Aku tahu ini akan terjadi.
Aku sudah tahu masa ini akan terjadi.
Masa dimana Abang-abangku kembali sibuk dengan kehidupannya sendiri. Bang Yogi sudah sibuk dengan keluarganya sehingga sudah jarang banget main ke rumah. Bang Putra juga sudah kembali ke asrama kampusnya.
Tapi beruntungnya aku sudah menikah sehingga aku enggak benar-benar sendiri. Kalau saja aku belum menikah, hidupku pasti akan terasa sebatang kara.
Saat kemarin bertemu denganku, mereka hanya berpesan. Apapun yang ada di depan, suka ataupun tidak suka aku harus menerimanya. Apapun yang terjadi harus diterima dengan lapang d**a. Dan berbagai nasihat-nasihat pernikahan lainnya.
Aku tahu, di depan sana pasti akan ada masalah rumah tangga yang aku dan Mas Prima akan hadapi. Ya, semoga aku bisa kuat. Semoga aku bisa mempertahankan rumah tanggaku. Karena saat ini aku merasa bahwa aku hanya punya Mas Prima. Hanya dia yang bisa aku andalkan.
Omong-omong soal rumah Ayah, rumah itu dibiarkan kosong. Enggak ada yang tinggal tetap di sana. Aku sudah tinggal di rumah Mas Prima. Abang-abangku tinggal di luar kota. Paling hanya ART yang setiap hari datang untuk membersihkan.
Aku juga jarang ke rumah itu karena aku merasa mentalku masih belum kuat. Kalau kembali ke sana, aku bawaannya ingin nangis. Teringat Ayah terus. Teringat jutaan memori bersama Ayah dan juga Bunda dulu. Kemudian aku jadi merasa bahwa enggak ada lagi pemersatu di keluargaku. Ayah meninggal berarti enggak ada lagi yang menjadi alasan Abang-abangku untuk pulang.
Dulu aja saat masih ada Ayah mereka jarang pulang.
Apalagi kalau enggak ada.
Hmm, enggak usah dibahaslah.
"Bee, ngelamunin apa kamu?" suara dan disertai sentuhan tiba-tiba. Mas Prima berjalan ke arahku lantas tangannya menunjuk ke arah keran bathtub yang entah sejak kapan aku nyalakan.
"Hemat air, Bee. Sampai tumpah-tumpah gitu."
Aku langsung berlari kecil ke arah keran itu lantas mematikannya. Aku niat awalnya mau berendam, tapi malah keasyikan bengong.
"Lain kali jangan begitu. Mubazir," ucapnya sambil melirikku dengan tatapan datar.
Aku melepas ikat rambutku kemudian berjalan memutari bathtub. "Kita kalau lagi mandi berdua airnya juga tumpahan. Mas enggak pernah bilang mubazir tuh," ucapku membalikkan ucapannya.
Mas Prim berdecak sebal kemudian dia berbalik badan dan menuju ke arah pintu. "Kalau dibilangin sama yang lebih tua itu, dengarin. Bukan malah dibalikin. Apalagi yang ngomong suami sendiri," ucapnya dan tidak berselang lama suara pintu terdengar.
Sekarang manusia itu bawel banget.
Asli.
Agak beda saat dulu kami tinggal bertiga sama Ayah dan saat kami tinggal berdua.
Dulu mah agak diam, enggak banyak ngomel. Sekarang dikit-dikit ngomel. Ya sebenarnya emang salah akunya juga sih terlalu tidak bisa diatur, sedangkan dia super teratur.
°•°
"Bee, kenapa malah nonton film?"
Mas Prima masuk ke dalam kamar lantas dia meletakkan laptopnya di atas nakas. Dia menatap ke arah televisi lalu menoleh ke arahku. "Besok sebelum praktikum, ada kuis. Kenapa enggak belajar?" tanyanya.
"Malas aja. Lagi seru nonton film," balasku tanpa menoleh ke arahnya.
Aku pikir setelah itu dia akan diam dan menghargai keputusanku, tetapi nyatanya tidak. Dia malah mengambil remote televisi lantas mematikan layarnya. Seketika aku menatapnya tidak terima. Gila kali ya, main dimatikan aja. Lagi seru-serunya padahal.
"Mas!" teriakku kencang.
Mas Prima langsung mengambil modul praktikum untuk mata kuliah besok lantas memberikannya kepadaku. "Belajar, belajar," perintahnya.
Please banget. Aku udah mahasiswa. Bukan anak SD lagi yang harus dipaksa belajar. Nilai bagus atau jelek nanti, aku yang akan menerima konsekuensinya. Lagian ini juga cuma kuis, bukan ulangan. Santai kali.
"Malas aku. Enggak usah belajarlah. Kuis doang," ucapku kemudian memainkan ponselku. Dan ya, benar. Dia juga mengambil benda tipis itu dari tanganku.
"Pantasan aja di mata kuliah saya, nilai kuis kamu selalu jelek. Ternyata emang malas belajar."
Aku menarik napas panjang. "Besok kan juga bukan mata kuliah Mas. Jadi santai aja."
"Oh ternyata kamu malas belajar diseluruh mata kuliah. Bukan mata kuliah saya aja."
Aku geram.
Asli.
Ini kami lagi di rumah loh. Enggak usahlah urusin urusan kuliah. Masa di kampus bahas kuliah, di rumah bahas kuliah juga. Bisa-bisanya gumoh aku.
"Apa? Mau marah?" tanyanya.
Aku langsung membuka lembaran demi lembaran buku itu dengan kasar. "Keluar sana, Mas. Aku mau belajar. Jangan diganggu."
"Oke," ucapnya lalu berjalan keluar.
Diam-diam senyum licikku terbit. Saat dia keluar, aku langsung meletakkan modul ini di atas nakas kemudian menarik selimutku dan tertidur. Masa bodo dengan nilai kuis besok. Masa bodo kalau Mas Prim marah, aku enggak peduli.
Intinya malam ini, aku enggak mau belajar.
Baru sebentar aku tertidur, ada guncangan yang membuat aku terbangun. Aku menoleh ke arah sampingku, Mas Prima berdiri di sana dengan ekspresi wajahnya yang tidak bersahabat.
"Enggak bisa dibilangin ya kamu."
Marah dia nih, tapi cueklah.
Aku malas belajar plus ngantuk juga.
"Mas jangan dibesar-besarkan. Masalah kuis doang. Udahlah, aku mau tidur."
Mas Prima mengambil sedikit air lantas dia usapkan dikedua mataku. "Bangun lalu belajar."
Aku terdiam sambil menatapnya dengan tatapan malas.
"Semua orang-orang di kampus udah tahu bahwa kita suami istri. Tolong kerjasamanya. Saya enggak mau punya istri yang akademiknya buruk. Saya enggak mau punya istri yang malas. Jadi tolong, tetap jaga citra baik saya."
Setelah mengucapkan itu Mas Prima keluar dari kamar lalu dia menutup pintu dengan kencang.
Dia marah, seriusan.
Perkara kuis doang, kami jadi bertengkar.
S*al. S*al.
Teruntuk yang mau baca cepat, aku udah publish satu buku full di k********a.
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)
Terdiri dari:
Full E-book (Lengkap)
Total 71 Part ; 329 Halaman
Hanya dengan Rp56.000 kalian bisa akses semua itu, tanpa menunggu.
Cara Pembelian:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ My Lecture My Housemate _ TheDarkNight_)
3. Setelah ketemu, scroll ke bawah sampai menemukan harga jual karya tersebut. Harganya Rp56.000.
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, Shopeepay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Jika ada pertanyaan boleh chat admin aku 085810258853
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)