04 PINDAH RUMAH
"Kapan Lo pulang?", Dafhin mengerjapkan matanya beberapa kali, didepannya berdiri seorang gadis yang sedang mengeringkan rambut basahnya.
"Udah dari tadi", daila meletakkan handuk kecil itu di kursi. "Jadi pulang ke rumah Lo hari ini?"
"Jadi lah gue udah nungguin Lo dari tadi", dafhin beringsut duduk bersandar. "Dari mana aja Lo? Kencan dulu sama si ketos?".
"Ck. Gue habis belanja keperluan camping, asal Lo tau aja", Daila kemudian berjalan mendekat dafhin. "Nething Mulu". Tangan iseng menyentil kening dafhin membuat dafhin mendengus.
"Si ketos suka sama Lo Daila, wajar kalau gue nething", dafhin berjalan ke balkon kamar dia mengambil rokok Serta api dimeja belajar Daila dan menyalakannya.
"Heh, no smoking area", Daila mengambil rokok di tangan dafhin dan langsung membuangnya ke dalam toilet.
"La, Lo cukup rese disekolah. Please, ya. Kalau dirumah jangan, oke!", Dafhin kembali menyalakan rokoknya yang lain.
"Kalau Lo nggak mau gue rese, Lo ikutin semua aturan gue, baik disekolah ataupun dirumah", lagi daila mengambil rokok dafhin. Kali ini dengan bungkus serta korek apinya.
"males. Ck, sial banget gue punya istri kayak Lo!", Dafhin mendengus. Daila bergidik mendengar kata 'istri' keluar dari bibir dafhin. "Cepet beresin barang yang mau Lo bawa. Gue mau nongkrong bareng Ama anak-anak".
Daila tak menjawab tapi tetap menurut.
"Kalian mau berangkat sekarang?", Tanya sari pada kedua anaknya.
"Iya, mah. Sampai-in maaf buat papa karena dafhin sama Daila nggak nunggu papa pulang dari kantor dulu", jawab dafhin, ia menarik dua koper daila keluar rumah.
"Iya nggak apa. Kamu baik-baik ya disana! Jadi istri yang baik! Urusin suami kamu!", Sari mengusap anaknya penuh sayang. Walaupun berat melepas Daila, tapi mau gimana lagi, ini udah keputusan bersama.
"Iya mama, ya ampun kayak serasa diusir dari rumah sendiri, mah".
Pletakk...
Satu sentilan mendarat di kening daila.
"Sembarangan kalau ngomong", sari kembali melihat menantunya yang sudah selesai memasukan koper ke bagasi mobilnya. "Nak, mama titip daila ya, jangan bosan-bosan buat sabar, Karena dia sangat manja". Dafhin tersenyum pada mertuanya.
"Iya ma, dafhin akan jaga daila dengan baik, mama nggk usah khawatir".
Daila memicingkan mata menatap dafhin. 'ternyata si bad boy bisa bersikap manis juga kalau didepan orang tu' batin daila.
Setelah berpamitan, mereka pun berangkat ke rumah orang tua dafhin. Dimana daila akan tinggal dengan dafhin bersamanya disana.
*****
"Kita satu kamar?", Tanya Daila begitu mereka tiba dirumah dafhin, lebih tepatnya di kamar dafhin.
"Iya, lah. Gue nggak mau diamuk bokap kalau kita pisah kamar".
Daila masih diam tak bergeming didepan pintu.
"Sekarang siapa yang nething, bego", dafhin menarik tangan daila Masuk ke dalam kamarnya. "Tenang aja gue nggak bakal ngapa-ngapain Lo. Gue udah janji sama bokap".
Daila masih diam di depan dafhin dengan tatapan tidak percaya.
"Daila antariksa putri, yang katanya cewek paling pinter disekolah, kenapa gue lihat Lo sebaliknya sekarang".
"Karena Lo virus dari badan Lo nular ke gue".
"Pintar ngeles Lo ternyata", dafhin menarik sebelah ujung bibirnya. "Gue mau perginya, Lo kalau butuh apa apa panggil aja pembantu".
"Mau kemana?", Daila menarik tangan dafhin.
"Nggak usah kepo jadi istri", melepaskan tangan daila. "Nggak usah nunggu gue pulang".
"Ahg, begini banget nasib gue punya suami kayak gitu. Sebenarnya apa dipikirkan papa sama Mama ketika menjodohkan gue sama si bad boy kayak dia? Boro-boro ngurusin istrinya, ngurusin diri sendiri aja nggak bisa", daila menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk tempat tidur dafhin, yang membuatnya nyaman dan tak lama matanya terpejam.
*****