Bab 8. Cobalah Cari

1278 Words
"Keluar!" Teriakan itu terdengar dari sebuah ruangan lalu disusul dengan seorang wanita yang didorong paksa untuk keluar dari ruangan itu. "Kau keterlaluan, Liam!" Teriak wanita itu marah. Dia adalah Erin, wanita yang selama ini gila dengan Liam Maxton. "Aku tidak memintamu untuk menggoda aku jadi pergi!" Pintu ruangan ditutup dengan rapat dan wanita itu terdengar memaki karena dia ditolak padahal dia sudah berusaha keras untuk merayu Liam Maxton. Liam meneguk minuman sebanyak mungkin setelah Erin pergi. Bukannya dia tidak mau, sebagai laki-laki normal tentu dia tidak akan menolaknya tapi entah kenapa dia tak dapat menyentuh Erin dan ini bukan yang pertama kali keanehan itu terjadi pada dirinya. Entah apa yang terjadi dengannya, beberapa tahun belakangan dia jadi tidak bisa menyentuh wanita manapun. Dia tidak memiliki alergi tapi setiap kali dia bersentuhan dengan para wanita itu, hanya ada perasaan mual saja yang dia rasakan dan dia tidak bisa melanjutkannya. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia mengalami hal itu padahal dia tak memiliki trauma apapun terhadap perempuan. "Apa kau ingin aku mencarikan wanita lainnya, Master?" Tanya asisten pribadinya. "Tidak perlu, Jimmy. Untuk beberapa saat aku tidak ingin berurusan dengan wanita manapun dan aku pun tidak ingin bersentuhan dengan wanita manapun!" Sudah cukup, dia tidak peduli dengan keadaannya lagi. "Jika begitu bukankah kau harus mencari tahu apa yang membuatmu menjadi alergi dengan wanita? Pasti ada penyebabnya, Master. Cobalah kau ingat-ingat. Kita harus menemukan akar permasalahannya barulah keanehan yang terjadi padamu dapat diobati." "Akar permasalahan seperti apa yang kau maksudkan, Jimmy? Setelah tidur dengan wanita itu, aku tidak pernah tidur dengan wanita lainnya dan setelah itu kau tahu apa yang terjadi sebab aku tidak pernah lagi bisa menyentuh wanita manapun!" Benar, sekarang dia baru memikirkannya. Setelah satu malam itu dia tidak pernah lagi tidur dengan wanita manapun tapi ketika dia hendak mencoba dia justru disiram dengan minuman karena dia tidak berminat lagi untuk melanjutkannya. Dia masih normal karena dia tidak pernah berpikir mengenai hubungan antar sesama jenis tapi entah kenapa dia mulai merasa mual ketika bersentuhan dengan para wanita itu. "Itu berarti wanita itulah sumber masalahnya. Pasti dia lah yang telah membuat kau jadi seperti ini!" "Apa maksud perkataanmu? Apa kau pikir wanita itu adalah penyihir sehingga dia membuat aku jadi seperti ini? Aku yakin ini hanyalah sebuah penyakit yang memang harus aku sembuhkan tapi meskipun perkataanmu itu tidak masuk akal, cobalah cari wanita itu. Jika aku bisa menyentuhnya maka aku akan mempercayai ucapan konyolmu itu." "Baik, Master. Apa kau memiliki petunjuk agar aku bisa menemukan wanita itu dengan mudah?" "Tidak!" Selain wajah tebalnya yang dipenuhi dengan make up, dia tidak tahu sama sekali siapa Nona muda yang membelinya waktu itu. Selama ini pun, dia tidak pernah ingin mencari tahu siapa gadis itu karena baginya tidaklah penting tapi sekarang gara-gara keanehan bodohnya, dia jadi harus mencari tahu. "Aku tidak tahu siapa gadis itu tapi sepertinya dia berasal dari keluarga kaya. Cobalah kau cari rekaman CCTV di club 4 tahun yang lalu, mungkin kau akan menemukan petunjuknya." "Baik, Master." "Wanita itu, aku tidak mau dia muncul di hadapanku lagi jadi singkirkan dia!" Entah Jimmy akan berhasil menemukan Nona muda itu atau tidak karena 4 tahun telah berlalu. Dia tidak berharap lebih. Lagi pula keanehan yang terjadi dengannya belum tentu disebabkan oleh Nona muda itu. Tiba-tiba dia jadi mengingatnya, malam yang telah dia lewati dengan Nona muda nekat itu. Tiba-tiba dia pun jadi ingin tahu, apakah dia berhasil dengan rencananya? Entah Jimmy menemukannya atau tidak, dia tak begitu memperdulikannya. Baginya cukup satu malam itu saja karena dia tidak pernah mau terikat dengan wanita yang pernah melewatkan malam dengannya. Semua itu hanyalah kesenangan yang tidak perlu diperpanjang apalagi tidak ada perasaan dalam permainan yang mereka lakukan tapi bagaimana seandainya mereka bertemu lagi? Apakah dia akan mengenali Nona muda yang telah membelinya itu? *** Pesawat dari jurusan Stockholm baru saja mendarat di Bandar Udara Internasional San Francisco. Suara kehebohan dua anak laki-laki yang tidak sabar membuat sang ibu merasa begitu tidak enak hati dan kedua anak laki-laki itu sudah pasti Christopher dan Carlton. Mereka selalu membuat kehebohan di manapun mereka berada. Mereka bahkan begitu antusias untuk memulai kehidupan baru di kota itu dan mereka pun telah menyiapkan sesuatu yang sudah pasti akan membuat Ibu mereka sakit kepala. "Cepat turun, aku sudah tidak sabar!' Si cengeng mulai berulah. "Bersabarlah. Kita harus menunggu pesawat ini mendarat dengan sempurna barulah kita bisa turun!" Ini pertama kali kedua putranya naik pesawat jadi jangan ditanya, kehebohan mereka berdua membuatnya harus meminta maaf beberapa kali pada orang-orang sekitar akibat tidak enak hati. "Mommy, setelah ini kita akan tinggal di mana?" "Apa kami akan tetap bersekolah? Apa kami akan mendapatkan pengasuh sebaik Aunty Helena?" "Tentu saja. Kalian berdua akan segera kembali ke sekolah tapi ingat, kalian tidak boleh berbuat nakal karena ini tempat baru yang belum kalian kenal sama sekali. Mommy harap kalian tidak membuat masalah. Oke?" Dia yakin kedua putranya yang cerdas dapat mengerti dengan permintaannya. "Baik, Mommy!" Christopher dan Carlton tersenyum dengan lebar. Mereka tidak akan nakal tapi hanya akan melakukannya sedikit. Evelyn mengusap kepala kedua putranya secara bergiliran. Dia sangat yakin mereka berdua dapat bekerja sama sehingga tidak membuat masalah. Mereka pun sudah boleh turun dari pesawat. Seperti biasa mereka selalu heboh. Mereka melambai pada pramugari, menggodanya sehingga mereka mendapatkan coklat dan lagi-lagi mereka saling memperebutkan apa yang baru saja mereka dapatkan. "Punyaku!" Christopher tidak pernah mau mengalah. "Tidak, Kakak itu memberikannya padaku!" Si bungsu pun tidak mau padahal di tangannya penuh dengan coklat. "Boys! Bawa tas kalian dengan benar. Jika tidak mau berbagi maka Mommy akan mengembalikan coklat itu pada pramugari tadi!" "Jangan, Mommy!" Teriak mereka berdua. "Jadilah anak baik, jangan membuat keributan lagi!" Christopher melirik ke arah adiknya begitu juga yang dilakukan oleh Carlton. Mereka berdua saling menyenggol lengan dan untuk beberapa saat mereka berdua berdamai. Evelyn sangat lega. Dia mengandeng tangan kedua putera dan bergegas pergi untuk mengambil barang. Dia pun meminta mereka untuk menunggu selama dia sibuk. Dia tidak menyadari jika kedua putranya kembali membuat ulah. Christopher mengeluarkan kertas dari dalam tasnya begitu juga dengan adiknya. Kertas itu disiapkan oleh mereka bersama dengan Helena. Mereka menjadi pusat perhatian dan beberapa orang menghampiri mereka. Evelyn pun mulai menyadari, dia berpaling untuk melihat apa yang kedua putranya lakukan. Dia sangat terkejut saat melihat mereka sedang mengangkat sebuah kertas di atas tangan mereka tapi tulisan yang tertera di kertas itu semakin membuatnya terkejut. "Kami sedang mencari Daddy, jadi tidak ada yang boleh menggoda Mommy!" Kedua mata Evelyn terbelalak membaca tulisan itu. Dia segera menghampiri kedua putranya lalu merebut kertas yang sedang mereka pegang. "Apa yang kalian berdua lakukan?" Dia melihat sekitar dan menjadi malu. "Aunty berkata kami bisa mencari Daddy, Mommy!" "Mencari bagaimana?" "Aunty bilang kami akan menemukan Daddy jika kami mencarinya di sini!" "Helena!" Evelyn memijit pelipis. Untuk apa Helena berbicara seperti itu pada kedua putranya? "Mommy, kami bisa mencari Daddy, bukan?" Si bungsu sudah memegangi tangannya dan menggoyangnya. "Tapi tidak di bandara, astaga!" Dia benar-benar kehabisan kata-kata. "Tapi aunty berkata kami bisa melakukannya di tempat ramai!" "Tidak boleh, oke. Ini sangat memalukan jadi jangan melakukannya lagi! Lagipula ayah kalian sudah tidak ada, jadi kalian tidak bisa mencarinya lagi!" Bertahun-tahun dia menipu kedua putranya dan mengatakan jika ayah mereka telah tiada. Semua yang dia lakukan malam itu akan menjadi rahasia sampai kapanpun. "Lihat, Mommy. Kami dapat banyak permen!" Christopher menunjukkan permen yang mereka dapatkan dari orang-orang yang menghampiri mereka tadi. "Nikmati pelan-pelan dan jangan membuat masalah lagi. Mommy harus mengambil barang kita!" Dia harap putranya tidak membuat ulah lagi tapi apa? Mereka berdua mulai memperebutkan permen yang mereka dapatkan. Evelyn menggeleng dan mengusap wajahnya. Anak-anak yang begitu luar biasa. Entah kedua putranya mirip dirinya ataukah mirip laki-laki itu. Jangan-jangan kenakalan kedua putranya dikarenakan ayah mereka adalah seorang gigolo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD