Usai salat Magrib berjamaah, sepasang pengantin baru itu duduk di sofa kamar yang menghadap televisi berukuran besar. Agak canggung, Senja duduk di samping suaminya. Ethan mengenakan kaos dan celana jeans. Ia menelisik pakaian istrinya. Sejak semalam, Senja masih mengenakan pakaian yang sama.
"Kamu mau ikut aku belanja gak?" tanya Ethan memecah keheningan yang terjadi setelah beberapa menit berlangsung. Senja menoleh, keningnya mengkerut.
"Hah? Belanja?" Mata bulat Senja membuat Ethan tersenyum manis. Ia sangat menyukai apapun yang ada dalam diri Senja. Kedua matanya, bibirnya, kedua pipinya dan juga dua alisnya yang tebal. Bagi Ethan, Senja memiliki kecantikan seperti yang dia impikan.
"Iya, belanja. Aku tanya dulu, takutnya kamu capek. Aku mau beli pakaianmu dan juga pakaian dalammu, Beb."
Senja langsung salah tingkah. Wajahnya yang putih berseri kembali bersemu merah. Lagi dan lagi Ethan suka perubahan kedua pipi istrinya. Ethan tahu kalau Senja sedang menahan malu. Sebelah tangan Ethan merangkul pinggang Senja, gadis itu terlonjak kaget.
"Kamu gak usah malu. Kita kan udah suami istri walaupun kamu belum bisa membalas cintaku." Mereka saling memandang. Ethan berkata sambil menaik turunkan alisnya. Seketika Senja merasa bersalah karena belum bisa menyimpulkan perasaan cintanya.
"Gak usah merasa bersalah. Aku gak apa-apa. Kamu mau aku nikahi, kamu mau satu kamar denganku, itu udah lebih dari cukup. Pertemuan kita baru hitungan jam, jadi sangat wajar kalau kamu belum jatuh cinta padaku." Ethan berkata seolah mendengar isi hati Senja.
Sebisa mungkin Ethan bersikap dan berpikiran bijak. Tidak boleh bersikap egois. Ia takut jika terlalu memaksakan kehendak, Senja justru akan membencinya.
Ethan melirik Senja. Gadis itu masih terdiam, merunduk dalam.
"Ya udah kalau kamu gak mau ikut. Aku mau keluar dulu." Ethan beranjak, berjalan santai, hendak keluar kamar.
"Tunggu!" Langkah Ethan terhenti.
Senja berdiri melihat suaminya sudah berjalan, meninggalkannya.
"Aku ikut. Aku takut kalau sendirian di sini," ucap Senja berjalan cepat, menghampiri lelaki bertubuh tinggi tegap itu.
Tanpa canggung, Senja menggamit lengan Ethan. Tentu saja Ethan bahagia.
"Boleh cium dikit?"
"Apaan sih?" timpal Senja tertunduk, tersipu malu.
***
Sampai di pusat perbelanjaan, Ethan mengajak Senja masuk ke beberapa toko. Pemuda itu juga menyuruh Senja membeli banyak pakaian.
"Tuan muda, ini terlalu banyak."
Senja memandang beberapa goodie bag yang berisi pakaiannya. Baru sekarang dalam seumur hidup, Senja belanja sebanyak ini.
"Gak apa-apa, Beb. Memangnya kamu mau tinggal sama aku satu atau dua hari aja?Maunya kan, kita bisa bersama sampai kakek nenek, sampai mati."
"Baiklah. Terima kasih."
Tidak hanya pakaian, Ethan juga memberikan cincin dan juga seutas kalung. Tadi siang, Ethan meminjam cincin pernikahan Mamahnya sewaktu melangsungkan pernikahan. Dan cincin itu sudah diberikan pada Sonia sebelum mereka pergi meninggalkan villa.
Sekarang Ethan ingin membelikan cincin yang baru untuk Senja.
"Nanti, kita juga akan melakukan pesta pernikahan kalau kondisinya sudah aman. Kamu mau nunggu 'kan?" Ethan berkata sambil menyematkan cincin pada jari manis istrinya. Senja menganggukkan kepala, mengulum senyum.
Setelah itu, Ethan mengajak Senja masuk ke dalam toko yang menjual pakaian dalam.
"Tuan, biar aku aja yang masuk. Tuan tunggu di sini aja, ya?" Senja risih, kalau Ethan ikut masuk ke dalam. Dia tidak mau kalau Ethan membantunya memilihkan pakaian dalam untuknya. Melihat istrinya malu-malu, Ethan semakin gemas.
"Aku gak mau di sini. Aku mau bantuin kamu pilih warna yang cocok."
"Jangan! Please ...."
Melihat Senja mengiba, Ethan berhenti menggoda.
"Ya udah aku tunggu di sini. Tapi aku boleh pesan sesuatu?"
"Pesan apa?"
Ethan membungkukkan setengah badan, lalu berbisik. "Aku pesan lingerie hitam."
"Apaan sih?" Senja langsung mendorong d**a suaminya. Ethan terkekeh melihat Senja menahan tawa, sambil masuk ke dalam toko.
Tepat pukul sembilan malam, mereka baru keluar dari pusat perbelanjaan. Banyak sekali goodie bag yang Ethan bawa. Padahal sebagian sudah dibawa ke mobil oleh Mang Asep, supir pribadi Ethan.
Sepanjang jalan pulang, Ethan menggenggam telapak tangan Senja. Seolah tidak ingin terpisahkan. Senja butuh perlindungan seseorang, dan seseorang itu adalah dirinya.
Sampai di rumah, mereka langsung masuk ke dalam kamar. Tubuh keduanya sudah sangat lelah. Ethan melepas kaosnya di depan Senja tanpa merasa canggung. Justru Senja yang merasa risih melihat perut suaminya yang sixpect.
Debaran jantung Senja semakin tak menentu. Ia pura-pura mengeluarkan isi goodie bag. Menyusun dan memasukkan pakaian ke dalam lemari.
"Beb, kamu mau kemana?" tanya Ethan saat Senja pergi membawa pakaian ganti, piyama warna navy.
"Aku mau ke toilet dulu. Mau ganti pakaian."
Senja bergegas masuk ke dalam toilet, tanpa menunggu tanggapan Ethan. Lelaki itu merapikan semuanya. Lalu, rebahan di atas sofa. Ethan khawatir Senja tidak nyaman jika tidur satu ranjang dengannya. Punggung Ethan sangat pegal. Perjalanan Jakarta Bogor, lalu kembali lagi ke Jakarta membuat dirinya kelelahan.
"Kamu kenapa tidur di sofa?"
Pertanyaan Senja membuat Ethan terlonjak, membuka mata, dan berjalan menghampiri istrinya yang berdiri di depan pintu toilet.
"Kalau aku tidur di ranjang, nanti kamu malah gak nyaman."
Senja merasa tak enak hati. Ethan benar-benar lelaki yang baik. Dia tidak memaksa kehendaknya sendiri. Justru lebih mengutamakan kenyamanan Senja.
"Tuan?"
"Hm?"
"Tuan, gak mau tidur di sini?"
Suara Senja terdengar pelan, tapi Ethan masih bisa mendengarnya. Lelaki itu mendekati, duduk di sisi ranjang. Menatap Senja yang meremas ujung selimut. Ethan mengulum senyum, meraih telapak tangan Senja, dan mengecup lembut keningnya.
"Tadi aku udah bilang, aku gak mau kamu gak nyaman di dekatku. Tapi, kalau kamu nyaman, bukan salahku."
Senja diam, ia jadi serba salah. Dalam hati, ia ingin Ethan tidur satu ranjang dengannya. Tapi, Senja bingung dan malu mengatakan.
"Oke, kalau kamu mau aku tidur satu ranjang denganmu, dengan senang hati aku mengabulkannya," kata Ethan naik ke atas ranjang, merebahkan diri di samping Senja, lalu menatapnya dengan senyuman manis.
Tanpa Ethan duga, Senja membalas senyumannya. Gadis itu mengubah posisi tubuh, menghadap Ethan yang berbaring miring.
"Tuan, terima kasih. Terima kasih udah menyelamatkanku," lirih, Senja berucap. Ethan menghela napas berat, menelusuri wajah putih istrinya.
Gadis ini begitu cantik dan segar. Wajar saja jika Hendry begitu menginginkannya. Tetapi, sangat tidak wajar jika Hendry menikahi Senja hanya berdasarkan nafsu.
"Iya, sama-sama. Aku juga mau ucapin makasih karena kamu mau aku nikahi."
Senja menganggukkan kepala. Mengubah posisi tidur, telentang. Ia berusaha memejamkan kedua mata. Ethan yang masih memerhatikan Senja, menyunggingkan senyum. Entah satu hari ini sudah berapa kali lelaki itu tersenyum padahal sebelumnya jangankan tersenyum, bicara pun seolah enggan. Baru hitungan hari, Senja telah berhasil mengubah perilaku Ethan. Ia sangat yakin kalau hatinya benar-benar jatuh cinta pada seorang gadis bernama Senja Aurora.
"Senja, boleh aku minta sesuatu?"
"Apa?"
"Aku minta, jangan panggil aku dengan sebutan Tuan."
Kening Senja mengkerut. Bingung, mau panggil suaminya dengan sebutan apa? Mas? Abang? Sayang? Ayang? Beb? Atau Ethan?
"Kalau jangan panggil Tuan. Terus aku panggil kamu apa?"
"Ayang. Panggil aku dengan sebutan 'Ayang atau kalau gak, panggil aku Beb. Gimana? Setuju?" Ethan mengangkat jari kelingking ke depan wajah Senja.
"Apaan sih?"
"Kok apaan sih? Cium dikit nih!"
"Gak mau." Senja menutup wajah dengan selimut.
"Cium dikit."
"Gak mau."
"Dikit ...."
"Gak mau, Ayang ...."