Bab 1: Jurang Kebangkrutan dan Notifikasi Aneh
Udara malam menusuk tulang, membawa aroma sampah dan aspal basah. Gang sempit di belakang blok apartemen kumuh itu adalah panggung. Fariz meringkuk di tanah. Dua bayangan kekar berdiri di atasnya. Tendangan lain menghantam ulu hatinya. Napasnya tercekat, rasa pahit memenuhi kerongkongan.
"Cepat bayar utangmu, Fariz!" Salah satu pria, berwajah keras dengan tato naga di lengan, menendang lagi. Kali ini ke rusuknya. Tulang-tulangnya terasa bergeser.
Fariz mengerang. "Aku... aku sudah bilang... beri aku waktu..."
"Waktu katamu?" Pria bertato itu tertawa. Tawanya kering, dingin. "Handoko tidak punya waktu untuk leluconmu. Dia cuma mau uangnya kembali. Atau lebih tepatnya, agar kau menghilang."
Handoko. Nama itu seperti bara yang membakar di balik semua rasa sakit. Handoko, mantan bosnya. Pria yang memfitnahnya, menghancurkan kariernya. Pria yang sekarang mengirim para preman ini untuk membungkamnya. Dan juga pria yang merebut Maya.
"Maya..." gumam Fariz, suaranya nyaris tak terdengar.
Pria kedua, yang lebih kurus tapi tak kalah brutal, menjambak rambut Fariz, menarik kepalanya ke atas. "Oh, si cantik itu? Jangan sebut namanya. Dia sudah melupakan pecundang sepertimu, Fariz. Dia sekarang milik Handoko."
Kata-kata itu menghantam lebih keras dari pukulan fisik mana pun. Rasa sakit di tubuhnya seolah tak sebanding dengan nyeri di hatinya. Penghinaan, pengkhianatan, dan keputusasaan bercampur aduk.
"Aku akan membayarnya!" Fariz berteriak, entah dari mana ia mendapat kekuatan. Ia mencoba bangkit, tapi sebuah pukulan telak mendarat di pelipisnya. Pandangannya berputar. Langit malam yang gelap berpilin.
"Dengar, pecundang," suara pria bertato itu terdengar sayup. "Ini peringatan terakhir. Minggu depan, kalau uangnya belum ada, kami tidak akan main-main lagi."
Fariz merasakan tendangan terakhir menghantam perutnya. Ia ambruk, pandangan menggelap. Suara langkah menjauh, kemudian kesunyian menelan dirinya. Nafasnya tersengal, setiap hembusan adalah perjuangan. Darah menetes dari hidungnya, membasahi kerikil dingin.
Sudah berakhir. Pikirnya. Semuanya sudah berakhir.
Karier. Cinta. Martabat. Sekarang, hidupnya sendiri. Rasanya semua idealismenya selama ini, semua kerja kerasnya di firma hukum Handoko, hanya berakhir menjadi debu. Handoko telah merebut segalanya. Maya, kekasihnya, juga pergi demi Handoko.
"Maya..." Bibirnya bergetar. Sebuah gambar Maya, tersenyum manis, melintas di benaknya. Senyum itu kini terasa seperti racun.
Matanya terpejam. Kematian terasa seperti pilihan yang jauh lebih mudah dibandingkan menghadapi hari esok. Namun, di tengah kegelapan yang menyelimutinya, sesuatu yang aneh terjadi. Bukan kegelapan yang utuh, melainkan kilatan cahaya transparan yang muncul di retinanya.
Ini bukan ilusi. Cahaya itu membentuk barisan teks, bening seperti kristal es. Matanya, yang seharusnya tertutup, kini melihatnya dengan jelas.
Sistem Penilai Dewa terdeteksi.
Mengaktivasi...
Fariz berkedip. Suara berdesing di telinganya. Kepalanya berdenyut hebat. Rasa sakit dari pukulan tadi seolah semakin intens. Notifikasi itu tetap ada, menembus kabut rasa sakit dan kesadaran yang menipis.
Proses Aktivasi: 1%... 5%... 10%...
Tolong tetap tenang. Hindari pergerakan ekstrem.
Bagaimana bisa ia tenang? Tubuhnya remuk. Hatinya hancur. Ini pasti halusinasi, efek benturan di kepalanya. Atau ini adalah awal dari kegilaan?
25%... 50%...
Sebuah informasi baru muncul, jauh lebih cepat daripada yang bisa ia proses. Sebuah garis hijau samar muncul, mengelilingi sepatu yang tergeletak beberapa meter darinya. Di samping sepatu itu, muncul deretan teks: "Sepatu Kets Bekas. Potensi: Rendah. Nilai Sejati: Rp50.000."
Fariz terkesiap. Apa ini?
Kemudian, garis serupa muncul pada sampah plastik yang menempel di dinding. "Botol Plastik Bekas. Potensi: Daur ulang. Nilai Sejati: Rp500."
Lalu, pada dinding gang yang kotor. "Tembok Bata. Potensi: Konstruksi. Nilai Sejati: Rp125.000."
Setiap objek yang tertangkap pandangannya kini memiliki label data yang muncul secara otomatis. Informasi-informasi itu membanjiri otaknya. Ada begitu banyak detail, begitu banyak angka, begitu banyak potensi yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Kepalanya mulai berdenyut lagi, lebih kuat. Seolah otaknya dipaksa untuk memproses jutaan data sekaligus.
Peringatan: Penggunaan awal sistem dapat menyebabkan beban kognitif tinggi dan nyeri kepala. Dianjurkan untuk penggunaan terbatas pada tahap awal.
Peringatan itu seolah bukan untuknya. Matanya terbelalak, melihat dunia dengan cara yang sama sekali baru. Ia melihat retakan di aspal dengan detail mikro, melihat kandungan mineral di dalamnya. Ia melihat jejak ban motor yang melewati gang tadi, lengkap dengan perkiraan kecepatan dan jenis kendaraan.
Ini gila. Benar-benar gila. Tapi ini nyata.
Rasa sakit di tubuhnya seolah sedikit terlupakan. Digantikan oleh kebingungan dan secercah harapan yang aneh.
75%... 90%...
Tiba-tiba, ia merasakan dorongan untuk mengangkat tangannya. Sistem itu seolah membimbingnya. Ia melihat jarinya yang berlumuran darah. Sistem itu segera menganalisisnya. "Darah Manusia. Kondisi: Luka terbuka. Perkiraan Kehilangan Darah: Sedang. Potensi: Infeksi tinggi."
Lalu pandangannya bergeser ke pergelangan tangannya. Di sana, jam tangan murah yang ia beli bertahun-tahun lalu, yang selalu ia kira tidak punya nilai, kini memancarkan cahaya keemasan.
"Jam Tangan Quartz Murah. Desain: Umum. Material Casing: Paduan Seng. Namun... Komponen Internal: Kristal kuarsa langka. Nilai Sejati: Rp7.500.000 (tidak dikenal oleh pemilik)."
Angka itu bagaikan sengatan listrik. Tujuh setengah juta? Jam tangan usang ini?
"Apa... apa ini?" gumamnya.
Pikiran tentang Handoko, tentang Maya, tentang pengkhianatan, kembali menusuk. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Kilatan harapan itu berubah menjadi percikan api di kegelapan.
Sistem Penilai Dewa Aktif Penuh.
Selamat datang, Pengguna Utama.
Sebuah prompt baru muncul, mengabaikan nyeri di kepalanya.
Status Pengguna: Kritis. Prioritas Sistem: Bertahan Hidup.
Tinjau Objek Sekitar untuk Potensi Tersembunyi.
Fariz mencoba menggerakkan tubuhnya. Sakit. Sangat sakit. Tapi entah bagaimana, dorongan baru menggerakkannya. Rasa penasaran itu mengalahkan rasa takut. Dia menatap ke arah pintu kayu reyot di ujung gang, pintu menuju gudang kosong yang jarang dilewati.
Matanya memicing, fokus. Seketika, layar data baru muncul.
"Pintu Gudang Usang. Material: Kayu Jati Tua. Kondisi: Lapuk. Potensi Tersembunyi: Di dalamnya terdapat kotak penyimpanan logam berkarat. Kotak itu berisi... informasi keuangan mencurigakan terkait Proyek Titan..."
Jantung Fariz berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Proyek Titan. Nama itu. Proyek ambisius yang sedang dikerjakan Handoko. Proyek yang ia tahu penuh dengan celah hukum.
Tiba-tiba, semua rasa sakit fisik itu terlupakan. Tatapan kosongnya digantikan oleh nyala api amarah dan perhitungan dingin. Bukan lagi sekadar bertahan hidup. Ini adalah kesempatan. Kesempatan untuk bangkit. Kesempatan untuk membalas dendam.
Ia berusaha bangkit, tubuhnya gemetar. Setiap otot berteriak protes. Tapi ia tidak peduli. Ia harus sampai ke gudang itu.
Target terdeteksi: Proyek Titan. Level Ancaman: Tinggi. Potensi Penghancuran: Sangat Tinggi.
Fariz tertatih, menarik napas dalam. Kegelapan gang terasa lebih akrab sekarang, bukan lagi ancaman, melainkan selimut yang menyembunyikan rahasia. Rahasia yang kini bisa ia lihat.