Bab 3

934 Words
“Lel, aku mau berhenti kerja di sini,” ucap Amanda. Lela yang sedang meminum teh hangatnya seketika tersedak. “Baru sehari masa mau resign? Kenapa? Ada apa? Kamu diomelin sama Bos?” tanya Lela penasaran. “Bos di sini itu orang yang beli apartemen lama aku, dia yang maksa aku pindah!” ucap Amanda kesal. “Yaampun Man, tapi gimana lagi, kan kamu butuh pekerjaan, coba deh bertahan sebentar, lagi pula menurut aku Pak Jonas enggak salah, dia kan memang jual beli properti, wajar lah kalau dia beli apartemen kamu, kamu juga dapat kembali uang deposit kan? Kenapa harus marah sih?” ucap Lela mencoba membuat Amanda berpikir rasional. “Tapi kan kamu tau, itu rumah dari orang tua aku, satu-satunya kenangan yang aku punya, kamu masa gak ngerti perasaan aku sih?” tanya Amanda gemas. “Amanda, jaman sekarang kalau kamu gabisa moving on, hidup kamu akan sulit, coba deh lupain semua itu, kamu butuh uang, gausah gengsi, kerja kamu halal dan bersyukur aja udah dapet kerjaan. Gak inget kemarin udah jalan puluhan meter Amanda tidak tau bagaimana menjalani kehidupan yang sulit ini, kenapa dia malah bekerja pada orang yang membuatnya menderita. Amanda memejamkan matanya, dia mencoba menetralkan pikirannya, mengatur nafasnya, benar kata Lela, dia harus bisa bersikap dewasa dalam hal ini, memang sulit menjalani hidup sendirian, namun dia yakin pasti sanggup. “Man, makan dulu yuk, udah jam istirahat.” Lela menepuk pundak Amanda dan mengajaknya untuk ke kantin, dia terperangah melihat kantin kantor, sangat bagus dan mewah seperti restoran. Bahkan ada tempat VIP, khusus untuk CEO dan para tamu. Kesenjangan jabatan sangat terlihat di sini, tidak berbaur satu sama lain. Entah kenapa terlintas satu ide bagi Amanda untuk mengerjai Jonas, dia gemas melihat Jonas yang wajahnya angkuh, bahkan melewatinya saja tidak mau menyapanya. “Sombong sekali itu Bos, udah kenal sama aku tapi gamau menyapa, lihat aja nanti.” Amanda tersenyum miring melihat Jonas yang menjauh. “Manda, mau ngapain sih? Nanti kamu dipecat gimana?” tanya Lela. “Ya baguslah, dipecat dapet pesangon kan?” ucap Amanda tertawa. Lela hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya yang terlihat emosi, dia tak tau lagi bagaimana meredam amarah Amanda. Di satu sisi Amanda mengagumi Jonas, dia sukses di usia muda, mungkin usia mereka hanya berbeda enam tahun, tetapi Jonas sudah bisa memimpin perusahaan dengan baik. Dia mengaca pada dirinya, selama ini dia hanya bisa mencari uang dan menghabiskan uang, bahkan terkadang dia banyak berlibur daripada bekerja. Amanda sangat berbanding terbalik dengan Jonas, semua yang dilakukan Amanda untuk menghibur dirinya dari kesendirian, dia tidak bisa hidup sendirian, terkadang rasa rindu dengan orang tuanya sangat menyakitkan. Jasad orang tuanya sembilan tahun yang lalu tidak ditemukan, tenggelam di laut lepas. Setiap kali dia mengalami masalah atau sedang pusing, dia hanya membutukan pantai, rasanya melihat laut biru sama dengan melihat orang tuanya. Amanda bangkit dari duduknya dan mengusap mulutnya bekas makan rawon, lalu kembali bekerja. Dia tersenyum optimis, pasti bisa menghadapi manusia seperti Jonas. Sudah jam satu siang, waktunya membuatkan teh hangat untuk Jonas. Entah apa yang di pikiran Amanda, dia malah memasukkan dua sendok garam ke dalam teh. Dia menyajikan dengan tanpa rasa bersalah. “Silahkan diminum bapak Jonas yang tampan dan baik hati,” ucap Amanda dengan senyuman manisnya, dia meletakkan tehnya di atas meja. “Ini kamu racuni?” tanya Jonas was-was. “Enggak pak, ini enak, teh yang saya buatkan dengan setulus hati, teh ini sebagai tanda permintaan maaf saya karena sudah menampar bapak dan juga bersikap kasar, saya pegawai baru di sini Pak, mohon kerja samanya.” Amanda menunduk dalam-dalam membungkuk hormat pada Jonas. Seketika Jonas tersanjung dengan sikap Amanda, namun dia masih curiga dengan minuman yang Amanda buat. “Coba kamu minum ini dulu,” ucap Jonas. Amanda tersenyum dan tanpa ragu meminum sedikit teh itu, asin, tapi dia jago berakting, menyembunyikan rasa keasinan dengan senyuman mautnya. “Silahkan pak diminum, ini aman dari racun.” “Tidak mau, bekas kamu, buang saja.” Amanda gemas dengan sikap Jonas, tetapi dia tidak menyerah. “Silahkan dicoba dulu Pak, masa bapak tidak menghargai sedikit saja permohonan maaf saya.” Jonas menghela nafasnya, dia sebenarnya sangat sibuk, kesal dengan sikap Amanda yang memaksanya minum teh. Dia akhirnya mengambil teh itu dan seketika langsung menyemburnya, mengenaik baju Amanda. “ASIIIN!!! KAMU TAU ENGGAK SIH BEDANYA GULA SAMA GARAM??!!” Amanda tertawa lepas melihat Jonas yang keasinan dan menjulurkan lidahnya. “Semoga bapak enggak darah tinggi banyak minum garam hahahaha.” Jonas mengambil kertas di hadapannya, meremasnya, dan melemparkan kepada Amanda, tetapi gadis itu berhasil lolos dari lemparan kertas itu. Dia menjulurkan lidahnya lagi. “Weeek gak kena, satu kosong.” Amanda tertawa lagi dan menutup pintu ruangan Jonas. Kesal, marah tetapi dia tidak mau membuang-buang waktu dan tenaga hanya karena Amanda. Gadis itu memang pintar membuatnya kesal. Lela menyerngitkan dahinya ketika melihat Amanda yang tertawa lepas di ruang penyimpanan alat kebersihan. “Kenapa ketawa Man?” tanya Lela penasaran. “Gapapa lagi seneng aja hehe,” ucap Amanda, dia mengambil cairan pembersih kaca lalu ke atas kembali. Saat di lift, dia tanpa sengaja bertemu dengan Jonas. “Kamu jangan bersikap seperti tadi, ini kantor, bukan tempat untuk main-main bekerja yang baik atau saya pecat kamu.” “Kalau saya dipecat dapat pesangon enggak Pak?” tanya Amanda dengan polosnya. “Kamu bekerja saja baru satu hari mau minta pesangon?” Jonas mengatakan dengan tatapan tajamnya, dia menatap Amanda dengan tatapan menindas. “Bapak gausah melotot begitu, nanti matanya copot.” Amanda menjulurkan lidahnya lagi lalu saat pintu terbuka dia segera keluar dan melambaikan tangannya. Jonas hampir jantungan melihat sikap Amanda yang menyebalkan baginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD