Bab 4

1018 Words
Jonas merasa sekujur tubuhnya pegal, dia lalu menaiki mobilnya dan pulang. Tidak ke rumah, tetapi salah satu kamar hotel yang gedungnya telah dia beli. Jonas tidak pernah memiliki rumah, setiap harinya dia seperti travelling dan tidak memiliki tempat untuk pulang. Meski begitu dia lelaki yang paling kaya raya, dia masuk sebagai lelaki terkaya nomor delapan belas di dunia. Dia orang yang tidak mau membuang uangnya untuk pribadi, semua yang dipikirannya adalah investasi dan mendapat untung banyak. Baginya membeli rumah untuk pribadi adalah kerugian besar, lagipula dia masih single. Rasanya tidak menyenangkan bagi Jonas jika memiliki rumah pribadi tanpa ada keluarga yang utuh. Jonas sama nasibnya dengan Amanda, sama sebatang kara. Bedanya, Jonas lebih beruntung dan tidak pernah menyia-nyiakan waktunya, dia memilih untuk terus bekerja seharian demi keuntungan. Semua yang dipikirannya adalah satu hal, menekan biaya hidup untuk memperoleh keuntungan besar. Bahkan makan pun dia hanya sekali saat di kantin perusahaan, mengambil jatah makan siangnya. Begitulah keseharian Jonas, dia rela hidup menderita asalkan kaya raya. Orang tuanya meninggal saat dia masih duduk di bangku kuliah, saat itu dia putus asa dan hampir menyerah dengan keadaan. Namun saat kampusnya mengadakan festival bursa efek, dia mempelajari investasi, menggunakan uang peninggalan orang tuanya dan menjual rumah orang tuanya untuk investasi. Jonas lelaki yang cerdas dan beruntung, selalu mendapatkan profit di setiap transaksinya, dia pernah gagal, dan dengan cepat Jonas mempelajari kegagalannya, dia kembali bangkit dengan kesusksesan hingga di titik sekarang, baginya ini belum berakhir, jalannya masih panjang meski perusahaannya sudah sangat baik. Jonas melepas sejenak kelelahan yang dia rasakan, dia menutup matanya, mencoba dengan tenang di hotel bintang lima ini. Notifikasi pada ponselnya membuat dia seketika membuka matanya, Edward mengatakan renovasi di apartemen sudah selesai, itu artinya besok mereka bisa mulai melakukan penjualan dan pembukaan apartemen. Jonas begitu bangga dengan etos kerja Edward, bekerja efisien dan sanggup menghandle dengan baik. Tidak banyak yang direnovasi, hanya pengecatan ulang dan peletakan barang-barang yang lebih modern. Edward juga mengingatkan besok ulang tahun perusahaan, Jonas bahkan hampir lupa, besok berarti hari libur bagi seluruh karyawan. Mereka berdua merencakan mengadakan pesta di apartemen yang baru di renovasi, apartemen yang dulu Amanda tinggali. Jonas menjadi ingat bagaimana Amanda menampar, menjambak rambutnya di apartemen itu mengingat itu dia menjadi tersenyum sendiri, Amanda gadis pemberani dan sama sekali tidak takut apapun, bahkan saat Jonas mengancamnya, dia sama sekali tidak takut, malah menanyakan tentang pesangon. Tanpa Jonas sadari, dia tertidur sembari tersenyum mengingat kekonyolan Amanda. Dia bahkan juga tidak sadar, ini pertama kalinya dia bisa tidur dengan keadaan hati yang tenang. Biasanya, dia terbangun tengah malam, atau bahkan tidak tidur sama sekali karena begadang. Baginya time is money, sedetik saja dia lewatkan, bisa menjadi kerugian. Berulang kali Edward menelpon Jonas, namun tidak ada jawaban sama sekali, Edward merasa ada yang aneh, dia takut terjadi sesuatu kepada Jonas, tidak biasanya Jonas terlambat, dia selalu tepat waktu. Edward khawatir terjadi sesuatu dengan Jonas, dia langsung naik ke atas, menuju kamar hotel Jonas. Bahkan biasanya di waktu subuh Jonas sudah bangun berada di tempat gym. “Pak? Bisa buka pintunya?” panggil Edward. Berkali-kali Edward memanggil, namun tidak ada jawaban, dia sangat panik dan akhirnya menuju resepsionis. Ketika berhasil meminta kunci cadangan, Edward langsung membuka pintunya dan terkejut melihat Jonas yang tertidur pulas di atas kasur. Edward tertawa kecil melihat Jonas yang tertidur seperti bayi, dia membiarkan Jonas tidur lebih lama. Edward bisa memahami bagaimana sulitnya hidup Jonas. Jonas terbangun tepat pukul sepuluh, dia terkejut melihat Edward yang duduk di sofa memandanginya. Dia mengerjapkan matanya, mengumpulkan setengah nyawanya. “Kamu? Kenapa kamu di sini? Astaga ini jam berapa?” Jonas langsung bangun dan membersihkan diri, dia tergesa-gesa ke kantor dengan Edward. Telat tiga jam, tidak biasanya Jonas begini. “Sial, aku membuang waktuku. Kenapa kamu tidak membangunkanku sekalian?” ucap Jonas kesal. “Maaf Pak, saya hanya merasa tidak enak, bapak tidurnya pulas sekali.” “Hm.” Semua karyawan berkumpul di pesta pembukaan apartemen baru, tidak hanya itu, mereka juga mengadakan bazar. Karena lokasinya sangat strategis, ada banyak sekali pengunjung yang datang. Mereka sangat senang dengan bazar yang diadakan, ada banyak barang-barang berharga yang dilelang. Amanda dan Lela juga ikut, mereka membantu sebagai penjual. Amanda sangat bersemangat saat ada bazar begini, apalagi dia ikut menjual novel-novelnya dan pakaiannya yang masih layak pakai. “Amanda? Kakak Kak Amanda?” tanya seorang remaja dengan girang, mereka menjadi pusat perhatian karena remaja itu sangat antusias dengan Amanda. “Iya, kamu kenal aku?” tanya Amanda dengan anak remaja yang di depannya, name tagnya Alina Renata “Iya, kakak kan penulis Begin to Us? Yaampun kak, buku kakak bagus banget, aku suka, kapan terbitin buku selanjutnya kak?” tanya Alina antusias. Dia dengan senang hati membeli semua novel yang Amanda bawa, semua buku karya Amanda. “Belum tau, masih cari inspirasi.” Amanda mengucapkan dengan senyum ramahnya, dia tak menyangka ada orang yang mengenalnya sebagai penulis, padahal kata pihak penerbitan novelnya tidak laku di pasaran. Jonas yang sempat mendengar percakapan mereka cukup terkejut, tidak tau jika Amanda adalah seorang penulis, lagi-lagi Jonas tersenyum, entah kenapa dia tersenyum juga tak tau. Setelah dagangan Amanda dengan Lela habis, mereka lalu masuk ke dalam apartemen. Amanda sangat senang berada di sini, rasanya dia ingin tinggal lagi di sini tetapi uangnya tidak cukup. Dia menunduk lemah, andai saja waktu itu Jonas tidak membeli apartemen ini, pasti dia masih bisa tidur dengan nyenyak di rumahnya. Rumah bagi sebagaian orang seperti Amanda adalah tempat menguatkan diri, di rumah Amanda bisa mengenang tawa candanya dengan orang tuanya. Amanda ke nomor 502, dia sedikit kecewa karena ternyata dekorasinya sudah berubah. “Lel, kira-kira aku bisa engga ya beli rumah ini lagi?” tanya Amanda. Lela menatap Amanda dengan tatapan kasihan, dia memeluk sahabatnya, seketika Amanda menangis. Dari kejauhan Jonas bisa melihat Amanda yang menangis lagi, rasanya dia iba melihat Amanda yang begitu menginginkan nomor 502. Jonas mendatangi Edward, menyuruhnya duduk disampingnya saat di lobby. “Kamu jangan menjual unit nomor 502 ya,” ucap Jonas. “Oh, rumah bekas miliki mbak Amanda pak?” tanya Edward. Jonas mengangguk, dia lalu kembali fokus dengan layar tabnya. Jonas tidak bermaksud apa-apa, dia hanya merasa kasihan dengan Amanda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD