Enggak ada angin, enggak ada hujan, tiba-tiba Ayah mengajakku untuk nonton horror di bioskop. Padahal aku tahu banget kalau dia enggak suka nonton film di luar rumah, apalagi dengan genre horror. Bukan Ayah banget pokoknya deh.
"Kamu sukanya genre apa? Horror kan? Ayo, Ayah temani," ucapnya untuk kesekian kali.
Aku menatapnya dengan datar. Aku lagi galau, malas buat ngapa-ngapain.
"Enggak, Yah," tolakku kemudian aku mengambil tasku dan bergegas untuk ke atas. Namun, baru aja aku melangkah Ayah menarik lenganku pelan.
"Kamu maunya ke mana, Key? Ke mana aja Ayah mau menemani kamu," ucapnya terdengar memaksa.
Anterin aku ke KUA aja boleh ga sih? Terus nikahin aku sama Pak Prima. Kayanya cuma hal itu yang membuat aku bersemangat untuk pergi keluar.
"Ga mau ke mana-mana. Malas," ucapku kemudian kembali melangkah menuju lantai atas dan masuk ke dalam kamar.
Dua puluh tiga menit kemudian, ada suara ketukan pintu. Awalnya aku cuekin aja karena mager untuk membuka pintu, tetapi ketukan itu tidak kunjung berhenti. Aku semakin merasa terganggu dan akhirnya membukakan pintu itu.
Ayah berdiri di depan pintu dengan senyuman yang merekah. Tangannya memegang sebuah totebag yang berlogo sebuah restoran Thailand yang terkenal.
"Tadi Ayah habis pesan makanan ini di ojek online," sebelah tangannya menyentuh tanganku, "ini makanan kesukaan kamu kan? Ayo kita makan bersama-sama di luar," ajaknya.
Kebaca deh, Ayah pasti lagi baik-baikin aku. Maybe dia tahu kalau sikapnya benar-benar membuat aku sedih. Namun, enggak ada hal yang bisa dia lakukan karena mungkin baginya, kebahagiaan dia lebih penting.
Aku menghentakan tanganku lantas menggeleng keras-keras. "Enggak, Yah. Aku lagi enggak mau makan. Makanannya buat Ayah aja atau kasih satpam depan," ucapku lalu menutup pintu.
Semoga Ayah paham, kalau aku enggak butuh dibaik-baikin kaya gini.
Aku sama sekali enggak butuh.
Keesokan harinya Abang-abangku datang ke rumah. Sebenarnya tidak ada yang istimewa, biasa aja. Dari dulu hubungan kami tidak terlalu erat, ngomong pun hanya sekedarnya. Jadi ada ataupun tidak ada mereka, bukan masalah besar untukku.
Aku baru saja pulang dari kampus, begitu aku ingin masuk ke dalam rumah mataku menatap Ayah dan kedua Abangku yang berada di taman depan. Mereka terlihat sedang berbincang-bincang. Aku sempat menguping, tidak begitu jelas apa yang mereka ucapkan, tapi aku mendengar nama Tante Dilla disebut beberapa kali.
Wajar, Ayah lagi puber ke dua.
Dia pasti menceritakan betapa membahagiakan kisah cintanya dengan Tante Dilla kepada kedua anak-anaknya.
Hmm, aku memilih melanjutkan langkahku menuju kamar. Malaslah aku mendengar cerita kisah cinta Ayah dan Tante Dilla berkali-kali. Sudah hafal.
Sesampainya di kamar, mataku menatap lurus ke arah rumah depan. Jendela rumah itu terbuka, jendelanya berpapasan dengan jendela kamarku sehingga saat ini aku dapat melihat Pak Prima sedang sibuk memainkan laptopnya.
Tiba-tiba bibirku tertarik membentuk senyum. Maybe, jika memang dimasa depan aku dan Pak Prima akan menjadi abang dan adik sepertinya aku enggak begitu keberatan. Setidaknya aku memiliki Abang yang penyayang dan begitu perhatian, walaupun Abang tiri.
Tanganku bergerak membuka jendela kamar kemudian aku berusaha membuat bunyi-bunyian dengan niat agar fokus Pak Prima terpecah lalu dia menoleh ke arahku. Dan benar saja, pria itu menoleh ke arahku lantas tersenyum.
"Kamu ngapain?" tanyanya. Suaranya tidak begitu jelas, tapi dari gerakan bibirnya aku bisa membacanya.
"Bosan aja," jawabku.
Pak Prima mengangguk lantas dia mengambil ponselnya. Beberapa detik kemudian ponselku berdering menandakan ada sebuah pesan masuk. Pria di depan sana menunjuk ke arah ponselnya seolah dia memberikan isyarat agar kami berkomunikasi menggunakan benda tipis itu.
Aku buru-buru mengambil ponselku, membaca pesan darinya kemudian segera membalas pesan itu.
Pak Prima
Saya lagi nonton film
Mau nobar?
Nanti kita bisa lewat zoom atau gmeet. Saya sharescreen.
Mau?
Bole bole
Tidak lama kemudian Pak Prima mengirimkan link meeting. Aku terkekeh pelan, biasanya dia mengirimkan link meeting jika ada kelas pengganti atau kelas tambahan online, tapi kali ini malah link meeting untuk nonton film bareng.
Lucu ya. Dosen sekaligus calon Abang aku, hehe.
Di room meeting, Pak Prima menyalakan kameranya. Wajah pria itu langsung terpampang di sana. Senyumku semakin melebar. "Halo, halo," ucapku sambil melambaikan tangan.
Pak Prima ikut melambaikan tangannya. "Senang melihat kamu ceria. Saya berharap kamu bisa ceria terus ya, Key."
"Iya," aku mengambil bantal guling lantas memeluknya, "jadi kita mau nonton apa, Pak?"
"Oh, iya, sebentar," Pak Prima langsung sharescreen, "saya ulang dari awal filmnya. Kita nonton film ini ya?"
Film bergenre petualangan. Aku tahu karena film ini juga sudah lumayan lama.
"Boleh," ucapku kemudian mematikan mic dan begitu pun juga dengan Pak Prima. Mic kami mati, tapi kamera masih dalam kondisi menyala.
Jujur, ini jujur banget, dari awal aku enggak tertarik dengan filmnya sehingga aku lebih memilih untuk nge-pin layar kamera Pak Prima. Aku jauh lebih tertarik untuk mengamati wajah pria itu. Lebih menyenangkan. Setiap gerak-geriknya aku amati. Keningnya yang mengerut. Kedipan matanya. Gerakan tangannya. Semuanya tampak seru dimataku.
Aku sangat serius mengamati pria itu sampai tidak sadar bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam kamarku. "Keyra, what are you doing?" tanya Bang Putra, Abang keduaku.
Aku gelagapan dan langsung menutup layar laptopku. "Nonton film."
"Jangan bohong. Kamu lebih mengamati layar Bang Prima daripada filmnya."
S*al, dia tahu.
Malu aku, ke-gep.
Habisnya gimana ya, lebih seru sih.
Aku enggak mengeluarkan suara lagi. Aku diam aja sambil memainkan jari-jariku. Ini pelajaran sih buat aku, besok-besok jangan lupa untuk kunci pintu agar hal memalukan seperti ini enggak terulang lagi.
"Jangan suka sama Bang Prima. Jangan menjalin hubungan asmara sama dia. Sesuai yang Ayah sudah bilang, Abang adik aja."
See ya? Abang keduaku aja sudah memanggil Pak Prima dengan sebutan Bang. Ini pasti karena Ayah.
Aku mengangguk cepat. "Paham, Bang. Aku paham. Ayah juga berkali-kali bilang sama aku. Kebahagiaan Ayah yang utama kan?" Abangku mengangguk, "aku mulai membiasakan diri untuk menganggap Pak Prima sebagai Abang aku. Maybe jika pernikahan Ayah dan Tante Dilla benar-benar terjadi, aku jadi enggak kaget lagi."
"Iya, mulai dibiasakan ya."
Hmmm.
Aku akan coba terus, walaupun enggak tahu kapan berhasilnya.
Teruntuk yang mau baca cepat, aku udah publish satu buku full di k********a.
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)
Terdiri dari:
Full E-book (Lengkap)
Total 71 Part ; 329 Halaman
Hanya dengan Rp56.000 kalian bisa akses semua itu, tanpa menunggu.
Cara Pembelian:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ My Lecture My Housemate _ TheDarkNight_)
3. Setelah ketemu, scroll ke bawah sampai menemukan harga jual karya tersebut. Harganya Rp56.000.
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, Shopeepay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Jika ada pertanyaan boleh chat admin aku 085810258853
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)