Bab 9. Apa Rencanamu?

1296 Words
“Pergi. Uncle tidak boleh dekat dengan Mommy!” Teriak Christopher dan Carlton ketika mereka bertemu dengan Leon. Kedua anak nakal itu berdiri di hadapan ibu mereka sambil merentangkan kedua tangan seolah-olah mereka hendak melindungi Ibu mereka. “Pergi, jangan mendekati Mommy!” Teriak Christopher. “Mommy tidak boleh dekat dengan orang aneh!” teriak Carlton pula. Mereka berdua salah paham dengan keberadaan Leon. Mereka mengira pria itu memiliki hubungan spesial dengan Ibu mereka karena Ibu mereka begitu dekat dengan laki-laki aneh itu. Leon memang terlihat gagah tapi gayanya yang seperti wanita membuat kedua anak itu takut. “Wow! Apa-apaan ini, Evelyn?” Dia datang ke bandara untuk menjemput Evelyn tapi dia tidak menduga jika Evelyn tidak pulang seorang diri. “Mereka berdua Putraku, Leon .” “Apa?” Leon menjerit dengan gayanya yang khas, “Are you kidding me?” Kedua mata melotot. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Evelyn. “Tidak. Mereka berdua memang putraku. Maaf aku tidak memberitahu dirimu jika aku telah memiliki dua orang Putra.” “Oh my God, Evelyn. Bagaimana bisa?” Dia memandangi Christopher dan Carlton lalu memandangi Evelyn. “Yeah, kau tahu bagaimana ceritanya,” dia enggan mengatakan apa yang telah dia lakukan 5 tahun yang lalu karena dia tidak mau kedua putranya mendengar. “Mommy, siapa Uncle aneh itu?” Christopher mulai bertanya karena dia penasaran akan hubungan ibunya dan Leon. “Jangan memanggilnya Uncle aneh. Uncle Leon adalah sahabat baik Mommy.” “Oh, apa Uncle bisa membantu kami mencari keberadaan Daddy?” Carlton “Boys, lagi-lagi kalian lupa dengan apa yang Mommy katakan jika ayah kalian sudah tiada,” Dia tahu kedua putranya begitu merindukan sosok seorang ayah tapi dia tidak mau mereka tahu jika ayah mereka hanyalah seorang gigolo yang dia beli pada malam itu. lebih baik mereka tidak tahu sama sekali daripada mereka berdua akan sedih nantinya. “Eve, sepertinya kita berdua butuh bicara!” “Kita akan melakukannya nanti!” Evelyn melirik ke arah kedua putranya sebagai tanda jika mereka tidak boleh asal bicara. Leon mengangguk tanda sebagai dia mengerti. “Jika begitu kami akan mencari Daddy baru, Mommy!” ucap Christopher. “Sebaiknya jangan melakukan apapun, oke?" "Tapi, Mommy?" "Patuhlah. Besok kita akan melihat sekolah baru, oke?” “Asik, hore!” Kedua putranya bersorak senang. Dalam sekejap mata perhatian mereka pun teralihkan. “Sekarang waktunya pergi, ke rumah baru kita!” Evelyn menggandeng tangan kedua putranya. Dia meminta bantuan Leon untuk membawakan barang-barang miliknya. Rumah yang disediakan oleh perusahaan rupanya cukup besar. Christopher dan Carlton begitu antusias. Mereka mulai memilih kamar yang akan mereka tempati dan itu adalah kesempatan bagi Leon untuk bertanya. “Apa rencanamu setelah kembali, Evelyn? Apa kau akan kembali ke rumah ayahmu dan menendang ibu tirimu yang jahat itu?” “Aku belum memiliki rencana, Leon. Untuk sementara waktu aku harus mengurus pekerjaan terlebih dahulu dan anak-anak." “Baiklah, tapi bolehkah aku bertanya sesuatu?”. “Tentu saja, apa yang ingin kau tahu?” “Kedua anak itu, apakah mereka berdua adalah anak dari gigolo waktu itu?” “Seharusnya kau tahu itu. Selain dirinya tidak ada yang lain. Aku tidak menduga aku akan hamil hanya karena satu malam itu.” “Apa kau tidak berniat mencari laki-laki itu, Evelyn? Kedua Putramu pasti sangat merindukan ayah mereka tapi kenapa kau menipu dan mengatakan pada mereka jika ayah mereka telah tiada?” “Aku harus melakukannya, Leon. Ini adalah resiko dari apa yang aku lakukan dan aku tidak mungkin mencari pria itu lalu memintanya untuk bertanggung jawab karena permainan ini aku yang memulainya. Sejak awal aku sudah tahu konsekuensinya. Lagipula, tanpa keberadaan pria itu, aku sanggup menghidupi kedua Putraku jadi aku tidak memerlukan dirinya.” “Tapi setidaknya kau harus memberitahu dirinya, bukan?” “Untuk apa? Pria itu belum tentu senang mendengarnya dan dia belum tentu mau bertanggung jawab. Aku tidak mau mempermalukan diriku dan aku tidak ingin dianggap sebagai pengemis jadi lebih baik tetap seperti ini,” tanpa kehadiran pria itu pun, dia dan kedua putranya sudah cukup bahagia. “Aku mengerti maksudmu. Katakan saja padaku jika kau membutuhkan bantuanku.” "Itu sudah pasti, bukan? Tolong carikan pengasuh yang bisa menjaga kedua Putraku dan besok aku ingin menitipkan mereka kepadamu.” “Apa? Hei, aku tidak bisa menjaga anak-anak!” “Tidak perlu khawatir, mereka berdua anak-anak yang baik dan tidak sulit menjaga mereka,” dustanya. “Benarkah?” Leon tampak tidak yakin apalagi terdengar teriakan Christopher dan Carlton. “Ya!” Evelyn tersenyum. Dia harap kedua putranya berhenti dan tidak bertengkar lagi supaya Leon tidak curiga. “Tidak mau, aku mau tidur di dekat jendela!” Teriak Carlton. “Aku yang melihatnya terlebih dahulu jadi itu punyaku!” Teriak Christopher pula. Evelyn memijit pelipis, bisakah kedua putranya berdamai untuk sebentar saja? “Mommy, Kakak jahat!” Si cengeng selalu mencari perlindungan pada ibunya. “Aku yang melihatnya terlebih dahulu jadi itu adalah tempatku!” “Tidak mau. Aku ingin berada di dekat jendela jadi kakak harus mengalah!” “Aku tidak mau mengalah, kau saja!” “Tidak mau!” “Aku juga tidak mau!” Adu mulut terjadi. yang membuat Evelyn harus menghela nafas panjang. Dia jadi ragu, apakah ada pengasuh yang mau menjaga kedua putranya? “Mommy, kakak jahat!” Carlton sudah menangis. “Kalian berdua benar-benar memiliki energi yang luar biasa. Apa kalian tidak lelah bertengkar terus menerus?” Dia tahu kekurangannya sebagai orang tua tunggal. Mungkin kelakuan mereka seperti itu karena tidak ada sosok ayah di samping mereka. “Carlton selalu mengganggu dan menginginkan apa yang aku inginkan, Mommy. Padahal aku yang melihatnya terlebih dahulu tapi Carlton merebutnya!” “Baiklah tapi itu hanya sebuah kamar. Kalian selalu memperebutkan sesuatu dan setelah itu kalian melupakannya. Apa kalian tidak lelah?” “Tapi Carlton ingin kamar itu, Mommy!” “Tidak boleh, itu punyaku!” Teriak Christopher. “Christopher, Kau adalah seorang Kakak jadi Mommy ingin kau mengalah untuk kali ini.” “Tapi, Mommy?” kedua mata sudah berkaca-kaca karena dia tak mau mengalah. “Tidak apa-apa, hanya sebuah kamar saja. Sebagai seorang kakak harus mengalah pada adikmu. Tidak ada gunanya kalian bertengkar hanya untuk mendapatkan sebuah kamar." Christopher menunduk, dia sudah terlihat ingin menangis karena dia sangat menginginkan kamar itu. “Ya sudah. Kamar itu buat kakak saja,” ucap Carlton. Christopher memandangi adiknya, "Benarkah?" “Ya. Aku sudah tidak menginginkannya, jadi itu buat kakak saja." "Terima kasih!" Christopher memeluk akunya. Seperti biasa, perdebatan mereka tidak akan berlangsung lama dan mereka akan akur kembali. “Bagus, Mommy senang kalian berdua bisa saling mengerti. Pergilah dan bereskan barang-barang kalian.” “Baik, Mommy!” Mereka berdua berlari meninggalkan Ibu mereka tapi kedamaian itu hanya terjadi beberapa saat saja karena mereka berdua kembali memperebutkan lemari yang ada di dalam kamar itu. “Jadi?” Evelyn berbalik dan memandangi Leon kembali, “Kau akan menjaga mereka untukku, bukan?” Senyuman menghiasi wajahnya. “Tidak. Kepalaku tiba-tiba sakit dan aku tidak bisa membantumu untuk menjaga kedua putramu!” Melihat mereka berdua sudah membuatnya sakit kepala lalu bagaimana dia bisa menjaga mereka? “Ayolah, hanya sebentar saja. Aku hanya perlu memberikan laporan ke kantor dan setelah itu aku kembali.” “Tidak, Evelyn. Aku tidak bisa menjaga mereka jadi bawa saja mereka ke kantor!” “Hal itu tidak boleh aku lakukan dan aku mengandalkanmu sekarang. Bukankah kau berkata akan membantu aku? Cukup jaga mereka dan awasi mereka untukku!” “No… No and No!” Leon buru-buru meninggalkan Evelyn. Lebih baik dia melarikan diri daripada dia terlibat dengan kedua anak nakal itu. Evelyn mengejarnya dan membujuk Leon supaya mau membantu. Leon terus menolak tapi pada akhirnya dia kalah dengan Evelyn dan sepertinya dia telah menggali lubang kuburnya sendiri karena dia bersedia merepotkan diri untuk menjaga kedua anak nakal gitu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD