05 KENAKALAN DAFHIN
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 ketika sebuah mobil sport silver metalik berhenti di depan rumah mewah milik Raditya Prasetya. Bersamaan dengan mobil BMW hitam milik Raditya masuk ke halaman rumahnya.
Radit berbalik kembali menghampiri mobil anaknya tersebut. Dari dalam mobil keluar Rifky dan Ridho yang sudah menundukkan kepala ketika mendapat tatapan tajam dari Radit.
"Mana Dafhin!!", Bentak Radit kencang.
"Di-di dalam om", jawab Rifky sambil melirik Ridho.
"Apa sih pah?" Dafhin keluar dari dalam mobil dengan wajah sempoyongan dan babak belur.
"Thanks bro, udah nganterin gue pulang", dafhin menepuk kedua bahu sahabatnya secara bergantian.
Rifky dan Ridho mengangguk pelan, karena mereka tak mau terkena imbas dari kelakuan dafhin. Jalan terbaik adalah pergi dari tempat itu secepatnya.
Setelah kedua sahabatnya pulang. Dafhin masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan sang papa yang masih marah-marah padanya.
"Dafhin! Sampai kapan kamu akan terus seperti ini? Tiap hari pulang dengan keadaan babak belur dan mabuk", Radit sudah tidak bisa lagi mengendalikan kemarahannya kali ini.
Dafhin tersenyum sinis, ia masih berusaha meninggalkan papanya walaupun badannya terbentur sana sini.
"Papa mohon sama kamu, hentikan kelakuan bruntal kali ini! Papa sengaja menikahkan kamu dengan daila lebih cepat, supaya kamu lebih bertanggung jawab atas dirimu dan juga istrimu".
"Papa sayang sama kamu dafhin, papa peduli sama kamu".
"Sejak kapan papa peduli sama dafhin? Di rumah ini udah nggak ada yang peduli sam dafhin sejak mm pergi, papa cuma mentingin pekerjaan papa dari pada mikirin anaknya sendiri".
Dari atas tangga Daila menyaksikan pertengkaran antara anak dan ayah itu dengan hati yang tak karuan. Sejak tadi ia terbangun saat mendengar teriakan dari lantai bawah.
"Papa tau? Papa adalah laki-laki yang paling egois sedunia? Gara-gara papa, mama meninggal, semua gara-gara papa!".
Plakkk...
Ucapan dafhin terhenti saat tamparan itu mendarat di pipinya. Siapa yang melakukannya? Tentu aja papanya sendiri.
"Jaga bicara kamu! Ini semua bukan salah papa. Papa juga nggak mau mama kamu pergi ninggalin kita"
"Jelas ini salah papa! Kalau papa tidak sibuk, pasti mama bisa dengan cepat di bawa kerumah sakit saat itu dan sekarang mama..." air mata dafhin mulai menetes walau tangisnya tak terdengar. "Papa egois, aku benci papa!!".
Radit kembali mengangkat tangannya, bersiap menampar putranya lagi.
"Stop pa! Daila mohon, jangan tampar dafhin lagi!", Dengan sigap daila berdiri di depan suaminya, menghalau pukulan yang siap mendarat kembali. Bahkan ia ikut meneteskan air mata melihat bagaimana kedua orang itu bertengkar di depannya.
Radit diam terpaku ditempatnya dan membiarkan daila memapah dafhin ke lantai atas menuju kamar mereka, dengan susah payah daila membawa dafhin menjauh dari sana karena cowok itu berusaha menolak bantuan dari daila.
"Gak usah sok baik Lo sama gue", dafhin mendorong daila hingga tubuhnya jatuh ke lantai.
Daila tak menghiraukan setiap makian yang keluar dari bibir dafhin. Sekarang ia tau dafhin menjadi seorang bad boy karena kekurangan kasih sayang dari orang tuanya di tambah kelakuan papanya yang kasar terhadapnya.
Mungkin ia seperti itu hanya untuk melampiaskan kesalahannya pada takdir kejam yang ia terima. Dimana untuk remaja seusia dirinya masih sangat butuh perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Daila bangkit dan kembali keluar dari kamar. Tidak berapa lama daila kembali dengan baskom dan handuk kecil ditangannya.
"Mau ngapain Lo", dafhin menepis tangan daila yang sedang berusaha membersihkan luka-luka di wajahnya.
"Diem, deh", ucap daila dengan sedikit meninggi. Kesal juga dirinya dengan cowok yang sudah menjadi suaminya.
Dafhin akhirnya diam menurut, selama daila mengobati lebam di wajahnya. Ia hanya menatap wajah daila dengan lekat dan ekspresi yang sulit diartikan.
*****