Semakin hari semakin terlihat kalau Pak Prima berusaha lebih dekat dengan Ayah. Dia bersikap seolah menjadi orang yang siap diandalkan kapan pun. Ya, contohnya saat ini, dia rela bangun pagi-pagi buta untuk mengantar Ayah ke Bandara.
"Sini, Yah, Prima bantu bawakan," ucapnya sambil membawa koper Ayah.
Bahkan saat ini panggilannya kepada Ayah sudah dia ganti. Dulu dia awal-awal memanggil Ayah dengan sebutan Bapak. Saat ini dia memanggil Ayah dengan sebutan Ayah. Dia mengikuti aku.
"Kamu ikut mengantar Ayah enggak?" tanya Pak Prima saat berpapasan denganku.
Aku langsung menggeleng. "Enggak. Bapak aja."
"Ikut," ucap Ayah sambil melemparkan tatapan kesalnya kepadaku, "kamu ikut. Harus ikut," lanjutnya lagi.
Aku berdecak sebal sebelum akhirnya berlari ke kamar dan segera bersiap-siap. Perintah Ayah enggak bisa dibantah. Menghabiskan tenaga doang kalau mau menolak perintahnya.
Beberapa saat kemudian, dengan penampilan yang super biasa aja aku berjalan ke arah parkiran. Ketika aku ingin membuka pintu mobil bagian tengah, Ayah langsung menurunkan kaca mobil. "Kamu di depan," perintahnya.
"Masih muat di tengah. Ayah geseran, kita berdua di tengah."
"Ga sopan kamu. Prima bukan supir. Kamu di depan, temani dia."
Aku memejamkan mata, berusaha menahan emosi sebelum akhirnya membuka pintu mobil bagian depan dan masuk ke dalamnya. Ketika aku melirik ke arah sebelah, Pak Prima melemparkan senyumnya kepadaku.
Sial.
Senyumnya kelihatan mengejek banget.
Disepanjang perjalanan, aku hanya diam saja, sedangkan Pak Prima asyik mengobrol sama Ayah. Mereka berdua memang kelihatan kaya sahabat karib banget. Obrolan yang Pak Prima atau Ayah lemparkan selalu nyambung untuk keduanya. Kalau ada orang yang melihat kedekatan mereka pasti banyak yang mengira kalau hubungan mereka selayaknya bapak dan anak.
"Ayah kesepian di rumah. Anak laki-laki Ayah sudah pada sibuk sama urusannya masing-masing, untungnya ada kamu. Ayah jadi merasa punya anak laki-laki ketiga."
Hmm.
Aku juga merasa kesepian ditinggalkan Abang pertamaku menikah dan Abang keduaku yang kuliahnya di luarnya kota. Namun, kedatangan Pak Prima enggak membuat aku sesenang itu. Biasa saja. Ada atau pun enggak ada dia, kayanya sama saja.
"Keyra juga kayanya senang kamu hadir ditengah-tengah keluarga kita," ucap Ayah yang seketika membuatku tersedak.
Enggak ya. Fitnah itu.
"Enggak, Yah," sanggahku langsung.
"Kamu memang gengsian, Keyra."
Lah.
Bodo amatlah. Aku diam saja.
"Oh iya, Ayah titip Keyra ya selama Ayah ada di Yogyakarta," jeda beberapa saat, "tapi kamu tenang aja Prim. Ada ART dan supir juga di rumah. Jadinya Keyra enggak bisa agresif."
Serius, aku mau marah.
Yang agresif tuh siapa? Dosen nyebelin ini. Bukan aku. Ayah enggak tahu aja kalau Pak Prima mes*m.
Pak Prima tertawa, pria itu menoleh ke arahku lantas bibirnya pun bergerak. "Keyra brutal," ucapnya tanpa suara.
Ngeselin. Ngeselin.
Kalau enggak ada Ayah, pastinya aku sudah cubit-cubitin lagi tangannya.
°•°
Aku dan Pak Prima berjalan ke arah luar Bandara. Kami telah selesai mengantar Ayah. Rencananya aku mau langsung pulang saja, tetapi Pak Prima memberikan opsi untuk kami sarapan dulu di luar rumah.
"Kamu mau makan apa?" tanyanya.
"Mau makan dimsum, tapi restorannya di mal depan bandara ini."
"Yaudah, kita ke sana."
Dengan hening kami masuk ke dalam mobil lalu menuju ke mal tersebut. Sesampainya di sana, kami makan di restoran pilihanku. "Mau tambah nggak?"
Aku menggeleng. Kemudian setelah itu aku dan Pak Prima berjalan keluar dari mal ini. Namun, saat kami berada eskalator mataku menatap ke arah sebuah panggung dan booth-booth di area tengah mal. Ramai banget, aku jadi penasaran.
"Event apa sih?" tanyaku.
Pak Prima langsung menujuk ke arah banner. "Wedding festival."
Aku mengangguk kemudian terdiam.
"Mau ke sana?" tanyanya.
"Aku belum mau nikah."
"Ya, gapapa. Lihat-lihat aja dulu. Siapa tahu terinsipirasi."
Aku terdiam sambil berpikir. Aku enggak ada kelas sih setelah ini. Jadi mungkin kalau mau ke event wedding festival, aku bisa. Biar enggak penasaran aja gitu.
"Yaudah, boleh."
Kami berjalan ke arah tempat itu. Ternyata ada booth untuk registrasi. Persyaratannya perlu menulis nama pasangan. Aku rencananya enggak mau daftar, lihat-lihat saja tanpa perlu mendaftar kayanya boleh.
Namun, Pak Prima malah menarikku untuk registrasi. Dia menuliskan namanya dan menuliskan namaku sebagai pasangannya.
"Ngada-ngada aja, Bapak," ucapku saat melihat dia menyerahkan formulir registrasi itu.
Dia terkekeh kemudian tangannya bergerak menggenggam tanganku dan kami masuk ke dalam.
"Baru masuk saja, saya sudah terinspirasi untuk menikah," dia menoleh ke arahku sehingga kami saling berpandangan, "menikahnya sama kamu ya?"
Lah, enggaklah.
Skip. Skip.