Jason tidak berpaling sama sekali, dia tidak mau memandangi kepergian putrinya. Apa yang dilakukan oleh Evelyn sangat membuatnya kecewa dan kekecewaan yang dia rasakan begitu dalam.
Entah apa yang dipikirkan oleh Evelyn, tak seharusnya dia melakukan perbuatan kotor itu dan mempermalukan dirinya sedemikian rupa. Sekarang semua orang pasti akan membicarakan mereka dan reputasinya benar-benar hancur di tangan putrinya.
“Kau tidak perlu khawatir, Jason,” Istrinya menghampiri untuk menenangkan dirinya, “Evelyn melawanmu karena dia merasa dia bisa hidup tanpa bantuanmu. Biarkan saja dia hidup di luar sana dan percayalah padaku, sebentar lagi dia pasti akan kembali dan memohon bantuanmu,” walau sesungguhnya dia berharap Evelyn tak pernah kembali lagi bahkan dia sangat berharap Evelyn mati di tengah jalan tapi dia tetap harus berpura-pura menghibur suaminya agar pria itu melihat jika dia adalah istri yang baik dan bisa diandalkan.
“Benar, Dad. Memangnya apa yang bisa Evelyn lakukan di luar sana? Selama ini dia hidup dari uang Daddy. Evelyn bahkan berfoya-foya menggunakan uang Daddy jadi Daddy tidak perlu khawatir karena dia akan kembali pada akhirnya.”
“Benar yang dikatakan oleh Erik. Saat Evelyn kembali maka dia tidak akan menolak dijodohkan dengan siapapun. Aku yakin kau akan mendapatkan investor lain yang dapat memberikan kita modal lebih besar,” mereka harus menghasut pria tua itu agar dia tidak memikirkan Evelyn lagi.
“Aku sedang tidak ingin membahas hal ini. Pergilah. Kekacauan yang terjadi di pesta benar-benar mempermalukan aku. Aku harus mencari cara untuk menyelesaikannya dan kau Erik, tunjukkan padaku jika kau memang berguna!” Dia melirik Putra tirinya itu dengan tatapan tajam.
Padahal mereka begitu baik dan peduli pada Evelyn tapi kenapa Evelyn begitu membenci mereka? Tidak seharusnya Evelyn menghancurkan pesta pernikahannya dan membeli seorang gigolo untuk tidur bersama dengannya.
Amarah kembali menguasai hatinya, begitu juga dengan rasa kecewa karena dia tak pernah menduga putri semata wayangnya akan melakukan perbuatan tidak senonoh yang seharusnya tidak dia lakukan.
Siapapun pria yang dibeli oleh Evelyn, beruntungnya wajahnya tidak terlihat dengan jelas karena jika sampai ada yang melihat dan mengenali Gigolo itu, maka mereka akan semakin malu.
Sekarang dia akan membiarkan putrinya hidup bebas supaya Evelyn merasakan bagaimana kerasnya hidup. Mungkin dengan demikian barulah Evelyn akan menyadari jika apa yang dia lakukan semata-mata untuk kebahagiaan dirinya.
***
Evelyn pergi mencari Leon. Dia membutuhkan bantuan sahabat baiknya itu. Hanya Leon saja yang dapat dia andalkan saat ini.
Tidak ada tangisan yang dia tunjukkan ketika dia tiba di tempat Leon. Pria itu memang sudah menunggunya sedari tadi. Jujur dia sangat khawatir dengan keadaan Evelyn setelah pesta pernikahan itu dihancurkan oleh dirinya sendiri.
“Oh, senang kau masih bisa mengunjungi aku dalam keadaan hidup!” Dia pikir Evelyn akan mendapatkan hukuman yang begitu berat dari ayahnya.
“Tentu saja aku masih hidup, Leon. Apa kau pikir Ayahku akan memukul aku sampai mati?”
“Aku kira dia akan melakukan hal itu karena kau telah mengacaukan pesta itu dan telah mempermalukan dirinya. Katakan padaku, kau pasti diusir dari rumah, bukan?” Koper yang dibawa oleh Evelyn sudah menjawab semuanya.
“Kau bisa melihatnya dan sekarang aku membutuhkan bantuanmu!” Evelyn melangkah masuk.
Leon adalah seorang gamer. Waktunya selalu dihabiskan dengan bermain game tapi kemampuan yang dia miliki tidak bisa diremehkan bahkan dia bisa melakukan sesuatu yang tak dapat dilakukan oleh sembarangan orang.
“Apa yang harus aku lakukan, Evelyn? Jangan meminta aku mengedit foto erotismu lagi karena aku tidak mau melihatnya untuk yang kesekian kali. Kau membuat aku mual tapi tubuh Gigolo itu, benar-benar menggoda!”
“Hei, dasar tidak normal. Jika kau menginginkan Gigolo itu, pergi carilah dia di klub malam. Tidak saja satu gigolo tampan yang akan kau temui tapi kau juga akan bertemu dengan gigolo tampan lainnya!”
“Saran yang menggiurkan tapi sekarang katakan apa yang bisa aku lakukan untukmu?”
“Kau lihat,” Evelyn menghela nafas sejenak, “Aku telah diusir dan sekarang aku butuh tempat nyaman yang dapat aku tinggali tanpa adanya ayahku serta istri barunya yang menyebalkan itu!"
“Hei, apa itu berarti kau ingin pergi dari Amerika?”
“Yeah, kau sangat pintar. Aku sudah tidak mau tinggal di kota ini lagi. Aku akan melupakan segala kenangan buruk yang aku lalui dan aku ingin memulai kehidupanku yang baru di mana tidak ada satu orang pun yang mengenali aku sehingga aku tidak perlu mendengar hinaan serta hujatan gara-gara video vulgar itu,” tidak saja melupakan hal itu, dia juga akan melupakan gigolo yang dia beli malam itu.
“Kau benar-benar gila, Evelyn. Ke mana kau akan pergi dengan keadaanmu yang seperti ini?” Dia justru prihatin dengan keadaan sahabat baiknya. Entah Evelyn memiliki uang atau tidak, dia justru cemas Evelyn tak dapat memulai kehidupan baru di tempat yang baru
“Ke mana saja yang dapat aku datangi. Inggris pun boleh tapi aku sangat ingin pergi ke Swedia. Bisakah kau mengurus surat-suratnya sehingga aku dapat pergi dalam waktu dekat?”
“Kenapa harus Swedia, kenapa?” Dia tidak mengerti kenapa Evelyn justru ingin pergi ke sana.
“Sekali-kali aku ingin menjelajah tempat yang baru. Aku belum pernah pergi ke Swedia jadi tidak ada salahnya mencoba. Mungkin aku bisa memulai karirku di sana dan mendapatkan kehidupan yang layak. Kau tak perlu khawatir, aku hanya pergi untuk sesaat saja!”
“Apa itu benar?”
“Tentu saja benar. Aku hanya pergi sebentar untuk menata kehidupanku agar kembali membaik dan aku akan kembali nanti karena ada hal penting yang harus aku lakukan!” Ekspresi wajahnya berubah. Dia tidak akan membiarkan Jane dan putranya menikmati uang ayahnya terlalu lama.
“Apa kau yakin?” Leon kembali bertanya. Dia sangat harap Evelyn tidak mengambil Jalan nekat itu sebab dia dapat bertahan di Amerika tanpa perlu pergi ke tempat yang jauh.
“Aku tidak pernah seyakin ini sebelumnya!” Tdak ada keraguan sama sekali karena dia memang sudah bertekad untuk pergi.
“Baiklah jika memang itu yang kau inginkan. Aku akan segera membantumu untuk mengurus semuanya dan aku pastikan dalam waktu dekat kau sudah bisa pergi ke Swedia.”
"Kau benar-benar sahabat baik yang bisa aku andalkan, Leon. Malam ini tolong izinkan aku menginap di rumahmu karena aku tidak memiliki tempat yang dapat aku tuju.”
“Anggap seperti rumahmu sendiri, Evelyn.”
“Terima kasih!” Evelyn menghampiri sahabatnya lalu memeluknya. Bahkan sahabatnya lebih mengerti dengan apa yang dia inginkan dibandingkan dengan ayahnya. Rasanya begitu menyedihkan.
Tidak apa. Setelah dia pergi, dia harap kedua mata ayahnya terbuka sehingga dia dapat melihat siapa sebenarnya orang-orang yang dia percayai dan dia banggakan itu.
Dia harap ayahnya tidak terlalu bodoh sehingga tidak terlalu terjerumus ke dalam jebakan ibu tirinya.