"Mommy pulang!" Evelyn disambut oleh dua anak laki-laki yang begitu menggemaskan dan mereka berdua adalah putra kembarnya yang sudah berusia 4 tahun.
Dia tidak memikirkannya bahkan dia tidak menduga sama sekali jika satu malam yang dia lewati dengan Gigolo itu justru membuatnya hamil. Dia pun tak menduga jika dia akan melahirkan anak kembar yang begitu tampan dan cerdas.
Mereka berdua bagaikan hadiah yang didapatkan oleh Evelyn selama dia menata kehidupannya di kota itu. Dia benar-benar tak menyesali apa yang telah dia lakukan.
Dia justru bersyukur memiliki mereka berdua. Kedua putranya menjadi penyemangat yang membuat dirinya tidak pernah menyerah sama sekali walaupun banyak kesulitan yang dia hadapi selama lima tahun belakangan.
Putra pertamanya dia beri nama Christopher Douglas dan putra keduanya Carlton Douglas.
Dia tidak pernah peduli dengan siapa ayah mereka dan dia pun tidak berminat untuk mencari tahu siapa gigolo yang dia beli pada malam itu. Baginya, keberadaan pria itu tidaklah penting karena mereka bertiga sudah cukup bahagia.
"Apa yang kalian ributkan dan kenapa suara kalian terdengar sampai di ujung gang sana?" Kedua putranya memang cerdas tapi mereka nakal luar biasa.
Mereka suka mendebatkan sesuatu yang rumit yang tidak dapat dimengerti olehnya dan kedua putranya itu tidak mau mengalah satu sama lain. Mereka bahkan selalu memperebutkan barang baru yang dibelikan olehnya padahal warna dan bentuknya sama.
"Mommy bawa apa?" Putra sulungnya mengambil pizza yang dibawa olehnya.
"Itu punyaku!" Si bungsu tidak mau kalah oleh karena itu dia merebut pizza dari tangan kakaknya.
"Ini punyaku. Aku yang mengambilnya terlebih dahulu!" Christopher pun tidak mau kalah, dia menarik pizza itu kembali.
"Itu punyaku, Christopher. Mommy membelikannya untukku!" Perebutan barang pun mulai terjadi lagi.
"Kau yang itu dan ini punyaku!" Christopher menunjuk barang lain yang dibawa oleh ibunya. Dia tetap tidak akan memberikan pizza itu pada adiknya.
"Punyaku, itu punyaku!" Carlton mulai merengek dan dalam sekejap mata dia menangis meraung karena apa yang dia inginkan tidak dia dapatkan.
Evelyn menggeleng melihat tingkah kedua putranya. Kenapa mereka selalu saling berebut seperti itu? Padahal pada akhirnya akan mereka nikmati bersama-sama tapi sepertinya memperebutkan sesuatu telah menjadi tradisi yang tak boleh mereka lewatkan sama sekali.
"Oke, cukup. Jika kalian terus memperebutkan pizza itu maka tidak ada yang boleh memakannya dan Mommy akan memberikannya pada Aunty Helena," Helena adalah pengasuh yang dia bayar untuk menjaga kedua putranya saat dia bekerja.
"Wah, pizza!" Helena menghampiri lalu merebut Pizza dari tangan Christopher, "Terimakasih, Nyonya. Sekarang mau aku makan sendiri di dapur," Helena membawa pizza itu pergi.
Wajah Christopher pucat, begitu juga dengan adiknya. Helena kembali menggoda dan mengatakan akan memakan semua pizza itu.
"Pizzaku, hueee... !" Si bungsu yang cengeng, menangis dengan kencang.
"Jangan makan pizza-ku, Aunty!" Christopher berlari, mengejar Helena.
"Pizza-ku, Mommy. Aunty jahat!" Teriak Carlton.
"Itu ganjaran untuk kalian yang suka berebut. Sekarang pergilah, ikuti kakakmu!"
"Kakak yang mulai terlebih dahulu!" Padahal dia yang memulainya tapi dia justru menuduh.
"Pizzanya sudah mau habis!" Teriak Helena.
"Tidak!" Carlton berlari masuk, Evelyn pun menghela nafas panjang.
"Bagianmu sudah tidak ada!" Christopher mulai mengganggu adiknya.
"Tidak mungkin!" Carlton berlari mendekat lalu memeriksa kotak pizza yang ada di atas meja dan benar saja, kotaknya sudah kosong.
Tangisannya kembali terdengar. Dia begitu marah dan mulai memukul kakaknya.
"Kakak jahat, jahat. Hueee... !" Tangisannya membuat kepala Evelyn berdenyut sakit.
"Helena!" Evelyn berteriak pada pengasuh kedua putranya karena dia tahu Helena sedang menggoda Carlton.
"Sorry, Nyonya!" Helena mengeluarkan pizza yang dia sembunyikan dan memberikannya kepada Carlton. Dalam sekejap mata tangisannya pun berhenti.
Evelyn kembali menggeleng, dia sudah seperti memiliki tiga anak nakal dan setiap hari dia harus menggeleng karena kelakuan mereka.
Suasana mulai damai karena mereka berdua sedang menikmati pizzanya. Evelyn pergi mandi terlebih dahulu sebelum dia mengutarakan niatnya untuk kembali ke Amerika. Sepertinya akan berat karena kedua putranya sudah begitu dekat dan menyayangi Helena.
Begitu dia selesai, putranya tidak lagi terlihat di dapur. Mereka berdua sibuk bermain di dalam kamar dan lagi-lagi mereka berdua sibuk berdebat.
"Nyonya, mereka meninggalkan beberapa potong pizza untukmu," Helena memberikan pizza yang disisakan oleh Christopher dan Carton untuknya.
"Terima kasih. Apa kau sudah makan?"
"Tentu saja. Aku telah menyiapkan makan malam dan mereka berdua telah mengerjakan tugas sekolah. Apa masih ada yang harus aku lakukan, Nyonya?" Sudah saatnya dia kembali karena dia memang bekerja selama Evelyn pergi saja.
"Tidak. Tapi ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu. Minggu depan aku dipindahkan ke Amerika dan aku akan menetap di sana. Apa kau bisa ikut dengan kami, Helen?"
"Nyonya mau pindah?" Kabar yang begitu mendadak.
"Yeah. Aku ditugaskan untuk bekerja di sana dan aku harap kau bisa ikut denganku, Helena."
"Maaf, Nyonya. Aku sangat ingin tapi aku tak bisa melakukannya."
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa meninggalkan keluargaku jadi maaf jika aku harus menolaknya," dia tampak sedih karena mereka harus berpisah padahal dia begitu menyayangi si kembar walaupun mereka berdua begitu nakal.
"Apa kau tidak mau mempertimbangkannya?" Evelyn masih berharap Helena mau ikut bersama dengannya.
"Aku tidak bisa meninggalkan ibuku, Nyonya. Aku sangat ingin tapi aku tidak bisa meninggalkan ibuku begitu saja. Nyonya juga tahu jika aku sangat menyayangi anak-anak tapi aku benar-benar tidak bisa pergi bersama dengan Nyonya."
"Sayang sekali," dia tidak akan memaksa jika memang tidak bisa.
"Aku pasti akan merindukan mereka," Helena mulai menangis. Dia tak kuasa menahan air matanya.
Padahal dia sudah sangat betah bekerja dengan Evelyn tapi apa boleh buat akhirnya mereka harus berpisah.
Evelyn jadi merasa sedikit bersalah. Dia jadi sedikit ragu dengan keputusannya tapi ini adalah kesempatannya untuk kembali.
Setelah berbicara dengan mengasuh kedua putranya, Evelyn pun menyampaikan kabar itu pada Christopher dan Carlton.
"Tidak mau!" Mereka berdua sama-sama menolak begitu mendengar jika mereka akan pindah.
"Tidak mau, Mommy. Kenapa kita harus pindah?" Tanya Christopher pada ibunya.
"Kalian tahu, Mommy dipindah tugaskan jadi kita harus pindah ke Amerika."
"Bagaimana dengan Aunty Helena?"
"Aunty tidak bisa ikut dengan kalian."
"Jika begitu aku tidak mau!" Teriak Carlton.
"Aku juga tidak mau!" Christopher pun menolak dan dalam hal ini barulah kedua putranya bisa kompak.
"Tapi, Sayang?"
"Kami tidak mau!" Mereka berlari ke dalam kamar lalu menyembunyikan diri di bawah selimut. Mereka berdua menangis karena mereka tidak mau pergi dari tempat itu.
Evelyn menghela nafas, dia tahu sulit karena mereka sudah sangat menyayangi Helena.
"Biar aku yang membujuk mereka, Nyonya."
"Tolong, mungkin mereka akan mendengarkan dirimu."
"Serahkan padaku."
Helen masuk ke dalam kamar, dia akan mencoba membujuk kedua anak nakal itu walau sesungguhnya dia sedih harus berpisah dengan mereka.
"Anak-anak kalian tidak boleh membuat ibu kalian sedih," Helena duduk di sisi ranjang. Tangisan si kembar terdengar.
"Kami tidak mau pergi, Aunty."
"Kami tidak mau berpisah dengan Aunty."
"Aunty juga tidak mau tapi kita tidak bisa bersikap egois karena itu adalah tuntutan pekerjaan yang harus ibu kalian lakukan. Dia berjuang untuk kalian berdua jadi dia tidak bisa menolaknya. Kalian tidak mau Ibu kalian dipecat, bukan?"
"Tidak, tidak mau!" Jawab kedua anak itu secara bersamaan.
"Jika begitu jangan menangis Lagi. Bukankah kalian berkata ingin jalan-jalan lalu mencari keberadaan Ayah kalian?"
"Apa Daddy ada di sana?" Christopher mulai menyingkap selimut.
"Apa kami bisa mencari Daddy di sana?" Carlton pun menyingkirkan selimutnya.
"Entahlah, Aunty juga tidak tahu. Tapi kalian bisa mencoba mencarinya dan mungkin saja kalian akan bertemu dengan ayah kalian di sana. Tidak ada yang tahu akan hal itu, bukan?"
"Tapi kami tidak mau berpisah dengan Aunty!" Christopher dan Carlton memeluk Helena.
Mereka menangis karena mereka tidak mau berpisah. Helena pun tidak ingin hal itu terjadi tapi dia tidak bisa mengikuti mereka ke Amerika.