"Prima," panggil seseorang yang mampu membuat aku dan Pak Prima menoleh ke belakang. Perempuan paruh baya menatap ke arah kami, "itu mobil fortuner kamu ke mana? Kenapa di parkiran cuma ada motor beat?"
"Ada. Mobilnya ada," ucap Pak Prima tenang. Dia berjalan mendekati perempuan paruh baya itu lantas menyalaminya. Aku juga mengikuti untuk menyalaminya.
"Cantik banget. Mukanya lucu. Kamu siapa namanya?" tanya perempuan paruh baya itu sambil tersenyum lebar ke arahku.
"Keyra, Tante."
"Halo, Keyra. Salam kenal ya. Tante namanya Dilla, orangtuanya Prima. Kamu siapanya Prima?"
Pertanyaan ini adalah pertanyaan aku takutkan. Aku enggak tahu mau bilang apa. Aku hanya terdiam sambil menatap ke arah Pak Prima berharap dia mengerti bahwa aku membutuhkan bantuan.
"Mahasiswi Prima, Mih."
"Oh, iya. Iya. Selamat belajar ya. Tante masuk ke dalam," ucap Tante Dilla kemudian dia berjalan meninggalkan kami berdua.
Yang ada dipikiranku saat ini, kok perempuan itu enggak kaget ya. Maksudnya, apa ini bukan pertama kalinya Pak Prima mengajak mahasiswinya ke sini.
"Pak," panggilku yang membuat dia melirik sekilas ke arahku sebelum akhirnya kembali sibuk mengelus leher burung untanya, "sebelum aku ke sini, banyak ya mahasiswi yang ke sini juga?"
Pak Prima langsung menggeleng. "Saya aja baru jadi dosen."
"Ya kan bisa aja, pas lagi magang."
Pria itu kembali menggeleng. "Ga pernah."
Aku bergumam. Berjalan lebih dekat ke arah Pak Prima kemudian ikut mengelus tubuh burung unta. "Kalau perempuan lain? Pernah nggak ke sini?"
Gerakkan tangan Pak Prima mendadak terhenti kemudian dia menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa nanya-nanya?"
"Ya nanya aja."
"Pernah, mantan saya. Karena sekarang saya enggak punya pasangan, jadinya saya berani ngajak kamu ke sini."
Aku mengangguk, masuk akal. "Oh udah pernah pacaran. Aku belum pernah pacaran. Cowok-cowok takut kalau mau dekatin aku, soalnya tahu kalau Ayah galak."
"Saya berani."
"Emangnya Bapak ma—"
"Jangan kebanyakan nanya kamu," Pak Prima berjalan ke arah wastafel kemudian dia mencuci tangannya, "mau masuk ke rumah nggak? Atau mau langsung pulang?"
Aku sudah berkenalan dengan Tante Dilla dan sepertinya dia juga ramah. Aku jadi enggak takut lagi kalau bertemu dengannya. "Masuk."
"Yaudah."
Pak Prima berjalan lebih dahulu kemudian dia membukakan pintu untukku. Aku masuk dan langsung melihat ornamen rumah ini benar-benar mencerminkan kemewahan dan kemegahan. Rumah yang beda jauh banget dari rumahku. Jadi mau membandingkan kamar Pak Prima di sini dengan kamar Pak Prima di rumahku, sejauh apa ya bedanya.
"Uncle Prim," suara anak kecil terdengar cempreng. Tidak lama kemudian anak kecil itu berlari ke arahnya. Dengan sigap Pak Prima langsung berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan anak itu.
"Halo Hanan. Gimana jalan-jalannya ke Belanda? Seru?"
Hanan mengangguk cepat. "Seru. Setiap hari selama di Belanda, Papi ajak aku ke museum-museum. Terus pulangnya beli banyak buku."
Hmm, enggak heran.
Keluarga ini kayanya kalau jalan-jalan harus ke destinasi yang berpotensi mendapatkan ilmu pengetahuan. Beda sekali denganku, kalau jalan-jalan yang penting aku senang. Mau jalan-jalan yang isinya ketawa doang atau diisi oleh obrolan tidak berbobot, aku juga enggak masalah.
"Hebat. Semangat ya baca bukunya, jangan pernah bosan."
"Iya. Aku kan hobi belajar dan baca buku."
Aku tersenyum lirih, membandingkan anak kecil itu dan dan diriku saat masih seumuran dengannya. Aku mah boro-boro baca buku, buka buku aja enggak. Aku lebih baik main masak-masak pakai tanah dari pada harus baca buku.
"Tante ini siapa?" tanya Hanan yang baru sadar dengan kehadiranku.
Aku tersenyum ramah. "Nama aku Keyra."
Hanan juga ikut tersenyum kemudian tanpa disangka dia mengulurkan tangan lebih dahulu. "Nama aku Hanan," aku menjabat tangannya, "salam kenal ya Tante."
"Iya. Senang bertemu dengan kamu."
Keluarga ini ramah-ramah ya. Dari anak kecil sampai perempuan paruh baya ramah semua. Aku jadi senang berada di sini. Suasananya positive vibes.
"Papi mana?" tanya Pak Prima yang langsung direspons dengan tunjukkan jari ke atas.
"Lagi bobo sama Mami. Grandma juga di atas, lagi istirahat. Dari tadi Hanan main sendirian."
Aku ikut berjongkok, mensejajarkan tubuhku dengan Hannan dan juga Pak Prima. "Emangnya Hannan mau main apa? Sini aku temani," ucapku.
Hannan menoleh ke arah belakang rumah. Dia menunjuk ke arah sana. "Ayo kita main sama Dino dan teman-teman."
Aku termenung sebentar.
Dino?
Dinosaurus?
Keluarga ini pelihara dinosaurus? Tapi kan udah punah.
"Ayo, Tante."
Aku melirik ke arah Pak Prima, dia mengangguk. Kemudian setelah itu kami sama-sama berjalan ke arah belakang rumah. Ternyata di area ini terdapat kebun sayuran dan juga buah.
"Sini, Tante, di sini," ucap Hanan sambil menarikku pelan dan kami berhenti di depan kandang kura-kura. Kandangnya besar banget, tersedia halaman khusus untuk kura-kura bermain.
Hannan masuk ke dalam kemudian dia mengambil satu kura-kura berukuran paling kecil. "Ini namanya Dino," ucapnya.
Aku menghela napas lega. Oh, cuma nama doang. Aku kira beneran ada dinosaurus.
Berjam-jam setelahnya aku, Pak Prima, dan juga Hannan asyik bermain kura-kura bersama. Suara gelak tawa menggema di sekitar area ini. Aku happy banget. Saking happy-nya sampai enggak sadar bahwa saat ini aku lagi study tour.
Kebersamaan kami harus berakhir ketika Tante Dilla mengajak kami untuk makan bersama. Hannan dengan semangat langsung berlari ke arah meja makan, sedangkan aku berjalan santai dengan Pak Prima.
"Pak," panggilku.
"Ya?" jawabnya tanpa menoleh ke arahku.
"Aku juga punya keponakan namanya Cilia, kapan-kapan kita ajak Cilia dan Hanan jalan-jalan yuk. Kita jalan-jalan berempat, pasti banyak yang ngira kita berempat satu keluarga deh. Ayah, Ibu, dan anak-anak."
Pak Prima mengangguk. "Boleh. Gladi kotor jadi keluarga. Sekalian kita latihan jadi orang tua yang kompak."
Apa dia kata?
Latihan jadi orang tua?
Ngada-ngada aja.
Teruntuk yang mau baca cepat, aku udah publish satu buku full di k********a.
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)
Terdiri dari:
Full E-book (Lengkap)
Total 71 Part ; 329 Halaman
Hanya dengan Rp56.000 kalian bisa akses semua itu, tanpa menunggu.
Cara Pembelian:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ My Lecture My Housemate _ TheDarkNight_)
3. Setelah ketemu, scroll ke bawah sampai menemukan harga jual karya tersebut. Harganya Rp56.000.
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, Shopeepay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Jika ada pertanyaan boleh chat admin aku 085810258853
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)