Arjuna tersenyum geli melihat Kirana sampai melongokkan kepala keluar jendela untuk membalas lambaian tangan anak-anak panti. Bahkan, wanita itu berseru, “Tante akan datang lagi! Sampai ketemu lagi!”
Arjuna sengaja melajukan mobilnya pelan-pelan. Sampai mereka tiba di tikungan dan Kirana baru menarik kepalanya ke dalam. Arjuna menutup jendela mobil sebelum menambah kecepatan mobilnya.
“Katamu, kau sebulan sekali ke sini, kan?” tanya Kirana.
Arjuna mengangguk.
“Mulai bulan depan, aku ikut,” putus Kirana.
Arjuna melirik wanita itu.
Kirana berdehem. “Aku juga butuh publikasi bagus,” katanya.
Arjuna menahan senyum. Benarkah hanya untuk publikasi?
“Sekarang, kita mau ke mana?” tanya Kirana. “Langsung pulang?”
Arjuna mengecek jam. “Sepertinya begitu kita tiba di kota nanti, tepat waktu makan malam.” Panti asuhan itu memang berada di kawasan puncak.
Kirana mengangguk-angguk. Wanita itu lalu meregangkan tubuh dan menguap. “Kalau begitu, aku mau tidur dulu. Meski kita sedang berperang, tapi menyerang ketika tidur itu tidak baik, kau tahu itu, kan?”
Arjuna mengangkat alis. “Memangnya, kau pikir apa yang akan kulakukan padamu jika kau tidur?”
“Menurunkanku di penginapan atau hotel di tengah perjalanan agar aku kebingungan untuk pulang, atau bahkan, menurunkanku di tengah jalan,” sebut Kirana.
Arjuna mendengus tak percaya. “Apa itu yang akan kau lakukan padaku jika aku tertidur di mobil yang kau setiri.”
Kirana tak menjawab dan malah membenahi posisi, lalu menutup matanya. Arjuna mendesis kesal. Wanita ini benar-benar menguji kesabarannya dengan segala cara.
***
Kirana mengerjapkan mata, lalu perlahan membuka mata. Ia menoleh dan dilihatnya kursi pengemudi kosong. Kirana mendengus. Kirana sudah menyebutkan untuk tidak meninggalkan Kirana di penginapan, hotel, atau jalan, tapi pria itu malah meninggalkan Kirana di mobil. Kirana mendecak kesal.
Ia sudah akan membuka mobil, tapi pintunya dikunci. Ia melihat jemdela kaca mobil dibuka sedikit. Kirana mengumpat. Sialan! Pria itu meninggalkan Kirana di mobil dan mengucinya?
Kirana membuka kunci di pintu mobilnya, lalu melepas seat belt, tapi kemudian mendapati sesuatu melorot di pangkuannya. Kirana menunduk, mengerutkan kening melihat seonggok kain di pangkuannya. Kirana mengangkat kain itu dan menyipitkan mata untuk mengenalinya dengan penerangan seadanya. Ia lalu mengenali kain itu sebagai kemeja Arjuna.
Kenapa …?
Kirana tersentak kaget ketika tiba-tiba terdengar bunyi alarm kunci mobil dan pintu penumpang terbuka. Lalu, masuklah Arjuna yang hanya mengenakan kaus tipis berwarna putih.
“Kau sudah bangun?” tanya pria itu sembari menyodorkan kantong plastik yang entah berisi apa.
Kirana menyipitkan mata kesal. “Apa ini?” Ia menepuk kantong plastik di pangkuannya.
“Camilan dan minuman. Kita baru setengah jalan. Jalannya macet karena ini akhir pekan. Sepertinya kita akan terlambat untuk makan malam,” terang Arjuna.
Kirana menunduk menatap kantong plastik di pangkuannya, mengecek isinya dan melihat beberapa makanan di dalamnya, seperti choco bar, keripik, bahkan roti. Ada juga berbagai minuman, dari air mineral, s**u, soda, air sampai kopi.
“Aku tidak tahu mana yang biasa kau makan atau minum, jadi aku beli segala macam. Kau pilih saja sendiri,” ucap Arjuna.
Kirana mengangguk-angguk. Ia mengambil roti dan s**u, lalu memindahkan kantong plastik itu ke pangkuan Arjuna.
“Aku ini saja cukup,” kata Kirana.
Arjuna tampak ragu. “Kau yakin?”
Kirana mengangguk. “Aku biasa makan ini sejak kecil. Terutama jika Papa tidak di rumah.”
“Kenapa begitu?” tanya Arjuna.
“Pengasuhku dulu hanya memberiku ini, untuk sarapan, makan siang, bahkan makan malam, jika Papa tidak ada di rumah,” sebut Kirana.
“Apa?” Arjuna terdengar terkejut.
“Aku pernah sekali tidak mau makan nasi ketika makan siang. Setelah itu, dia tidak memberiku makan sampai malam. Besoknya, dia tidak memberiku nasi dan hanya memberiku roti dan s**u jika tidak ada Papa.” Kirana mendengus. “Dia benar-benar wanita yang kejam. Dia pernah mengurungku di kamar seharian karena aku tidak mau pergi ke sekolah.”
“Papamu … tidak tahu tentang itu?” Arjuna terdengar terkejut.
Kirana mendengus. “Papa bahkan tidak peduli. Papa selalu seperti itu.”
“Apa? Tidak peduli? Yang benar saja. Papamu tidak mungkin …”
“Tapi, itu yang terjadi padaku,” potong Kirana. “Papa bahkan tak peduli dengan perasaanku ketika memaksaku menikah denganmu.”
Arjuna terdiam.
“Sudahlah, ayo kita segera makan ini dan lanjutkan perjalanan,” tepis Kirana.
Ia lalu membuka plastik sedotan dan menusuk kotak s**u, menyesap isinya. Ia melirik Arjuna yang masih menatap kantong plastik di pangkuannya.
“Kau bingung mau makan yang mana?” tanya Kirana. “Choco bar tidak buruk juga. Untuk sementara, itu bisa membuatmu kenyang. Aku biasa makan itu jika sedang diet.”
Arjuna mendengus pelan, tapi kemudian mengeluarkan sebungkus choco bar. “Sejujurnya, seumur hidupku, ini pertama kalinya aku makan ini. Tadi aku bertanya pada kasir, makanan apa saja yang bisa sedikit mengenyangkan dan mereka memberiku ini.”
“Wah …” takjub Kirana. “Aku iri, kau tidak harus diet dengan itu.”
Di sebelahnya, Arjuna tersenyum geli. “Kau butuh diet juga, dengan tubuh sekurus itu?”
“Jangan salah. Berat badanku pernah naik lima kilo hingga gaun kesayanganku tidak cukup lagi. Ugh, memikirkan saat itu, dadaku terasa sesak.” Kirana menepuk dadanya pelan.
“Kau bahkan tak pernah ikut pesta perusahaan selain pesta perusahaanmu, ke mana kau memakai gaun-gaunmu?” Arjuna tampak penasaran.
Kirana mendengus. “Kau tak tahu apa pun. Biasanya, jika aku keluar rumah, aku selalu memakai gaun terbaikku. Um … kecuali pada dua kesempatan. Pertama, ketika aku kabur dari rumah dan tak sempat memilih pakaian, kedua setiap aku berkencan denganmu.”
Arjuna mendengus tak percaya. “Benar juga. Jika tak memakai gaun yang berlebihan, kau hanya memakai pakaian seperti ini.”
Kirana menunduk menatap kaus santai dan celana jeans yang ia kenakan. “Hari ini, aku memakai ini karena aku tahu kau akan membalas dendam. Aku pintar membaca situasi,” ucap Kirana bangga.
Arjuna mendengus lagi. “Sepertinya aku harus bersiap-siap untuk besok. Entah apa lagi yang akan kau siapkan untuk membalasku.”
“Tentu, tentu. Kau bisa berharap. Besok kau mungkin tidak akan bisa tidur karenaku,” balas Kirana santai.
Arjuna hanya menggeleng-gelengkan kepala pasrah sembari membuka bungkus choco bar di tangannya.
“Merk itu ada yang rasa buah,” sebut Kirana.
Arjuna hanya membalas dengan dengusan. Tidak sopan.
***
Arjuna tiba di rumahnya hampir jam sebelas malam, tapi orang tuanya masih belum tidur dan menunggunya di ruang keluarga.
“Kenapa Mama dan Papa belum tidur?” tanya Arjuna sembari duduk di sofa seberang mereka.
“Mama penasaran,” aku mamanya. “Bagaimana tadi di panti asuhan? Kirana senang di sana?”
Arjuna tersenyum teringat momen-momen keberadaannya dengan Kirana di sana. “Kupikir dia tidak akan suka di sana, tapi tadi ketika pulang, dia berkata akan ikut ke panti asuhan lagi bulan depan.” Arjuna mengedik sok cuek.
Mama Arjuna seketika tersenyum senang. “Sudah kuduga, dia akan suka di sana. Dulu, Dhita juga sangat senang setiap kali kami ke sana.”
“Dia juga dekat dengan Dhita. Anak yang Mama beri nama seperti nama Tante Dhita itu,” sebut Arjuna.
Mama Arjuna tersenyum haru. “Mamanya pasti akan sangat bahagia melihat Kirana di tempat itu.”
“Kirana juga tampaknya bahagia di tempat itu,” sahut Arjuna. “Dia banyak tersenyum dan tertawa di sana tadi. Padahal biasanya …” Arjuna menahan kalimatnya, tersadar. Ia berdehem. “Maksudku, aku tidak menyangka, dia akan suka anak-anak.”
Mama Arjuna tersenyum geli, sementara papanya berkomentar, “Seumur hidup Papa, ini pertama kalinya Papa mendengar kau membicarakan seorang wanita.”
Arjuna terbatuk. “Ap-apa, Pa?”
“Sudah malam, ayo tidur, Ma,” ajak papanya pada mamanya.
Arjuna mendesis kesal pada papanya yang barusan menggodanya. Padahal, papanya tahu Arjuna terpaksa berkencan dengan Kirana karena perjodohan ini. Juga, karena mamanya.
Membicarakan seorang wanita, apanya? Itu hanya Kirana. Penguji kesabaran Arjuna.
***