Seharian ini sehabis pulang dari kampus, aku pulang ke rumah Mas Prima. Sesampainya di sana, aku langsung membuka laptopku dan mengerjakan tugas. Deadline banyak banget, aku jadi pusing sendiri.
Aku mau minta dibantuin sama Mas Prima, tapi pastinya dia hanya memberikan arahan, enggak benar-benar membantu. Aku tuh maunya dibantu ketikkan atau paling tidak dibantu dicarikan referensi, tapi aku sudah tahu jawabannya, pasti Mas Prima tidak akan mau melakukan itu.
Suara mobil dari arah garasi terdengar, aku melirik ke arah jam dinding waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sekitar jam segini biasanya Mas Prima pulang dan suara mobil tadi pastinya bersumber dari mobil pria itu.
Dan, ya benar saja. Mas Prima membuka pintu kamar lantas dia masuk ke dalam kamar. Baru beberapa langkah dia masuk, tiba-tiba tubuhnya berhenti dan menatapku dengan tatapan kesal.
Lah, baru ketemu dia udah keliatan kesal. Padahal kayanya aku enggak salah apa-apa. Tadi pagi kita udah baikkan, bahkan udah mesra-mesraan juga.
"Kenapa jadi perempuan jorok banget sih?" ucapnya.
Mendadak sebelah alisku menukik tajam. "Apaan? Apanya yang jorok?"
Dia kembali melanjutkan langkahnya kemudian dia berjalan dan menyentuh bajuku. "Bajunya kotor dari luar. Ganti baju dulu, Bee. Ini malah enggak. Udah gitu, langsung naik ke tempat tidur. Kuman-kuman yang kamu bawa dari luar, nempel di tempat tidur."
"Lupa. Pulang-pulang langsung sibuk ngerjain tugas."
Mas Prima berjalan ke arah lemari bajuku. Dia mengambil kaus beserta celana pendek lantas memberikannya kepadaku. "Ganti, sekarang."
"Malas."
"Bee."
"Mas."
Saat ini tanpa ucapan lagi, tangan Mas Prima langsung bergerak di atas bajuku. Gerakan tangannya cetakan membuka kancing-kancing bajuku kemudian dia langsung menggantikannya.
"Dasar malas," ucapnya sambil membawa baju kotorku keluar kamar. Aku terkekeh lantas kembali melanjutkan tugas.
Tidak lama kemudian pria itu kembali dengan baju yang sudah berganti. Wajahnya juga kelihatan basah, habis cuci muka kayanya. "Kenapa harus ngerjain tugas di tempat tidur? Kan bisa di ruang kerja. Bisa juga di ruang keluarga. Di ruang televisi. Di taman depan. Taman belakang. Di gajebo depan kolam renang. Banyak tempat, kenapa harus di tempat tidur?" cerocosnya sambil naik ke atas ranjang.
"Gapapa. Nyaman aja."
Terdengar suara helaan napas. "Besok-besok jangan ngerjain tugas di sini. Tempat tidur buat tidur."
Aku berdecak sebal kemudian melemparkan tatapan tajam. "Enggak juga. Kita kalau lagi main kud—"
"Apa? Mau balikkan kata-kata saya lagi? Nurut aja Bee," intonasi suaranya lebih tinggi seketika aku langsung terdiam.
Ribet, ribet.
Tempat buat nugas doang pakai diatur.
°•°
Pada hari Minggu pagi, tiba-tiba Mas Prima memintaku untuk menemaninya belanja. Kalau diajak pergi keluar, tanpa pikir panjang aku langsung menyetujui ajakan itu. Soalnya aku emang suka banget jalan-jalan.
"Nanti sehabis belanja kita nonton film ya Mas?" ucapku bersemangat.
Mas Prima mengangguk. "Semoga waktunya cukup, kita harus pulang ke rumah pukul tujuh malam. Soalnya kita enggak boleh tidur larut malam, besok ada kelas pagi kan."
Aku melirik ke arah jam yang ada di dashboard mobil. Saat ini masih pukul dua siang. Kayanya cukup sih. "Cukup, cukup. Aku pesan tiketnya sekarang ya?"
"Boleh," ucapnya lalu kembali sibuk dengan kemudi, sedangkan aku sibuk memesan tiket bioskop melalui aplikasi online.
Tiba-tiba ponsel Mas Prima bergetar, saat aku lirik ada sebuah panggilan dari sana. "Tolong angkat panggilannya, Bee. Dari Hannan itu."
Aku meletakkan ponselku lantas mengambil ponsel Mas Prima. Aku angkat panggilan itu dan wajah Hannan seketika terpampang di sana. "Halo Aunty!" teriaknya riang.
Aku ikut tersenyum. "Halo Hannan, udah lama enggak pernah main lagi ke rumah Uncle Prima. Kenapa? Dulu sebelum Aunty dan Uncle menikah, Hannan sering main ke rumah."
"Ga boleh sama Papi," Hannan mengerucutkan bibirnya, "katanya takut ganggu."
Iya sih benar, kalau ada Hannan pasti aku dan Mas Prima enggak bisa enak-enakkan berdua.
"Tapi tapi," ekspresi Hannan tiba-tiba ceria, "aku mau nginap di rumah Uncle sama Aunty. Soalnya Papi sama Mami ada urusan kerjaan keluar kota."
Aku bergumam. Seketika otakku berpikir, bisa sih masih bisa. Anak kecil biasanya tidurnya enggak larut malam sehingga aku dan Mas Prima masih bisa enak-enakkan di malam hari.
"Oh gitu."
"Iya, Aunty. Hmm, Uncle mana? Papi mau ngomong sama Uncle."
Aku mengarahkan kamera layar ponsel ke arah Mas Prima kemudian pria itu dan Papi Hannan berdiskusi. Keputusan didapatkan bahwa Hannan akan menginap di rumah kami untuk beberapa waktu ke depan.
Setelah sambungan telepon itu terputus, barulah aku kembali kepada kesibukan awal yaitu memesan tiket bioskop melalui aplikasi online, sedangkan Mas Prima hanya terdiam sambil menyetir mobil.
°•°
"Saya enggak suka model ini. Bisa tolong dicarikan kemeja dengan warna dan ukuran yang sama, tapi modelnya berbeda. Oh iya, kalau bisa warna kancing dan warna benangnya putih ya," ucap Mas Prima saat kami berdua sudah sampai di outlet pakaian.
Aku menarik napas panjang. Jujur, aku cape banget menemani dia belajar. Ini sudah outlet ketiga yang kami masukkan, tetapi belum ada satu pun model kemeja yang sesuai dengan keinginannya.
Memang pria ini super duper detail. Setiap ada kemeja yang menarik perhatiannya, dia amati dengan detail. Bahannya, modelnya, mereknya, warna bajunya, kerapihannya, jahitannya, warna kancingnya, bahkan sampai warna benangnya dia perhatikan.
Kaya detail banget, ya ampun.
Jika dibandingkan denganku, dia jauh lebih ribet dalam hal belanja.
Aku kalau belanja paling hanya melihat model, merek, warna, dan harga. Sisanya yaudah, bisa opsional. Selama aku suka dan uangnya ada, langsung aku beli.
"Enggak ada ya, Mbak? Yaudah, terima kasih ya. Kami cari di toko lain aja," ucap Mas Prima kepada pelayan toko kemudian dia menggenggam tanganku lalu kami berjalan keluar toko.
"Mas, udah, Mas. Beli di-online aja," aku melirik ke arah jam di layar ponselku, "sepuluh menit lagi filmnya mulai."
"Masa belanjanya gagal? Tadi kan kesepakatan kita nonton film sesudah kegiatan belanja selesai."
Aku mengusap wajahku. "Tapi ini aku udah beli tiketnya."
"Yaudah, nanti uangnya Mas ganti. Sekarang kita lanjut nyari baju lagi, sampai ada yang benar-benar sesuai."
Aku berdecak sebal lalu beberapa jam setelahnya aku habiskan dengan keheningan. Kapok aku, besok-besok enggak akan mau lagi menemaninya belanja.
Kenapa bisa ya ada manusia sedetail dan seribet dia.
Mana manusia itu suami aku sendiri lagi.
Haduh.
Teruntuk yang mau baca cepat, aku udah publish satu buku full di k********a.
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)
Terdiri dari:
Full E-book (Lengkap)
Total 71 Part ; 329 Halaman
Hanya dengan Rp56.000 kalian bisa akses semua itu, tanpa menunggu.
Cara Pembelian:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ My Lecture My Housemate _ TheDarkNight_)
3. Setelah ketemu, scroll ke bawah sampai menemukan harga jual karya tersebut. Harganya Rp56.000.
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, Shopeepay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Jika ada pertanyaan boleh chat admin aku 085810258853
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)