🗣️ D u a p u l u h t i g a

1031 Words
Aku lebai. Jujur saat Ayah meninggal aku jauh lebih lebai. Aku jadi banyak drama. Apa-apa harus ditemani dan yang lebih parahnya lagi aku harus banget ditemani oleh Pak Prima. "Abang paham, kamu lagi berduka, tapi jangan sampai kamu merepotkan Bang Prima terus," ucap Bang Putra yang sama sekali tidak aku gubris. Aku tetap melanjutkan langkahku dan berjalan lebih cepat keluar dari rumah. Tujuanku ke rumah depan, rumah Pak Prima. Tanpa mengetuk pintu dahulu, aku langsung membuka pintu itu dan mencari keberadaan Pak Prima. "Key," panggil Pak Prima dari arah dapur, tampaknya dia sudah tahu bahwa aku yang baru saja masuk ke dalam rumahnya, "saya buat nasi goreng. Kamu mau?" tanyanya. Aku berjalan ke arah dapur lantas duduk di kursi meja makan. "Aku nyusahin Bapak terus ya?" tanyaku to the point. Pria itu membeku beberapa detik kemudian tangannya kembali bergerak memindahkan nasi goreng dari penggorengan ke piring. Dia enggak berbicara apa-apa sehingga aku kembali membuka suara. "Aku enggak begitu nyaman sama Abang-abang aku, Pak. Aku enggak punya orang tua. Aku enggak punya sahabat. Aku merasa cuma sama Bapak, aku nyaman. Maaf kalau nyatanya aku malah menyusahkan Bapak terus." Pak Prima meletakkan kedua piring di tangannya lantas dia berjalan dan duduk tepat di sebelahku. Matanya menatap lurus ke arah mataku. Senyuman tipis dia sunggingkan kemudian dia mengelus pipiku. "Nikah sama saya yuk?" tanyanya. Aku melongo. Unpredictable banget. Memang ini yang aku harapkan dari dulu. "Key?" panggilnya yang seketika membuat aku kembali fokus dengan ucapannya. "Mami saya sudah merestui hubungan kita." Itu juga satu hal yang aku harapkan dari dulu. "Jadi tampaknya enggak ada hambatan lagi untuk kita bisa bersatu." Aku belum dapat restu dari Abang-abangku sih, tetapi mau mereka merestui atau tidak, aku tetap kekeuh pada pendirianku. Aku mau menikah dengan Pak Prima. Pokoknya enggak ada lagi yang boleh menghalangi. Tanpa menjawab aku langsung berlari dan memeluk Pak Prima. "Bapak pasti udah tahu jawaban aku." °•° "Jangan secepat itu, Key. Coba lebih pendekatan lagi. Kenali dia. Kenali kepribadiannya. Kenali masa lalunya. Kenali keluarganya. Kenali teman-temannya," nasihat Bang Yogi. Aku membuang pandanganku. Kenapa kayanya ribet banget. Aku kan udah hampir tiga bulan mengenalnya. Selama tiga bulan ini juga baik-baik aja kok. Dia datang dari keluarga baik-baik. Saking baik keluarganya, Ayah saja sampai ingin menikahi Maminya. "Ayah aja dulu mau menikahi Tante Dilla. Udahlah, Bang. Enggak perlu lagi banyak pertimbangan." "Abang lebih berpengalaman ten—" ucapan Abangku terputus ketika aku mengeluarkan suara decakkan yang keras. "Aku yang paling mengerti tentang hidupku. Jadi, tolong biarkan aku bahagia dengan pilihanku," ucapku kemudian bergegas meninggalkannya. Hari-hari setelahnya, hidupku kembali membaik. Jauh lebih baik karena selalu ada Pak Prima di dalam keseharianku. Tidak ada lagi batas-batas seperti dulu yang kami jaga. Saat ini semuanya serba terang-terangan. Bahkan para dosen dan mahasiswa tahu bahwa aku adalah tunangan Pak Prima. Ya, tiga hari yang lalu aku dan Pak Prima resmi bertunangan. Abang-abangku merestui, keluarga Pak Prima merestui, dan jadilah sebuah acara pertunangan. Dari pembicaraan antar kedua belah keluarga, kami sepakat bahwa pernikahan akan dilakukan dua bulan lagi. Omong-omong mengingat grand prize wedding festival kemarin, seluruh hadiahnya diberikan kepadaku dan biaya acara pernikahan kami nanti akan ditanggung oleh Pak Prima. Aku awalnya sudah memaksa agar memakai uang ini untuk menambahkan keperluan pernikahan, tetapi Pak Prima menolak keras. Kami sempat bertengkar kecil, sampai akhirnya kesepakatan pun dicapai. Uang grand prize ini akan kami gunakan untuk acara honeymoon nanti. Haduh, udah ngomongin honeymoon kan tuh. Padahal sah aja belum. "Ih, samaan," Hannan—keponakan Pak Prima— menunjuk ke arah bajunya, "warna baju aku samaan sama Aunty Key. Terus warna baju Lia samaan sama Uncle Prim." Aku tersenyum, mensejajarkan tubuhku dengan Hannan dan juga Cilia—keponakanku— kemudian aku mengelus puncak kepala mereka bergantian. "Sudah yuk? Uncle Prim udah nunggu di mobil. Ayo kita ke sana." "Ayo! Ayo!" ucap Hannan dan Cilia bersamaan. Kami bertiga berjalan menuju mobil Pak Prima lantas masuk ke dalamnya. Hari ini rencananya kami berempat ingin berkunjung ke Cimory Dairyland yang berada di wilayah Bogor. Tempat ini adalah taman hiburan yang didesain seperti peternakan di Eropa. Banyak jenis hewan di sana. Mengingat Pak Prima yang suka sekali jalan-jalan sambil belajar, aku langsung merekomendasikan tempat ini. Tentunya karena berpotensi menambah ilmu pengetahuan, tanpa berpikir lama Pak Prima langsung menyetujuinya. Di tengah perjalanan semuanya berjalan baik-baik saja, tidak ada satu pun yang rewel. Hannan dan Cilia sedang asyik menonton kartun anak dari tablet yang Pak Prima bawa. Saat anak-anak lengah, tiba-tiba sebelah tangan Pak Prima menyentuh pipiku. "Kita gladi bersih jadi keluarga," ucapnya. Seketika tawaku pecah. Aku teringat ucapan tempo lalu. Aku menoleh ke belakang menatap Cilia dan Hannan secara bergantian. "Wajah Hannan agak mirip Pak Prima. Pasti nanti pada ngiranya itu anaknya Bapak." Pak Prima terkekeh kemudian tangannya yang bertengger di pipi pindah ke atas puncak kepalaku. "Wajah Lia juga mirip kamu. Pasti nanti orang-orang di sana ngiranya itu anaknya kamu." Aku tersenyum sambil mengangguk. Ya, namanya satu keluarga pasti ada mirip-miripnya. "Lucu ya. Aku enggak sabar mau buru-buru sampai." "Saya juga enggak sabar, tapi bukan karena ingin buru-buru sampai." Aku mengerutkan keningku. "Terus ga sabar apa?" "Ga sabar buru-buru realisasi sungguhannya. Enggak gladi bersih lagi. Langsung keluarga sungguhan." Senyumku semakin lebar. Iya, aku juga enggak sabar. Teruntuk yang mau baca cepat, aku udah publish satu buku full di k********a. Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853) Terdiri dari: Full E-book (Lengkap) Total 71 Part ; 329 Halaman Hanya dengan Rp56.000 kalian bisa akses semua itu, tanpa menunggu. Cara Pembelian: 1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi. 2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ My Lecture My Housemate _ TheDarkNight_) 3. Setelah ketemu, scroll ke bawah sampai menemukan harga jual karya tersebut. Harganya Rp56.000. 4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, Shopeepay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank. 5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR). 6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka". Jika ada pertanyaan boleh chat admin aku 085810258853 Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD