-14- The Show

1166 Words
Arjuna tak bisa untuk tak curiga ketika Kirana datang ke kantornya saat jam makan siang. Arjuna sudah meminta staf di meja resepsionis untuk mengantar Kirana ke ruangannya, tapi wanita itu tidak mau pergi jika Arjuna tak menjemputnya di lobi. Di dalam lift menuju lobi, Arjuna mempersiapkan diri untuk serangan apa pun yang sudah disiapkan Kirana. Benar saja, ketika Arjuna keluar dari lift, lobi sudah penuh dengan karyawannya yang menatap ke titik yang sama. Arjuna nyaris mengumpat keras melihat Kirana berdiri di tengah lobi dengan mini dress warna merah yang begitu ketat dan sangat pendek di bagian bawahnya. Di sebelah Kirana, Marcel berusaha menutupi bagian bawah dress itu dengan jas hitamnya, tapi Kirana terus mendorong jas itu menjauh. Wanita itu berhenti mendorong jas Marcel ketika melihat Arjuna dan melambaikan tangan. Namun, ia kemudian mengambil alih jas Marcel dan menyampirkannya di bahu Marcel sebelum berjalan menghampiri Arjuna. Arjuna menyesal karena ia turun ke sini tanpa memakai jas kerjanya. Ia bergegas  menghampiri Kirana, lalu mengulurkan tangan ke arah Marcel. “Lempar itu,” katanya seraya mengedik ke arah jas di bahu Marcel. Kali ini, Marcel menuruti Arjuna dan melempar jasnya. Dengan cepat, Marcel mengikat jas hitam itu di pinggang Kirana. Di depannya, wanita yang membuat heboh kantornya itu malah tersenyum santai. “Kau kolot sekali,” komentar Kirana tanpa dosa. Sungguh, tak ada ujian kesabaran yang lebih berat daripada seorang Andhita Kirana Ramawijaya. *** Kirana cukup puas dengan kejutan kecil di lobi tadi. Ekspresi Arjuna benar-benar membuat Kirana merasa ia melakukan hal yang bagus di bawah tadi. Namun, bukan itu kejutan utamanya. “Kau … memasak makan siang untukku?” tanya Arjuna begitu mereka duduk di sofa ruangan pria itu. Kirana mengangguk. Ia lalu menjentikkan jari dan Marcel yang sedari tadi berdiri di belakangnya mendekat. Arjuna tampak melongo melihat Marcel menurunkan tas bekal yang tersampir di bahunya. Pria itu menyipitkan mata curiga ketika Marcel mulai mengeluarkan kotak-kotak makanan dan menatanya di meja. “Aku memporak-porandakan dapur rumahku untuk ini. Aku tidak akan terkejut jika koki rumahku minta berhenti bekerja besok,” ucap Kirana. Arjuna mengangkat alis. “Karena dia tidak percaya diri setelah mencoba masakanku yang sangat enak ini,” tambah Kirana penuh percaya diri. Arjuna mendengus, tak sedikit pun tampak percaya. “Cobalah sendiri,” tantang Kirana. Arjuna menatap Kirana penuh kecurigaan, tapi ia toh tetap mengambil sendok dan menarik salah satu kotak makanan berisi daging cincang. Pria itu masih menatap Kirana ketika ia menyendok dagingnya, lalu memasukkannya ke mulut. Dalam dua detik, pria itu memejamkan mata. “Berapa banyak garam yang kau masukkan ke sini?” tanya pria itu sembari membuka mata. “Tidak banyak,” sahut Kirana cuek. “Berapa, Marcel?” Kirana menoleh pada pengawal setianya. “Sekitar tiga atau empat sendok untuk satu porsi itu,” jawab Marcel. Kirana mengangguk-angguk. “Dan kokimu menyebut masakanmu enak?” dengus Arjuna. “Bukan yang itu yang dia sebut enak,” jawab Kirana enteng. “Cobalah semuanya dan temukan mana yang disebut kokiku enak.” Arjuna melotot kaget, lalu menunduk menatap kotak-kotak makanan di depannya. Selain daging cincang, ada ayam lada hitam, udang balado, terong lada garam, bahkan ada puding untuk dessert. “Aku sudah memasak dengan susah payah,” keluh Kirana. Arjuna menghela napas berat. “Baiklah, baiklah, aku akan mencoba, bahkan menghabiskan semuanya. Tapi, dengan satu syarat.” Kirana mengangkat alis. “Apa syaratnya?” “Jangan pernah lagi datang ke kantorku dengan pakaian seperti itu.” Arjuna mengedik ke arah pakaian Kirana. “Kenapa? Ini mahal! Apa kau tahu berapa harganya?” pekik Kirana. “Aku tidak peduli,” tepis Arjuna. “Berjanjilah untuk tidak memakai pakaian seperti itu lagi di kantorku. Maka, aku akan menghabiskan semua makanan  yang kau bawa untukku.” Mata Kirana berbinar. “Deal. Sekarang, makan dan habiskan semua itu.” Arjuna kembali menghela napas, pasrah. “Apa kau tidak membawakanku air minum?” tanya Arjuna. “Maaf, lupa.” Bohong. Wanita itu sengaja tak membawanya. Arjuna mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menelepon sekretarisnya. “Bawa minuman ke kantorku. Air mineral. Yang banyak. Satu galon jika perlu,” perintah Arjuna di telepon. Kirana tak dapat menahan senyum mendengarnya. “Bisa-bisa kau berubah jadi aquaman karena terlalu banyak minum.” “Terima kasih padamu,” sinis Arjuna. “Sama-sama,” balas Kirana riang. Lalu, dilihatnya Arjuna menarik napas dalam sebelum menyendok potongan ayam lada hitam buatan Kirana. Begitu Arjuna menelan makanannya, pria itu terbatuk, wajah dan telinganya merah. Untunglah, salah satu karyawannya, sepertinya sekretarisnya, seorang pria muda, memasuki ruangan dengan membawa satu nampan penuh berisi botol air mineral. Bahkan sebelum sekretarisnya sampai di tempat Arjuna, pria itu sudah berdiri dan menghampiri sekretarisnya. Ia menyambar salah satu botol mineral, membuka tutupnya dengan buru-buru dan menenggak isinya. Setelahnya, pria itu menatap Kirana kesal. “Apa ini? Kau masukkan apa saja di dalamnya?” tuntut Arjuna. “Lada hitam. Namanya kan, ayam lada hitam,” jawab Kirana. “Berapa banyak?” Arjuna melotot kesal. “Di resep sih, tertulis seperlunya. Kupikir aku perlu memasukkan sebanyak mungkin.” “Kau berniat meledakkan perutku?!” bentak Arjuna. “Jika itu niatanku, aku sudah memasukkan bom di dalam makanannya,” sahut Kirana, masih sesantai sebelumnya. Arjuna menarik napas dalam, lalu mengembuskannya kasar. “Kalau kau tak mau menghabiskannya, tak masalah,” kata Kirana seraya berdiri. “Besok aku akan datang lagi saat jam makan siang. Minggu ini tak ada acara menarik yang ingin kuhadiri dan aku tidak mood shoping. Jadi, aku akan mampir ke sini setiap hari. Aku akan memakai pakaian terbaikku.” Kirana tersenyum penuh arti sembari berjalan ke arah pintu di belakang pria itu. Namun, ketika Kirana melewatinya, Arjuna menahan lengan Kirana. “Akan kuhabiskan. Aku tidak ingin Mama melihatmu datang ke kantorku dengan pakaian seperti ini.” Kirana mengangguk-angguk. “Tentu saja, aku tidak akan memakai pakaian seperti ini di depan mamamu. Tapi, kau akan menghabiskan masakanku, kan?” Arjuna mendesis kesal. “Seingatku, kita sudah  sepakat untuk tidak membawa orang tua kita dalam masalah kita.” “Memang tidak. Tapi, kau sendiri yang tadi membahas tentang mamamu. Aku tidak pernah berkata aku akan memakai pakaian seperti ini ketika bertemu mamamu,” urai Kirana. Ia lalu menatap pria muda yang membawakan minuman untuk Arjuna itu. “Tapi, tidak apa-apa orang ini tahu tentang hubungan kita?” tanya Kirana. “Tidak apa-apa. Dia sekretarisku dan dia bisa dipercaya,” jawab Arjuna dengan agak kesal. “Sekretaris?” Kirana menatap pria muda itu dari atas ke bawah. “Yang seperti ini tipemu juga?” tanya Kirana. Sekretaris Arjuna terbelalak kaget, lalu terbatuk pelan. Arjuna mengumpat kesal. “Letakkan minuman itu di meja dan kau bisa pergi, Han,” Arjuna berkata pada sekretarisnya. Sekretarisnya mengangguk, lalu berjalan pergi ke meja tempat kotak-kotak makanan Kirana berada dan menata botol-botol minuman itu di sana.   “Han? Honey?” sebut Kirana. Terdengar suara berisik dari meja dan Kirana melihat si Han-nya Arjuna membuat botol-botol yang sudah tertata, berjatuhan. “Handi,” desis Arjuna. “Berhentilah menyimpulkan semua hal sesukamu!” “Cih. Kau tidak seru.” Kirana lalu mengedik ke arah meja. “Lanjutkan saja makan siangmu.” Arjuna mendengus kesal, tapi kemudian kembali ke sofa. Kirana menyusulnya sembari bersenandung puas. Ketika Handi selesai menata botol minuman yang sempat ia robohkan, ia membungkuk pada Arjuna, lalu pada Kirana. “Sampai jumpa lagi, Honey,” Kirana berkata. Seketika, tatapan membunuh Arjuna terlempar padanya. Kirana tersenyum polos, “Nama Honey lebih tepat untuknya daripada Handi,” Kirana memberikan alasan. Arjuna mendengus kasar. “Tutup saja mulutmu jika kau tak mau ikut makan makanan ini.” Kirana meletakkan kedua tangan di depan mulutnya dan membungkuk kecil pada Arjuna. Kirana tersenyum puas mendengar dengusan kesal pria itu. ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD