-12- Her Smile

1196 Words
  Arjuna tertegun melihat Kirana tertawa dan berlarian bersama salah satu anak panti asuhan, Dhita. Ketika Arjuna membawa Kirana kemari, ia pikir wanita itu akan mengomel kesal, ngambek, lalu mengunci diri di mobil. Apa yang terjadi di depannya tak sedikit pun masuk dalam bayangannya. Ketika Kirana berhasil menangkap Dhita, Dhita berteriak, “Tolooong!” Kirana tampak kaget. “Hei, hei …” “Teman-teman, tolong aku! Aku ditangkap Tante Kirana!” seru Dhita. Seketika, anak-anak lain berdiri dan berlari ke arah Kirana. Wanita itu tampak kaget, lalu berlari ketika anak-anak menyerbunya. “No, no. Anak-anak … hhh … jika kita berlari-lari di cuaca sepanas ini … hhh nanti kita bisa dehidrasi,” Kirana berkata dengan napas terengah sambil berlari. Tentu saja, kalimat  seperti itu tidak akan menghentikan anak-anak itu. Ketika Kirana tampak sudah sangat kelelahan, Arjuna berjalan ke arah wanita itu. Kirana masih berlari sambil menoleh ke belakang. Hingga ia menabrak Arjuna. Arjuna menahan punggung Kirana ketika wanita itu terpental dan hampir jatuh. Kirana menatap ke depan dan tampak terkejut melihat keberadaan Arjuna. “Perhatikan jalanmu.” Arjuna melemparkan kata-kata yang pernah dilemparkan Kirana padanya di pertemuan tak mengenakkan mereka di Hills Café. Kirana berdehem dan mendorong Arjuna pelan sembari menarik diri. Ia kemudian teringat anak-anak dan menoleh ke belakang. Kirana sudah akan lari lagi, tapi Arjuna menahan lengan wanita itu dan menarik Kirana ke belakang tubuhnya. “Anak-anak, stop!” Arjuna mengangkat tangan. Seketika, anak-anak itu berhenti di depannya. “Sekarang, setelah kita menanam pohonnya, kita harus menyiraminya. Siapa yang mau menyiraminya?” Seketika, anak-anak sibuk berseru, “Aku, Om!” sembari mengangkat tangan mereka. “Kalau begitu, sekarang kalian ambil selangnya dari sana, dan bawa ke sini. Ingat, kerja sama!” ucap Arjuna. “Siap, Om!” Anak-anak itu lalu pergi dengan penuh semangat ke arah selang air yang sudah tersambung ke kran di sisi halaman. Arjuna tersenyum puas. Di belakangnya, Kirana mendesis kesal, “Mereka menurut sekali jika padamu.” Arjuna refleks tersenyum geli mendengarnya. Ia lalu berbalik dan melihat keringat mengalir dari kening Kirana sampai ke pipinya. Arjuna menggunakan lengan kemeja panjangnya untuk menghapus keringat wanita itu. Kirana menatapnya terkejut. Arjuna menunduk, menatap  mata Kirana. Cokelat. Matanya berwarna cokelat. Padahal, selama ini Arjuna pikir itu hitam. Jika di bawah matahari, warna matanya berwarna cokelat. Fokus Arjuna pada warna mata Kirana teralihkan oleh semprotan air ke arahnya. Arjuna menoleh kaget dan dilihatnya anak-anak tertawa-tawa setelah menyemprotkan air padanya. “Kalian … awas ya! Ganti Om yang akan menyirami kalian!” Arjuna mengejar anak-anak yang berlari dan meninggalkan selangnya. Arjuna mengambil selang itu dan menyemprotkannya ke arah anak-anak. Arjuna berbalik dan melihat Kirana tersenyum melihat anak-anak yang berlarian. Arjuna ikut tersenyum melihatnya. Hingga ia tersadar dan segera melenyapkan senyum dan kembali mencari korbannya. Arjuna lalu melihat Eza dan mengejar anak itu. Eza berlari dengan kaki kecilnya. Arjuna tertawa gemas melihat itu. Arjuna mengarahkan selang ke arah Eza hingga … airnya menyemprot tepat ke muka Kirana. Arjuna mematung, sementara senyum Kirana seketika lenyap. Arjuna tergagap sembari menarik selangnya ke belakang tubuh. Ia menunjuk ke bawah, ke arah kaki Kirana, tampak kaki mungil Eza di sana. “Eza … di belakangmu,” terang Arjuna. “Kau pikir aku akan tinggal diam?” desis Kirana. Arjuna menggeleng. “Aku benar-benar tidak sengaja!” Namun, Kirana menolak penjelasannya dan menerjang ke arah Arjuna, berusaha merebut selangnya. Refleks, Arjuna mengangkat selangnya tinggi. Kirana melompat, masih berusaha merebut selang itu. Sementara, air dari selang itu tersemprot ke udara. Kirana berusaha melompat lebih tinggi, tapi ia malah hampir terjatuh. Arjuna dengan sigap menahan pinggang wanita itu, hingga Kirana menubruk tubuhnya, bersandar di sana. Kirana mendongak kaget. Sementara, Arjuna mematung dengan posisinya. Satu tangan di pinggang Kirana, satu tangan  memegang selang air. Lalu, terdengar seruan anak-anak. “Hujan! Hujan!” Arjuna dan Kirana mendongak. Ternyata air yang tersemprot ke udara itu jatuh ke tanah seperti hujan. Bahkan, kini Arjuna dan Kirana juga sudah basah.  Arjuna mendengar Kirana mendengus pelan. Arjuna pikir, wanita itu akan marah, tapi kemudian, wanita itu menarik diri dari Arjuna dan menatap langit, menengadahkan tangan ke arah hujan buatan itu. Arjuna lagi-lagi tak dapat menahan senyum melihat wanita itu tersenyum. Ternyata, senyum bisa menular. *** Kirana menerima handuk putih yang disodorkan Arjuna padanya. Mereka lalu duduk di undakan tangga di teras rumah panti. “Apa boleh buat? Kita tidak membawa pakaian ganti,” ucap Arjuna “Sambil menunggu anak-anak mandi dan bersiap untuk makan siang, kurasa kita bisa berjemur di sini sambil mengeringkan pakaian kita.” Kirana tak menjawab. Ia mengeringkan rambutnya lebih dulu dengan handuk itu. “Nanti setelah makan siang, biasanya mereka akan tidur siang. Saat itu, kita pulang,” beritahu Arjuna. Kirana mengernyit. “Kita … pulang nanti sore, kalau anak-anak sudah bangun.” Arjuna menatapnya bingung. “Kenapa?” Kirana menunduk. “Aku paling tidak suka ditinggal pergi ketika tidur. Terkadang itu membuatku bermimpi buruk juga.” Arjuna tak mengatakan apa pun selama beberapa saat. “Kalau kau mau pulang duluan …” “Baiklah, nanti kita pulang setelah anak-anak bangun,” potong Arjuna. “Mungkin nanti kita bisa mentraktir mereka es krim. Dhita suka es krim.” Kirana menoleh kaget. “Dhita … suka es krim?” Arjuna mengangguk. “Tampaknya kau dekat dengan Dhita.” Kirana berdehem. “Kebetulan nama kami sama.” Arjuna mengangguk-angguk. “Mama yang memberi nama itu. Sepuluh tahun lalu, waktu Dhita pertama kali dibawa kemari. Ibunya meninggal ketika melahirkannya,” ceritanya. Kirana mengernyit. “Jadi, sudah sejak sepuluh tahun lalu kau kemari?” tanya Kirana. “Sejak aku masih kecil, Mama sudah mengajakku kemari,” jawab Arjuna. “Aku dan Mama kemari sebulan sekali. Tapi, bulan ini Mama tidak ikut ketika aku memberitahu akan mengajakmu kemari.”   “Kenapa mamamu mau melakukan itu? Apa itu untuk … publikasi?” singgung Kirana. Arjuna mendengus. “Semua orang juga berpikir begitu. Padahal, Mama sudah mengelola yayasan panti asuhan ini sejak sebelum menikah dengan Papa. Kudengar, Tante Dhita juga dulu bekerjasama dengan Mama. Tapi, setelah Tante Dhita pergi dan Mama sakit, Mama menyerahkan yayasan ini pada orang lain. Meski, Mama masih sering berkunjung kemari.” Kirana terkejut mendengar informasi itu. “Mamaku … juga?” Arjuna mengangguk. “Mama pernah bilang, Tante Dhita ingin agar kelak anaknya punya banyak teman bermain dan tidak kesepian. Meski, aku tak menyangka, kau bisa dekat dengan anak-anak.” Kirana mengerjap ketika merasakan matanya panas. Ia berdehem. “Tapi, mamamu sakit apa?” Kirana mengalihkan pembicaraan. Arjuna menghela napas. “Jantung.” “Ah, karena itu kau tak bisa mundur dari perjodohan ini?” cibir Kirana. “Jangan berpikir untuk menggunakan mamaku untuk mengacaukan perjodohan kita. Aku tak peduli, apa pun yang kau lakukan padaku, tapi jangan libatkan orang tuaku,” Arjuna memberi peringatan. “Deal. Aku setuju dengan itu. Kau juga, jangan bawa-bawa papaku dalam pernikahan kita,” sambut Kirana. Arjuna mengangguk. “Baiklah, deal.” “Omong-omong, kau juga tampaknya dekat dengan Eza,” singgung Kirana. “Ah, anak itu …” Arjuna tersenyum. “Dia datang kemari ketika masih bayi, seseorang meninggalkannya di sini, entah ibunya atau siapa. Aku ada di sini ketika dia datang. Jadi, aku sudah mengenalnya sejak dia masih bayi. Aku pernah ingin mengadopsinya, tapi Mama melarangku. Mama bilang, suatu hari nanti, mungkin orang tua Eza akan datang menjemputnya. Namun, sampai hari ini, tidak ada yang datang.” Arjuna tampak muram. Kirana tak tahu bagaimana cara menghibur orang yang sedih, tapi kemudian ia berkata, “Jadi, kau mengajakku datang kemari untuk membalas dendam, kan?” Arjuna menoleh padanya, keningnya berkerut. “Kau bilang, kau tak menyangka aku bisa dekat dengan anak-anak. Jadi,  kau sengaja membawaku kemari untuk mengerjaiku, kan?” sebut Kirana. Arjuna berdehem, lalu berdiri. “Ayo ke dalam. Sepertinya anak-anak sudah selesai mandi.” Arjuna lalu masuk lebih dulu ke dalam. Kirana mendengus pelan, tapi ia toh berdiri juga dan mengikuti Arjuna. ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD