“Kencan?” sinis Arjuna. “Kau hanya ingin mengambil kesempatan sebanyak mungkin untuk membuatku kesal.”
“Baguslah jika kau tahu. Aku tahu ini akan membuatmu kesal,” balas Kirana santai.
Hari ini, di akhir pekan, mereka sudah bertemu sejak pagi dan akan menghabiskan waktu bersama seharian.
“Sekarang, aku mau pergi shoping,” beritahu Kirana.
“Kenapa aku harus menurutimu kemauanmu?” balas Arjuna.
“Lalu, kita mau ke mana? Ke rumah kekasihmu?” ledek Kirana.
“Kenapa? Kau cemburu?” Arjuna balik meledek.
“Tidak juga. Aku justru khawatir kekasihmu nanti yang akan cemburu,” Kirana membalas.
“Padamu?” cibir Arjuna.
Kirana menggeleng. “Bukan.” Ia lalu mengedik ke belakang. Arjuna menatap ke belakang lewat kaca spion dan mengumpat.
“Apa pengawalmu juga akan selalu ikut setiap kali kita kencan?” tanya Arjuna kesal.
“Tentu saja,” balas Kirana enteng. “Bagaimana? Kau mau double date?”
Arjuna mengerutkan kening mendengar penawaran Kirana. “Double date dengan siapa? Aku dan kau dengan pengawalmu?”
“No, no.” Kirana menggoyangkan jari telunjuknya. “Kau dan kekasihmu, aku dengan Marcel.”
Arjuna refleks mengumpat. “Kau calon istriku dan kau akan berkencan dengan pengawalmu?”
“Aku hanya tidak ingin mengganggu kencanmu dengan kekasihmu,” ujar Kirana santai.
Arjuna yakin, wanita ini mungkin memang terlahir untuk menguji emosi Arjuna. Tidak. Wanita ini adalah ujian terberat seumur hidup Arjuna.
“Kau tidak ingin memancing?” tanya Kirana tiba-tiba. Sungguh tiba-tiba.
“Katamu, kau mau shoping,” desis Arjuna.
“Cancel. Kita pergi fishing. I love fishing.” Mata Kirana berbinar bersemangat.
Sementara, Arjuna memikirkan segala kemungkinan tergila yang akan terjadi ketika mereka memancing nanti. Seperti misalnya, Kirana akan menggunakan Arjuna sebagai umpan ikan.
***
Kirana mengangkat alis ketika melihat kekasih Arjuna benar-benar datang. Niall. Kirana mengulum senyum. Ia lalu melirik Marcel dan mendekati pengawalnya itu.
“Dengar, apa pun yang terjadi padaku nanti, kau jangan ikut campur,” Kirana berbisik pada Marcel. “Jika aku tidak memanggilmu, jangan datang padaku. Kau mengerti?”
Marcel mengangguk, seperti biasa, tak menunjukkan ekspresi apa pun. Puas dengan reaksi Marcel, Kirana menghampiri Arjuna dan Niall yang sudah berdiri bersebelahan di tepi danau.
“Ini Kirana,” Arjuna memperkenalkan Kirana pada Niall.
Niall tersenyum pada Kirana dan mengulurkan tangan. “Aku Niall. Sepertinya aku pernah melihatmu di pesta perusahaan.”
Kirana menyambut uluran tangan Niall, lalu menggeleng. “Tidak mungkin. Aku tidak pernah mau pergi ke pesta perusahaan. Seringnya, aku kabur dan dikejar pengawalku di acara pesta perusahaan.”
Niall melongo, sementara Arjuna tampak terbatuk aneh, seolah menahan tawa. Niall menoleh pada Arjuna yang hanya mengedik kecil.
“Kau tak perlu cemburu padaku,” lanjut Kirana seraya menarik tangannya. “Kami menikah karena perjodohan. Kami tidak saling mencintai. Satu-satunya yang dia cintai adalah dirimu.”
Niall seketika terbatuk, seolah tersedak. Arjuna menepuk punggung Niall dengan senyum geli di bibir.
“Mendengar dan merasakan sendiri memang berbeda, kan?” Arjuna berkata.
Kirana mengerutkan kening, tak tahu apa maksud kata-kata pria itu. Kirana berdehem. “Kau tidak keberatan kan, memancing denganku?” pancing Kirana.
Niall tersenyum canggung, tapi menggeleng. “Terima kasih telah mengundangku.”
“Anytime,” balas Kirana sopan. Ia lalu pergi ke kursi yang sudah disiapkan Marcel dan duduk di sana. Diperhatikannya ketika Arjuna memberikan pancing pada Niall. Romantis sekali mereka. Kirana sampai merasa tidak enak mengganggu mereka. Namun, toh memang itu niatannya.
“Arjuna!” panggil Kirana.
Tak hanya Arjuna, Niall juga menoleh.
“Punyaku mana?” Kirana mengulurkan tangan.
Arjuna mendengus pelan sebelum mengambil tongkat pancing yang berada tak jauh dari Kirana, lalu memberikannya pada Kirana.
“Tenanglah, aku tidak akan mengganggu kencanmu,” ucap Kirana, meski itu bohong.
Arjuna menyipitkan mata tak percaya, tapi pria itu kembali pada Niall setelah memberikan tongkat pancing pada Kirana.
“Ck, ck, ck. Sekarang mereka sudah berani bermesraan di depan umum. Apa sebaiknya aku merekam mereka?” gumam Kirana sembari melempar tongkat pancingnya ke tanah.
“Itu akan merugikan Nona juga.” Suara Marcel di belakangnya membuat Kirana menoleh.
“Sudah kubilang, jangan datang padaku jika aku tidak memanggilmu,” desis Kirana kesal.
Marcel tak menjawab, tapi kemudian Kirana melihat payung yang dibawa pria itu. Kirana mendongak ke atas dan dilihatnya payung itu menghalangi sinar matahari. Kirana seketika mendapat ide.
“Kemarikan payungnya!” Kirana mengulurkan tangan.
“Nona …?” Marcel tampak ragu.
“Ck, cepat! Kemarikan payungnya!” buru Kirana.
Marcel, masih tampak ragu, menggerakkan payungnya ke arah Kirana, dengan sangat pelan.
Tak sabar, Kirana merebut payung itu dari tangan Marcel, lalu mengedik ke belakang. “Sekarang, kau pergi ke sana. Ke pohon itu. Duduk-duduk santai saja di sana,” usir Kirana.
Seperti biasa, Marcel hanya mengangguk, sebelum pergi. Kirana lalu menoleh pada Arjuna dan tersenyum licik. Ia celingukan ke sekitar, hingga melihat kursi-kursi lain tak jauh darinya. Kirana menarik salah satu kursi dengan kakinya, menyeretnya ke sebelahnya.
“Niall!” panggil Kirana.
Niall dan Arjuna menoleh. Seingat Kirana, hanya satu pemilik nama Niall.
Pasangan kekasih itu menghampiri Kirana dengan ekspresi kontras, Niall sembari tersenyum, Arjuna merengut. Dasar tukang ngambek! Apa ia kesal karena Kirana memanggil kekasihnya?
“Kau butuh bantuan, Kirana?” tanya Niall.
Kirana menggeleng, lalu menepuk kursi di sebelahnya. “Duduklah di sini,” ajak Kirana.
Niall mengangguk senang, lalu duduk di sebelah Kirana. Arjuna mendengus pelan menatap Kirana dan sudah akan pergi, tapi Kirana memanggilnya.
“Apa?” balas Arjuna tak ramah.
Kirana mengulurkan payung di tangannya pada pria itu. “Pegang ini. Kau tidak mau dia kepanasan, kan?” Kirana mengedik ke arah Niall.
Arjuna menutup mata, menarik napas dalam, lalu membuka mata. “Kau pikir aku mau melakukan itu?”
Kirana memasang wajah sedih. “Kau tidak mau melakukannya? Bahkan meski untuk kekasihmu sendiri?” Kirana mengedik ke arah Niall.
Niall berdehem. “Aku baik-baik saja.”
“Tidak, kau tidak baik-baik saja,” bantah Kirana. “Kulitmu bisa terbakar terkena sinar matahari. Oh, wajah tampanmu!” Kirana mengangkat tangan ke wajah Niall, menolehkannya pada Arjuna. “Kau akan membiarkan wajahnya yang tampan ini terkena sinar matahari yang sangat panas?” ucap Kirana dramatis.
Arjuna mendesis kesal seraya menepis tangan Kirana dari wajah Niall. “Berhenti mengganggunya,” kesal pria itu.
Kirana mengangguk menurut, lalu menyodorkan payung. Arjuna menerima payung itu dan berdiri di belakang Kirana dan Niall, memayungi mereka. Kirana tersenyum penuh kemenangan. Ia lalu mengambil tongkat pancingnya lagi.
“Oh iya, di mana umpannya? Kau sudah menyiapkannya, kan?” Kirana menoleh pada Arjuna.
Arjuna mengedik ke kotak yang berada tak jauh dari mereka. “Suruh pengawalmu memasangnya untukmu,” katanya ketus.
“No, no,” tolak Kirana seraya menggoyangkan jari telunjuk. “Kau bisa melakukannya untuk kami. Aku dan Niall.”
Niall berdehem. “Biar aku saja yang membantumu, Kirana,” tawar Niall seraya berdiri, tapi Kirana menarik pria itu hingga ia duduk lagi.
“No, no.” Kirana menggoyangkan jari telunjuk di depan wajah Niall. “Arjuna akan melakukannya.” Kirana menoleh pada Arjuna yang tampak siap meledak saat itu juga. “Benar, kan?”
“Ya.” Suara pria itu terdengar dalam geraman. Ia lalu meletakkan payungnya dan pergi mengambil kotak berisi umpan. Arjuna meletakkan kotak itu di dekat Kirana, lalu mengambil kait dari pancing Kirana. Ketika pria itu membuka kotak berisi umpannya, Kirana menjerit melihat cacing dan serangga yang ada di sana.
Saking kagetnya, Kirana tak sengaja memukulkan tongkat pancingnya ke kepala Arjuna. Sekali, dua kali, tiga kali. Oke. Itu tadi natural sekali. Seharusnya Kirana memukulnya lebih banyak, tapi kini Arjuna sudah menatapnya.
“Ups. Sorry,” ucap Kirana ketika Arjuna menatapnya dengan tatapan membunuh. “Aku terlalu kaget, jadi tak sengaja memukulmu.”
Kirana menjatuhkan tongkat pancingnya, lalu berdiri. “Marcel! Ambilkan minum untukku!” serunya.
Kirana beranjak pergi untuk mendekat ke arah Marcel yang sudah membawa botol minum dingin. Dalam perjalanannya, Kirana bersenandung senang.
***