🗣️ S e b e l a s

847 Words
Aku salah ngajak Pak Prima nonton film horor. Salah. Salah banget. Soalnya saat melihat tangannya yang bermunculan bercak-bercak merah dan biru. Aku jadi merasa bersalah. Dan takut banget kalau Pak Prima bilang sama Ayah kalau penyebab tangannya seperti itu karena aku. Untuk lebih jelas, aku ceritakan kronologisnya. Jadi begini, setiap orang kan punya reaksi yang berbeda-beda saat menonton film horor. Normalnya kan reaksi orang saat ketakutan adalah menutup mata atau berteriak. Namun, reaksiku saat ketakutan agak lain. Aku mengambil tangan orang lain kemudian mencengkeramnya kencang atau bisa juga tanpa sadar aku memcubit-cubit tangannya. Dalam kejadian tadi, aku mencengkram dan mencubit-cubit tangan Pak Prima saat di bioskop. Pria itu juga diam saja, seperti enggak keberatan dengan reaksiku yang agak aneh. Namun, saat keluar dari bioskop aku baru menyadari bahwa reaksi ketakutanku merugikannya. "Sakit nggak, Pak? Aku terlalu kencang ya tadi?" tanyaku sambil menatap ke arah tangannya. "Iya, kencang," dia melirik ke arah tangannya, "kalau enggak kencang, kulit saya enggak akan jadi lebam biru." Aku makin merasa bersalah. Besok-besok enggak ngajak dia nonton horor lagi deh. Besok-besok aku nonton horor sendirian aja di rumah. Enggak usah lagi nonton film horor di bioskop sama Pak Prima atau orang lain. Aku kapok banget. "Bapak, maaf." "Maaf enggak cukup. Kamu harus tanggung jawab." Aku menatapnya memelas. "Tanggung jawab apa? Jangan bilang sama Ayah ya? Nanti aku dimarahin kaya kemarin." "Obatin." "Pakai apa?" "Pakai obatlah. Masa pakai air liur." Bahas soal air liur, aku jadi ingat kejadian tadi. Kayanya sampai saat ini air liur Pak Prima masih ada di jariku, soalnya belum aku bilas dengan air. "Tapi waktu itu pas tangan aku sakit kena panci panas, Bapak obatin pakai air liur," ucapku mengingat tempo dulu. Pak Prima berdeham kemudian dia mengubah posisi duduknya menjadi agak lebih santai. "Kali ini pakai obat salep aja. Sepulangnya dari sini, kita mampir ke apotek dulu buat beli obat. Nanti kamu yang pakaikan ke kulit saya. Pakaikan enggak cuma sekali dua kali ya, pokoknya sampai sembuh sebagai bentuk pertanggung jawaban." Aku menarik napas kemudian menghembuskan perlahan. "Yaudah." Setelah itu aku dan Pak Prima ke parkiran mobil kemudian pria itu membawa mobil itu keluar dari area mal ini. Sesuai apa yang tadi dia ucapkan, sebelum tiba di rumah, pria itu mampir dulu ke apotek dan membeli salep untuk mengobati lebamnya. "Ini," ucap Pak Prima sambil memberikan obat itu kepadaku, "kamu simpan. Saya enggak mau tahu, pokoknya kamu yang pakaikan." "Iya, iya. Aku enggak lari dari tanggung jawab kok, tapi nanti kalau Ayah lihat dan nanya penyebabnya, Bapak ngasih alasan apa?" "Itu urusan saya. Biar saya yang mikir nanti." Aku menggeleng pelan. "Bukan, maksudnya, nanti Bapak enggak bawa-bawa karena aku kan? Jangan ya. Nanti Ayah pasti marah." Sudut bibir Pak Prima tertarik. "Bilang karena kamu," dia mencondongkan wajahnya ke arah telingaku lantas berbisik, "Keyra mainnya brutal." Eh! Ya ampun! Otakku mendadak tidak bisa berpikir. °•° Aku yang sedang menonton televisi tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangan Pak Prima. Dia mengulurkan tangannya tepat di hadapanku. "Tadi salepnya hilang kena air, tolong pakaikan lagi." Argh! Belum sampai satu jam, aku sudah mengulang tiga kali untuk memakaikannya salep. Dia emang ngeselin, kaya ngerjain aku banget. "Pak," aku berdecak sebal, "jangan ngerjain aku kenapa. Di kampus dikerjain, di rumah juga dikerjain. Cape tahu aku." "Dikerjain apaan?" dia lagi-lagi menyodorkan tangannya, "bentuk tanggung jawab. Sakit ini tangan saya lebam biru." Aku menggeram sebelum akhirnya mengambil salep dan mengoleskannya ke tangan Pak Prima. "Kakinya, Key. Pakaikan juga," ucapnya. Kedua alisku mendadak bertaut. "Jangan ngerjain aku terus. Aku kan tadi cuma cengkram dan cubit bagian tangan doang. Enggak sampai ke bagian lain." Pak Prima menunjuk ke arah kakinya. "Saya baru sadar pas di kamar mandi, ini lebam. Kamu kan tadi juga injak kaki saya." Saat aku melihat ke arah kakinya, benar saja ada lebam berwarna biru di sana. Tanpa pikir panjang aku langsung berjongkok dan mengoleskan salep tersebut di kakinya. "Key," panggil Pak Prima. Aku yang sedang berjongkok menoleh ke arahnya, "kalau saya jadi suami kamu. Kamu mau nggak?" Aku refleks menggeleng. "Tapi saya mau," ucap Pak Prima lagi. Kali ini untuk menggeleng pun aku enggak mampu. Saking kagetnya. Teruntuk yang mau baca cepat, aku udah publish satu buku full di k********a. Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853) Terdiri dari: Full E-book (Lengkap) Total 71 Part ; 329 Halaman Hanya dengan Rp56.000 kalian bisa akses semua itu, tanpa menunggu. Cara Pembelian: 1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi. 2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ My Lecture My Housemate _ TheDarkNight_) 3. Setelah ketemu, scroll ke bawah sampai menemukan harga jual karya tersebut. Harganya Rp56.000. 4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, Shopeepay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank. 5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR). 6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka". Jika ada pertanyaan boleh chat admin aku 085810258853 Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD