu sudah tidak menjadi gadis perawan lagi!" Eldar berdiri membelakangi putri dan istrinya. Ia menatap ke luar jendela kamar Eleana. Ellie mengelus punggung putrinya. "Udah, sekarang kamu mandi dan banyak beristigfar. Semoga Allah mengampuni kekhilafan kamu." Eleana mengangguk pelan, kemudian beranjak menuju kamar mandi. Di bawah pancuran shower, ia mengingat-ingat kejadian semalam. Eleana melotot saat menyadari, jika pria yang menolongnya adalah Erland—duda beranak lima yang ingin menikahinya. Suara decitan pintu membuat Ellie menoleh. Wanita itu tengah mengobrak-abrik isi lemari putrinya. "Elea, Papa meminta Mama untuk buang baju kurang bahan kamu." Eleana tidak peduli terhadap apa pun yang dilakukan kedua orangtuanya. Setelah mengeringkan rambut, ia hanya duduk terdiam memandang lurus ke depan. Masa gadisnya akan berakhir enam hari lagi. "Ma, apa Elea harus menikah dengan dia?" tanyanya dengan suara parau. "Maafkan Mama yang tidak bisa membantumu, El." Ellie menatap penuh sesal ke arah sang putri. "Erland telah banyak membantu keluarga kita." "Ingat tidak, saat semester terakhir kuliahmu, Papa jatuh sakit selama berbulan-bulan? Saat itu, Erland yang mengambil alih perusahaan kita, karena hanya dia yang kita percaya. Selama itu juga dia mengajari Eiman. Andai, jika kamu mau turun tangan, maka pernikahan ini bisa saja tak terjadi, El." Tangis wanita yang sangat disayangi Eleana sudah tak terbendung lagi. Ia merasa berhutang budi pada Erland yang kala itu mengurus dua perusahaan sekaligus. Eleana tak pernah tahu sosok dibalik kejayaan kakak iparnya. Ia mengira jika Eiman memang mengerti masalah bisnis, tetapi ternyata salah besar. Pria itu harus belajar dari nol dengan diajari oleh Erland yang sangat sabar mengajarinya. Karena kesibukan, Erland pernah bertamu ke rumah mereka hingga tak sekali pun bertemu dengan anak gadis Eldar dan Ellie. "Eleana yang salah, Ma," ucap Eleana mengakui kesalahannya di masa lalu. Di mana, ia lebih memilih menemani sang Papa di rumah sakit dari pada mengurusi perusahaan keluarga mereka. Ellie mengulum senyum. Ia mengusap puncak kepala putrinya. "Sudah, sekarang kamu sarapan. Mama sudah masak ayam pedesaan kesukaan kamu." Mereka berjalan beriringan. Eleana menempati kursi yang biasa ditempatinya. Keluarga kakaknya sudah pergi meninggalkan rumah. Meninggalkan mereka yang terlihat seperti keluarga bahagia. Sejak dulu, Eleana sangat tidak suka kedatangan kakaknya yang jelas akan mengambil perhatian sang Mama. Ellie akan memilih menghabiskan waktu bersama cucunya dari pada putrinya yang setiap hari bertemu. Mereka terkejut melihat kemunculan seorang anak laki-laki yang berhambur memeluk tubuh Eleana. Gadis itu menoleh ke arah pintu utama. Tidak ada siapa pun yang menyusulnya. Tanpa berpikir panjang, ia mengangkat tubuh mungilnya ke atas pangkuan. "Nuel ke sini sama siapa, hm?" tanya Eleana mengecup singkat pipi gembul anak itu. "Nuel sendili, Mom. Tadi Nuel ikut Bibi ke pasal, telus Nuel kabul ke lumah Mommy." Emmanuel mengalungkan kedua tangan di leher gadis yang dianggapnya sebagai mommy. Eleana melotot. Ia dapat membayangkan betapa khawatirnya orang yang terakhir bersama Emmanuel. Ia harap, para bawahan pria itu masih dalam keadaan baik-baik saja saat salah satu tuan muda mereka menghilang. "Ma, Pa, Elea antar Nuel pulang dulu." Setelah mendapat anggukan dari kedua orangtuanya, Eleana bergegas menuju rumah sang duda. Namun, ia tidak tahu letak rumahnya. Mau tak mau, ia kembali masuk ke dalam rumah dan meminta alamat Erland pada papanya. Sesampainya, Eleana dibuat takjub oleh rumah mewah bak istana itu. Ia memang berasal dari keluarga kaya, tetapi keluarganya tak sekaya Erland. "Paman Edwald!" teriak Emmanuel pada lelaki yang membuka pintu gerbang yang menjulang tinggi. Jantung Eleana berdebar kencang saat lelaki tersebut melangkah mendekat. Wajah Edward tampak persis seperti yang di dalam novel, hanya saja Edward terlihat lebih tampan di sini. "Tuan Muda tidak apa-apa? Bi Ela sudah melapor jika Tuan Muda kabur, tapi Tuan tak menyuruh kami untuk mencari Tuan Muda." Edward menundukkan kepala, penuh penyesalan. Ia tak menyadari keberadaan gadis yang tengah menggigit jari di sebelah tuan mudanya. "Bentar, di dunia ini status gue masih perawan. Bisalah ya, gebet Edward beneran!" gumamnya yang bertekad menggapai cinta tangan kanan dari pria yang telah meminangnya. Tersadar dari lamunan, Eleana teringat ucapan lelaki yang mengatakan jika Erland tak memerintahkan bawahannya untuk mencari Emmanuel. Seketika, amarahnya memuncak. Gadis itu semakin yakin, bila Erland tak pernah memedulikan anak menggemaskan sepertinya. "Nuel tidak ingin ajak Mommy ke dalam?" tanya Eleana mengedipkan matanya beberapa kali. Edward terkesiap saat tak sengaja bersitatap dengan gadis cantik berambut panjang itu. Ia terpesona pada calon nyonya-nya sendiri. Menyadari jika Edward terus menatapnya, membuat Eleana merasa tersipu. "Ayo, Mommy!" seru Emmanuel menarik tangan mommy-nya. "Ayo!" Eleana tersenyum tipis, lalu melambaikan tangan pada Edward yang memegangi d**a. Lelaki itu merasa jantungnya berdegup sangat kencang seperti ingin keluar dari sarangnya. Untuk kesekian kali, Eleana dibuat kagum oleh kemewahan kediaman keluarga Evander ini. Suara tawa anak-anak yang dikenalnya, membuat ia dan Emmanuel melangkah menuju sumber suara. Mereka menemukan empat orang anak yang tengah bermain bola. Eleana kembali dibingungkan oleh keadaan di keluarga Eira. "Abang!" teriak Emmanuel pada Edzard yang mendudukkan diri di rerumputan. Ia berlari menghampiri dengan harapan dapat ikut bermain bola bersama. Elan meraih bola diujung kakinya. Permainan telah berhenti atas kehendaknya. "Kau sudah kembali? Bukankah, Bibi mengatakan kau menghilang?" Rasa sesak menyelimuti hati Eleana. Wanita itu menatap lekat wajah tampannya yang tertunduk. Sejenak, terbersit berbagai macam pertanyaan di benaknya. Apakah, Emmanuel selalu mendapat ucapan dan perlakuan tak menyenangkan dari mereka? "Elan, jangan berkata seperti itu. Emmanuel itu adikmu, bukan musuhmu." Eleana menasehati anak yang melempar tatapan benci pada putra kecil Eira. "Jangan membela dia!" bentak Eidlan ikut terbawa emosi. "Dia adalah penyebab Mommy Eira pergi, asal kau tau itu!" Eleana memejamkan matanya sesaat. Lalu mendekati si kembar dan mengajaknya untuk duduk. Ia tak bisa membiarkan mereka terus berseteru dengan menganggap Emmanuel adalah penyebab kepergian Eira. Anak sekecil Emmanuel tak mungkin melakukan hal yang berbahaya, hingga melayangkan nyawa seseorang. "Coba ceritakan, aku ingin tau alasan kalian yang begitu tidak menyukai Emmanuel." Eleana berusaha membujuk mereka. Ia melirik sekilas ke arah Emmanuel yang tengah menatapnya. Baru saja, Elan akan membuka mulut, tetapi terhenti karena kemunculan seseorang yang melayangkan tatapan tajam pada keduanya. Sontak, ia dan Eidlan kembali menutup mulut rapat-rapat. Tak berani menceritakan apa pun tentang wanita yang telah melahirkan mereka semua. "Kenapa diam? Ayo, ceritakan!" pinta Eleana yang tidak menyadari keberadaan pria di belakangnya. Erland tersenyum menyeringai. "Sangat penasaran dengan mendiang istriku, hm?" Berusaha menebalkan wajah setelah ketahuan penasaran oleh duda tersebut, Eleana pun bangkit dari duduknya. Ia hendak melenggang pergi. Namun, dicekal oleh Erland. "Karena kau sudah kemari, ayo kita fitting baju pengantin sekarang." Eleana melotot dan berusaha melepas cekalan di tangannya. Saat berhasil, ia langsung berlari menjauhi Erland yang menatap intens ke arahnya. "Dengar Tuan Duda, aku tidak mau menikah denganmu! Meski keluargaku telah menerima pinanganmu!!" teriak Eleana, kemudian menjulurkan lidah ke arah Erland yang mengepalkan tangan erat. "Kalian dengar, gadis itu tidak mau menikah denganku?!" desis Erland pada putra-putranya. Edzard bersedekap d**a. "Kau harus berjuang memenangkan hatinya, Dad. Jika tidak, kau akan menduda selamanya." "Pokoknya, aku ingin dia yang menjadi Mommy kami, Dad! Kami tidak ingin yang lain!!" pekik Elan dengan napas memburu. Ezra yang tak mau ikut campur dalam perkara pernikahan ini, memilih masuk ke dalam rumah. Disusul oleh Emmanuel yang berlari kecil. Emmanuel menggandeng tangan kakak keduanya. Ia mengulum senyum saat Ezra tak menepis tangan mungilnya. "Kak Ez, kenapa Mommy pelgi?" tanya Emmanuel mendongakkan kepala—menatap wajah dingin sang kakak. "Dia akan kembali," sahutnya singkat. "Benalkah?" Ezra mengangguk pelan, membuat Emmanuel langsung memeluk tubuhnya. "Nuel sayang Kak Ez." Eleana mengurung niat untuk pulang saat tak sengaja melihat dua lelaki tampan yang ditetapkan sebagai gebetannya itu. Ia berdiri di hadapan mereka dengan senyuman manis yang menghiasi wajah ayunya. "Hai, aku Eleana. Salam kenal." Eleana mengulurkan tangan. Ia menggigit bibir saat mereka tak kunjung menjabat tangannya. "Maaf Nona, kami tidak diperbolehkan bersentuhan dengan calon istri Tuan. Saya Edward dan ini teman saya Elvan." Edward menunjuk lelaki di sebelahnya. "Baiklah," ucap Eleana terjeda. "Edward, Elvan, apa bisa salah satu dari kalian saja yang menikahiku? Aku tidak ingin menikah dengan Tuan kalian." Eleana menatap lekat wajah dua lelaki yang menunduk, tidak berani menatap wajahnya. Tanpa menyadari jika ada seorang pria yang memandangnya dengan penuh kekesalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD