-11- Counterattack

1372 Words
“Dia benar-benar sukses memancing emosiku hari ini!” geram Arjuna ketika ia bertemu Niall di apartemen sahabatnya itu setelah mengantarkan Kirana pulang. Niall malah tergelak menanggapinya. “Men, itu tadi amazing! Hebatnya lagi, kau akan menikah dengan wanita itu! Astaga! Calon istrimu benar-benar … tak tertandingi.” Arjuna menatap Niall kesal, seketika menghentikan gelaknya. “Kau dengar sendiri tadi, bagaimana dia menyebutmu kekasihku.” Niall berdehem. “Kenapa kau tak mencoba menjelaskan padanya jika itu salah paham?” Arjuna mendengus. “Kau pikir, dia akan percaya? Itu hanya akan menghabiskan tenagaku saja.” “Tapi, sungguh, dia benar-benar keren, Men. Bagaimana  bisa dia  mengerjaimu seperti tadi?” Niall terbahak. Bahkan, matanya sampai berair. “Kau lihat ketika dia memukulmu dengan tongkat pancing tadi? Men, wanita itu benar-benar gila.” “Ya, dia memang gila, jadi berhenti membicarakannya,” geram Arjuna. “Aku sudah cukup  menahan emosiku hari ini. Dan aku tidak akan tinggal diam lagi menerima perlakuan gila wanita itu.” “Lalu, kau mau apa? Membalasnya? Jangan!” sergah Niall. “Jika nanti dia membatalkan pernikahan kalian, bagaimana?” “Tidak akan. Wanita itu tidak mau menjadi gelandangan, karena itu dia mau menikahiku. Jika dia membatalkan pernikahan ini, dia akan menjadi gelandangan. Jadi, apa pun yang kulakukan padanya, dia tak akan bisa melakukan apa pun. Sama seperti yang dia lakukan padaku.” Arjuna mengepalkan tangan penuh dendam. “Hei, hei, dia itu wanita. Kau tidak berniat bertarung melawan seorang wanita, kan?” Niall mengingatkannya. Arjuna mendengus. “Kau sudah lihat sendiri apa yang dia lakukan tadi. Dan aku tahu, itu baru awalnya. Wanita itu sudah bertekad untuk membuatku menyesal karena pernikahan kami.” Arjuna tersenyum sinis. “Aku juga akan memberikan hal yang sama untuknya. Toh sejak awal, kami tak pernah menginginkan pernikahan ini. Jadi, mulai sekarang, pernikahan itu akan menjadi penjara bagi kami berdua.” “Well, kau mungkin bisa mempertimbangkan untuk jatuh cinta,” sebut Niall. “Dunia menjadi lebih indah ketika kau jatuh cinta.” Arjuna tertawa sarkatis. “Jatuh cinta? Dengan wanita gila itu? Percayalah, itu adalah hal yang paling tidak mungkin di dunia ini. Setidaknya, di duniaku. Jika sampai aku jatuh cinta padanya, aku pasti sudah gila.” Niall meringis. “Aku tidak akan ikut-ikut jika nanti kau jadi gila.” Arjuna mendengus. “Sekarang pun, sejujurnya, aku mulai gila karena wanita gila itu. Jadi, sebelum aku lebih gila lagi, aku akan menghentikannya.” Niall hanya menggeleng-gelengkan kepala. *** Minggu pagi itu, Arjuna sudah datang ke rumah Kirana, bahkan sebelum Kirana sempat sarapan. Dengan dalih ingin mengajak Kirana sarapan di luar, Arjuna membawa Kirana pergi di depan papanya. Bahkan, papanya mengizinkan Kirana pergi dengan Arjuna, tanpa Marcel. Kirana curiga pria ini akan melakukan sesuatu padanya. Mengingat bagaimana kemarin Kirana mengerjainya. Terlebih, kali ini Marcel tidak ikut. Kirana harus waspada. “Kau semangat sekali untuk kencan kita hari ini,” singgung Kirana. “Tentu. Aku selalu bersemangat memikirkan kencan denganmu.” Arjuna tersenyum sinis. Kirana mendengus. Pria itu sudah mendeklarasikan perang. Baiklah, Kirana akan menerimanya. “Lalu, kita akan pergi ke mana sekarang?” tanya Kirana. “Ke tempat yang indah,” jawab Arjuna seraya tersenyum. Senyum licik. Ke mana pun tempat yang indah itu, Kirana yakin, ia tak akan menyukainya. *** Arjuna diam-diam tersenyum puas melihat Kirana kelimpungan ketika anak-anak menyerbu ke arahnya. Wanita itu menatap Arjuna kebingungan. “Ini … apa?” “Panti asuhan. Mama sering mengajakku kemari,” jawab Arjuna. Kirana tampak terkejut. Lalu, seorang anak kecil menarik-narik kemeja Arjuna. Arjuna menunduk dan melihat Eza, anak laki-laki berumur enam tahun yang cukup dekat dengannya. Arjuna tersenyum dan menggendong Eza. “Apa kau jadi anak baik ketika Om tidak di sini?” Arjuna memastikan. Eza mengangguk. Arjuna tersenyum. Ia pergi ke belakang mobil, membuka bagasi dan memanggil yang lain. “Anak-anak, kemari!” serunya. Seketika, anak-anak yang tadi mengerumuni Kirana, berlari ke tempat Arjuna. “Kalian sudah menyapa Tante yang datang bersama Om tadi?” tanya Arjuna. “Sudah, Om,” jawab mereka bersama-sama. “Kalau begitu, ambil hadiah kalian.” Arjuna menepi, memberi ruang untuk anak-anak itu mengambil hadiahnya. “Punya Eza?” tanya anak itu dengan muka imut. Arjuna gemas dan mencubit pipi Eza. “Kan, Om sudah di sini.” Eza merengut. Bibirnya mengerucut menggemaskan. “Mau Om gendong di pundak?” Seketika, mata anak itu berbinar. Ketika Arjuna mengangkatnya ke pundah, Eza berteriak-teriak kesenangan. Arjuna tak dapat menahan senyum mendengar teriakan senang anak itu. Ia lalu membuka pintu belakang mobil dan memanggil Kirana. Wanita itu masih berusaha meredakan kekagetannya, tapi ia menurut. Sepertinya ia terlalu shock  dengan serangan tiba-tiba tadi. “Tolong ambilkan tas di dalam,” Arjuna berkata. Kirana melongok ke dalam, lalu membungkuk untuk mengambil paper bag. Ia lalu menyerahkannya pada Arjuna, tapi Arjuna tak menerimanya. Arjuna menurunkan Eza dari gendongan. “Itu punya Eza. Berikan padanya,” Arjuna berkata sembari mengedik ke arah Eza. Kirana tampak bingung, tapi menuruti kata-kata Arjuna dan menyodorkan tas itu pada Eza. Seketika Eza berseru senang. Ia lalu memeluk pinggang Kirana. “Terima kasih, Tante.” Di depannya, Kirana tampak terpaku, terkejut. Sudah Arjuna duga, orang seperti Kirana pasti tak akan dekat dengan anak kecil. “Eza, ayo ke dalam dan bergabung dengan yang lain!” ajak Arjuna. Eza melepas pelukannya pada Kirana dan menggandeng tangan Arjuna, mengangguk bersemangat. Mereka melangkah pergi meninggalkan Kirana yang masih terpaku di tempatnya. Ini  baru awalnya, Tuan Putri. Lihat saja nanti! *** Kirana mengusap keringat di keningnya sembari menatap penuh dendam pada Arjuna. Berani-beraninya ia membuat Kirana melakukan hal seperti ini! Kirana mengubur bibit pohon yang ditanamnya dengan tanah dengan sembarangan, sekaligus melampiaskan kekesalannya pada Arjuna. Apa katanya? Menanam pohon? Menghijaukan lingkungan? Alih-alih pohon, Kirana ingin mengubur pria itu dengan tanah di tangannya ini. “Tante, kalau seperti itu, nanti pohonnya tak akan tumbuh. Kalau tidak ditanam dengan benar, nanti akan roboh jika kena angin dan hujan, lalu mati,” ucap seorang anak perempuan yang sepertinya berumur sepuluh tahun. Kirana menatap anak itu. “Tidak apa-apa. Nanti kalau mati, bisa beli lagi.” Anak itu menatap tanaman di depan Kirana dengan muram. Huh, memangnya tahu apa ia tentang tanaman? Mengabaikan anak itu, Kirana menepuk-nepuk tanah dengan tangannya. Memang, pohonnya juga sedikit miring. Sepertinya, disenggol sedikit juga sudah roboh. Masa bodoh. Kirana sudah akan berdiri, tapi anak itu menarik tangan Kirana. Kirana terkejut ketika anak itu mengarahkan kedua tangan Kirana untuk membenahi menanam bibit pohonnya. Lalu, dengan tangannya di atas Kirana, anak itu menepuk-nepuk tanah di bawah bibit pohon. Ia menoleh pada Kirana dan tersenyum. “Kalau begini, nanti bisa tumbuh dan Tante bisa ikut makan pear yang Tante tanam sendiri,” ujar anak itu sembari tersenyum. Kirana  berdehem, lalu menarik tangannya. “Oh iya, papan nama Tante mana? Sudah ditulis? Om Arjuna bilang, kami harus merawat pohon pear kami sendiri. Tapi, nanti aku akan bantu rawat punya Tante,” janji anak itu. Kirana berdehem lagi, menggeleng. Anak itu pergi entah ke mana, sementara tatapan Kirana masih tertuju pada bibit pohon pear-nya. Tak lama, anak itu kembali lagi membawa spidol dan papan nama yang tadi Kirana lihat, dibagikan Arjuna pada anak-anak. “Aku bantu tulisin ya, Tante,” ucap anak itu. Kirana tak menjawab, tapi ia memperhatikan bagaimana anak itu menulis ‘Tante Kirana’ di papan itu. Ia lalu menanam papannya di depan bibit pohon yang ditanam Kirana. “Punyamu mana?” tanya Kirana. Anak itu menunjuk bibit pohon di sebelah punya Kirana. Kirana membaca nama di papannya. Andhita. Kirana mengernyit. “Nama kamu … Andhita?” tanya Kirana. Anak itu mengangguk. “Bagus kan, Tante? Tante bisa panggil aku Dhita.” Kirana mengerjap, lalu tersenyum. “Kenapa, Tante? Namaku aneh?” tanya Dhita. Kirana menggeleng. “Nama depan Tante juga Andhita. Andhita Kirana Ramawijaya.” “Wah, keren! Nama kita sama!” ucap Dhita semringah. Kirana refleks tersenyum melihat ekspresi senang anak itu. “Tapi …” Dhita melirik kanan-kiri, lalu mendekat pada Kirana dan berbisik, “Tante pacarnya Om Arjuna, ya?” Kirana terbelalak kaget. “Ap-apa?” Dhita tersenyum geli dan menyenggol lengan Kirana. Kirana sampai  nyaris jatuh karenanya. “Aku juga tahu, kok,” kata Dhita dengan senyum menggoda. “Anak kecil tahu apa?” desis Kirana. Namun, Dhita masih saja memberikan senyum menggoda, seolah ia tahu segalanya. Dasar anak kecil! “Tapi, Om sama Tante serasi, kok. Om Arjuna ganteng, Tante Kirana cantik,” sebut Dhita. “Cih,  ganteng apanya …” cibir Kirana. Namun, ia tak dapat menahan senyum juga ketika Dhita menyebutnya cantik. “Tapi, menurut kamu, Tante benar-benar cantik?” tanya Kirana. Dhita mengangguk. “Om Arjuna suka Tante karena Tante cantik, kan?” goda Dhita. “Tidak hanya cantik, Tante ini juga baik, memesona, mengagumkan!” pamer Kirana. Dhita tertawa mendengarnya. Kirana pura-pura kesal. “Kau menertawakan Tante?” Dhita masih tertawa. “Tante lucu.” “Apa?” Kirana membelalak. Kali ini, benar-benar terkejut. “Kau bilang, Tante lucu? Awas kau, ya …” Kirana berdiri, Dhita ikut berdiri dan berlari, masih sambil tertawa. Kirana mengejar gadis kecil itu sambil tertawa. Melihat Dhita tertawa seperti itu, Kirana tak dapat menahan tawanya. Tawa memang bisa menular. ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD