🗣️ D u a p u l u h

1296 Words
Aku membuang pandanganku saat melihat Pak Prima sibuk mengurusi kepindahannya ke rumah depan. Sudah sebulan kami tinggal bersama. Di satu atap yang sama. Setiap hari ketemu, walaupun beberapa Minggu belakangan ini kami jarang berinteraksi, tetapi di minggu-minggu awal interaksi kami sangat intensif. Rasanya sedih saat menyadari bahwa dia harus meninggalkanku, walaupun rumahnya ada di depan rumahku, tetapi enggak menjamin kami bisa bertemunya setiap hari. Aku menghela napas, mengusap air di sudut mataku lantas aku berjalan dengan cepat ke dalam kamar. Langkahku berhenti tepat di depan jendela kamar. Dari sini aku bisa melihat Pak Prima yang sedang berbincang-bincang dengan Ayah dan Tante Dilla. Mereka bertiga sibuk mengurusi kepindahan Pak Prima. Aku sama sekali enggak berniat untuk membantu. Aku memilih hanya diam dan mengamati dari kejauhan. Waktu makan malam tiba. Aku malas banget sebenarnya untuk turun ke lantai bawah, tetapi perutku tidak bisa diajak kompromi. Perutku berbunyi dan memaksa untuk diisi. Dengan langkah yang lunglai aku berjalan ke arah lantai bawah atau lebih tepatnya ke arah meja makan. Di sana sudah ada Ayah yang duduk sendirian. Biasanya ditemani Pak Prima sekarang sudah tidak ada lagi. Ayah melirik ke arahku yang sedang mengambil makanan. Aku diam aja karena juga lagi enggak mood berbicara, apalagi sama Ayah. Aku masih kesal dan masih belum menerima keegoisannya. "Dari beberapa hari yang lalu cemberut terus, kenapa sih?" tanya Ayah. Aku hanya diam sambil mengunyah makanan. "Kalau ada apa-apa itu bilang." Aku buru-buru mengambil air lalu meminumnya. Butuh beberapa detik sampai akhirnya aku melemparkan respons atas ucapannya. "Kalau aku bilang, Ayah enggak bakal ngerti. Misalnya Ayah ngerti, Ayah juga paling enggak mengubah apa-apa." Sorot mata Ayah menajam. "Selesaikan makan malammu, setelah itu kita bicara." Aku hanya bergumam dan segera menyelesaikan kegiatan makan malamku. Beberapa saat kemudian, aku dan Ayah sudah duduk di kursi ruang keluarga. Sorot matanya masih tajam sepertinya dia benar-benar ingin mengetahui apa yang aku rasakan. "Jelaskan. Sekarang," perintahnya. Aku berusaha menenangkan diriku. Berusaha menghilangkan dulu emosi-emosi negatif karena biasanya emosi negatif itu yang membuat pesan yang aku sampaikan kurang tersampaikan dengan baik. "Jujur, Yah. Aku kesal sama Ayah karena Ayah menyembunyikan fakta kalau sebenarnya tujuan Ayah mendekati Pak Prima agar bisa dekat dengan Tante Dilla. Aku kecewa sama Ayah karena seharusnya fakta ini diberitahukan di awal, bukannya malah ditutupi. Ayah bilang ini suprise? Enggak, Yah. Enggak ada yang merasa senang atas suprise ini." Aku menarik napas pelan sebelum akhirnya melanjutkan ucapanku. "Kita salah persepsi. Aku pikir Ayah mendekati Pak Prima karena Ayah merestui hubungan aku dengan dia, tapi nyatanya enggak seperti itu. Ayah mendekati anaknya demi mengincar Ibunya." Mataku berkaca-kaca. Aku merasa kisah cintaku miris banget, istilahnya harus bertarung dengan orang tua sendiri. "Jujur aja, aku udah cinta sama Pak Prima. Pak Prima juga sudah cinta sama aku. Tapi kami berdua harus mengalah karena kebahagiaan orang tua kami lebih penting. Disisi lain aku masih enggak terima, tapi aku tahu bahwa aku enggak boleh jadi anak durhaka karena menghambat kebahagiaan orang tua." Tangan Ayah terulur untuk mengusap air mataku yang mendadak terjatuh. "Sabar ya, Keyra. Kamu kuat," ucap Ayah setelah beberapa saat terdiam. Aku mengangguk-angguk. Air mataku semakin deras, tapi aku berusaha untuk menahannya, walau sebenarnya aku enggak mampu. "Iya, aku kuat. Aku kuat." "Jadi kalau selama beberapa hari ini aku bersikap kurang menyenangkan, mungkin dari ekspresi wajah atau kata-kataku. Aku minta maaf ya dan tolong Ayah mengerti keadaanku. Aku lagi berusaha untuk menerima semua ini." Ayah mengangguk lalu dia mengecup kepalaku. "Terima kasih ya," ucapnya sambil memeluk tubuhku erat. Ya, sama-sama. Aku menarik napas berkali-kali saat melihat tumpukkan baju kotor. Sudah hampir empat hari Bi Tuti—ART-ku— tidak masuk karena sedang sakit. Dampaknya ini, tidak ada yang mencuci baju kami. Aku sudah memberikan solusi agar baju kami dicuci di laundry. Namun, Ayah bersikeras tidak mau. Katanya cuci di laundry tidak bersih. Agak ribet memang orang tuaku. "Kenapa mukanya kusut? Padahal Minggu ini enggak ada tugas," ucap Pak Prima sambil berdiri di sebelahku Aku langsung berbalik dan kemudian duduk di sofa. "Aku disuruh nyuci. Padahal ini kan hari Minggu. Aku mau jalan-jalan." "Habis nyuci kita jalan-jalan," ucapnya sambil ikut duduk di sebelahku Aku menatap tajam ke arahnya kemudian menggeleng. "Aku mau benaran jalan-jalan. Enggak sambil belajar." Pak Prima tertawa. "Emangnya kamu mau ke mana?" "Nonton bioskop, Pak." "Yaudah, ayo." "Filmnya aku yang pilih sendiri ya?" "Film animal planet, ada di bioskop enggak sih? Kalau ada, nonton itu aja. Banyak ilmunya." Aku menghentakkan kakiku ke lantai kemudian menatapnya dengan kilat-kilat amarah. "Enggak ada! Aku mau film horror." "Ayo, ayo. Saya ngikut kamu." Senyumku mengembang kemudian aku langsung berdiri dan berjalan ke arah cucian kotor. "Tunggu aku, sebentar. Aku nyuci memakai kecepatan tinggi." Setelah itu aku mengisi mesin cuci dengan air, memasukkan sabun dan juga pakaiannya. "Saya belum pernah nyuci, tapi kalau kamu butuh bantuan, saya bisa bantu." Eh. Kok kyut. "Butuh, butuh. Aku butuh bantuan," jawabku cepat. Kesempatan enggak datang dua kali, kebetulan Pak Prima lagi baik hari ini jadinya aku mau memanfaatkan keadaan. Aku memisahkan baju ayah dan juga bajuku. Pakaian d*laman Ayah juga aku yang cuci, biar Pak Prima cuci baju-baju aja. Setelah itu aku memberikan pakaian Ayah kepada pria itu. "Bapak cuci baju ini ya. Kalau Bapak cuci baju aku, apalagi baju d*laman, takutnya Bapak berpikir yang aneh-aneh." "Ga nafsu." Aku memicingkan mata. "Serius?" Dia terlihat gelagapan. "Enggak tahu juga." Aku memutar mata sebelum akhirnya memasukkan bajuku ke dalam mesin cuci. "Di belakang masih ada mesin cuci. Ayo, aku anterin." "Nanti kalau timernya habis, diputar ulang ya. Terus nanti bajunya diletakkan di bak, nah dibilas dah. Habis itu...." Aku terus menjelaskan urutan-urutannya, sedangkan Pak Prima hanya mengangguk-angguk. Aku percaya dia orang pintar sehingga aku enggak perlu mengulang untuk kedua kalinya. "Yaudah, aku ke depan ya. Jangan bilang-bilang Ayah kalau Bapak yang nguci. Nanti aku dimarahin karena enggak sopan." Dia mengangguk. "Enggak mau aku nangis kan?" "Enggak. Sana, sana. Bawel kamu. Saya bisa sendiri." Nice memang dia, bisa diandalkan. Aku terkekeh sebelum akhirnya bergegas meninggalkannya. Aku kembali dengan kesibukan mencuci bagianku. Sedang asyik-asyiknya mencuci, tiba-tiba Pak Prima datang dengan membawa baju d*lamanku bagian atas. "Ini terbawa," ucapnya. Kali ini aku yang gelagapan. Mana itu warnanya merah. Ngejreng banget. "Gimana sih kamu, memilahnya enggak benar." Aku terdiam, sementara Pak Prima memasukkan d*laman itu ke dalam mesin cuci. Aku menghembuskan napas setelah pria itu berjalan menjauhiku. "Oh iya, Key," Pak Prima membalikkan tubuhnya lantas dia menoleh ke arahku, "untuk menambah pengetahuan saya, tadi itu kamu ukuran berapa?" Aku kembali membisu. Dia juga diam menunggu respons dariku. Beberapa detik kemudian, aku berusaha meredam rasa maluku sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya. "Emangnya pengetahuan buat apa? Bapak mau beliin buat aku?" Dia mengangguk-angguk kecil. "Kamu mau berapa? Selusin? Dua lusin?" tanyanya santai. Aku kembali menegang. "Mes*m! Aku bilangin Ayah ya?" Pak Prima tertawa terbahak-bahak sebelum akhirnya dia pergi meninggalkanku. Tahi, t**i. Bikin orang keringat dingin aja. Teruntuk yang mau baca cepat, aku udah publish satu buku full di k********a. Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853) Terdiri dari: Full E-book (Lengkap) Total 71 Part ; 329 Halaman Hanya dengan Rp56.000 kalian bisa akses semua itu, tanpa menunggu. Cara Pembelian: 1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi. 2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ My Lecture My Housemate _ TheDarkNight_) 3. Setelah ketemu, scroll ke bawah sampai menemukan harga jual karya tersebut. Harganya Rp56.000. 4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, Shopeepay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank. 5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR). 6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka". Jika ada pertanyaan boleh chat admin aku 085810258853 Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD