"Pak, aku belum pernah berkunjung ke rumah cowok. Ke rumah teman cowok aja, aku enggak pernah. Kalau ditanya-tanya nanti gimana? Terus kalau aku salah bicara gimana? Aku gerogian tahu. Apalagi aku enggak pernah ada disituasi kaya gitu."
"Tenang." ucap Pak Prima. Cerocosku hanya dibalas oleh satu kata.
"Tenang, tenang. Aku enggak tenang, gerogi. Nanti aku memperkenalkan diri sebagai apa? Mahasiswa? Tapi agak gimana gitu enggak sih masa mahasiswa main ke rumah dosennya. Ak-"
"Key, berisik," ucapnya lagi.
"Habisnya aku takut. Ini pertama kalinya buat aku. Tah-"
"Sst! Sst!" desisnya.
"Nanti kalau ditanya, aku siapa. Aku jawab apa?"
"Makhluk hidup."
"Serius."
"Bagian dari ekosistem."
"Pak, please."
Dia tertawa kecil. "Kamu panik banget. Bilang aja teman saya. Selesai."
Seketika aku menatapnya dari arah spion motor. "Masa teman, takutnya nanti enggak percaya."
Alisnya mendadak berkerut. "Terus maunya jawab apa?"
Bodo amat deh, aku diam aja.
Sesampainya di sana, Pak Prima memarkirkan motorku kemudian dia menyuruhku untuk turun. Jantungku semakin berdegup kencang. Saking kencangnya aku jadi lemas.
Serius. Enggak bohong. Aku lemas.
"Pak. Aku malu. Takut juga."
Dia menarik napas panjang. Aku sepertinya begitu menguras kesabarannya. "Ga usah masuk ke dalam di pekarangan atau di teras aja."
Belum sempat aku menjawab, Pak Prima menarik tanganku pelan. "Ayo."
Aku akhirnya mengikuti ucapannya. Kami masuk ke sebuah pekarangan yang cukup luas. Di ujung pekarangan ini terlihatlah sebuah rumah berlantai tiga. Sangat besar dan megah.
"Sayang!" aku tersentak saat Pak Prima berteriak seperti itu.
"Ayang," ada suara yang membalas.
Aku celingak-celinguk kebingungan. Padahal di sini enggak ada orang selain kami berdua. Kenapa tiba-tiba jadi creepy gini sih.
Langkah Pak Prima berbelok ke arah sebuah kandang. Karena aku takut sekaligus penasaran jadinya ke mana pun langkah pria itu pergi, aku pasti mengikutinya.
Wah, ada burung ternyata.
Pria itu mengeluarkan seekor burung dari kandangnya lantas dia letakkan di tangan. Aku enggak tahu itu burung apa. Warnanya didominasi hijau dan ukurannya cukup besar.
Aku enggak paham tentang perburungan.
Jadi aku enggak tahu ini jenis burung apa.
"Sayang!" Pak Prima kembali bersuara.
"Ayang!" balas burung itu.
Aku bernafas lega.
Syukurlah, ceritaku enggak jadi bergenre horor.
Pak Prima mengelus burungnya kemudian dia melirik ke arahku. "Saya masih punya banyak hewan peliharaan," pria itu mengedarkan pemandangan ke sekitar, "coba kamu perhatikan sekelilingmu."
Aku mencoba mengedarkan ke berbagai sudut dan ternyata benar. Banyak kandang-kandang di sekitar sini. Ada yang kecil, sedang, dan besar. Aku mendekati kandang-kandang tersebut satu per satu. Ada ayam, ayamnya berbeda, bukan yang dikonsumsi. Kayanya ini ayam hias. Ada sepasang burung merak yang sedang bertengger di atas kayu. Ada kolam buatan yang berisi banyak ikan. Ada iguana, ada kelinci, ada burung unta, dan masih banyak lagi.
Ini benaran rumah atau kebun binatang sih.
"Semuanya hewan peliharaan Bapak?"
Dia mengangguk kemudian meletakkan burung itu kembali ke kandangnya. "Iya. Saya suka hewan."
Aku mengangguk-angguk. Enggak heran sih soalnya dia juga mengajar mata kuliah fisiologi hewan. Jadi ya, masih agak nyambung antara hobi dan pekerjaannya.
Pak Prima kembali menarik tanganku, dia membawaku ke arah ke sebuah rumah kecil. Ini bukan rumah utama. Dia bertemu dengan seorang pria paruh baya, dari percakapan mereka aku tahu bahwa pria paruh baya ini adalah salah satu pekerja yang mengurus dan merawat hewan-hewan ini.
"Biar saya aja yang kasih makan. Tolong siapkan makanannya ya," ucap Pak Prima yang langsung direspons anggukan kepala oleh pria paruh baya itu. Tidak lama kemudian pria paruh baya memberikan sebuah kotak yang di dalamnya berisikan beberapa barang kepada Pak Prima.
"Terima kasih," ucap Pak Prima kemudian dia mengajakku untuk kembali ke kandang burung.
"Itu namanya apa, Pak?" tanyaku saat Pak Prima mengeluarkan sebuah benda dari kotak tersebut. Kelihatannya sih kaya suntikan, tapi bentuknya agak besar dan tidak ada jarumnya di sana.
"Namanya spet lolohan burung."
Aku bergumam.
Pak Prima menggunakan alat itu untuk mengambil makanan burung. "Itu makanannya apa, Pak?" tanyaku lagi.
"Cacahan halus kacang mede yang udah dicampur air."
Aku bergumam.
Pak Prima membuka kandang burung dengan berwarna biru kuning. Dia membiarkan burung itu bertengger di tangannya. "Kamu yang kasih makan. Masukin pelan-pelan."
Aku mengambil spet lolohan dari tangan Pak Prima kemudian memberikan makan burung itu.
"Tadi di kelas kita udah belajar tentang teori nutrisi hewan. Tujuan saya mengajak kamu ke sini ya ini. Pengamatan sekaligus praktiknya."
Hmmm.
Ini mah namanya studi tour ke rumah dosennya langsung.
Teruntuk yang mau baca cepat, aku udah publish satu buku full di k********a.
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)
Terdiri dari:
Full E-book (Lengkap)
Total 71 Part ; 329 Halaman
Hanya dengan Rp56.000 kalian bisa akses semua itu, tanpa menunggu.
Cara Pembelian:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ My Lecture My Housemate _ TheDarkNight_)
3. Setelah ketemu, scroll ke bawah sampai menemukan harga jual karya tersebut. Harganya Rp56.000.
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, Shopeepay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Jika ada pertanyaan boleh chat admin aku 085810258853
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)