06 [ PERHATIAN DAILA ]

546 Words
06 PERHATIAN DAILA Daila tertidur di samping dafhin dengan keadaan duduk dan wajah terlungkup pada lipatan tangannya. Setelah mengobati luka diwajah dafhin tadi. Sementara tangannya masih memegang salep. Dafhin menghela nafas, hatinya mencelis, ada rasa kasihan juga melihat gadis tak bersalah ini. Tidak seharusnya tadi ia kasar pada gadis yang tak tau apa-apa ini, dafhin bergerak turun dari tempat tidurnya. "Cantik" "Astaga apa yang ada di otak gue", dafhin memukul kepalanya. Ia mengangkat tubuh daila dan memindahkan ke atas ranjang agar tidurnya lebih nyaman. "Sorry", gumamnya sambil menyingkap anak rambut yang menghalangi wajah Daila. "And thank". Ia mengambil salep di tangan daila dan menaruhnya di atas nakas. Setelah melihat daila nyaman di tempatnya, ia juga ikut merebahkan badannya di samping daila. Menarik selimut lebih dulu sampai ke d**a mereka berdua. Pagi menjelang, daila bangun lebih dulu. Saat pertama kali ia membuka mata yang pertama kali ia lihat adalah lelaki tampan yang baru dua hari ini menjadi suaminya. Kedua sudut bibir Daila melengkung sempurna melihat wajah damai baby face milik dafhin si bad boy. Daila melihat dafhin menggeliat buru-buru ia bangun dan masuk ke kmr mandi sebelum yang punya wajah sadar Bahwa ia tengah memandanginya, bisa geer tuh bad boy. Dua jam berlalu daila masuk ke dalam kamarnya dengan sepiring sandwich dan segelas s**u ditangannya. Karena dafhin yang masih marah sama papanya, tak mau ikut sarapan bareng di meja makan. Makanya daila berinisiatif membawa makanan ke kamarnya. Saila menggelengkan kepalanya saat melihat dafhin mencak-mencak kesal kesusahan memasang plester di siku tangan kanannya. "Sarapan dulu nih", gadis cantik itu menyodorkan piring ditangannya. "biar gue yang pasangin", lanjutnya, kemudian mengambil tempat di samping dafhin. "Gue nggak laper", "Jangan bandel deh, sini!" Daila beralih memasangkan plester pada siku dafhin. Sedangkan dafhin hanya diam menatap setiap gerak gerik daila yang telaten mengobati luka-lukanya. "Kenapa belum dimakan? Mau gue suapi juga?". "Gak usah, gue bisa sendiri" "Bagus deh. Lagian kok bisa sampai kayak gini, Lo berantem sama siapa?". "La, masih pagi nih, gue males denger bawelan Lo". "Gue cuma nanya. Soalnya hampir tiga hari Lo ke sekolah dengan keadaan babak belur kayak gini". "La, lo yang paling tau gue, Kenapa masih nanya? Knp? Lo kesel nikah sama anak nakal kayak gue", "Hmm... Gimana yah?", Daila pura-pura berfikir. "Gue nggak nyesel kok nikah sama Lo. Ya. Walaupun gue gak cinta sama Lo. Tapi gue percaya kok,cinta datang seiring berjalannya waktu". "Kata siapa? Yakin banget kalau gue bakalan cinta sama Lo". "Kata gue lah Daila antariksa putri 'kan paling pinter". "Serah", Dafhin memutar bola matanya Malas. "Lo mau bareng gue atau naik taksi?", Ia bangkit dan mengambil ranselnya. "Bareng, tapi sebelum nyampai sekolah Lo harus turunin gue", daila bergegas mengekor dafhin. "Kenapa? Malu Lo ketauan berangkat sekolah bareng gue?". "Bukan malu, tapi malas aja buat ngejelasin sama..." "Sama si ketos?", Potong dafhin. "Bukan, ilah. Malas aja gue jawab pertanyaan Mia nanti. Dia pasti rempong banget". "Ngeles aja sesuka Lo, buruan!", Dafhin menarik tangan daila yang baru selesai mengikat sepatu di tetas rumah. Sesuai kesepakatan daila turun ketika sudah dekat dengan gerbang sekolah. Setelah daila turun, dafhin malah melajukan mobilnya ke arah lain. "Mulai kumat deh". Bodoamat! Daila mending cepat masuk dari pada dirinya terus memikirkan kemana perginya dafhin dan membuatnya terlambat, nanti bakal ia sendiri yang menghukum dafhin. Yang memang langganan di hukum. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD