Bab 1

1073 Words

"Oweek .... oweekk."

Sesaat setelah mendengar tangisan bayi, bidan yang membantu persalinan mempersilahkan suami dan kedua orangtuaku masuk ruangan.

"Alhamdulillah, Pak. Anaknya lahir dengan sehat. Perempuan, cantik, dan tidak kekurangan suatu apa pun. Ibunya juga selamat," ucap bidan itu.

"Alhamdulillah ...," ucap suami dan keduaorang tuaku serempak.

Bayiku sangat cantik dan menggemaskan. Setelah keadaan pulih, suami memboyongku ke rumah ibunya. Maklum saja, kami memang belum memiliki tempat tinggal sendiri.

Selama ini kami ngontrak, dan hanya tinggal berdua saja. Untuk mengurus bayi, kami belum punya pengalaman apa-apa. Sedangkan suami, dia berjualan keliling. Sangat repot jika kami hanya berdua mengurus bayi sambil ngurusin dagangan. Jadi, keputusan akhir aku tetap harus tinggal di rumah mertua untuk sementara waktu. Setidaknya, sampai satu bulan lamanya. Hingga aku bisa memandikan sendiri dan t***k bengek mengurus bayi.

Awal mula aku tinggal di rumah mertua semua baik-baik saja. Hingga suatu hari, tanpa aku sadari kehadiranku di rumah itu ternyata mengganggu kenyaman kakak iparku.

Kakak perempuan dari suamiku, dia juga baru melahirkan anak kedua lima bulan yang lalu. Entah mengapa, dia selalu merasa kalau ibu mertua lebih sayang pada anakku ketimbang anaknya. Bahkan hingga muncul rasa iri padaku dalam dirinya.

Tak jarang, dia selalu berkata kasar pada ibunya sendiri. Mencaci, memaki bahkan u*****n yang tidak seharusnya diucapkan seorang anak pada ibunya. Dia juga sering berkata sinis padaku. Dia sering tiba-tiba memusuhiku, tapi itu dilakukan saat tak ada orang di rumah.

"Nduk, nanti popok anakmu gak usah dicuci. Ibu tadi kesiangan, belum sempat nyuci. Nanti biar Ibu cuci sepulang jualan dari pasar. Yang penting, kamu jagain anakmu aja ya," pesan ibu mertua sebelum berangkat jualan.

Kesehatan memang belum pulih betul. Jadi beliau melarangku melakukan pekerjaan berat. Tapi aku cukup tau diri, saat ibu sudah berangkat diam-diam aku akan mencuci sendiri popok dan bajuku. Cuma sebagian, agar dia tidak curiga kalau aku tetap nekat mencuci.

"Iya, Bu. Assalamualaikum." Aku berdiri mencium tangannya saat ibu berpamitan.

"Ih, gemes ... jangan nakal ya. Yayi berangkat dulu," pamit ibu pada anakku, dia mencubit pipi Soraya gemas.

Saat sepeda ibu sudah mulai menjauh, datanglah kakak iparku. Rumahnya memang bersebelahan dengan ibu, jadi jangan heran kalau setiap hari dia selalu ngajak ribut melulu.

Dia menatap sinis ke arahku setelah sepeda ibu tak kelihatan lagi. Aku berlalu dari hadapannya, meletakkan anakku di kamar dan menurunkan kelambu agar tidak ada nyamuk yang menggigit.

"Hemm ... aku lapar," gumamku. Menuju dapur dan mengambil makan, lalu dan memulai sarapan di kamar. Sambil mengawasi anakku. Namun, baru beberapa sendok terdengar langkah kaki mendekati kamarku.

Menyibakkan gorden, dia mulai berkata "Enak ya, pagi-pagi udah mandi. Wangi, cantik, rapi makan ada yang masakin. Cucian ada yang nyuciin. Anak mandi ada yang mandiin, berasa ratu aja," cibir Mbak Ida kakak iparku dengan judesnya.

Aku jadi kehilangan selera makan. Kuletakkan nasi yang belum tersentuh itu, lalu menuju kamar mandi. Dan mulai mencuci popok juga baju kotor anakku. Aku memang tak pernah menanggapi ocehan Mbak Ida. Selain karena malas, aku tetap merasa harus menghormatinya. Aku kan memang hanya tamu di sini, hanya seorang menantu.

Selesai mencuci dan menjemur, aku kembali ke kamar menengok anakku. Rupanya dia pipis, tapi sudah diganti oleh mbah dari suamiku.

"Lho, Mbah ... kapan datang, aku gak lihat Mbah masuk e," ucapku sambil mengusap lembut rambut Soraya di pangkuan Mbah buyutnya.

"Yo ndak lihat, kamu sibuk jemurin baju genduk kok," jawab simbah.

"Suamimu belum ke sini to, biasanya pulang jualan ke sini," ucap simbah lagi. Aku hanya menggeleng dan menunduk.

Suamiku memang biasa berjualan dari jam 2 malam dan pulang jam 7 pagi. Biasanya sepulang jualan, langsung ke sini.

Bolak-balik memang capek, tapi aku tidak tahu harus cerita ke siapa saat sakit hatiku karena Mbak Ida. Mau telepon suami kok gak enak, kalau ada yang dengar. Dikira tidak betah, menjelek-jelekan Mbak Ida.

Tapi tumben, ini sudah jam 9 kok belum kelihatan, membuat gelisah saja.

"Kenapa to Nduk, berantem sama Mbakyu mu lagi?"

"Kamu ... nangis, uwis to. Nggak usah dipikirkan, Mbakmu memang begitu orangnya. Sama Ibumu saja dia berani, takutnya itu ... cuma sama Bapakmu saja. Nanti biar Mbah tegur dia," ujar simbah menenangkan. Aku memang cuma menantu di sini, tapi simbah sudah kuanggap seperti simbahku sendiri.

"Udah, dihapus itu air matanya. Nanti suamimu datang, hilang cantiknya," ucap simbah menggodaku. Aku jadi ikut terkekeh mendengarnya.

"Kamu itu, punya bayi jangan banyak pikiran. Nanti stress kasihan anak kamu. ASI-nya juga jadi tidak lancar," tutur simbah lagi.

Kejadian seperti ini memang tidak terjadi sekali dua kali. Berkali simbah menegur dan menceramahi Mbak Ida, kalau apa yang dilakukannya salah. Mencaci dan berani sama orang tua, terutama seorang ibu. Bukannya mendengar malah makin menjadi-jadi.

"Kamu itu jangan sekali-sekali berani sama Ibumu. Apalagi kamu juga seorang ibu. Eling Nduk, eling ... bisa kuwalat kamu," ucap simbah suatu pagi pada Mbak Ida.

Waktu itu, Ibu tidak sengaja memergoki Mbak Ida mengembalikan baju yang kubelikan untuk anaknya. Dengan sewot dia bilang kalau anaknya sudah tidak muat. Bagaimana mungkin, aku membelinya seminggu yang lalu. Kubelikan sengaja kembar dengan anakku, hanya warnanya saja yang berbeda. Kupilih ukuran yang lebih besar sedikit dibanding milik Soraya, karena jarak usia mereka hanya lima bulan. Dan dia menerimanya seminggu yang lalu.

Tapi hari ini, tiba-tiba saja dikembalikan lagi. Saat ibu menegur, dia malah memaki ibu. Ibu ikut sedih melihatnya, kecewa.

"Kuwalat opo sih Mbah. Ikut campur saja dasar orang tua," ucapnya sinis dan berlalu meninggalkan kami semua.

Aku merangkul ibu mertuaku dan mendudukannya agar emosinya sedikit berkurang.

Keadaan kembali membaik seminggu setelahnya. Tapi siang ini, aku sudah benar-benar tidak tahan lagi dengan ulahnya.

Aku baru saja masuk kamar, dan menyusui Soraya. dia mengantuk, tapi suara ribut di luar membuatnya menangis, terganggu mungkin.

Bergegas keluar, dan melihat apa yang terjadi.

"Ibu mau tahu, apa alasanku selalu memusuhi menantu kesayangan Ibu itu?!" sentak Mbak Ida kasar. Emosinya sepertinya sudah memuncak.

Tetes demi tetes bulir bening berjatuhan di pipi Ibu. Akupun ikut mendekat, hendak melerai.

"Nah ini ... orangnya datang, sekalian saja kujelaskan padanya, agar dia mengerti," ujar Mbak Ida sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.

Aku yang baru datang tidak mengerti maksudnya.

"Dia ... dia ini cuma menantu di sini. Itu artinya, anak yang lahir dari rahimnya, juga bukan cucu kandung Ibu. Jadi, Ibu harus bisa membedakan. Mana yang harusnya Ibu perhatikan, mana yang tidak."

Bagai petir menyambar, menyayat hatiku. Apa dia tidak sadar, kalau aku ini adalah istri dari adiknya? Seorang anak, yang lahir dan besar di keluarga ini. Aku berlari ke kamar tak ingin lagi mendengar yang lebih menyakitkan dari ini.

Cukup! Sepertinya aku harus bicara dengan suamiku sekarang juga.

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd