02. Menikah

1694 Words
"Diamlah. Edzard, ajak adik-adikmu bermain. Daddy ingin menyampaikan suatu hal yang penting." Erland menatap putra sulungnya. Ia memijit pelipis saat si kembar tak mau pergi dan seorang anak yang masih betah berada di pangkuannya. "Ayo cepat, jangan sampai kalian gagal memiliki Mommy baru karena kalian yang tidak menurut!" pekik Edzard membuat ketiga adiknya menyerah. Mereka melangkah keluar rumah. Eleana memandang kepergian anak-anak itu dengan tersenyum kecil. Ia menggelengkan kepala melihat Ezra yang tampak sangat dingin tak tersentuh. Sikap mereka tak jauh beda dengan watak tokoh novel sang kakak. Ellen berdeham, lalu menempati tempat di sebelah sahabatnya. "El, itu duda yang nolongin lo. Masih cakep, 'kan?" "Tapi-" Ucapan Ellen menggantung, seperti tengah mengingat-ingat sesuatu. "El! Jangan-jangan, mereka Erland dan anak-anaknya versi asli?! Wah, nggak bisa dibiarin nih, gue harus introgasi kakak lo!" Semua orang memicingkan mata ke arah mereka yang sedang berbisik. Eleana berusaha menenangkan sahabatnya yang tampak heboh sendiri. Untungnya, hanya mereka berdua yang mendengar perbincangan di luar nalar ini. Jika tidak, mereka akan diseret ke RSJ bersama. "Sebelumnya kedatangan saya ke sini karena suatu hal. Saya ingin meminang putri kalian yang sangat diinginkan oleh putra-putra saya untuk menjadi Mommy baru mereka." Erland menatap sepasang suami-istri yang sudah lama mengenalnya, kemudian beralih pada sahabatnya dan istrinya. Eleana dan Ellen tercengo. Mereka saling bertukar pandang, lalu menatap Erland yang terlihat sangat tenang dengan wajah tampannya. Seketika, Eleana tersadar akan maksud perkataan pria itu. Erland, tokoh fiksi yang ditemuinya datang melamar di pertemuan pertama ini. "Maksudnya? Anda melamar saya?" pekik Eleana merasa tak percaya. Eldar mengisyaratkan putri sulungnya untuk membawa Eleana ke kamar. Pinangan mendadak yang dilakukannya, membuat mereka sangat terkejut. Dengan susah payah, akhirnya Eleana beranjak dari ruang tamu. Gadis itu menahan rasa gondok di dalam hatinya. Cukup selama di alam bawah sadar, ia tersiksa sebagai istri dari Erland. Karena di dunia ini, ia hanya ingin menikah dengan lelaki lajang. "Ellen, temenin Elea dulu. Jangan biarin dia keluar kamar," titah Elina yang dibalas anggukan pelan olehnya. Setelah pintu tertutup, Ellen menghampiri sahabatnya yang terduduk di pinggiran kasur. "El, itu duda beneran mau nikahin lo?" "Duda?" Eleana mengerutkan keningnya. Seketika, ia tersadar dengan status pria itu. Tak mungkin dirinya dijadikan istri kedua. Kemungkinan terbesar, Eira sudah mati dan kembali memberikan tanggung jawab kelima anak mereka padanya. "Nggak, nggak, gue nggak mau, Len!" pekik Eleana merasa sangat frustasi. Ellen menyuruhnya untuk diam. "El, dengerin gue, duda itu lebih menggoda. Apalagi kaya raya!" Rasanya, Eleana sangat ingin membuang sahabatnya yang tidak berguna itu. Seharusnya, Ellen membantunya untuk bebas dari jeratan pria dan lima anak itu. Eleana memang merindukan mereka, tetapi bukan berarti ia ingin menghabiskan hidupnya dengan Erland dan anak-anaknya. "Gue nggak mau, Len! Lo bisa ngertiin perasaan gue nggak sih? Gue aja baru ketemu sama tuh duda, masa main mau nikahin gue gitu aja!!!" teriak Eleana berguling-guling di atas kasur. Ellen menepuk pundak sahabatnya. "El, namanya juga duda. Pasti bakal langsung seriusin hubungan, bukannya dijadiin mainan. Apalagi si dia punya lima anak." "Tapi, Len...." Eleana menitikkan air matanya. Ia merasa takut jika pernikahan terjadi dan di malam pertama mereka, Erland akan melakukannya dengan kasar. "Kalo gue jadi lo, gue bakal langsung gas, El!" tutur Ellen yang kini tengah mendekap tubuh sahabatnya. "Lumayan, dapet duda kaya!" Ellen terkikik membayangkan kehidupannya jika menikah dengan duda, pasti dirinya akan hidup bergelimang harta. Tanpa memikirkan lima anak yang akan diurusnya kelak. Tangisan seorang anak membuat Eleana mengusap jejak air matanya. Ia dan Ellen bergegas keluar kamar. Keduanya terpaku melihat keempat anak yang hanya diam saja menyaksikan Emmanuel yang terantuk undakan tangga. Darah segar mengalir dari bibir dalamnya. Siku, lutut, dan dagu yang memerah. Dengan sigap, Eleana menggendong Emmanuel dan mengelap darah yang mengalir menggunakan ujung pakaian yang dikenakan. Orang-orang yang berada di lantai bawah bergegas naik ke lantai atas. Mereka semua membeku melihat Eleana yang berusaha membujuk Emmanuel untuk berhenti menangis. Eleana mereka yang sejak dulu tidak menyukai anak kecil, kini menunjukkan sikap keibuannya pada anak duda tersebut. "Sudah ya, kita obati dulu bibirnya." Emmanuel menggeleng cepat. Ia kembali menangis merasakan rasa perih di bibirnya. "Jangan nangis lagi, nanti darahnya nggak berhenti keluar." Eleana tak menyadari keberadaan mereka semua yang berbaris di undakan tangga. Ia membawa Emmanuel ke dalam kamar dan empat anak lainnya ikut menyusul atas ajakan Ellen. Si kembar kembali membuat kerusuhan. Mereka meraih sebuah album yang tergeletak di atas meja. Eleana tidak menyadari jika dua anak itu sedang menertawakan foto masa kecilnya, karena fokus mengobati Emmanuel. "Apa yang kalian tertawakan?" tanya Edzard menghampiri adik kembarnya. "Tidak ada!" Eidlan menyembunyikan album tersebut di balik tubuhnya. Ezra yang tak mau mengurusi dua manusia yang selalu membuatnya pening, memilih merebahkan tubuhnya di sofa. Ellen hanya bisa menggigit bibir bawahnya melihat keempat anak yang sepertinya sudah menganggap kamar ini sebagai kamar mereka sendiri. "Sakit...," keluh Emmanuel sambil memegangi bibirnya yang terluka. Eleana mengangguk pelan, lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur. "Sekarang tidur, ya, nanti pas bangun pasti sakitnya hilang." Dengan sabar, Eleana membiarkan Emmanuel memeluk lengannya. Ia merasa seperti seorang ibu sungguhan. Setelah Emmanuel terlelap sepenuhnya, ia menyapu pandangan ke sekeliling kamar. Eleana tercengang melihat stok camilannya yang dimakan empat anak itu. "Itu 'kan punyaku?!" seru Eleana menunjuk kemasan cemilan yang berserakan di lantai. "Kau itu calon Mommy kami, jadi, tidak boleh pelit dan harus berbagi!" ucap Elan yang membuka kemasan camilan selanjutnya. Edzard beranjak mendekati Eleana yang tampak berpasrah dengan keadaan kamarnya yang berantakan. Hanya dalam beberapa menit saja, mereka sudah berhasil membuatnya merasa pusing. "Mom, di mana airnya?" tanya Edzard yang sepertinya sudah menganggap gadis di depannya sebagai sang mommy. Eleana menunjuk sebuah pintu di kamarnya. "Di kamar mandi." Edzard memutar bola matanya jengah. "Maksudku air minum." Tawa si kembar menggema. Mereka menunjuk wajah Eleana yang tampak muram. Sungguh, sikap mereka jauh lebih menyebalkan dari yang ditunjukkan di dalam novel. "Bercandamu sangat lucu, Mom, hahaha...," ucap Eidlan disela tawa. "Hahaha... Sangat lucu." Eleana tertawa garing. Rasanya, ia ingin menyeret mereka keluar dari kamarnya saat dua anak itu saling melempar camilan. Kedatangan Ellen yang membawa air minum membuat keributan yang terjadi sedikit mereda. Rengekan Emmanuel membuat Eleana bergegas menepuk-nepuk pantatnya. Ia teringat jika sang kakak sering melakukan hal tersebut pada keponakannya saat tertidur. "Kak Ez, bagaimana jika kita menginap di sini? Sepertinya akan sangat seru!" usul Eidlan melirik kakak keduanya yang terdiam, tak menyahut usulannya. "Kak Ez menyebalkan!" "Sudahlah, lebih baik kita mengatakannya pada daddy." Elan menarik tangan kembarannya. Kemudian, mereka keluar kamar dengan berniat untuk meminta izin pada sang Daddy. Ellen membantu Eleana membersihkan kamarnya. Sejenak, ia ingin menarik perkataannya mengenai menikah dengan duda tersebut. Ia akan lebih memilih melajang sampai jodohnya datang, dari pada menikah dengan duda beranak lima itu. "Menikahlah dengan daddy demi kami, Nona." Edzard menatap lekat manik mata gadis yang duduk bersila di depannya. "Aku tak mau, bocah!" tolak Eleana mentah-mentah. Kepala Edzard tertunduk dalam-dalam. Ia mencoba tersenyum. Ada banyak wanita yang ingin menikah dengan daddy mereka, tetapi belum tentu salah satu dari wanita itu mau menerima kehadiran kelima anaknya. "El!" Ellen menyenggol lengan sahabatnya. "Pengen mewek tuh bocah!" Eleana memejamkan matanya sesaat, kemudian mendongakkan kepala Edzard agar menatapnya. "Dengar, aku ini masih gadis. Aku belum memiliki pengalaman apa pun tentang mengurus anak-anak." "Aku percaya kau mampu." Ezra angkat bicara membuat dua gadis itu terkesiap. Edzard tersenyum menyeringai. "Kau 'kan sudah mendapat pengalaman dari mimpi itu?" Suara ketukan pintu membuat pandangan mereka teralih. Eleana menghampiri kakak iparnya yang melambaikan tangan padanya. Seketika, perasannya berubah tidak enak. Ada perasaan curiga yang menyelimuti hatinya, tetapi segera ditepis jauh-jauh. Eleana mengikuti langkah Eiman yang memimpin jalan menuju kamar kedua orangtuanya. "Papa dan Mama mau bicara sama kamu, El. Kakak samperin Erland dulu." Eiman meninggalkan adik iparnya yang perlahan membuka pintu kamar. Eleana mendekati kedua orangtuanya yang menatap kosong ke depan. "Ma, Pa." Eldar mengulum senyum. Ia menyuruh putri bungsunya untuk duduk diantara dirinya dan sang istri. Tangannya terulur mengelus puncak kepala Eleana. Berbeda dengan Ellie justru yang memalingkan wajah. "Putri Papa sudah besar, ya?" ucap Eldar tertawa hambar. "Sudah cocok berumah tangga." "Maksud Papa? Papa nggak berniat nikahin Elea sama dia kan?" Eleana tersulut emosi. Ia bangkit menjauhi kedua orangtuanya. "Erland ingin menikahimu, nak." Eleana sudah menduganya. Ia menjatuhkan diri di lantai. Jika yang ingin menikahinya adalah pria lajang, ia akan mempertimbangkannya. Tetapi, pria yang meminangnya adalah seorang duda beranak lima. "Elea nggak mau, Ma! Pa!" teriaknya yang tidak peduli telah kehilangan kesantunan berbicara dengan orangtua. "Kamu pikir, kamu bisa menolak pernikahan ini, El?" ucap Elina yang baru tiba. "Kamu akan tetap menikah dengan Erland!" Eleana melepas tawa. Ia menyeka air matanya. Kakaknya memang seorang penulis, namun ia tak akan membiarkan hal ini berjalan sesuai kehendaknya. Ia memiliki hak untuk menolak pinangan sang duda. "Elea nggak mau! Sampai kapanpun Elea nggak mau nikah sama duda itu!" teriaknya terjeda. "Tadi aja, anak-anaknya berantakin kamar Elea, Kak!" "Itu semua karena kesalahan kamu sendiri, El!" pekik Elina menunjuk adiknya. "Kamu pikir, Eiman bisa mengambil alih perusahaan dalam waktu singkat? Erland, dia yang mengajari kakak ipar kamu!!" "Kak Eiman sendiri yang setuju untuk meneruskan perusahaan, Papa, Kak! Kak Elina jangan lupain hal itu!!" Eleana menatap sengit sang kakak yang menyalahkannya. Elina menganggukkan kepalanya beberapa kali. Ia melipat kedua tangannya di depan d**a dan berjalan mendekati adiknya. "Karena itu atas permintaan kakak. Kak Elina yang meminta bantuan Erland, demi kebebasan kamu, El! Kenapa kamu nggak ngerti juga?!" "Kamu sendiri yang lepas tangan, nggak mau mengurusi perusahaan dan milih kerja di perusahaan keluarga Ellen! Dan sekarang, kamu harus mau menikah dengan Erland! Dia sudah banyak berjasa pada keluarga kita!!" ucap Elina berusaha memberi pengertian pada adiknya. "Berjasa? Terus, Elea yang dikorbankan?" Senyum miris terbit di wajahnya. Sekarang, Eleana mengerti satu hal. Keluarganya ingin mengorbankan dirinya atas jasa-jasa yang diberikan Erland pada mereka. Ellie mengelus punggung putrinya. "Erland pria yang baik, nak. Menikahlah dengannya, pasti hidupmu akan lebih bahagia." Eleana menggeleng cepat. Ia menyingkirkan tangan sang Mama dan berlari keluar kamar. Namun, langkahnya terhenti saat sang Papa berteriak. "Minggu depan kalian akan menikah. Erland yang akan mengurusi segala persiapan. Elea hanya perlu mempersiapkan diri." Eldar menatap nanar bahu putrinya yang bergetar. Suara pintu yang ditutup dengan keras membuat mereka yang berada di dalam kamar memejamkan mata. Elina mendekap tubuh sang Mama. Mereka juga tidak ingin mengorbankan Eleana. Akan tetapi, keadaan yang memaksa Eleana harus menikah dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD