BAB 8

1030 Words
Mario malam harinya menerima pesan dari Amanda, pesan itu adalah CV dan surat lamaran Amanda. Dia melihat pesan Amanda dan terpukau dengan nilai IPK Amanda 3,90 nyaris sempurna . Bagi Mario sebenarnya Amanda sangat cocok untuk bekerja di perusahaan kakaknya. Apalagi dengan background pendidikan yang bagus. Dia sendiri penasaran kenapa Amanda dan tidak bekerja di perusahaan besar saja. Dia juga lupa bertanya di mana Amanda bekerja sebelum menjadi office girl ini. Mario lalu membalas pesan Amanda dengan bertanya di mana Amanda bekerja sebelum pekerjaan ini. Amanda tidak menjawab mungkin karena sudah tidur. Mario akhirnya juga memilih memejamkan mata dan juga tidur . Di dalam mimpinya malam ini, wajah Amanda muncul dalam mimpinya. Wajah Amanda terlihat begitu cerah cantik dan berkilau, saat itu juga Mario sangat menyukai Amanda dia sadar bahwa Amanda adalah pandangan pertama baginya. Esok paginya Mario terbangun dan melihat selimutnya dia menghela nafas kasar selimut dan gulingnya basah, tentu saja karena mimpi basah yang dialami . Ini semua karena Amanda, dia sangat menyukai Amanda sepenuh hatinya . Dia berjanji dalam hatinya bagaimanapun caranya dia akan mendapatkan Amanda. Mario lalu segera mandi besar dan berangkat ke kantor, jantungnya berdegup kencang karena teringat wajah Amanda dia sendiri tidak menyangka Jika dia memimpikan Amanda se intens ini . Amanda memang sosok yang sangat cantik bagi Mario, dia gadis yang manis dan belum pernah Mario temukan dimanapun. Tatapan Amanda begitu lembut dan membuat hatinya bergetar. Mario lalu masuk ke dalam kantor, sayangnya dia tidak satu lantai dengan Amanda . Tapi Mario akan sering-sering naik ke atas agar bisa bertemu dengan Amanda. Amanda masih sibuk mengepel lantai rumah handphonenya dari tadi berdering telepon dari Lela yang yang bekerja di bawah . Amanda lalu melihat notifikasi dan Lala meminta dia untuk ke bawah . Amanda akhirnya ke bawah dia meletakkan belinya begitu saja pelnya di tengah lantai, lalu dia turun. Baru saja Jonas keluar dari ruangannya Dia hanya bisa menghela napas melihat lantai yang basah dan pel-pel an yang ada di pinggir. Jonas menghela nafas dan mengerang kesal, Amanda sangat tidak berpengalaman jadi office girl. Jonas lalu melewati lantai itu dan tanpa sengaja dia terpeleset jatuh. "Amanda!"Jonas memanggil Amanda dengan teriakan tapi sayangnya Amanda tidak mendengar teriakan Jonas karena Amanda sudah di lantai bawah . Jonas lalu berdiri dia masuk ke dalam pantry mencari Amanda, namun Amanda tidak ada di sana. Jonas akhirnya turun ke bawah, dia mencoba mencari Amanda tapi melihat jam tangannya itu dia urungkan karena dia harus survei tempat untuk membeli properti yang baru. Amanda sendiri saat kebawah dia bingung karena kenapa Lela menelpon tiba-tiba. "Lela kamu kenapa ? Ada apa?" Lela menangis di pantry sendirian, Amanda lalu memeluknya dan menepuk pundaknya. "Lel Kenapa lel? Kenapa kamu nangis? " Lela tak menjawab. Dia tidak mau mengatakan kan hal yang sebenarnya kepada Amanda. "Man kayaknya mulai besok aku udah nggak kerja lagi di sini . tadi aku ngelakuin kesalahan, nggak sengaja numpahin kopi ke bajunya tamu dan aku dipecat." Amanda sangat kasihan mendengar ucapan Lela. "Ya ampun Lela, kenapa bisa kayak gitu . Aduh gimana dong ya. " Amanda panik mendengar Lela yang akan dipecat. Tanpa sengaja, Mario mendengarkan itu semua. Mario juga kasihan dengan teman Amanda jika harus kehilangan pekerjaannya, belakangan ini mencari pekerjaan sangatlah sulit. Mario lalu berjalan menuju HRD dan berniat membela Lela. Dia memasuki kantor ruangan Najwa, kepala HRD di sini. “Najwa, kenapa kamu tega melakukan hal ini kepada office girl? Dia tidak sengaja menumpahkan kopi, tetapi kenapa kamu langsung memecatnya?” ucap Mario dengan wajah tegasnya. Najwa hanya tersenyum miring lalu bangkit dari duduknya. “Hei, kamu hanya pegawai baru di sini, sebaiknya kamu jangan ikut campur. Lagipula dia memang melakukan kesalahan, jadi wajar kalau aku langsung memecatnya dan menggantikan dengan yang baru. Seharusnya dia berhati-hati dan bekerja dengan baik,” ucap Najwa. Mario tersenyum miring, memang pegawai di sini tidak ada yang tau jika Mario adalah adik Jonas, kecuali Amanda. Mario sendiri tidak mau dia diketahui oleh pegawai di sini sebagai adik Jonas. “Tolong ya, pertimbangkan kembali keputusanmu. Atau aku akan melaporkanmu kepada atasan bahwa kamu menyalahi aturan SOP. Seharusnya kamu hanya perlu menegur, tidak langsung memecatnya, kesalahan yang dilakukan oleh Amanda bukanlah hal fatal.” Mario bisa mengucapkan hal ini karena dia tau sendiri bagaimana kejadiannya, dia saat itu ada di ruangan pertemuan untuk bertemu dengan klien itu. “Astaga, ini hanya masalah office girl, kenapa kamu sangat heboh sekali?” ucap Najwa menghela napasnya kesal. “Kamu kira office girl bukan manusia? Office girl juga memiliki kehidupan yang harus dia jalani, dia juga mencari nafkah, tidak ada bedanya denganmu.” Ucapan Mario membuat Najwa marah, benar-benar kesal dengan ucapan Mario. “Astaga, Ya Tuhan. Kau benar-benar ya pegawai baru tidak tau malu. Kau bahkan masuk di sini hanya karena kenalan pak Jonas, sekarang mau ikut campur, kau bahkan tidak mengikuti seleksi pegawai sebagai tim marketing di sini, seharusnya kamu berhati-hati dengan ucapanmu atau aku juga memecatmu,” ucap Najwa dengan lantang. Jonas tersenyum miring mendengar ucapan Najwa. “Oh ya? Begitu? Silahkan. Pecat saja aku, kau bahkan tak tau apa-apa tentangku. Kau pilih sendiri, kau yang menghentikan pemecatan Lela atau aku yang menghentikan kamu bekerja di sini?” ucap Mario dengan tegas. Najwa malah tersenyum menantang Mario. “Silahkan.” Mario segera berbalik, dia hendak menemui kakaknya, dan kebetulan sekali mereka malah bertemu di lift. “Kak, I need your help,” ucap Mario kepada Jonas. Jonas menyerngitkan dahinya, ada apa sampai adiknya seperti ini, tumben sekali. Mario sebenarnya bukan hanya peduli kepada Lela, tetapi dia juga tidak suka jika ada kepada manajer yang suka semena mena dan melakukan hal diluar batas. “Why? Urgent?” tanya Jonas sembari melirik jam tangannya, dia hendak survey lokasi pembelian gedung di luar. “Yah, kalau bisa sekarang kak,” ucap Mario. Jonas menaikkan alisnya, lalu mengangguk. Mario menceritakan semua kejadian itu kepada Jonas. Mendengar semua itu, Jonas menjadi ikut marah, kenapa Najwa memecat karyawan tiba-tiba dan tanpa persetujuan Jonas. Sungguh Jonas sangat marah mendengarnya, dia langsung melangkahkan kakinya dengan jangka lebar dan masuk ke dalam ruangan Najwa. “Najwa! Apa saya pernah menyuruh kamu untuk mengambil keputusan tanpa berdiskusi dengan saya? Kenapa kamu meyalahi aturan SOP? Kenapa langsung memecat pegawai tanpa persetujuan saya?!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD