03 [CINCIN NIKAH]

729 Words
03 CINCIN NIKAH Daila menatap cincin di jari manis tangan kananya dan memutar cincin itu, manis sih. Namun, apa perlu ia menggunakan cincin nikahnya juga ketika disekolah? Berlebihan? Gerutunya dalam hati. Tadi malam Daila dan dafhin telah menggelar acara ijab Kabul dirumahnya dan kini mereka telah resmi menikah. Karen memang hanya akad jadi tidak banyak orang yang datang. Dan hari ini rencananya ia akan pindah ke rumah orang tua dafhin. "La, kantin yuk!", Seru Mia diikuti tepukan di bahu Daila, mengejutkan gadis yang tengah asik melamun itu. Daila langung menyembunyikan tangannya di atas meja. "Lo bikin gue jantungan tau nggak", daila menatap Mia sebal. "Kali nggak jantungan mati dong, La" sahut Kevin dari kursinya. "Tau ah, rese kalian!" Guru baru saja keluar setelah jam pelajaran pertama baru saja selesai. "Eh, La", Mia menarik tangan kanan daila ke atas meja. "Sejak kapan Lo pakai cincin", lanjut Mia. Pertanyaan itu membuat Kevin melihat ke arah mereka berdua. 'mati gue' batin daila. "Cincin apa, La?", Kini Kevin malah ikut mendekat. "Itu anu... Cincin pemberian mama", jawab daila dengan gugup. Kevin dan Mia memincingkan matanya curiga. "Tapi ini kok seperti cincin nikah, La?", Tanya Mia lagi dengan nada penuh selidik. Daila memalingkan wajahnya menghindari tatapan kedua sahabatnya. "Daila!!", Suara dari depan pintu mengejutkan ketiganya. "Dafhin!", Dafhin masuk tanpa permisi ke dalam kelas tersebut. Ia duduk di atas meja, tepat di depan Daila. "Gue lapar, tapi lupa bawa duit", dafhin melihat jari daila dimana terdapat cincin yang sama dengannya. Walau punya dirinya tak dipakai, bibirnya menyeringai. "Bagus tuh cincin Lo? Sini gue mau jual, buat makan-makan sama temen-temen gue", dafhin langsung melepas cincin itu dari tangan Daila tanpa aba-aba. Dan daila yang tak siap langsung terkesiap begitu cincin itu telah raib dari tangannya. "Heh, Lo seenaknya main rebut cincin orang", Kevin menarik kerah baju dafhin yang sudah berantakan dan keringat yang masih menetes karena anak itu baru selesai dihukum berlari keliling lapangan. Seperti biasa karena kedapatan merokok di belakang sekolah, pas jam pelajaran lagi. Daila tau itu karena memang biasanya ia yang bertugas menghukum dafhin dengan kedua temannya, karena selain waketos, Daila juga asisten guru BK. "Apa? Lo mau jadi pahlawan kesiangan?", Tanya dafhin seraya menyeringai. Ia menghempas tangan Kevin dari bajunya, kemudian melompat dari atas meja. "Kev, kev, udah nggak usah diladeni", daila memisahkan Kevin dan Dafhin. "Tapi dia kelewatan, La", sahut Mia yang sama tak terima seperti Kevin. "Dafhin balikin cincin gue", daila menengadahkan tangannya. "Ogah!", Jawab dafhin dan berlalu begitu aja. Sebelum benar-benar keluar dari kelas, dafhin sempat mencium cincin itu dengan senyum mengejek. "Dafhin!!!", Teriak daila kesal setengah mati. Mia merangkul bahu Daila, sementara Kevin menepuk punggung daila. ***** "Lo nggak apa-apa kan, La?", Mia khawatir melihat Daila hanya mengaduk-aduk bakso di hadapannya. Khawatir juga Daila pada cincin yang tadi diambil dafhin itu. Takut anak itu bersungguh-sungguh akan ucapannya dan menjual cincin pernikahan mereka. "Daila!" "Ya, kev, kenapa?" "Giliran Kevin aja yang panggil Lo, cepet banget nyahut". Daila terkekeh melihat sahabatnya merajuk. "Gue nggak apa-apa Mia", Daila mengusap punggung tangan sahabatnya lembut. "Nanti pulang, kita belanja buat keperluan camping yuk?", Kata Kevin mengalihkan pikiran daila. Dia tau kalau daila itu sedang sedih kehilangan barang yang disayangi. Memang sekolah mereka akan mengadakan camping tahunan dan sudah diumumkan beberapa hari yang lalu. "Boleh" ***** Seperti rencana awal Mia, daila, dan Kevin pergi berbelanja untuk keperluan camping. Berhubung mereka bertiga anggota OSIS, jadi dalam camping pun mereka pasti akan jadi panitia. Setelah puas berbelanja, mereka bertiga menghabiskan waktu buat nongkrong di cafe seperti biasa. Walaupun sudah menikah, tetapi daila dan dafhin tidak seperti ada ikatan mereka menjalani hari seperti biasa daila pulang dan pergi ke sekolah dengan mobilnya sendiri. Menjelang sore, daila pun pulang. Ia memasuki rumahnya, ditangannya banyak paper bag isinya berbagai keperluan untuk camping yang ia beli dari mall tadi siang. "La, kamu baru pulang, dari mana saja?". "Daila belanja buat keperluan camping, mah. Oh, iya, dafhin dimana? Apa dia udah pulang?" "Udah dari tadi. Lagian kamu itu istri kok nggak tau keberadaan suaminya" "Daila kan sibuk, mah". Daila menjawab sambil terus melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua, dimana kamarnya berada. Daila membuka pintu kamarnya pelan, ia melihat dafhin tengah tertidur puas di ranjangnya dengan telanjang d**a. Seketika senyum terbit di bibir daila saat melihat kalung yang dipakai dafhin dengan kedua cincin nikah mereka menjadi bandulan. 'oh jadi itu alasannya mengambil cincin itu dari gue, biar nggak bikin ribet' *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD