Bab 3

2043 Words
Selalu saja seperti ini, Bara selalu bangun tidur tanpa Vivi di sampingnya. Istrinya sudah berada di depan kompor di jam-jam sekarang ini. Dengan sangat amat terpaksa Bara mencoba membuka mata. Ia selalu tidak pernah bisa tidur lagi kalau tidak ada Vivi di sisinya. Namun, berhubung masih mengantuk, matanya sangat sulit terbuka. Seolah dilem pakai lem super nomor satu di dunia. Suara pintu kamar dibuka tak membuat Bara membuka mata. Matanya masih betah terpejam saja. Bara tahu itu Vivi, aroma yang menguar dari tubuh istrinya sangat khas. Wangi permen karet bercampur vanilla, tidak ada yang menyamai. Lagipula mereka hanya tinggal berdua saja di rumah ini. Vivi tidak ingin ada asisten rumah tangga, dia mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga seorang diri. "Hon, kok, masih tidur aja, sih? Bangun, dong!" Suara lembut dan manja itu menyapa gendang telinga Bara, bukannya bangun dan membuka mata Bara malah menyamankan posisi tidurnya. Suara Vivi yang memintanya untuk bangun sangat merdu bagi Bara, membuat matanya semakin mengantuk saja. Bahkan saat merasakan pergerakan di sisi tempat tidur yang kosong, Bara tetap bergeming. Hanya tangannya yang bergerak memeluk pinggang ramping di sampingnya. "Hon...," Vivi mengusap lengan Bara, menumpukan dagu di bahu kekar suaminya, memeluk tubuh yang masih bergelung dalam selimut. "Bangun, dong!" pintanya sekali lagi. "Ntar sarapannya dingin, lho." "Nggak apa-apa kalo dingin," sahut Bara serak. "Kan masih bisa dihangatin, Hon." Vivi cemberut mendengarnya. Tangannya terangkat memukul punggung Bara yang polos tanpa baju. Bara memang mempunyai kebiasaan buruk, selalu tidur tanpa pakaian. Celana piyama atau boxer saja sudah cukup baginya. Bara tidak terbiasa tidur dengan pakaian yang dianggapnya lengkap, Vivi sudah tahu itu. Namun, sebelum tangannya mengenai kulit punggung Bara, gerakan Vivi terhenti. Pekikan kaget terdengar dari mulutnya. Pekikan yang berubah menjadi desahan karena tangan Bara sudah lebih dulu masuk ke dalam kaus kebesaran yang dikenakannya. Tangan besar itu meremas tubuh bagian depannya yang tidak tertutup apa-apa selain kaus Bara. Vivi meremas punggung Bara yang dihiasi tato sepasang sayap kecil. Bara membuat tato itu saat mereka belum bertemu. Vivi tidak masalah dengan tato itu, Bara malah terlihat semakin sexy baginya. Vivi terkejut menyadari tubuh bagian atasnya yang sudah tidak berpenutup, kapan Bara menyingkirkan kausnya dia tidak tahu. Yang pasti kaus itu sudah tergeletak di sisi tempat tidur yang biasa ditempatinya. Paras Vivi memerah, tubuh bagian atas mereka sama-sama polos. Vivi menggigit bibir, menahan agar suaranya tidak keluar. Bara mengganas di tubuh bagian depannya. Mengeksplorasi tempat itu menggunakan mulut dan indra pengecapnya. Vivi yakin, setelah ini ruam di sana pasti akan bertambah. Vivi membiarkan, sedikit geli melihat Bara yang sudah seperti bayi saja, seorang bayi besar. Tangan Vivi terangkat, meremas rambut hitam suaminya. Vivi bahkan semakin merendahkan tubuh, meminta mulut Bara melakukan lebih. Bara tersenyum s*tan, ia tahu di mana letak titik sensitif Vivi. Semuanya sudah diketahuinya, Vivi yang polos dan tidak tahu apa-apa mengenai hal-hal dewasa membuatnya tampak seperti sebuah buku yang terbuka. Sangat mudah untuk dibaca. Sementara dirinya sudah terlalu berpengalaman, bahkan untuk malam pertama mereka. Bara berguling, mengubah posisi sehingga sekarang Vivi berada di atasnya. Posisi seperti ini membuatnya semakin mudah menjalankan mulut dan tangan di tubuh bagian atas istrinya yang tanpa penutup. Tangan Bara menari di punggung polos Vivi, kadang menekan punggung mulus itu, memperdalam jangkauan mulutnya. Bara membuka mata, menggeram melihat Vivi yang menggigit bibirnya. Pantas saja sejak tadi hanya erangan tertahan yang ditangkap indra pendengarannya. Sungguh, Bara tidak suka itu, ia ingin mendengar suara merdu sang istri yang menyebut namanya. Bara menjauhkan mulut dari d*da istrinya, menarik tengkuk Vivi dan menyatukan bibir mereka. Melumat bibir mungil itu rakus. Vivi yang belum siap gelagapan. Napasnya masih tersengal dan sekarang Bara menutup jalan udara menuju paru-parunya. Hanya beberapa detik ciuman itu, Vivi sudah berusaha mengakhirinya. Sebelah tangannya memukul-mukul bahu Bara dengan kuat. Kuat bagi Vivi tapi tidak terasa bagi Bara. Bukannya melepaskan Bara justru semakin memainkan bibir istrinya. Terlalu manis baginya sehingga tidak akan pernah membuatnya puas, apalagi baru sebentar bibir mereka menyatu. Namun, Bara tidak dapat mengabaikan pukulan-pukulan kecil Vivi di bahunya. Ia tahu kalau Vivi hampir kehabisan stok oksigen di paru-parunya. Ia sudah hafal kebiasaan sang istri. Vivi tidak pernah bisa lama berciuman. Durasi ciuman mereka paling lama hanya dua menit. Setelah itu Vivi mendiamkannya selama lebih dari dua jam. Tak ingin kejadian itu terulang lagi, Bara menurut keinginan sang istri. Mengakhiri 'ciuman selamat pagi' mereka, sekali lagi dengan sangat amat terpaksa. Bara terkekeh pelan melihat Vivi yang memerah. Mulut mungil itu terbuka, Vivi bernapas dari sana. Bara mengerang, ia masih menginginkan bibi Vivi, masih belum puas memainkannya, dan sekarang bibir itu terbuka membuatnya semakin gemas saja. Vivi cemberut dengan bibir mengerucut. Beruntung saja tadi dia tidak kehabisan napas. Kalau kehabisan napas bagaimana, pasti Bara juga, kan, yang akan repot. "Nyebelin!" sungut Vivi. "Kamu mau bunuh aku, ya, Hon?" tuduhnya asal. Bara mencubit pipi yang menggembung itu pelan. Gemas. Sebelum kemudian mengusapnya lembut. "Nggak, dong, Hon," sahutnya santai. "Nggak ada tuh beritanya orang mati karena ciuman." Kekehan pelan kembali mengalun dari mulut Bara. Vivi makin menggembungkan pipinya. Mengayunkan tangan memukul bahu kekar suaminya pelan. Bahu Bara mulus, tidak ada satu pun gambar di sana. Padahal Vivi tidak melarang kalau Bara ingin menambah tatonya. Namun, Bara menolak, cukup satu tato di punggung dan satu di pergelangan sudah cukup katanya. Tato di pergelangan tangan kiri Bara adalah huruf-huruf namanya. "Tapi, kan, aku nggak bisa napas," adu Vivi manja. Jari-jarinya menari di d**a bidang Bara, melukiskan lukisan abstrak tak kasat mata. "Rasanya sesak." Bara mengusap bibir bawah Vivi yang masih mengkilap bekas air liurnya. Mengecup bibir itu sekali kemudian kembali mengusapnya. "Makanya belajar tahan napas, dong, Hon, biar nggak sesak lagi." Vivi mendelik. Mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Bara dan terpekik lagi. Bara mencubit benda kecil di dadanya. Vivi membelalak galak, memukul tangan yang berniat meremas tubuh bagian depannya itu. Dengan masih menduduki perut Bara, Vivi meraih kausnya yang teronggok di sisi Bara dan mengenakannya tak peduli tangan suaminya kembali memainkan tubuh bagian depannya. Vivi mengerang menggoda Bara, tapi segera turun dari atas tubuh suaminya itu begitu Bara bangun dan berniat memeluknya. Menapakkan kedua kakinya ke lantai, berlari ke arah pintu dengan cepat. "Cepat mandi, Hon. Kita sarapan!" seru Vivi sebelum menghilang di balik pintu yang ditutupnya. Bara mengerang kesal, menatap iba pada si kecil yang sudah tegak dengan sempurna. Bara meringis menahan nyeri di bagian bawahnya. Istrinya memang keterlaluan. Tidakkah Vivi kasihan padanya? Pada si kecil yang sudah ingin dan siap memasuki sarangnya. Bara berdecak sebelum menurunkan kaki ke lantai dan menyeret kakinya malas menuju kamar mandi. Sepertinya ia memerlukan waktu sedikit lebih lama pagi ini. Ia perlu menidurkan si kecil sebelum sarapan atau akan menerkam Vivi di meja makan dengan resiko didiamkan selama lebih dari 24 jam. *** "Malam ini kayaknya aku bakalan pulang telat, deh, Hon," ucap Bara setelah menelan roti di dalam mulutnya. "Kamu nggak apa-apa sendirian, kan?" Kali ini mereka sarapan di meja makan. Menu lengkap yang disajikan Vivi tidak muat diletakkan di atas meja pantry, oleh karena itu mereka menggunakan meja makan. Mengenai pulang terlambat, sebenarnya bukan yang pertama kali, Bara sudah pernah melakukannya dua kali sebelum ini. Biasa, ia akan selalu pulang terlambat kalau grup band-nya tampil mengisi sebuah acara. Vivi mengangguk. Tidak masalah buatnya, ia sudah terbiasa sendirian. Lagipula ia memang memerlukan waktu sendirian untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sejak menikah, Vivi sudah tidak pernah menyentuh pekerjaannya lagi. Padahal waktu penyelesaian semakin mepet. Kalau di hari-hari biasa, sebelum dia berumahtangga, Vivi bisa saja menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu dua atau tiga bulan. Sekarang, setelah menikah dan hidup bersama Bara, pekerjaannya yang tinggal separuh belum rampung. Beruntung bos-nya memberi waktu lebih lama dari biasanya sehingga dia bisa sedikit bersantai. Atasan dan rekan-rekan kerjanya tahu dia menikah, mereka bahkan menghadiri pesta pernikahannya dua bulan yang lalu. "Nggak apa-apa, kok, Hon," sahut Vivi. "Cuma kamu harus sering nelpon, ya? Biar aku nggak khawatir," pintanya. Kali ini Bara yang mengangguk. Tidak mungkin ia melupakan hal yang satu itu. Jangankan pulang terlambat, siang hari saja saat berada di kafe ia selalu menghubungi istrinya. Satu jam sekali. Sedikit keterlaluan memang, tapi tidak bagi Bara. Ia perlu memastikan istrinya baik-baik saja selam mereka tidak bersama. Meski hanya beberapa jam saja ia tetap khawatir. Acara sarapan mereka memang selalu diwarnai dengan perbincangan ringan seperti itu. Ringan tapi memiliki banyak makna. Bara selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk istrinya. Ia juga selalu jujur. Pekerjaannya sebagai drummer membuatnya sering dikelilingi perempuan, ia tidak ingin Vivi salah paham dengan itu. Karenanya Bara selalu menghubungi agar Vivi tidak cemas. "Aku pergi dulu, ya?" Vivi mengangguk manis. Memberikan kecupan di bibir Bara, melambai sampai mobil yang dikendarai suaminya menghilang di balik pintu pagar. Bara pergi bekerja tidak seperti para suami lainnya yang menenteng koper atau tas kantor atau lainnya. Suaminya bekerja hanya dengan membawa sepasang stik drum. Vivi meringis. Mungkin beginilah jika kau menjadi istri seorang pemain drum, pikirnya. Vivi tersenyum, masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Sekarang waktunya dia juga bekerja. Tadi pagi dia sengaja bangun pagi-pagi sekali. Sengaja, agar bisa mengerjakan pekerjaan rumahnya dan selesai lebih awal. Niatnya menyelesaikan pekerjaan sudah sejak beberapa hari yang lalu, dan baru terealisasikan hari ini. Cepat Vivi menaiki tangga, dia akan bekerja di kamarnya saja. Lebih menyenangkan karena bisa langsung berbaring kalau dia merasa lelah dan perlu istirahat. *** Bara mengerang kesal. Entah kapan jalanan ibu kota akan terbebas dari macet. Sepertinya lalu lintas lancar hanya ada di dalam mimpi saja bagi setiap penduduk Jakarta. Gara-gara macet, Bara harus menghabiskan waktu berharganya selama dua jam di dalam mobil. Sampai di kafe hari sudah siang, kafe juga sudah buka beberapa jam yang lalu. Bukan Revan yang menyambutnya melainkan Farah, manajer band The Wolf. "Hari ini latihan dulu, ya, Bar?" pinta Farah. Bara mengangguk. Langsung masuk ke ruangannya, di mana teman-teman satu band-nya sudah menunggu. "Sorry, guys, gue telat. Biasa, macet." Bara meringis. "Nggak macet juga lu pasti bakal telat, Bar!" semprot Hendri, vokalis di band mereka. Hendri adalah suami Farah. Mereka sengaja menjadikan Farah sebagai manajer band mereka. Hendri yang terlalu posesif tidak ingin meninggalkan istrinya ke mana pun ia pergi. Karena jengah dengan Hendri yang selalu merengek setiap kali mereka manggung di luar kota yang mengharuskan mereka untuk menginap, jadilah Farah mereka angkat menjadi manajer. Beruntung dulu Farah kuliah di jurusan manajemen sehingga dia tidak mengalami kerepotan yang berarti. "Itu lu tau." Bara tertawa. "Bucin ketemu bucin jadinya gini dah," kelakar Bima, gitaris The Wolf, sambil tertawa. Semua anggota band dan orang-orang yang dekat dengan mereka sudah tahu bagaimana posesifnya Bara dan Hendri kepada pasangan hidup mereka. Beruntungnya Bara masih bisa berpisah dari istrinya yang lebih suka berdiam diri di rumah. Sementara Hendri lebih parah, pria berusia 27 tahun itu tidak bisa semenit saja tidak melihat bayangan sang istri. Hendri akan gelagapan dan kalang-kabut sendiri bila berpisah dengan istrinya. "Vivi nggak ikut, Bar?" tanya Hendri. Ia tidak memedulikan lawakan Bima yang dinilainya sangat tidak lucu. Bara menggeleng. "Dia mana mau ikut," jawab Bara masam. "Bini gue lebih suka masak daripada liatin gue main drum." Revan tertawa mendengarnya. Pria itu baru saja memasuki ruangan saat Bara berbicara. "Itu berarti Vivi lebih sayang telinganya," sambar Revan sambil tersenyum mengejek. "Permainan drum lu jelek." Tentu Bara tahu kalau Revan hanya bercanda, tapi entah kenapa rasanya tetap saja kesal mendengar perkataan sahabatnya. Membayangkan istrinya tercinta tidak menyukai permainan drum-nya sangat menyesakkan. Farah memukul kepala Revan dengan sebuah buku. "Ngomong nggak difilter!" belalaknya kesal. "Sumpah, ya,Van, bercanda lo kali ini nggak lucu!" Revan meringis. Ia menyadarinya, tidak ada seorang pun di dalam ruangan ini yang tertawa termasuk dirinya. Astaga, kacau sekali! "Sorry, Bar. Lu, kan, tau kalo gue suka bercanda." Revan mengusap tengkuknya. Bara mendengkus, melempar salah satu stik drum-nya ke arah Revan. "Mulut lu perlu dirukyah, Van!" omelnya. "Nah, bener tuh!" seru Farah. "Sekalian rukyah suami gue juga, dong, siapa tau nggak nempel-nempel kayak gini lagi." Tawa pecah di ruangan itu. Penghuni ruangan yang berjumlah tujuh orang tertawa semua, minus Hendri yang cemberut. Pria itu memang sangat manja kepada istrinya. Bukan karena masih pengantin baru melainkan karena Hendri anak tunggal. Meski sudah menikah Hendri tetap saja manja dan tak bisa lepas dari istrinya. Bara tersenyum melihat kemesraan mereka. Rasa iri terbit di hatinya. Seandainya saja Vivi mau ikut setiap kali ia akan tampil, pasti ia akan lebih bersemangat lagi. Kata-kata Revan tentang Vivi yang tidak menyukai permainan drum-nya kembali terngiang di telinga Bara. Membuatnya bertanya, benarkah seperti itu, Vivi tidak menyukai suara drum-nya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD