Bab 4. Satu Kamar

1079 Words
Tamparan keras melayang pada pipi kanan Ethan. Kemudian, Hendry mencengkram jas yang dikenakan Ethan. "Aku bunuh kau, anak sialan!" "Lepasin, Mas! Lepasin! Kau sudah gila!" maki Sonia tak tahan melihat prilaku mantan suaminya pada Ethan. Wanita itu berusaha melepaskan cengkraman tangan Hendry pada tubuh anaknya. Dengan kasar, Hendry menghempaskan tubuh Ethan. Pandangan Hendry beralih pada Sonia yang wajahnya sudah basah air mata. "Kau perempuan yang gak becus mendidik anak. Lihat anakmu itu, sangat kurang ajar. Anak pembangkang." Sorot mata Hendry penuh kebencian menatap mantan istrinya. Wanita yang telah melahirkan Ethan itu menarik napas panjang, sedikit pun tidak merasa takut akan tatapan tajam dari mantan suami. "Aku gak peduli dengan anggapanmu. Yang jelas, aku sangat bangga pada Ethan karena dia, dia menjadi anak yang menentang bisnis terlarang papahnya." "Jaga mulutmu!" Tangan Hendry yang sudah terangkat di udara dicekal kuat oleh Ethan. "Jangan pernah pukul Mamahku! Lebih baik sekarang Papah pergi! Jangan pernah ganggu Mamahku dan istriku lagi!" Ethan menghempaskan tangan Hendry kasar. Lelaki tua itu mendengus kesal, kedua tangannya mengepal kuat dan berjalan keluar dari Villa yang dulu pernah menjadi tempat dirinya dan keluarga beristirahat. Sejak perceraian dengan Sonia, Hendry sudah tidak lagi datang ke Villa ini. Dia bersedia datang hanya karena ingin membawa pulang Senja. Ketika Ethan dan Senja pergi dari rumah besar itu, ada salah satu security rumah Hendry melihat mobil Ethan keluar dari belakang rumah. Awalnya security tidak menyangka jika Senja berada di dalamnya. Namun, ketika Hendry berteriak histeris, mengetahui Senja tidak ada di kamarnya, ia langsung menyuruh orang rumah mencari keberadaan calon istrinya. Hingga akhirnya ada orang yang melihat mobil yang dikendarai Ethan menuju arah puncak Bogor. Serentak, Hendry dan dua anak buahnya pergi ke kawasan puncak itu. Namun, kedatangan Hendry sia-sia. Senja telah menjadi istri anak kandungnya sendiri. Tidak mudah bagi Hendry menerima kekalahan. Ia harus dapat menghancurkan Ethan yang selama ini sering membangkang perintahnya. "Kalian awasi Ethan dengan baik. Jika waktu dan kondisi memungkinkan, bunuh anak durhaka itu!" titah Hendry pada kedua anak buahnya saat berada di dalam mobil. *** Tamu yang datang sudah pulang. Mereka sangat terkejut melihat kedatangan Hendry yang ingin menikahi menantunya sendiri. Sedangkan Sonia, duduk di ruang keluarga setelah kepergian Hendry dari rumah. Ternyata keputusannya menggugat cerai Hendry, merupakan langkah yang sangat tepat. Ia lelah menghadapi sikap suaminya yang terus menerus berada di jalan yang salah. Berbagai cara sudah diupayakan Sonia agar suaminya sadar, bersedia meninggalkan dunia hitam. Namun, usaha itu sia-sia. Hendry semakin kejam, semakin gila. Bahkan Sonia mendengar, kalau sekarang Hendry menjual anak gadis orang lain. "Astaghfirullahalazhim ...." lirih, Sonia menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Tak habis pikir dengan kelakuan Hendry yang tak juga berubah. Selalu mencintai banyak wanita. Pernikahan yang dilandaskan hawa nafsu saja tidak ada ibadah atau tulus saling mencintai. Ethan dan Senja duduk di sisi Sonia. Sebelah tangan Ethan merangkul ibunya. Sonia tak dapat menahan isak tangis. Ia menangis dalam pelukan sang putra. Hatinya sangat bersyukur karena Ethan tidak mengikuti jejak Papanya. Padahal dahulu sewaktu Ethan masih kecil, Hendry menaruh harapan besar pada anak semata wayangnya. Aneh memang, Hendry sudah sering kali menikah dan berhubungan badan dengan banyak wanita tapi hanya Sonia yang dapat memberinya anak. Awalnya Hendry curiga kalau Ethan bukan anak kandungnya tapi setelah melakukan tes DNA, hasilnya positif. Barulah Hendry percaya kalau Ethan memang benar anak kandungnya dari Sonia. Melihat kedekatan Ethan dan Mamanya, hati Senja terenyuh. Tiba-tiba ia teriangat kedua orang tuanya dulu. Orang tua Senja telah meninggal dunia saat mengalami kecelakaan lalu lintas. "Ethan, Senja, sebaiknya kamu pergi dari sini. Mamah khawatir kalau Papahmu akan kalut, datang ke sini lagi dan membawa Senja." Suara Sonia bergetar, kedua matanya masih basah air mata. Ethan menoleh pada Senja, meminta persetujuan. "Tapi, Mah, kalau aku dan Senja pergi dari sini, nanti Papah justru mencelakai Mamah." Ethan tidak bisa menutupi rasa cemas, menggenggam telapak tangan wanita yang telah melahirkannya itu. Senja hanya membisu, tidak tahu harus berkata apa lagi. Sisi lain, Senja merasa bersalah. Gara-gara dirinya, kini keselamatan Sonia terancam. Tapi, Senja juga tahu, saat ini tidak mungkin dirinya kembali pada Hendry. Senja sudah menjadi istri sah Ethan Abraham. "Jangan cemasin Mamah. Mamah di sini baik-baik saja. Gak mungkin Papahmu berbuat kasar. Cepat, Nak, sebaiknya kalian pergi dari sini. Bukan Mamah mengusir, tapi Mamah takut terjadi hal buruk yang terjadi padamu dan Senja." Sonia memandang anak dan menantunya bergantian. Ethan menghela napas berat. Kemudian, menganggukkan kepala. Setelah berganti pakaian, mereka pun akhirnya pamit, pergi meninggalkan Sonia seorang diri di Villa daerah Bogor. Keberadaan Sonia di daerah ini, karena ia memiliki beberapa hektar perkebunan warisan kedua orang tuanya. Nanti perkebunan teh itu akan menjadi milik Ethan, anak semata wayangnya. "Kita mau kemana lagi, Tuan Muda?" tanya Senja ketika mobil yang ditumpanginya keluar dari halaman villa Sonia. Ethan menoleh, melihat Senja sekilas. Ethan menghela napas panjang, menetralisir debaran dalam hati. Bibirnya tersenyum karena ia tidak salah pilih. Ethan berharap Senja menjadi pendamping hidupnya sampai ia menutup mata. "Kita pulang dulu ke Jakarta. Kamu gak usah takut, aku akan menjaga rumah kita dengan banyak security. Mudah-mudahan saja Papah tidak mengganggu rumah tangga kita, Senja." Senja mengangguk pelan. Hatinya masih diselimuti rasa bersalah. Sekarang hubungan Ethan dan Hendry semakin memburuk setelah menikahinya. Sore hari, mereka baru tiba di kediaman Ethan yang terletak di Jakarta Timur. Mereka turun beriringan. Ethan menggenggam telapak tangan Senja. Meski Senja belum dapat menyimpulkan jatuh cinta pada suaminya, tapi mendapat perlakuan lembut Ethan, jantungnya berdetak lebih cepat. Bahkan kedua pipi Senja bersemu merah karena malu dan bahagia. Masuk ke dalam rumah, terdapat dua asisten rumah tangga yang usianya lebih dari setengah abad. Namanya Mbok Iyem dan Mbok Siti. Mereka berdua suruhan Sonia agar membantu bersih-bersih rumah Ethan. "Kalau kamu perlu apa-apa, kamu tinggal panggil mereka aja. Mbok Siti, Mbok Iyem, tolong jaga istri saya kalau saya lagi gak di rumah." "Baik, Tuan Muda." Dua wanita paruh baya itu dengan serempak menanggapi ucapan Ethan. Senja mengulum senyum karena ternyata Ethan juga baik pada kedua asisten rumah tangganya. Kemudian, Mbok Iyem dan Mbok Siti bergegas ke dapur, memasak makanan kesukaan Tuan muda dan Nyonya Senja. "Kamu mau satu kamar denganku atau enggak mau satu kamar denganku?" Senja menoleh cepat, memandang wajah Ethan dari samping ketika mereka menaiki anak tangga menuju lantai dua. "Terserah kamu." Jawaban singkat Senja membuat Ethan tertawa lepas. Genggaman tangan Ethan, Senja lepaskan. Bibirnya cemberut. Senja tidak suka Ethan bertanya demikian. Ia merasa kalau suaminya itu sedang menguji. Ethan berhenti, tepat di depan pintu kamar, begitu pula Senja. "Kalau terserah, aku maunya satu kamar sama kamu," ucap Ethan mengerlingkan sebelah mata, menggoda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD