Bab 2

1111 Words

"Dia ... dia ini cuma menantu di sini. Itu artinya, anak yang lahir dari rahimnya, juga bukan cucu kandung Ibu. Jadi, Ibu harus bisa membedakan. Mana yang harusnya Ibu perhatikan, mana yang tidak."

Bagai petir menyambar, menyayat hatiku. Apa dia tidak sadar, kalau aku ini adalah istri dari adiknya? Seorang anak, yang lahir dan besar di keluarga ini. Aku berlari ke kamar tak ingin lagi mendengar yang lebih menyakitkan dari ini.

Cukup! Sepertinya aku harus bicara dengan suamiku sekarang juga.

******

Aku memukul d**a berulang kali, berharap bisa mengurangi sakit dalam hatiku. Entah pada siapa aku harus mengadu?

Selama ini diam, bukan berarti aku membenarkan tindakan Mbak Ida. Aku tahu, dia tak pernah sengaja melakukan semua itu.

Mbah buyut pernah bilang, kalau dia hanya cemburu. Wajar, dia anak perempuan satu-satunya ibu. Selama ini seluruh kasih sayang tercurah padanya saja. Berbeda dengan kasih sayang yang di berikan pada anak laki-laki ibu.

****

POV Mbak Ida

"Kenapa sekarang Ibu berubah? Ibu lebih sayang padanya. Ibu lebih sayang pada Soraya. Dhea dan Rhea juga cucu ibu. Semenjak Desi tinggal disini, ada ibu pernah gendong Rhea?" Ibu menggeleng sambil meneteskan air matanya.

"Jarang, sangat jarang. Dari mulai Ibu membuka mata, ibu sibuk berkutat dengan pekerjaan ibu. Setelah selesai ibu mandikan Soraya, Desi juga ibu suruh mandi. Selesai mandi, dengan tenang Desi makan, makanan sudah tersedia. Enak betul hidup dia."

"Bukan begitu, Nak. Ibu cuma membantu meringankan kerjaan Desi. Dia belum pulih betul setelah melahirkan. Apalagi ini anak pertama," jawab ibu masih sambil terisak.

"Alah! Ibu lihat, aku mandikan Rhea sendiri tanpa pernah ibu tahu aku kerepotan. Mau makan, mau apa-apa sendiri. Ibu pernah peduli? Tidak!" sentak ku kesal menatap tajam ke arah ibu.

"Kamu tak pernah bilang butuh bantuan pada Ibu, bagaimana ibu tahu?"

"Ya bagaimana Ibu tahu? Ibu sibuk dengan menantu kesayangan ibu itu." Sengaja ku tekan kata menantu kesayangan agar ibu tahu, betapa tak adilnya dia padaku.

******

Aku semakin tergugu mendengar penuturan Mbak Ida. Ternyata dia benar cemburu padaku. Apa aku harus meminta Mas Rudi jemput dan pulang ke kontrakan saja? Aku bingung. Aku butuh udara segar untuk bernafas.

Diam-diam ku gendong Soraya keluar lewat pintu samping. Tanpa terasa bulir bening kembali jatuh.

Aku memang gampang nangis, baperan kalau orang jaman sekarang. Jangankan disindir, dibentak sedikit saja langsung terkoyak hatiku.

Seperti teriris, saat kita berusaha baik namun tanpa kita sadari ada orang yang benci pada kita.

Mengingat Mas Rudi membuatku semakin sedih. Sebaiknya aku tak perlu mengadu, ini hanya salah paham. Setelah bicara dari hati ke hati aku yakin Mbak Ida akan kembali seperti biasa lagi.

Meski masih terkadang judes tak apalah. Aku harus tahan, sampai satu bulan. Aku hanya akan membebani pikiran Mas Rudi nanti. Jangan sampai dia juga ikut tersulut emosi dan bertengkar juga dengan Mbak Ida.

Kupeluk erat Soraya dalam gendongan ku, dia menggeliat sedikit. Mungkin setelah hati ibunya tenang dia juga merasa nyaman dan mulai tidur nyenyak.

Tanpa sepengetahuanku ada sepasang mata memperhatikanku dari luar pagar.

Entah benar memperhatikanku atau sedang menguping pertengkaran Mbak Ida dengan Ibu. Saat hendak mendekat, tiba-tiba Bapak pulang dari ladang.

Orang itu pun tersenyum dan menjauh pergi. Buru-buru kuhapus air mata agar Bapak tak melihat aku habis menangis.

"Kok di luar? Ayo masuk gerimis ini, sebentar lagi hujan," ucap Bapak saat sampai di teras.

Aku hanya diam sambil menggigit bibir bawah ku. Entah mengapa ada rasa takut, mengingat Ibu dan Mbak Ida masih terdengar ribut dan itu karena kehadiranku di rumah ini.

Aku memilih menunduk menghindari tatapan Bapak.

******

"Lagian Desi itu cuma benalu. Udah tahu numpang, tak pernah ikut bayar listrik kerjain kerjaan rumah juga gak mau. Entah gak mau atau orangtuanya gak becus ngajarin," Kudengar Mbak Ida masih bercerocos seolah aku hanya numpang hidup dan hanya bikin repot saja.

'Astaghfirullah,' batinku sambil mengelus d**a.

"Apalagi untuk urusan dapur. Mana pernah dia tahu, masak dan t***k bengek. Dan Ibu selalu memanjakan dia, juga masih membela dia? Aku yang anak ibu bukan Desi. Desi bukan siapa-siapa apalagi Soraya. Dia bukan CUCU Ibu!" tegas Mbak Ida.

Mbak Ida tak tahu kalau aku dan Bapak menyaksikan semua ulah Mbak Ida.

Ibu sudah terduduk di lantai menangis sambil mengurut dadanya. Bukannya berhenti menyudutkan Ibu, malah Mbak Ida bicara sambil menunjuk ke wajah ibu segala.

"Ini kenapa? Ibu kenapa duduk dilantai?" tanya Bapak terkejut.

Tak ada yang berani menjawab, Mbak Ida maupun Ibu diam. Apalagi aku, tak berani mengangkat wajah sedikitpun.

"Sejak awal Desi menikah dengan Rudi hanya kamu yang ribut dan bilang tidak suka. Memang pernah selama Desi tinggal di sini merepotkanmu?"

"Pernah dia merepotkan Ibu?" Kali ini giliran Bapak menatap Ibu. Yang ditanya hanya menggeleng.

"Ibu ikhlas Pak, selalu ikhlas mengurus Desi. Dia itu sudah bagian keluarga ini, seperti anak kita sendiri."

"Apa? Listrik? Ada pernah Bapak ngajari kamu hitung-hitungan sama adikmu, Ida? Lagian listrik yang pasang Bapak. Rumah kamu itu hanya nyalur dari listrik Bapak. Sekarang kamu pilih, Bapak putus listrik di rumah kamu atau kamu masih memperpanjang masalah ini?" ucap Bapak lagi.

Mbak Ida hanya diam.

'Ternyata benar kasih sayang Ibu sama Bapak sudah berpindah ke Desi. Sampai mau memutus hubungan listrik segala. Lihat saja Desi, kamu gak tahu Ida itu siapa? Siapa orang yang pernah bisa menentang keinginan ku? Tak ada.'

*******

POV Mas Rudi

Seperti biasa, saat sore seperti ini adalah waktunya aku belanja. Pasar memang biasa buka dari mendekat waktu maghrib sampai pagi jam 7.

Memilah beberapa sayur dan juga membeli beberapa bahan untuk bumbu. Seandainya Desi di sini dia pasti selalu cerewet jika aku langsung bayar belanja tanpa bernego dulu.

Perempuan memang selalu begitu, padahal sering ku ingatkan kalau mungkin sebagian uang yang ikut terbayar tanpa nego itu bisa jadi sedekah kita, dan rejeki buat yang jualnya. Kita juga kan mencari rejeki dari berdagang.

'Sedang apa ya mereka?'

Sambil menunggu giliran belanjaan di total ku ambil benda pipih di saku dan mulai menekan panggilan video.

Tersambung tapi di angkat. Kucoba sekali lagi, mungkin Desi mandi atau Soraya sedang rewel. Tetap tak di angkat. Bahkan hingga panggilan kelima tak ada sahutan.

Perasaanku mulai tak enak. Kucoba melakukan panggilan ke nomor Bapak. Tiga kali panggilan tetap nihil.

"Berapa semua, Bu?" tanyaku pada penjualnya karena sudah tiba giliran belanjaan miliku di total.

"Semua seratus tiga puluh tujuh," jawab pedagang tersebut.

Perasaanku benar-benar tak enak sampai parkiran kucoba melakukan panggilan ke Desi. Tak ada sahutan.

Setelah membayar parkir dan memakai helm aku menstarter motor. Namun tiba-tiba ada panggilan masuk nomor tak di kenal.

Siapa?

Karena penasaran aku menjawab telepon tersebut dan melepas helm kembali.

'Halo? Iya? Kenapa? Di rumah ada ribut. Desi nangis? Tidak jelas bagaimana, Mbak? Ya sudah terimakasih, saya segera kesana,' ucapku menutup sambungan.

Benar ada yang tidak beres. Aku harus segera pulang menaruh belanjaan dan menuju rumah ibu secepatnya.

Bersambung.

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd