Najwa tersentak dengan ucapan Jonas, dia benar-benar terkejut. Kenapa Jonas begitu marah hanya soal office girl? Jonas marah dengan Najwa yang mengambil keputusan seenaknya. Jonas emosi, dia menatap Najwa dengan tatapan berapi. Najwa benar-benar bingung ditatap seperti itu.
“Kenapa anda bersikap seperti itu dengan saya? Saya jelas memiliki alasan logis untuk memecat karyawan. Saya manager HRD di sini,” ucap Najwa dengan lantang. Jonas tersenyum miring menatap Najwa.
“Maksud anda, anda menyalahgunakan kekuasaan di sini? Haha, saya tidak membutuhkan anda di sini. Kalau anda memecat karyawan tidak sesuai SOP, berarti saya juga bisa memecat anda tanpa SOP. Silahkan keluar dari kantor saya.”
Najwa terkejut dengan ucapan Jonas, tidak menyangka jika Jonas mengucapkan hal itu, ini sama saja menggali lubangnya sendiri. Dia menatap Jonas dengan tatapan marah.
“Saya ingat-ingat seumur hidup saya, bagaimana anda memperlakukan saya. Terima kasih atas waktunya.”
Najwa lalu melangkah keluar dari kantor Jonas. Jonas hanya bisa menggelengkan kepala, dia tidak mengerti bagaimana Najwa bisa bersikap tidak sopan seperti itu. Najwa bukan orang yang tepat bagi perusahaannya, Jonas hanya mencari pegawai yang benar-benar bisa diandalkan, pegawai yang tidak memandang rendah jabatan orang lain.
“Sudah selesai ya Mar, sekarang kakak mau pergi survey, sementara ini yang menggantikan Najwa kan belum ada, kamu cari pegawainya, interview, dan berikan berkasnya kepadaku,” ucap Jonas.
“Oke kak.”
Mario tersenyum dalam hatinya, dia sudah memiliki kandidat yang baru, siapa lagi kalau bukan Amanda, Mario lalu ke ruang office girl dan melihat Lela yang masih menangis, dia mengatakan kepada Lela dan Amanda jika Lela tidak jadi dikeluarkan. Lela nampak begitu bahagia, dia senang sekali karena Mario dan Jonas membantunya. Bahkan kini Najwa sudah tidak ada lagi di kantor ini. Amanda sangat senang juga mendengar kabar baik ini.
Amanda lalu kembali ke atas, melakukan perkerjaannya lagi, dia sampai terkejut melihat pel dan air yang becek berserakan di lantai, ini salah dia, Amanda menepuk dahinya, dia sendiri kaget melihat ini semua. Berantakan dan kacau, lantai atas benar-benar kotor. Amanda hanya bisa meringis melihatnya, dia yang menyebabkan kekacauan ini. Untungnya Jonas sudah pergi terburu-buru untuk survey lokasi, Amanda segera membereskan ini semua, dia merapikan semua yang kacau dan mengepel lantai sampai benar-benar kering. Setelah itu dia baru menyiapkan kopi hangat untuk Jonas. Meski Jonas belum kembali ke kantor, Amanda tetap menyiapkan kopi untuk Jonas.
Mario mendatangi Amanda, dia menyuruh Amanda untuk pergi membeli pakaian setelan kantor wanita. Dia sendiri bingung kenapa Mario tiba-tiba menyuruh dia pergi berdandan.
“Ayo Amanda, ikut aku.” Mario menarik paksa tangan Amanda. Namun Amanda segera menepisnya, takut karyawan lain melihat Mario yang memegang tangan Amanda.
“Yaampun, kita mau kemana? Iya aku mengikutimu, tapi jangan tarik-tarik aku begini,” ucap Amanda gemas. Dia melepaskan tangannya. Mario hanya terkekeh dan dia melepaskan cengkraman tangannya.
“Aduh, iya Maaf ya Man.”
Mereka lalu berjalan menuju parkiran, Amanda dipaksa naik ke atas mobil. Dia sungguh terkejut dengan semua sikap Jonas yang aneh ini.
“Kita mau kemana sih?” ucap Amanda merasa aneh karena sikap Mario yang berlebihan seperti ini.
“Kita mau jalan-jalan, udah ikut aja.”
Mario lalu menyetir, dia membawa Amanda ke mall, sepanjang perjalanan Mario menceritakan bagaimana dia bekerja di Paris dulu. Amanda cukup kagum dengan semua cerita Mario, dia begitu senang mendengar Mario adalah fotografer yang hebat.
“Man, bagaimana dengan Paris? Apa kamu punya impian ke sana?” tanya Mario kepada Amanda.
Amanda mengangguk, dia ada impian ke Paris, tapi melihat dia sendiri masih bekerja ala kadarnya dan tidak memiliki apapun, membuat Amanda menjadi semakin insecure jika dia bisa ke Paris. Dia sangat ingin bisa ke luar negeri menjelajahi dunia dan melihat betapa indahnya dunia luar, tapi sayangnya cita-citanya harus tertunda, ada banyak hal yang dia ingin wujudkan. Ada banyak impian dalam angannya. Amanda ingin menjadi penulis novel best seller, dia ingin membuat namanya terkenal.
Mario mengajak Amanda masuk ke dalam mall, sebenarnya Amanda was-was karena dia sendiri takut membolos. Apalagi ini di jam kerja, baru beberapa hari bekerja dengan Jonas, dia tidak mau membuat masalah lagi, tapi Mario terus-terusan mengajak Amanda untuk membolos.
“Mar, ini kan jam kerja, apa yakin pak Jonas tidak akan marah?” tanya Amanda ketakutan sendiri.
“Tenang aja, kak Jonas orang yang baik haha,” ucap Mario santai lalu dia ke lantai atas, memesankan pakaian untuk Amanda. Sungguh Amanda tidak menyangka jika Mario bisa sesantai ini dengannya. Mario terlihat seperti orang yang terlalu santai bagai Amanda.
Dia terkejut saat Mario membelikan dia pakaian yang mahal-mahal, Amanda selalu menolak, tetapi Mario memaksa. Amanda hanya bisa diam saja mendapati hal itu, Mario sangat-sangat begitu mencengangkan bagi Amanda.
“Mar, tolong jangan seperti ini, yaampun ini berlebihan, astaga.”
Amanda seketika panik ketika Mario terlihat ceria saat tau ukuran pakaian Amanda, dia malah membelikan lima belas setel baju kantor. Amanda benar-benar seperti mendapatkan rejeki nomplok, dia tidak menyangka jika Mario sebaik ini. Dia merasa tidak enak, tapi bagaimana lagi dia sendiri bingung harus bagaimana menolak Mario, Mario memaksa dia untuk menerima semua ini.
“Yaampun Mar, kenapa kamu sebaik ini? Yaampun ini banyak banget loh,” ucap Amanda. Dia bahkan tidak menyangka Mario bisa membelikan semua ini.
“Sudah, bawa saja, sekarang kamu pakai salah satu setelan pakaian ini, kamu terus ke salon abis ini, kita perlu sedikit menata rambut kamu,” ucap Mario mengedipkan matanya.
Amanda sebenarnya bingung kenapa Mario seperti ini, dia tidak menyangka jika Mario sebaik ini kepadanya. Meski baru mengenal, tapi Mario mengatakan sudah sangat dekat dengan Amanda, tapi ini sungguh hal yang aneh bagi Amanda karena Mario baik yang berlebihan seperti ini.
“Mario, sebenarnya ada apa? Kenapa kamu membelikan semua ini kepadaku? Bukankah ini berlebihan?” tanya Amanda bingung. Mario hanya tersenyum kecil.
“Aku tidak berlebihan untuk orang yang aku sukai,” ucap Mario.
Amanda mengerjapkan matanya, dia sendiri bingung mendengar ucapan Mario, dia tidak mengerti kenapa Mario sebaik dan seikhlas ini padalah Mario baru mengenalnya. Kata-kata Mario membuat Amanda bingung, suka? Apa Mario suka kepada Amanda?
“Maksud kamu?” tanya Amanda kembali. Sayangnya Mario hanya tersenyum misterius dan mengajak Amanda ke salon.
Setelah berdandan cantik bak pegawai kantoran perempuan yang manis, Amanda lalu diajak kembali ke kantor. Semua orang kantor terpukau dengan kecantikan Amanda. Sama halnya dengan Jonas.
“Ini kamu ngapain dandan kaya gini?” ucap Jonas, dia berkomentar tapi juga sekaligus menyukai dandanan Amanda yang elegan